
WUSHH.....
Malam itu akan menjadi malam terburuk sepanjang sejarah Kekaisaran.
Tepat di atas langit Ibu kota Kekaisaran Regalia, angin tiba-tiba bertiup kencang, gumpalan awan yang kian bergemuruh layaknya akan datang badai.
Kilatan dari petir pun menghiasi awan tebal itu.
"Komandan, apa yang akan terjadi kali ini?" Salah satu anak buah dari kesatria suci, bertanya dalam wajah khawatirnya.
Siapapun yang melihat itu sama-sama akan memperlihatkan wajah cemas mereka, karena perasaan buruk itu datang bersamaan dengan keadaan yang kian mencengkam itu.
"Aku tidak tahu. Tapi kita semua harus bersiap dengan segala konsekuensi yang terjadi. Apakah kalian sudah membereskan semua monster?"
"Sudah. Kami juga sudah memindahkan semua warga sipil yang tadi sempat ikut dalam pertarungan." Jawab kesatria ini. "Mereka semua juga dalam kondisi bingung karena tiba-tiba mereka bisa ada disana dengan senjata yang mereka bawa."
"Sudah pasti. Karena mereka semua dikendalikan oleh seseorang. Ketika pengaruh nya sudah hilang, mereka tidak akan mengingat apapun. Tapi efek sampingnya, sudah pasti tubuh mereka akan sakit semua."
"Benar. Mereka semua memang bisa bertarung dengan sangat baik, tapi karena sebuah paksaan, pastinya tubuhnya akan sakit semua. Tapi-" Kesatria ini kembali menatap langit. Cuaca yang terlihat buruk itu akan membawa sederetan bencana buruk juga. "Apa yang sebenarnya Yang Mulia Kaisar lakukan? Beliau dalam dua bulan ini terlihat sangat berbeda."
********
"Hachum...!" Chavire tiba-tiba bersin.
"Chavire! Ludahmu mengotori wajahku." Protes Reva sambil mengusap wajahnya dengan lengan bajunya.
"Kotor-kotor begitu juga masih tetap cantik. Tidak usah protes." Ucap Chavire seraya menyeka bibirnya dengan punggung tangannya gara-gara bersin yang tiba-tiba muncul.
'Dia memang benar-benar Chavire. Tapi kenapa sampai bisa masuk ke tubuh orang lain? Yah..bagiku itu tidak masalah, karena tubuh yang kakakku ini gunakan cukup lumayan.' Reva terus memperhatikan apa yang sedang dilakukan oleh Chavire itu.
"Jadi apa syarat untuk mengaktifkan kemampuanmu?" Tanya Chavire.
Saat ini mereka berdua sebenarnya berada di dalam kamar milik Reva.
"Pertama-tama geser semua perabotan di kamarku. Yang aku butuhkan hanya lantainya." Perintah Reva, agar Chavire menggeser semua barang, dan kursi, meja bahkan tempat tidur besar itu, harus Chavire geser ke tepi.
__ADS_1
".........." Dan tentu saja Chavire pun dengan mudah menggeser semua properti di dalam kamar Reva, sampai lantai yang awalnya ditutupi karpet itu, kini terliihat dengan jelas pola adanya lingkaran sihir yang cukup besar.
"Syaratnya, aku harus mendapatkan ciuman."
"Kamu mengengada ya?"
"Tidak." Ekspresinya yang datar, mengisyaratkan kalau yang dikatakannya tadi memang benar. "Ini untuk pertama kalinya untuku, dan syarat utama untuk mengaktifkan sihir tak beguna itu aku harus mendapatkan stimulasi dari seorang pria yang membuat hatiku tergerak." Imbuhnya.
"........." Awalnya Chavire mematung. Tapi semua lamunan akan keterkejutannya tadi, langsung menghilang dan tergantikan dengan senyuman remeh. "Tidak perlu cium, aku bisa melakukan sesuatu agar hatimu tergerak."
"...........?!" Melihat pria di depannya tersenyum begitu, Reva jadi sedikit waspada.
DRRKK......
Dengan kekuatan miliknya, Chavire menggeser satu kursi ke tengah-tengah pola lingkaran sihir itu.
"Apa yang bisa kamu lakukan tanpa membuatku dicium?" Matanya mengernyit dan mengawasi gerak-gerik Chavire yang saat ini berjalan menuju kearahnya.
"Walaupun kamu tidak pernah mengatakannya kepada siapapun, meskipun kamu menyembunyikan rahasiamu untuk dirimu sendiri, tapi aku tahu," Sambil menggantungkan kalimatnya yang berhasil membuat Reva dilanda penasaran, Chavire mulai melepaskan kancing bajunya.
'Woowww....!' Hatinya meronta tidak tahan saat Chavire melepaskan pakaian bagian atasnya, sehingga memperlihatkan tubuhnya yang atletis. 'Eh!' Sadar dengan reaksi wajahnya saat mengetahui dibalik baju itu tersimpan harta berharga dari tubuh pria yang mempunyai tubuh sempurna sebagai pria sejati, Reva buru-buru menyadarkan isi kepalanya, bahwa saat ini Chavire sedang tersenyum sins kearahnya.
