
"Kalau bertanya itu, maka jawabannya hanya satu. Kita hanya beda dari segi pengalaman."
------->>
Perlahan memori yang dimiliki oleh Alrescha pun berubah lagi.
*
*
"Ha~ Jadi ini yang namanya perang di dunia ini ya?" Tanya Alstrelia dengan senyuman yang kian mengembang.
Sederetan makhluk monster dari berbagai ras memenuhi lapangan luas yang ada di depan sana.
"Kalau mau mengalahkan mereka sekaligus, hanya tinggal bakar saja." Imbuhnya.
Alrescha yang mendengar cara yang ingin Alstrelia gunakan itu, sukses membuatnya angkat bicara. "Tidak semudah itu membakar mereka semua."
Alstrelia menoleh ke arah dimana Alrescha saat ini sedang berdiri di sampingnya persis.
"Asal kau bisa lakukan sesuatu kepada mereka, aku bisa melakukannya untukmu, kakak?" Jawab Alstrelia.
Tatapan mata penuh harap itu lantas entah kenapa membuat hati milik Alrescha jadi tergerak, dan itu terjadi saat perempuan di depannya itu secara tiba-tiba memanggilnya kakak?
Setelah mengatakan itu, Alstrelia kembali menghadap ke arah depan.
Senyuman lembut itu entah bagaimana bisa tersungginng di bibir ranum itu.
Padahal apa yang ada di depan mereka adalah invasi monster secara besar-besaran yang mampu menghancurkan satu negara, jika tidak di tangani dengan cepat. Tapi kenapa perempuan yang notabene nya hanyalah untuk menggantikan posisi adiknya yang kosong itu, justru melakukan lebih dari yang bisa di ampu pada perempuan pada umumnya?
Kenapa Alstrelia yang ini seperti akan menikmati malam ini dengan penuh kesenangan?
Apa alasannya?
----------->>
CTANG....
"Kau monster yang cukup jelek ya? Padahal ditempatku, babi sepertimu itu digunakan untuk makanan para tahanan. Kau ternyata bisa sukses ada disini, sampai punya kekuatan sebesar ini." Cibir Alstrelia, ketika dia saat ini sedang melawan babi besar, raja dari segala monster? Itulah yang disebutkan oleh Orc itu kepada mereka semua.
"Kau ternyata manusia yang bermandikan harga diri. Cukup menakjubkan, tapi aku akan mengakhiri kesombonganmu saat ini juga!" Orc lord ini pun memulai serangannya untuk mengalahkan Alstrelia.
Tidak seperti yang dibayangkan, ataupun semudah di ucapkannya, semua ular bayang yang menyerang Alstrelia, bisa Alstrelia hindari dengan cukup mudah, sampai dimana jarak antara Alstrelia dan Orc itu, yang awalnya cukup jauh, kini sudah Alstrelia makan dengan cukup banyak, sampai akhirnya...
Pedang yang saat ini Alstrelia gunakan sebagai senjata utamanya, tiba-tiba saja mengeluarkan api berwarna biru.
'Apakah itu maksudnya?' Alrescha yang mendapatkan kode dari perempuan itu, dia akhirnya mengeluarkan salah satu jurusnya, dimana dia langsung membekukan seluruh arena perang itu dalam sekali coba.
Dan seperti rencana, api berwarna biru itu ternyata mampu manyala terus sampai meluas ke segala tempat, bahkan termasuk pepohonan, semua itu tiba-tiba terbakar dan langsung menjadi abu.
---------->>
Lagi, dan lagi..
Apa yang dilakukan oleh Alstrelia, Alrescha tentu saja masih mengingat memori yang masih segar itu.
*
*
"Hahahaha...." Suara tawa itu tiba-tiba saja terdengar di telinga Alrescha yang saat ini berdiri di atas menara jam kota.
Alrescha menoleh ke arah dimana Istana Kekaisaran berada. Dan disanalah, Alrescha melihat seorang perempuan sedang duduk di atas pagar balkon dengan cukup santainya.
Tawa itu terus terdengar dengan sorotan mata yang terlihat seperti sedang menikmati sebuah tontonan yang cukup menari?
__ADS_1
"Ha~ Daripada kalian berteriak takut minta tolong sana dan sini, bukannya lebih baik bantu kota ini dengan kekuatan kalian sendiri?" Ucap Alstrelia pada dirinya sendiri.
