
Di dalam kereta kuda.
Alrescha terus saja masuk ke dalam pikirannya.
Sambil menatap undangan yang dia terima dari Chavire, pikirannya terus melayang kepada Alstrelia.
‘Walaupun dia hanyalah seorang pengganti, tetap saja dia harus ada dalam perlindungan.’ pikir Alrescha. Dia mengharapkan kau apa yang terjadi tadi, bukan menjadi awal sebuah bencana lainnya, baik itu mengenai adiknya yang asli maupun adik pengganti.
KLOTAK….KLOTAK…...KLOTAK……..
Alrescha melirik ke samping untuk melihat pemandangan diluar jendela.
Terlihat ada dua gedung hancur, dan sisanya yang berdiri di sekitar gedung itu sudah terbakar sampai habis dan hanya menyisakan dinding yang sudah menghitam.
“........................” Alrescha hanya diam sambil melihat para warga dan kesatria, sedang membereskan sisa-sisa puing yang ada.
“Tumpuk ini disebelah sana.” perintah sang kesatria kepada salah satu warga sipil, yang membantu proses pembersihan.
“Iya.”
“Kalian, jika sudah lelah istirahat dulu. Jangan terlalu memaksakan diri.” seorang kesatria yang menjadi komando atas jalannya kegiatan gotong royong itu.
“Baik tuan!” jawab mereka secara serentak.
Lalu saat melihat adanya kereta kuda yang datang, mereka semua langsung memberinya jalan.
“........................” Alerscha yang merasa akan mendapatkan tatapan dari semua orang, langsung menutup tirainya.
Kepergiannya hanya berakhir dengan keheningan saja.
______________________________
__ADS_1
“Hei, apa kau yakin tentang tadi malam?” salah satu kesatria yang berjaga di pintu depan gerbang bertanya kepada temannya yang sama-sama berdiri dan berjaga di seberang sana.
“Ya. Tuan Elbert sendiri yang mengatakan di ibukota ada insiden besar. Meskipun kata mereka, ledakannya adalah karena sebuah kembang api yang tersimpan di dalam salah satu gudang penyimpanan, mereka masih mengaitkannya sebagai teror yang dilakukan oleh kelompok itu.” jelas kesatria berseragam biru ini kepada rekannya.
Berita dalam semalam memang langsung beredar dengan cepat berkat pelayan ataupun pedagang yang datang ke kediaman Fisher untuk mengirimkan stok berbagai kebutuhan untuk semua orang di kediaman Fisher.
Oleh sebab itu, kabar burung selalu beredar tanpa tahu kebenarannya seperti apa.
“Kau bilang kelompok itu? Cin-”
Belum sempat mengucapkan kalimat selanjutnya, kesatria ini langsung merasakan kehadiran seseorang yang sedang berjalan ke arah mereka.
TAP…..TAP…..TAP……
Seorang perempuan dengan sepasang kaki ramping itu berjalan dengan cukup santai. Tapi apa yang dilihat oleh mereka berdua setelah menyadari keberadaan dari perempuan yang mereka berdua kenal, ternyata sedang menggendong seseorang di kedua tangannya.
“Nona?!” terkejut kesatria ini saat tahu wajah itu memang benar-benar milik dari nona majikan mereka, Alstrelia.
Mereka berdua segera berlari menghampiri Alstrelia.
“Sini, biar saya yang menggendongnya.” salah satu diantara mereka langsung merebut Lena dari tangan Alstrelia.
“Anda tidak apa-apa kan? Apa ada yang terluka?” disaat temannya sudah membawa Lena masuk untuk diberikan perawatan karena ada luka di kepalanya, kesatria ini segera menginterogasi Alstrelia dengan pertanyaan umum tapi cukup mendesak.
“Tidak apa-apa, tapi lena mengalami benturan di kepalanya.” jawab Alstrelia singkat.
“Anda yakin? Walaupun anda bilang tidak apa-anda harus segera diperiksa oleh dokter.” ujar kesatria ini.
‘Wajahnya benar-benar mengkhawatirkan aku?’ Alstrelia yang ditanyai oleh seorang kesatria dengan wajah khawatir itu, Alstrelia justru membalasnya dengan tatapan penuh selidik. Tapi Alstrelia segera menghilangkan ekspresinya tadi sambil menjawab, “Jika kau tidak percaya, panggilkan saja dokter itu dan bawa padaku.”
Kalimat yang diucapkan oleh Alstrelia sontak membuat kesatria ini sedikit tertegun, seolah nona Alstrelia yang ini memberinya perintah kepadanya untuk membawa dokter yang sudah melakukan hal mencurigakan kepada nona aLstrelia, dan akan menginterogasinya.
__ADS_1
Tapi kesatria ini tetap mengiyakan perintah itu. “Kalau begitu saya akan panggilkan sekarang.”
“Hm….” Alstrelia hanya memberinya anggukan iya, dan kemudian melihat kepergian kesatria itu dari hadapannya. “Mereka ini ak-” seperti halnya tadi, Alstreila kehilangan kata-katanya saat mendengar suara kereta kuda yang datang ke arahnya.
KLOTAK….KLOTAK…….KLOTAK……
Kereta kuda yang dibawa oleh empat kuda, terus melaju sampai akhirnya berhenti tepat di depannya.
NGIK….
BERR…..
Alstrelia hanya terpaku kepada keempat kuda yang harus merelakan tubuhnya untuk di ikat dengan kereta yang mereka berempat bawa.
KLEK!
“....................” semua perhatian Alstrelia teralihkan dengan suara pintu yang terbuka, dan langsung memunculkan seseorang.
“Apa yang sudah terjadi kepadamu?” tanya pria berambut hitam ini kepada Alstrelia. Siapa lagi kalau bukan Alrescha.
Alrescha memperhatikan penampilan Alstrelia yang mana bajunya ada cukup noda karena tanah.
Alrescha semakin mengernyitkan matanya saat sepasang matanya juga melihat sebuah noda merah yang tidak lain adalah darah merah yang masih segar, tepat di bagian lengan pajang dari pakaian seragam putihnya itu.
“Apa kau terluka?”
Alstrelia langsung berbalik dan memunggungi Alrescha sambil berkata : “Ini bukan darahku, tapi darah pelayan itu. Simpan saja rasa khawatirmu untuk dia saja, jangan sampai membuatnya iri karena mengkhawatirkanku.”
TAP….TAP…….TAP……
Alstrelai pun pergi meninggalkan Alrescha di pintu gerbang.
__ADS_1
‘Masih sempat-sempatnya mengkhawatirkan orang lain? Apa yang sebenarnya di dalam pikiran laki-laki itu? Dia pikir aku orang yang gampang terluka?’ pikir Alstrelia sambil berjalan pergi ke tempat tinggalnya sementara.
“....................” Alrescha, dia seketika tahu apa maksud dari ucapannya Alstrelia tadi. ‘Aku memang sadar, aku salah mengkhawatirkan seseorang. Bukan adikku yang aku khawatirkan, aku malah mengkhawatirkan dia. Tapi tetap saja, selama dia berada disini, maka aku harus memperlihatkan ketulusanku terhadap adik, meski dia hanya adik pengganti.’