Putri Alstrelia

Putri Alstrelia
88 : Alstrelia


__ADS_3

“A-apakah saya boleh bertanya?” Tanya Arsene sedikit ragu.


Alstrelia menjeling ke belakang. “Tanya apa?”


“Apa kamar ini baru saja dijadikan medan perang?” Arsene menunjuk ke arah tempat tidur yang sudah berantakan, bahkan bantal pun ada yang sudah tergeletak di pojokan ruangan, kursi rias yang terbalik, beberapa tirai sudah robek, dan ada satu pintu lemari yang sudah hancur, seti baru saja ada yang menabrakkan tubuh ke pintu itu.


“Seperti yang kau lihat. Jika bukan karena anak itu mencekikku, aku tidak akan menyerang dia yang baru saja bangun tidur.” Jawab Alstrelia. 


‘Anak?’ Arsene beranjak dari tempat duduknya, lalu pergi menghampiri Alstrelia yang dari tadi melihat ke arah keluar jendela. ‘Alrescha?’


“Soal Artefak sihir, apakah kau mengetahui Artefak sihir apa yang sedang dicari baru-baru ini?” 


“Ada dua, yaitu cawan suci, dan pedang Curtana.” 


“Apa yang kau tahu apa yang bisa dilakukan dari kedua barang itu?” Tanyanya lagi. 


Karena Artefak sihir adalah benda yang mempunyai intensitas sihir yang cukup besar, maka dengan kata lain jika harus berurusan dengan orang yang memiliki Artefak itu, maka mau tidak mau harus memiliki persiapan. 


Salah satunya adalah cara kerja dari Artefak sihir yang baru saja diberikan oleh Arsene.


“Saya cukup menyesalinya, karena saya hanya mengetahui salah satu Artefak itu. Saya tidak tahu apa yang bisa dilakukan oleh pedang Curtana, tapi untuk Cawan suci, banyak penyihir yang mengincar cawan itu, karena Cawan suci itu memiliki rumor bisa mengabulkan permintaan.” Terang Arsene.


Alstrelia pun hanya terkekeh geli mendengar jawaban dari Arsene tadi. tapi dia tidak menunjukkan alasan dirinya bisa tertawa seperti itu.


‘Apa yang dia tertawakan?’ Arsene selalu dibuat tidak mengerti dengan jalan pikiran yang dimiliki oleh Alstrelia. 


Ya! Setiap dekat dengan perempuan itu, secara tidak langsung, Arsene selalu mendapatkan satu arti lain, kalau semua yang ada disekitarnya bukanlah apa-apa. 


KLEK.


Alstelia tiba-tiba membuka pintu balkon. Dimana angin dari luar langsung berhembus masuk dengan cukup kuat. 


Karena awan sudah mendung dan sebentar lagi akan hujan, maka angin yang masuk itu pun samar-samar memiliki aroma khas dari air hujan.


Tapi apa yang akan dilakukan oleh perempuan ini?


Selain salah satu kakinya tiba-tiba saja terangkat ke atas pagar pembatas. Lalu di saat itu pula Alstrelia tiba-tiba saja melompat dari ketinggian untuk melompat ke arah pohon yang ada di depannya persis.


Arsene yang sudah tahu kalau Alstrelia memiliki kemampuan bela diri dan keseimbangan tubuh yang baik, maka dia tidak begitu terkejut selain suara yang tiba-tiba muncul itu. 


PYAK!

__ADS_1


 


“Apa yang anda dapat?” Tanya Arsene dengan sedikit membungkukkan tubuhnya ke depan, gara-gara pohon yang ada di depannya itu cukup lebat.


“Minggir,” Perintah Alstrelia. 


Arsene segera menyingkir dari sana, dan memberikan akses untuk Alstrelia agar bisa melompat kembali ke balkon.


PYAK!...PYAK!


“Burung?”  Gumam Arsene penasaran kenapa Alstrelia tiba-tiba saja melompat dari balkon ke pohon, hanya demi menangkap burung? 


Dengan senyuman devil nya, Alstrelia langsung menggoyang-goyangkan tubuh burung mungil itu agar pusing. “Ha! Ketangkap kau! Kau kan yang mengintipku saat aku mau mandi?!” Terka Alstrelia.


‘M-mengintip? Mandi? Burung ini?!’ Sekila Arsene jadi memiliki imajinasinya sendiri setelah mendengar ucapannya Alstrelia tadi.


PYAK…!


Burung kecil berwarna hitam itu pun langsung meronta ingin lepas. Tapi Alsterlia yang tidak bisa membiarkannya begitu saja burung itu terlepas, langsung mencengkram leher burung tersebut agar mata mereka berdua saling terkunci satu sama lain.


Alstrelia menatap penuh dengan tatapan tajam kepada kedua mata kecil sekecil biji kedelai itu. ‘Itu pasti kau, kan? Edward?’ Pikir Alsrtelia, sudah berhasil menebak apa yang sebenarnya dilakukan burung itu dari tadi.


