
“Alres, apa yang sedang kamu pikirkan?” Tanya Arsela.
Saat ini mereka berdua sedang duduk bersama di bangku taman.
“Hanya soal hasil rapat tadi.” jawab Alrescha dengan singkat. “Kenapa kau bisa disini juga?”
Arsela yang sedang bersender dibahu Alrescha, kemudian menjawab, “Karena secara kebetulan aku punya undangan tea time dari tuan putri, aku jadi ikut pergi bersama ayahku datang kesini.”
“Begitu ya.” jawab Alrescha dengan dingin.
“.................” Arsela meilrik Alrescha, dan kembali bertanya. “Apa kamu akan menginap disini?”
“Ya. Paling tidak selama dua hari atau tiga hari, kenapa?” Alrescha membalas tatapan hangat milik Arsela.
“Karena kita sudah bertunangan, dan kebetulan kita disini, bagaimana jika nanti malam kita pergi ke restoran untuk kencan bersama?” kata Arsela, menawari sebuah kencan kepada Alrescha yang kebiasaan memiliki kesibukan dalam bekerja.
“....................” Alrescha awalnya terdiam untuk berpikir sejenak. ‘Kencan.’ detik hatinya. Alrescha sebenarnya tidak pernah terpikirkan untuk melakukan kencan bersama dengAn Arsela karena tuntutan pekerjaan.
Lalu dari mana awal dari dirinya bisa berkenalan dengan Arsela, dan memiiki hubungan sampai tahap ini?
Hal itu terjadi sejak berada di Academy. Selain karena Arsela adalah wanita yang baik, bagi Alrescha, Arsela adalah wanita yang menurutnya sangatlah pengertian.
“Apa nanti malam kamu ada jadwal lagi?” tanya Arsela, saat melihat Alrescha yang tidak bisa menjawabnya dengan langsung.
Arsela memejamkan matanya sesaat, lalu menjawabnya, “Tidak juga.”
“Kalau begitu, nanti malam kita pergi ya? Kita rayakan pertunangan kita.” Bujuk Arsela kepada Alrescha lagi.
“Baiklah.” jawab Alrescha sambil mengelus kepala Arsela dengan lembut.
Meskipun tubuhnya sedang duduk dan menemani Arsela sang tunangan, sayangnya semua pikiran yang Alrescha miliki selalu tertuju kepada Alstrelia. ‘Apa dia masih berada di kota?’
____________
__ADS_1
“Apa ada lagi yang ingin dibeli?” tawar Elbert saat melihat Alstrelia benar-benar mampu memakan semua roti sebanyak itu sendirian, setelah itu sepuluh tusuk sate ayam, belum lagi dessert.
“Minum.” kata Alstrelia singkat, setelah melahap dessert dengan beberapa kali suapan saja.
“..................!” Elbert baru sadar, kalau Alstrelia memang beli dessert untuk dimakan seorang diri, tapi di saat yang sama pula dia tidak melihat wanita ini menikmati air minum, karena memang belum beli. “Mau minum apa?”
“Jus jeruk, pasti enak.” kata Alstrelia, melahap satu potong roti lagi ke dalam mulutnya.
“Sudah makan sebanyak itu, apa masih belum kenyang juga?” tanya Elbert sembari menunjuk menu dari minuman yang ingin di pesan kepada pelayan yang tidak sengaja lewat tadi.
“Kenapa? Jika lapar sekalian pesan saja. Tapi kau mau membayar ini untukku lagi, kan?” tanya Alstrelia.
Elbert langsung mengeluarkan sebuah kantong berwarna coklat, lalu memberikannya kepada Alstrelia.
“Sebenarnya ini sudah termasuk uang jajanmu. Pakai saja ini.” ucap Elbert, memberikan penjelasan asal uang yang Elbert bawa dan dia pakai tadi untuk membayar roti yang dibeli oleh Alstrelia ini.
‘Sebenarnya ini uang jajan milik nona Alstrelia, karena tidak terpakai, kamu bisa memakainya.’ itulah yang dikatakan oleh Elbert kepada Alstrelia yang ada di depannya.
“Setelah ini mau kemana lagi?” selagi menyimpan kembali kantong berisi uang ke dalam sakunya, Elbert kembali menawarkan tempat kepada Alstrelia untuk memilih sendiri.
“Perpustakaan kota.”
“Ini pesanannya.” seorang pelayan datang membawakan minum pesanan Elbert untuk Alstrelia. Selepas mengantarkan pesanan itu, pelayan ini langsung undur diri dari sana.