Dengan tubuh setengah telanjang itu, Chavire berjalan mendekat kearah Reva. "Aku tahu kamu punya obsesi pada tubuh seperti ini kan?"
"Jangan katakan itu lagi." Dengan reaksi malu, Reva memalingkan wajahnya dari pada di tatap terang-terangan oleh Chavire.
"Sini." Tawar Chavire, sebelu, Reva benar-benar merespon untuk menoleh lagi kearahnya, Chavire langsung menarik tangan Reva dan..
BRUK.
Reva langsung jatuh kedalam pelukannya Chavire. Membuat kedua mata Reva membulat sempurna saat tangan dan wajahnya, tidak…tapi semuanya, dia benar-benar merasakan semua otot tubuh Chavire saat itu juga.
’Ini! Ini sangat dekat! Aku bisa merasakan semua otot tubuhnya!’ Gejolak dari hatinya yang merasakan kebahagiaan bisa menyentuh otot tubuh pria, sukses menjadikan hati Reva semakin mencintai tubuh itu.
Chavire saat itu hanya memandangi Reva yang terlihat terpana dengan apa yang dirasakan oleh tangannya saat ini.
__ADS_1
“Kamu adik yang mesum juga.” Ejek Chavire. Dia kemudian mengangkat tubuh Reva dengan menggendongnya ala bridal stayle, lalu dia duduk di kursi yang beberapa waktu lalu sudah Chavire geser lagi. Setelah Chavire pun duduk sambil memangku Reva.
Kira-kira stimulan seperti apa yang bisa Chavire berikan agar adik tirinya itu agar Revra mampu membangkitkan kekuatannya?
“Jadi kamu mau melakukan apa agar aku–”
Belum sempat menuntaskan ucapannya, Chavire segera meraih tangan Reva untuk menyentuh otot perutnya.
Reva pun wajahnya semakin merah padam karena perbuatan yang dilakukan oleh kakak nya. Tapi tidak hanya sampai disitu saja, sebab Chavire pun tiba-tiba saja menyentuh wajahnya dengan tangan itu. Tangan yang terlihat besar, dan seperti tangan yang sudah banyak melakukan banyak pekerjaan kasar.
“A-apa?”
“Katamu ingin diberikan stimulan, inilah yang aku maksud.” Selepas mengatakan itu, Chavire yang sudah menyentuh wajah Reva yang cantik dan punya kulit yang halus itu segera dia dekatkan dengan wajahnya, sampai deru nafas dari mereka berdua saling terdengar satu sama lain.
‘Apa yang akan dia lakukan? Apakah dia akan menciumku? Tapi dia bilang tadi tidak akan menciumku. Lantas metode macam apa yang akan dia gunakan kepadaku?’ Deretan pertanyaan itu segera terlintas di dalam kepala Reva saat dia sekarang ini harus dihadapi wajah asing yang begitu tampan, bibir seksi yang terlihat ingin menciumnya itu pula benar-benar menjadi pusat perhatian Reva kala itu, sampai akhirnya…
FYUHH…
Hembusan angin hangat yang cukup menggelitik di telinga Reva sebelah kiri segera menyapu bersih dengan hasil sensasi yang cukup menggelikan itu.
‘Masih belum cukup ya?’ Chavire yang tahu siapa sosok di balik Reva yang terlihat kalem ini, segera melanjutkan aksinya. Dia mendekatkan wajahnya lebih kedalam area bahu Reva yang terekspose sebab gaun yang dipakai oleh Reva memang menampilkan kedua bahunya.
Jadi Chavire pun benar-benar lebih mendekatkan kepalanya lalu wajahnya untuk melakukan sesuatu di area sana, sampai Reva yang tidak tahan dengan rasa geli itu, terpaksa memejamkan matanya dan membiarkan Chavire melakukan apa yang ingin di lakukannya. Dan..
CUP.
Bibir lembut itu mendarat di atas kulit dari leher Reva.
'Menurutku ini sudah lebih dari ***-'
"Hoi..hoi, apa yang kau lakukan pada anak ini?" Tiba-tiba suara milik Reva yang awalnya terdengar lembut itu, kini berubah menjadi rendah, dan terdengar seperti perempuan tomboy.
Chavire segera menarik kepalanya dari sana dan melihat wajah Reva yang saat ini sudah begitu serius.
"Kau kakak yang cukup baik hati. Saking baik hatinya, mau meminjamkan tubuhmu untuk membuat anak ini tergoda. Sungguh pemikiran yang pintar, tapi apa maumu padaku harus kau bayar karena membuatku terbangun dari tidurku, Chavire." Ucap Reva. Sifatnya saat ini sudah berubah drastis ,dan terlihat lebih berani ketimbang sebelumnya.
__ADS_1