Tidak seperti biasa, Alsrescha kembali diperlihatkan warna mata dari perempuan itu ternyata kembali bercahaya, layaknya saat ada dalam kondisi mode bertarung.
Tapi yang membuatnya memiliki perbedaan adalah, saat ini perempuan itu terilhat sadar dengan apa yang sedang di lakukannya itu.
Melakukan apa?
"Gunakan senjata apapun yang kalian dapat, dan lawan mereka," Ucap Alstrelia.
Alrescha yang masih saja mampu untuk mendengar ucapannya barusan, langsung membuat dirinya mencari-cari apa maksud dari ucapan yang berisi perintah itu.
Dan apa hasilnya?
CTANG.....
"Dasar manusia sialan! Kenapa mereka berubah jadi tidak terlihat taku?!"
BRAK...!
Pukulan keras yang akan dilayangkan pada manusia-manusia yang sedang menyerangnya itu, berhasil di hindari mereka, alhasil sekarang dinding dari salah satu rumah jadi berlubang, berkat pukulan dari monster tersebut.
"Kalian harus kami kalahkan," ucap salah satu diantara mereka, sambil mengarahkan pedangnya ke depan, dan tepatnya memancing emosi untuk melawan monster di depan mereka.
"Kalahkan? Mari sini kalau bisa!" Teriak monster ini terhadap kalimat provokasi tadi.
Alhasil, warga sipil yang awalnya berteriang ketakutan dan minta diberikan perlindungan oleh para kesatria, saat ini justru bertarung melawan mereka, dan menjadi garda di depan, sama seperti para kesatria pada umumnya.
'Dia mengendalikan semua orang di kota?' Pikir Alrescha saat dirinya akhirnya tahu alasan di balik ucapan yang tadi di katakan oleh Alstrelia seorang diri dengan tawa kebahagiaannya.
Itu semua karena Alstrelia ternyata mengendalikan pikiran semua orang di Ibu kota untuk di jadikan pion sekaligus benteng untuk melawan para monster yang membludak itu.
Tapi apa jadinya, jika warga sipil yang harusnya tidak memiliki kemampuan bertarung, mereka semua saat ini mampu melakukannya dengan cukup baik, seakan mereka semua sudah cukup terlatih, dan setara dengan para kesatria.
------------>>
Semua itu adalah memori dari beberapa hari terakhir ini yang dilakukan oleh Alstrelia si pengganti itu.
Semuanya dikerjakan sendiri, membereskan semua masalah yang ada dengan caranya sendiri, sampai perempuan yang harusnya duduk diam sambil memohon untuk meminta perlindungan pada orang yang mampu melindunginya, justru berperan sebaliknya.
Sangat benar....
Alstrelia yang memiliki sifat bertolak belakang dengan adiknya itu benar-benar memiliki peran penting untuk mengurus segala sesi dari semua pertarungan yang ada dalam beberapa hari ini.
Belum sampai sepuluh hari dari kesepakatannya untuk mengisi peran sebagai adik penggantinya, Alstrelia yang ini justru sudah melakukan banyak hal melebihi peran yang harusnya dia lakukan.
Apa tujuannya?
"............." Alrescha benar-benar sama sekali belum bisa mengerti jalan pikirannya
------------>>
"Hentikan itu sekarang!" perintah Alrescha terhadap Alstrelia yang masih saja menggunakan kekuatannya untuk mengendalikan tubuh orang lain.
"Menghentikannya? Coba saja kalau bisa!" Dengan senyuman yang mengembang dan tidak pernah pudar, seolah semua ini adalah permainannya, Alstrelia pun mengangkat pedangnya dan mengarahkannya ke depan, diamana Alrescha berada.
Dan sama halnya dengan apa yang akan Alstrelia lakukan kepadanya, Alrescha pun mengangkat pedangnya dan berlari kearah Alstrelia.
Dua orang itu pun sama-sama pergi menuju musuhnya masing-masing.
Alstrelia dan Alrescha berlari dengan arah saling berlawanan. Mengayunkan pedangnya masing-masing ke arah kanan, mereka akhirnya mempertemukan senjata mereka pada apa yang harusnya mereka gunakan.
CRASASHH.......