Alstrelia yang sudah kedatangan minumannya, segera meminumnya sampai habis. “Ah~ Untuk minuman ini, aku puji karena sesuai seleraku.” kata Alstrelia setelah berhasil menenggak habis jus jeruknya dalam waktu singkat. “Ayo pergi.”
‘Dia ini, kenapa tidak makan pakai etika?’ Elbert menggerutu di dalam hatinya sambil melirik para wanita bangsawan lain yang makan dengan penuh keanggunan, tapi sayangnya tidak untuk perempuan di depannya itu.
“Kenapa kau diam begitu? Apa kau tidak mau menemaniku ke perpustakaan?” tanya Alstrelia. Kini raut wajahnya yang semula memperlihatkan perasaan bahagia karena menemukan jus jeruk sesuai selera lidahnya, langsung berakhir dengan tatapan tidak senang kepada Elbert yang justru menatap ke arahnya dengan tatapan serius, lalu kadang kala melirik ke arah lain.
‘Ah! Rasanya aku ingin sekali menutup mulutnya yang cerewet itu.’ perempatan siku di dahi Elbert sudah muncul sepenuhnya, karena harus menahan amarah dari rasa kesalnya yang terpendam itu. “Tidak.” ketus Elbert saking harus bersabarnya hati Elbert untuk melayani satu nona ini.
“....................” Alstrelia sesaat memang masih memberikan Elbert sebuah tatapan menyelidik, tapi semua itu segera sirna setelah Alstrelia melihat senyuman paksa milik Elbert yang muncul itu terlihat lucu. “Kau pasti sedang mengumpatku dari belakang kan?” terka Alstrelia.
__ADS_1
“.............!” Elbert segera menjawab, “Tidak, kenapa juga harus mengumpat soalmu?”
“Bukankah aku terlalu menuntut?” Alstrelia kemudian berjalan bersebelahan dengan Elbert.
Sekilas Alstrelia melihat pria ini, karena memiliki tubuh yang lumayan untuk menarik perhatian para wanita muda di sekitarnya. Bahkan Alstrelia sendiri sebenarnya lumayan tertarik, tapi sayangnya itu hanya perasaan suka karena Elbert cukup beruntung memiliki wajah yang lumayan.
Tapi demi menghindari perasaan yang akan terus tumbuh jika menatapnya terus, Alstrelia langsung mengalihkan pandangannya lagi ke arah depan sambil berkata : “Memerintah adalah kebiasaanku, kau harus paham itu. Tapi aku tidak akan menyalahkanmu yang mengumpat soal aku yang banyak bicara ini, karena pada dasarnya aku sendiri memang sadar diri apa yang saja yang aku lakukan dengan mulutku ini.”
“Kalau sadar, apa tidak terbesit soal perasaan dari lawan bicaramu?”
“Ha?” Alstrelia segera menyunggingkan senyuman masam. “Perasaan? Jika lawan bicaranya adalah aku, maka artinya semua yang aku katakan berasal dari pikiran rasionalku sendiri. Jika berbicara menggunakan perasaan, rasanya seperti sedang memendam segala hal, apa yang ingin aku katakan, jadi tidak bisa dikatakan. Itu akan membuat kesalahpahaman yang menurutku menyebalkan.”
Apa yang akan terjadi jika seseorang berbicara tanpa memikirkan perasaan dari lawan bicaranya?
Elbert benar-benar harus bisa menata hatinya sendiri jika harus menghadapi orang seperti Alstrelia yang ini. Kenapa?
Karena dia adalah perempuan yang tidak akan bicara dengan mengandalkan perasaan, melainkan logikanya sendiri.
“Oleh kar-”
DEG!
".............!" Alstrelia yang merasakan sesuatu tidak terduga itu langsung menarik jubah Elbert untuk yang kedua kalinya dengan cukup kuat.
Elbert yang hendak berjalan pergi itu tubuhnya langsung kena tarik oleh Alstrelia.
"UKH…!" Elbert sedikit terhuyung ke belakang, dan hampir terjatuh karena jubahnya lagi-lagi ditarik oleh Alstrelia. "A-ada apa lagi?" tanyanya, sambil menoleh ke arah Alstrelia yang tiba-tiba berhenti berjalan. ‘Kenapa reaksi wajahnya langsung berubah seperti itu?’
Alstrelia menatap Elbert dengan wajah seriusnya, lalu menarik jubah Elbert lagi agar pria ini lebih membungkukkan tubuhnya dan menyamai tinggi Alstrelia.
"Ada keadaan darurat!" Bisik Alstrelia tepat di telinga Elbert.
'Darurat?!' detik hati Elbert.
__ADS_1