
Demi menghindari perhatian dari banyak orang, Edward akan melakukan teleportasi di tempat yang lebih aman.
Tapi karena Alstrelia yang memiliki penasaran tinggi pada sihir yang akan digunakan oleh Edward, maka Edward memperbolehkannya ikut melihat prosesnya.
‘Teleportasi, apakah dengan sihir itu aku bisa pulang ke tempat asalku?’ pikir Alstrelia. Dia dari awal sangat ingin mengetahui apa yang namanya teleportasi dan bagaimanakan cara menggunakannya. Tapi semua itu belum sepenuhnya bisa diwujudkan karena minimnya ilmu pengetahuan yang menangani konsep dari tatanan sihir teleportasi.
Lalu sekarang, dengan melihatnya seorang penyihir yang mampu menggunakan sihir teleportasi, maka Alstrelia jadi lebih mendekati titik keberhasilan untuk menyempurnakan teknologi yang sedang di kembangkan di tempat asalnya.
‘Edward, kelihatannya kita akan memiliki urusan yang lebih panjang dari pada hanya mengantarkan Alrescha pergi membasmi monster.’ imbuhnya lagi, sambil menjeling tajam kearah Edward yang terus menerus menghindari tatapan matanya.
‘Kenapa dia terus menatapku?’ Edward sudah masuk ke dalam kegelisahannya, gara-gara Alstrelia terus saja menatap ke arahnya, seperti Edward punya hutang banyak kepada wanita itu.
Sedangkan Alrescha yang memiliki tanggung jawab dalam mengelola perbatasan di daerah utara, dia harus pergi kesana untuk menangani masalah yang ada.
“Elbert, aku yang akan pergi ke sana dengan Edward. Aku titip dia dan Arsela.” pesan Alrescha kepada Elbert.
“Saya akan menjaga nona dengan baik.” jawab Elbert.
Sebelum pergi, Alrescha menyempatkan matanya untuk melirik ke arah Alstrelia yang terus-terusan mendelik ke arah Edward.
“Dah~” menyadari tatapan dari Alsrescha, Alstrelia secara tiba-tiba memberikan lambaian tangan.
Itu seperti lambaian tangan yang terjadi saat di taman seminggu yang lalu.
“Padahal aku tidak perlu penjagaan.” lata Alstrelia lewat kemampuan telepatinya.
“Walaupun kau tidak memerlukannya, tapi kau akan membutuhkannya. Tidak ada yang bisa dilakukan jika sendirian.” jawab Alrescha dengan pikirannya sendiri, dan itu mampu didengar oleh Alstrelia juga.
“...................” Alstrelia tidak berkomentar apapun, karena apa yang dikatakan oleh Alrescha memang ada benarnya, tapi juga ada salahnya .
Benar bahwa seseorang tidak mungkin hidup sendirian. Tapi itu hanya berlaku untuk orang yang belum memiliki banyak pengalaman dalam menjalani hidup yang sebenarnya.
Dan ceritanya akan berbeda lagi jika itu adalah Alstrelia.
Setelah dirasa sudah cukup dengan pembicaraan mereka, Alstrelia memberikan kode kepada Edward untuk secepatnya mengaktifkan sihir teleportasinya.
__ADS_1
Melihat hal tersebut, Alstrelia kembali terfokus pada Edward yang akan menggunakan sihirnya.
Teleportasi adalah sihir yang sedikit menguras banyak mana, dan Edward adalah pemilik yang memiliki banyak mana sihir, sehingga mampu menjabat sebagai pemimpin dari menara sihir.
Alrescha dan Edward berdiri berdampingan. Edward beberapa detik itu memejamkan matanya sambil merapalkan sedikit mantra, yang memicu sebuah garis lingkaran berdiameter 1 meter itu akhirnya muncul.
“Apa itu lingkaran sihir?” Alstrelia bergumam karena terpana dengan desain dari lingkaran yang muncul dan memiliki warna kuning, sebelum akhirnya beberapa detik kemudian, lingkaran itu menghilang dalam sekejap mata dan membawa kedua orang tadi ikut menghilang juga.
“Apa anda baru melihat lingkaran sihir?” tanya Elbert penasaran dengan reaksi wajah Alstrelia yang terlihat seperti baru saja menemukan sebuah harta karun.
“Tidak juga sih,” Alstrelia menjawabnya dengan kedua alis bertautan. “Hanya heran, kenapa kecil sekali?”
“................” Elbert tidak jadi penasaran karena rupanya gumaman tadi adalah kelanjutan dari kalimat untuk mencibir.
“Bert, apa kau bisa menggunakan sihir?” tanya Asltrelia secara dadakan, karena sudah hampir seminggu tinggal dan berbincang bersama, Alstrelia baru menanyakan hal itu sekarang.
