
DRAP...DRAP...DRAP......
Langkah kaki yang sedemikian cepat dan di akhiri dengan sebuah lompatan yang cukup kuat itu sukses membawa Alstrelia pergi ke area reruntuhan.
Ya...dengan bantuan Gimmick yang dia miliki itu, maka dia bisa pgri sesuka hatinya tanpa perlu lewat pintu gerbang.
Lalu apa yang dia lakukan dengan pergi ke area reruntuhan itu?
Itu karena dia ingin pergi untuk menemukan sesuatu yang lainnya.
Harapannya memang seperti itu, tetapi ketika Alstrelia kembali ke tempat dimana dirinya mendapatkan pedang Alstoria itu, reruntuhan itu sudah tidak ada lagi, dan yang tersisa adalah lantai batu yang masih utuh, sedangkan puing-puing bangunan, sama sekali sudah tidak ada.
"Kenapa bisa jadi seperti ini?" Gumam Alstrelia. Dia sama sekali tidak mengerti karena yang terakhir kali dia ingat tentu saja adalah dia bertarung dengan makhluk mitologi yang cukup terkenal itu, yaitu Griffin.
Tapi setelah menghilangnya Griffin, maka tempat itu puing-puing hasil pertarungan mereka berdua menghilang?
"Apakah seperti itu?" Alstrelia yang masih kurang percaya dengan pendapat hasil dari pemikirannya tadi, membuatnya semakin penasaran apa yang sebenarnya terjadi.
"Apa yang sedang kau lakukan disini?" Hingga tiba-tiba saja suara khas milik Alrescha, berhasil menghancurkan suasana hati Alstrelia yang sedang di landa penasaran itu.
"Aku hanya sedang mengunjungi tempat yang pernah aku kunjungi." ketusnya.
"Maksudmu?" Tanya Alrescha dengan sorotan mata yang cukup datar.
"Karena kau sudah tahu masa laluku, bahkan termasuk aku berasal dari mana, maka aku akan menjawabnya. Aku kesini untuk menyelidiki awal aku tiba-tiba bisa muncul di sini." Jawab Alstrelia kepada Alrescha yang terlihat antara penasaran juga tidak peduli.
"Jadi ini tempat kau muncul ke dunia ini?" Demi menjaga kerahasiaan dalam percakapan mereka berdua, maka Alrescha pun melakukan hal yang sama, denga menggunakan telepatinya sebagai bahan perbincangan yang dilakukan oleh mereka berdua.
"Bukan persis disini, tapi di sana." Alstrelia pun menunjuk pada satu pohon yang pernah Alstrelia tendang sampai tumbang, di sekitar sanalah, Alstrelia tiba-tiba sudah berbaring di atas rumput hijau itu.
"Apa maksudnya kau mencoba menyelidiki tempat awal mula kau pindah kesini?"
"Nah itu tahu, kenapa tanya?" Celetuk Alstrelia dengan kedua mata menyipit.
"Kan aku bertanya untuk mengkonfirmasi maksud dari tujuanmu itu." Tatap Alrescha terhadap satu-satunya perempuan, tidak...tapi salah satu perempuan dari dua perempuan yang berani berbicara non formal dengannya.
__ADS_1
Sebenarnya Alrescha bisa berada di sini juga karena dia memang diam-diam mengikuti Alstrelia yang tiba-tiba pergi dengan cukup mencurigakan.
Apalagi mengingat dinding sihir area untuk melindungi kediaman Fisher masih belum terpasang, maka tidak akan ada yang menyadari kepergian dari perempuan bar-bar ini.
Dan setelah di buntuti, rupanya Alrescha tahu, kalau reruntuhan yang kebetulan memang tidak cukup jauh dari belakang mansion Fisher ini adalah tujuan dari Alstrelia.
Awalnya Alrescha sendiri tidak tahu kenapa Alstrelia ini bisa tahu ada reruntuhan disini, tapi semuanya sudah terjawab oleh si empu.
"Iya..iya." Alstrelia dengan malas mengibas kibas tangannya, mengerti dan tidak mau mengerti apapun yang mau di katakan oleh pria di sebelahnya itu.
"Jadi apakah ini ada hubungannya dengan tempat terakhir kali kau tiba-tiba saja pindah kesini?" Tanya Alrescha lagi. Dia sama sekali tidak sungkan untuk bertanya dan bertanya, karena dia entah kenapa suka dengan reaksi yang selalu di berikan oleh perempuan yang punya penampilan yang sama dengan adiknya yang masih hilang itu.
Seperti tadi, seperti orang yang sudah benar-benar malas meladeni orang, maka reaksi dan ekspresi Alstrelia pun jadi terlihat lucu?
Dalam diamnya, Alrescha mencoba menjernihkan pikirannya lagi dari segala banyak hal yang berhubungan dengan perempuan yang ada di depannya ini.
"Tidak. Tempat terakhir kali yang aku kunjungi itu markas ku, di depan kamarku persis. Jadi tidak ada hubungannya antara tempatku dengan tempat ini, kecuali kalung yang aku pakai." beritahu Alstrelia.
