Putri Alstrelia

Putri Alstrelia
126 : Alstrelia : Mereka semua


__ADS_3

SYUHTT......


Serangan dari Arsela pun semakin banyak, dan berhasil membuat Alrescha, Alstrelia, Chavire menerima masing-masing satu serangan yang cukup merepotkan.


Maka dari itulah, mereka bertiga dalam serentak langsung menghalangi serangan dari Arsela yang berupa kubus emas itu dengan menebasnya.


SYAHTT.....


BRUKH...


Tapi ada kalanya juga, dalam satu tebasan, empat kubus besar itu berhasil keluar dan pergi menyerang mereka bertiga secara bersamaan.


Alstrelia menendang balik salah satu kubus yang dia dapat itu kearah mereka berdua.


DHUAK....


Arsela memotong kubus itu balik.


Sedangkan Alrescha, dia yang sempat hampir di hantam kubus itu, berhasil melompa tinggi dan mengambil kesempatan itu sebagai pijakan dirinya untuk terjun ke bawah untuk menyerang Charles.


Dan Chavire pun membantu mereka berdua. Tapi yang menjadi alasan utama dirinya ada disana bersama mereka berdua adalah, dia ingin melihat tubuhnya sendiri yang saat ini sedang dipakai oleh jiwa orang lain.


"Apa kamu sangat ingin mendapatkan tubuh ini lagi? Chavire?" Ucap Charles Chavire dengan senyuman sinis.


"..............." Chavire pun hanya terdiam, karena sebenarnya dirinya sudah tidak begitu membutuhkan tubuhnya lagi, apalagi tubuh yang sudah dinodai.


Jelas saja Chavire tahu, dan buktinya ada di lantai. Air bening bercampur darah merah...


Sebenarnya itu adalah pemandangan yang sungguh menyayat hatinya, sebab tubuh yang Chavire jaga untuk seseorang, ternyata sudah digunakan untuk melakukan hal buruk yang menghancurkan negara.


'Ahahah......' Tiba-tiba saja Chavire dalam diam tertawa sendiri. 'Dengan begini, aku sudah pasti terkesan jadi Kaisar yang mengancurkan negaraku sendiri. Tapi semua itu sudah tidak ada gunanya lagi. Sekalipun keturunan Kaisar Regalia berakhir di tangan Chavire sendiri, yang terpenting adalah aku harus tetap hidup untuk negara yang nantinya jika semua masalah ini selesai, maka aku akan mebangun ulang kekaisaran ini.'


Itulah tekad yang ada dalam diri Chavire.


Disaat Charles dan Chavire sama-sama saling menatap satu sama lain, maka Alrescha akan membuat itu sebagai kesempatan untuk dirinya untuk menyerang Charles yang sedang memandang sinis Chavire.


"............." Arsela yang melihat Alrescha hendak menyerang Charles, dia kembali membuat tebasan di udara dan berusaha menghalangi Alrescha menyerang Charles.


SYAHTT.....

__ADS_1


Serangan dari kubus kembali datang kearah Chavire.


"................" Alstrelia yang tidak akan membiarkan wanita itu menghalangi lagi Alrescha, dia segera menyerang Arsela dengan pedangnya.


CTANG.....


Pedang milik Alstrelia dan Arsela pun saling beradu.


Sedangkan Alrescha yang kembali di hadiahi kotak berwarna emas itu, dia tentu saja mampu menghalangi serangan itu dengan kembali memotong kubus tersebut jadi dua,


SYAHT....


Dan di saat Alrescha hampir memenggal leher Charles yang saat ini menggunakan tubuh Chavire, tiba-tiba saja Charles melirik kearah Alrescha dengan senyuman miringnya.


".............!" Alrescha sedikit terpegun dengan ekspresi dari senyuman yang Charles berikan itu seolah kalau serangannya tidak akan berhasil menyerang Charles.


Dan benar saja, dalam sekejap mata, tepat saat Alrescha mengayunkan pedangnya dari kanan ke kiri, Charles sudah menghilang dari tempatnya. Hasilnya tentu saja, Alrescha jadi hanya menebas angin saja.


TAP.


"..................!" Alrescha langsung menolah kebelakang. Ternyata Charles sudah berpindah posisi tepat di depan Chavire, dengan kata lain orang itu akan melawan tubuhnya sendiri.


CTANG....


Namun ketika Alrescha yang hendak pergi melesat kearah Charles dan menyerangnya dari belakang, tiba-tiba saja dia merasakan ada yang datang dari arah belakang.