Alstrelia yang berlari menuju ke arah Alrescha, berakhir melompat dan naik ke pagar pembatas pada balkon, lalu seketika itu pula pedangnya dia gunakan untuk menebas wayvern terbang yang hendak menyerang Alrescha dari belakang.
__ADS_1
Sedangkan Alrescha, ketika dia berlari menuju Alstrelia, di saat itu Alrescha segera menunduk, sebab di belakang Alsterlia itu sebenarnya sudah ada sekelompok orang yang hendak menyerang Alstrelia juga.
Sehingga Alrescha pun saat itu juga segera mengayunkan pedangnya pada senjata yang di gunakan oleh pelayan-pelayan itu.
CRASSHH.....
Dua orang yang masih di anggap sebagai kakak adik oleh semua orang itu pun berhasil mengalahkan musuh mereka sendiri dalam satu kali serangan.
Dan akhirnya kedua orang yang awalnya ingin bertengkar satu sama lain itu justru membuat mereka harus berurusan dengan mereka semua.
"Ternyata Putri ada disini." Ucap salah satu pelayan wanita, yang saat ini sedang memegang dua belati di kedua tangannya.
Tentu saja itu akan di gunakan sebagai senjata untuk menyerang targetnya.
Siapa?
"Kalau seperti ini, kita jadi tidak perlu mencari lagi." Sahut salah satu pelayan laki-laki.
Kini, dia memegang sebuah tombak berwarna emas, yang berarti senjatanya di ambil dari salah satu pajangan di dalam Istana ini.
"Kalian mengicar adikku?" Tanya Alrescha dengan anda yang cukup datar.
"Tentu saja, karena beliau menginginkan Putri Alstrelia bisa mati." Salah satu diantara mereka pun menjawabnya dengan terus terang.
"Siapa?" Alsrescha yang sudah mulai kesal, karena ternyata segerombolan pelayan Istana itu, dimana semua wajah mereka sudah Alrescha kenal, kini ternyata ada di depannya untuk membunuh Alstrelia?
Lagi?
Semua ucapannya sama persis dengan tujuan yang dikatakan oleh Orc Lord beberapa puluh menit yang lalu.
Dengan sorotan mata yang kian masuk kedalam kegelapan, sepasang mata yang dingin itu pun menatap mereka semua dan bertanya, "Siapa yang menyuruh kalian untuk membunuh adikku?"
TAP....
"............!" Mereka semua langsung bersiaga seiring Alrescha mulai mengambil satu langkah demi satu langkah ke depan, menuju ke arah mereka semua.
TAP...
"Mau tahu ataupun tidak tahu, kami tidak akan pernah memberitahu siapa yang menyuruh kami melakukan ini." Jawabnya.
Alstrelia yang tertarik dengan ulasan yang diberikan oleh mereka, langsung turun dari pagar balkon, lalu setelah berhasil mendarat dengan cukup anggun, Alstrelia segera mengambil langkah cukup banyak, untuk menghampiri Alrescha yang sudah diselimuti kemarahan.
Tentu saja marah, sebab adiknya ternyata benar-benar menjadi incaran oleh banyak orang dan monster?!
Dan tujuannya adalah untuk membunuh Putri Alstrelia?! Adik kandungnya Alrescha Vion Beltmore Fisher?!
TAP...TAP.......TAP.......
Hanya saja, Alstrelia yang berdiri di depan mereka adalah orang yang berbeda dari semua rumor yang di buat-buat oleh semua orang di Ibu kota.
Karena....
"Kalau kalian sebegitu inginnya membunuhku..." Alstrelia memejamkan matanya, dan berkata lagi : "Maka silahkan saja jika bisa." Imbuh Alstrelia.
Dimana hal tersebut berhasil memancing mereka semua untuk menyerang secara bersamaan.
DRAP.....DRAP........DRAP........
Dari situlah alasan Alrescha dan Alstrelia bertarung dengan sekelompok pelayan yang begitu banyaknya.
Tarian kematian pun menjadi daya tarik Alstrelia sendiri, karena dia benar-benar di buat menari di Ballroom lagi untuk kedua kalinya.
Dan yang menjadi perbedaannya saat ini adalah, tarian itu dia gunakan untuk melawan semua orang yang hendak membunuhnya?
"Coba saja kalau bisa," Decih Alstrelia.
__ADS_1
CTANG......