Alstrelia tidak mengeluarkannya karena si penanya sendiri saja sudah tahu kalung yang senantiasa menghiasi lehernya Alstrelia.
Ya..
Lalu Alrescha pun melihat ke arah satu perhiasan yang sudah pasti berada di balik pakaian yang di kenakan oleh Alstrelia, tentunya.
Disanalah, ada satu kalung yang pernah membuat diri Alrescha tiba-tiba saja marah karena salah mengira kalau kalung yang di pakai oleh perempuan di depannya ini adalah kalung milik adiknya yang asli.
'Kalungnya? Aku tentu saja sangat ingat, dia punya kalung yang sama persis dengan yang di gunakan oleh adikku. Jadi begitu, karena kalung mereka berdua sama, wajah pun sama, maka mereka berdua jadi punya satu hubungan yang saling mengikat. Makannya, saat aku menyelidiki apa yang ada di dalam ingatannya itu, aku bisa melihat kalau dia ternyata punya kenangan bertemu dengan adikku.' Pikir Alrescha dengan cukup keras.
Akhirnya dia bisa mendapatkan sedikit pencerahan, karena semua teka-teki yang kian terhubung satu sama lain dengan adiknya.
'Kalau seperti ini, berarti ada kemungkinan kalau adikku bisa ditemukan dengan lebih mudah.' Pikirnya lagi?
"Aku masih bisa mendengar pikiranmu, bodoh." Ungkap Alstrelia dengan senyuman sinisnya.
Dan Alrescha pun, segera memberikan tatapan yang dingin, karena ternyata semua pikirannya masih bisa di baca oleh Alstrelia?
__ADS_1
Jauh di lubuk sel-sel otaknya yang paling dalam, Alrescha sebenarnya sangat penasaran untuk satu hal ini.
Yaitu semua kekuatan yang punya kombinasi hampir kompleks itu, kenapa bisa di miliki oleh perempuan ini?
"Hmm...jadi tidak bisa menjelajah deh." Rungut Alstrelia, kembali memasuki mode ingin menjelajahi reruntuhan yang menjadi tujuannya tadi, ternyata hanya berakhir sebuah angan-angan belaka.
'Sebenarnya ada apa dengan aku ini? Aku selalu saja tidak bisa fokus saat aku dekat dengannya? Padahal aku berusaha agar perempuan yang ada di depanku ini adalah adikku. Tapi kenyataannya selalu saja berbeda. Aku bisa mengenalinya dengan baik, kalau yang ada di sini adalah orang lain, makannya? Aku jadi ingin tahu kenapa dia punya sedemikan banyak kekuatan?'
Alrescha yang kian terjerat dalam perasaan pribadinya sendiri, berusaha memejamkan matanya dan mencoba menyingkirkan perasaan yang emosional itu.
Dia harus menata hatinya, pikirannya, jangan jadi pria bre*ngsek yang inginnya-
Alrescha seketika membuka matanya. Setelah terbuka sempurna, dia melihat Alstrelia sedang berpikir. Dengan melihat wajah berpikirnya yang cukup menawan itu, Alrescha tiba-tiba saja melangkah kakinya ke depan untuk menghampiri Alstrelia.
TAP...TAP...TAP....
'Ini benar-benar seperti bukan diriku saja. Tapi aku sungguh ingin mencobanya lagi.' Alrescha yang entah terpengaruh dalam obbat apa, tiba-tiba pandangannya hanya tertuju pada satu hal saja, yaitu bibir Alstrelia ynag begi turanum juga memikat jati dirinya sebagai seorang pria.
"Hei, apa kau bisa meminjamkan kekuatanmu untuk mengisi kolam itu?" Tunjuk Alstrelia pada satu kolam yang tidak ada airnya sama sekali. Tapi jika menggunakan kekuatan es milik Alrescha, maka es yang hanya di tanggal di cairkan, bisa digunakan untuk memenuhi empat kolam kecil yang ada di sekitar mereka berdua.
"Mau penuh apa separuh?" Tanya Alrescha.
Sedangkan Alstrelia sendiri masih dalam posisi tidak punya keinginan untuk menoleh ke belakang dan menatap lawan bicaranya itu.
"Tentu saja isi kolam itu sampai penuh." Jawab Alstrelia.
KLIK.
Dalam sekali jentikan jari, Alrescha berhasil menciptakan balok es yang di letakkan di masing-masing dari empat kolam itu.
Akan tetapi, Alrescha yang tidak pnrah bisa mengalihkan perhatiannya sedikit pun dari perempuan yang sedang mencoba mencari ide lain itu, terus membuat kedua langkah kakinya pergi menghampiri Alstrelia.
PSSHH...
Kabut putih perlahan muncul, karena balok es pemberian Alrescha tadi perlahan mulai mencair sendiri karena teriknya matahari yang cukup membuat kulit terasa terbakar.
__ADS_1
'Aku jadi menginginkannya, jangan pergi-' Alrescha mulai mengangkat tangan kanannya dan mencoba untuk meraih tangan kanan Alstrelia.