Tepatnya adalah...


PRANKKK......


Seluruh kaca jendela langsung pecah yang ada di belakangnya persis pun pecah berkeping-keping.


Semua mata langsung terbelalak ketika melihat mereka yang tiba-tiba saja masuk.


_____________________


"Hehehehe......." Bibir merah itu pun tersungginng sebuah senyuman yang berakhir dengan tawa kecilnya itu.


Vera yang saat ini tengah duduk atas lantai tepat di tengah pola lingkaran sihir yang ada di dalam kamarnya, sedang dalam posisi menuliskan sesuatu di atas lantai itu dengan darah yang dia dapatkan dari ujung jari telunjuknya.

__ADS_1


Tiga kalimat yang dia tulis di atas lantai itu pun berhasil menciptakan keajaiban lain. Yang dimana garis yang terukir di lantai marmer itu saat ini sudah bercahaya berwarna hijau.


Wajah bahagia dari Vera pun benar-benar menciptakan kesan dia sangat senang menikmati permainan para manusia kali ini.


Sampai Chavire yang saat ini merasuki tubuh lain pun, masih sempat-sempatnya meminta bantuannya. Sekalipun Reva adalah adik tiri Chavire, tapi jangan salah sangka kalau mereka berdua akan menjadi saingan dalam merebut takhta.


Karena Reva adalah orang yang dijadikan tempat bersemayamnya Vera, yaitu leluhur anggota kerajaan terdahulu yang hanya memiliki tugas untuk melindungi negeri ini, maka peran Vera tidak bisa di sangkutpautkan dengan takhta yang hanya bisa di pegang oleh Chavire.


'Chavire, permainan dari teman-teman dan seluruh anak buahmu cukuplah menyenangkan. Dan malam ini adalah permainan yang paling menentukan. Hanya karena satu orang, yang terlibat dalam permainan ini pun sampai puluhan ribu jiwa, dan sekarang pun terus bertambah.


Chavire, bagaimanakah kau mengatasi masalah yang disebabkan oleh Ayahmu yang bodoh itu?


Aku tahu semuanya. Masa lalu dan masa depan, semua yang ada disinipun bisa aku lihat. Tapi sayangnya aku harus menutup mata, karena jika aku tidak begitu, maka aku akan merasa cepat bosan.' Batin Vera.


Dia pun mengambil pita yang awalnya melingkar di pinggangnya. Pita berwarna mereah itu segera dia ikat untuk menutupi sepasang matanya.


Setelah berhasil di tutup, senyuman remeh yang tidak pernah udar pun dilanjutkan dengan mulut yang saat ini mulai merapalkan mantera.


Semua perhiasan yang terbuat dari permata yang ada di gaunnya pun langsung terlepas dan menggelinding di atas lantai. Batu kristal itu pun tiba--tiba bergetar dan pecah.


PRAK...


Selepas pecahan batu kristal itu berserakan didalam lingkaran sihirnya, pecahan tersebut langsung meleleh dan bergerak menuju garis dari lingkaran sihir itu.


"Anak bau kencur. Bagaimana kamu akan mengatasi ini? Selesaikan semua kehancuran yang akan melanda ngeri ini dengan kekuatanmu sendiri dan teman-temanmu." Gumam Vera, sebelum akhirnya Vera kembali merapalkan sebuah mantera sihir yang mengakibatkan area lingkaran sihir itu bersinar lebih terang. Sampai keberadaan dari Vera yang duduk di tengah lingkaran itu berujung ada di dalam penjara dari cahaya itu.


WUSHHH.......


Tanpa menghancurkan langit-langit dari kamarnya, cahaya hijau itu langsung bersinar terang dan menembus ke atas sana.


_____________


Di luar Istana


Semua orang yang ada diluar Istana langsung melihat pemandangan itu dengan mata kepala mereka sendiri.


Sebuah cahaya hijau yang bersinar terang itu terbang menuju ke atas langit.


Langit Ibu kota Regalia yang awalnya mendung dan diselimuti awan dalam bentuk gumpalan berwarna kelabu yang berputar putar tepat di atas Istana, langsung terkurung begitu saja ketika cahaya hijau yang terbang ke atas langit tersebut, tiba-tiba langsung pecah dan membuat sebuah dinding paling besar, menyelimuti seluruh pelosok Negeri.

__ADS_1


Komandan kesatria Regalia yang melihat fenomena itu dengan mata kepalanya sendiri pun langsung bergumam. "Leluhur Vera ternyata ada disini."


__ADS_2