“Untuk kesatria seperti saya, saya memiliki kemampuan sihir penguat, sihir pendeteksi, dan ada beberapa lagi. Kenapa tiba-tiba bertanya soal sihir?”
“Hanya tanya saja,” cetus Alstrelia sambil melirik ke arah kanan, dimana di depannya itu adalah sebuah taman. ‘Kira-kira wanita itu pergi kemana?’ pikir Alstrelia saat beberapa waktu lalu, matanya yang tidak bisa diam itu terus saja melakukan kebiasaannya untuk mengawasi sekitarnya. Sehingga saat Alrescha Sedang pergi menghampirinya, disaat yang sama juga dia melihat Arsela tiba-tiba pergi dan menghilang tanpa jejak. “Apa kau tidak mau mencari tunangannya Alrescha?” Alstrelia kembali memberikan delikan, tapi kini kepada Elbert.
“Aku hanya tidak mau menyebut namanya.” ketusnya. Alstrelia benar-benar sudah memiliki firasat buruk dari awal pertemuannya, karena itulah sosoknya Arsela sudah menjadi pemicu untuk Alstrelia agar tidak dekat-dekat dengannya.
“Jika anda duduk diam, saya akan mencarinya.” tunjuk Elbert kepada Alstrelia pada satu kursi yang tadi Alstrelia duduki.
Alstrelia memutar bola matanya dengan malas, lalu menghela nafas dengan kasar. “Apa kau baru saja memerintahku?”
’Sifatnya kambuh lagi.’ Elbert kembali harus dibuat sabar dengan perangai Alstrelia yang sombong itu kembali muncul. “Tidak, tapi ini permintaan.” ralat Elbert pada kata-katanya sendiri tadi.
Alstrelia langsung menyingkirkan tatapan selidiknya dari Elbert lalu memberikan senyuman lebar, karena Elbert mau mengubah kata-katanya sendiri.
Tapi belum sempat melangkah masuk ke dalam aula pesta, seekor kucing hitam tiba-tiba muncul.
Meow…
“................” Alstrelia langsung mendelik tajam kucing itu. Kucing yang hendak berjalan menghampiri Elbert. ‘Kucing ini-’
“Kenapa disini ada kucing?” lirik Elbert ke arah bawah. “Akan saya bawa kucing ini, takut kalau ada yang tamu undangan yang punya alergi bulu kucing.”
__ADS_1
Ketika Elbert hendak membungkuk untuk mengambil kucing hitam yang sedang datang ke arahnya, di saat itu juga Alstrelia langsung mengangkat ujung gaunnya dan segera menarik lepas ikat pinggang yang melingkar di rok dalam gaun pesta yang Alstrelia pakai.
SREET..!
Dengan kaki yang masih memakai high heels tinggi itu, Alstrelia berlari cepat ke arah Elbert.
CTAK!
Alstrelia menghentakan ikat pinggang yang dia genggam itu dengan keras hingga ikat pinggang tersebut langsung berubah menjadi kaku sepenuhnya layaknya sebuah pedang.
Meow….
“Bert!” panggil Alstrelia dengan nada yang begitu dingin.
Elbert yang mendengar suara Alstrelia begitu rendah, membuatnya menghentikan tangannya untuk menyentuh kucing itu dan beralih untuk kembali berdiri sambil melirik ke depan, dimana Alstrelia ternyata sedang berlari ke arahnya dengan wajah seriusnya.
Meow...meow…
Suara kucing dari kucing hitam yang terus berjalan mendekat itu kembali menarik perhatian Elbert untuk melirik dan menatap mata kuning milik sang kucing.
Namun, kucing yang awalnya bersikap ingin di manja itu tiba-tiba saja melompat ke arah Elbert.
Meow!
“Membungkuk!” perintah Alstrelia di detik itu juga.
Elbert yang memang ingin menghindari dari pada dicakar kucing, langsung membungkuk, tapi lain hal dengan Alstrelia yang tiba-tiba saja mengayunkan benda panjang ke arahnya dengan gerakan yang cukup cepat, sampai akhirnya...
CRASHH…!
Potongan dari tubuh kucing itu langsung terlempar ke arah taman.
Dan si pelaku utama atas pembunuhan hewan tidak bersalah adalah…
‘Nona Alstrelia?!’ detik hati Elbert saat cairan darah merah dari kucing yang sudah terbelah menjadi dua itu menetes dari bilah panjang berwarna hitam itu.
Senjata yang awalnya Elbert kira adalah pedang, tapi kenyataannya adalah ikat pinggang yang biasanya Alstrelia pakai.
__ADS_1