“Akhhh! Aku ketahuan!” Pekik Edward sambil memegang kepalanya, karena guncangan yang terjadi pada burung yang sudah berhasil ditangkap oleh Alstrelia, benar-benar berefek kepada kepala Edward sendiri yang sudah merasa pusing. “Tidak! Jangan diguncang lagi!” Edward meronta lagi.


Satu orang kepala pelayan pria yang melihat tuan majikannya meronta seperti orang gila, hanya bisa diam dan tidak bisa berbuat apapun, karena dia sendiri sudah tahu apa yang terjadi kepada majikannya itu. 


“Iya..Iya, aku salah! Aku tidak sengaja mengintipmu, apa kau bisa lepaskan burung itu?” Pinta Edward lewat telepati yang dia kirim dengan perantara burung yang sedang dipegang oleh Alstrelia.


“Ho~ Jadi apakah itu alasanmu bisa mimisan saat melihatku?”


DEG!


Edward juga melihat seringaian yang tersungging di bibir Alstrelia. Senyuman penuh rencana, itulah yang bisa Edward lihat dari cara Alstrelia tersenyum kepadanya.


“Akh~” RIntih Edward, ketika kepalanya terasa pusing, gara-gara Alstrelia mengguncang burung peliharaannya lagi. 


BRUK!


Karena pandangannya berputar-putar, Edward jatuh terduduk di lantai. 


“Aku akan melepaskan burung ini asal kau menemuiku malam ini.” Kata Alstrelia, memberikan ancaman kepada Edward. 

__ADS_1


“Aku mengerti, jadi hentikan dulu.” Jawab Edward sudah pasrah. 


Alasan kenapa dirinya tidak bisa melepaskan ikatan sihir yang terjadi antara burung itu dengan dirinya adalah, karena Edward sudah menanamkan satu helai rambut miliknya di antara bulu dari burung kecil itu. Dan agar bisa terputus dari sihir perantara itu, maka Edward harus mengambil kembali rambutnya. 


Tapi karena burung tersebut sudah ada di tangan Alstrelia, maka hasilnya adalah sekarang ini dirinya jadi tersiksa. 


‘Menjadi penyihir memang merepotkan.’ pikir kepala pelayan ini, saat melihat Tuan majikannya sampai seperti orang yang sudah putus asa. 


‘Perempuan ini! Ternyata dia bukanlah sekedar orang biasa dengan penampilannya yang persis dengan adiknya Alrescha. Dari mana Alrescha bisa mendapatkan perempuan ini?! Karena dia bahkan mampu untuk menyadari sesuatu yang sedang mengawasinya seperti monster tadi, dan sekarang burung peliharaanku jadi tertangkap. Dia itu, kurus-kurus begitu, ternyata gesit juga.’ Pikir Edward, menyesal harus menggunakan burung peliharaannya untuk pergi mengawasi Alstrelia.


Semenjak Edward melihat Alstrelia yang dia kenal itu memiliki perubahan besar pada penampilan serta segala ekspresi yang ada saat di pesta semalam, Edward pun sudah memiliki kecurigaan besar terhadap Alstrelia yang palsu itu.


Dan salah satu faktanya adalah disini, dimana Alstrelia ternyata mampu menggunakan sihirnya untuk berkomunikasi dengannya, padahal jaraknya cukuplah jauh.


‘Tapi kenapa dia terus menerus mengguncang-mengguncang peliharaanku! Aku jadi pusing!’ Teriak Edward. 


                        ********


5 Menit kemudian.


“Kenapa Nona tiba-tiba meminta sangkar burung?” Gumam Lena, dimana sekarang ditangannya ada sangkar burung berukuran kecil. 


Dan yang membawa pesan itu adalah Arsene, karena secara kebetulan urusan Arsene dengan Alstrelia sudah selesai. 


Hanya saja saat dipertengah perjalanannya, dia tiba-tiba saja melihat seekor kucing sedang duduk di tengah koridor persis.


Meow…


“Wahh….imutnya. Tapi kenapa disini tiba-tiba ada kucing? Nona Alstrelia kan alergi kucing, jadinya seharusnya mereka tahu agar tidak ada satu kucing pun yang datang kesini” Meskipun begitu, mata Lena langsung berbinar ketika melihat seekor kucing putih bersih dengan bulu lebat dan terlihat cukup halus itu baru saja mengeong di depannya persis dengan wajah bulatnya. 


Hatinya tergerak untuk menyentuh kucing lucu itu. 


Meow….


Kucing putih itu pun berdiri dengan keempat kakinya, dan berjalan mendekati Lena.


Dari tiga meter, menjadi dua meter, satu meter, dan terus berjalan mendekat. Mata berwarna kuning itu pun menatap Lena.


Meow…..


Lena yang semakin tertarik untuk menyentuhnya, langsung berjongkok dan mengulurkan tangan kanannya. “Ayo sini,” Bujuk Lena pada kucing yang hanya bisa mengeong itu. 

__ADS_1


__ADS_2