
Gamelo wanita itu pun menghalau serangannya Chavire dengan menunduk, dan di saat itulah dia dipertemukan serangan selanjutnya yang berasal dari Alrescha yang saat ini sudah ada di depannya.
Oleh karenanya, serangan itupun dia tahan dengan satu pedang yang dia pegang dengan tangan kanannya itu dan berakhir dengan mereka berdua yang saling bertatap muka.
"Alrescha ya? Apakah kau benar-benar peduli dengan wanita itu? Dia bukan adikmu, kenapa begitu peduli sampai seperti ini?" Bisik Gamelo ini kepada Alrescha.
Alrescha sudah mengertakkan giginya. Dirinya juga tidak mengerti kenapa dia bisa sepeduli ini sampai repot-repot untuk melawan makhluk di depannya itu?
Padahal jika sudah mati, berarti jalan hidupnya sudah berakhir.
Kalau begitu, Alrescha hanya tinggal mencari adiknya yang asli dengan tangannya sendiri. Dia sangat yakin adiknya yang asli masih hidup karena beberapa waktu lalu dia mendapatkan sebuah bisikan yang muncul di dalam kepalanya untuk berhati-hati.
Iya...tapi kata selanjutnya yang Alrescha terima adalah agar dia saling menjaga satu sama lain.
'Benar. Aku melakukan ini karena aku harus menjaganya? Aku akan mencari segala cara agar dia hidup kembali. Yang terpeting adalah, aku harus mengalahkan dia, sekaligus mereka.' Selagi berhadapan dengan Gamelo ini, Alrescha pun menjeling ke samping kanannya.
Dari situ terlihhat Charles dan Arsela jadi terjebak sendiri pada pertarungan yang tidak ada habisnya itu.
Karena peliharaannya itu, akan terus memberikan serangan kepada mereka berdua sekaligus tidak akan memberikannya celah sedikitpun, sampai mereka berdua kelelahan.
"Jika kau berpikir mereka akan kelelahan karena serangan dari peliharaanmu itu, maka kau salah, Alrescha." Beritahu Gamelo ini secara tiba-tiba.
"Apa?" Lirih Alrescha. Dia akhirnya kembali di buat berpikir.
SRAKK....
Alrescha melompat ke belakang, dan kembali melakukan serangan kepada wanita itu untuk yang kedua kalinya. Kali ini Alrescha pun membuat serpihan bongkahan es yang dia buat di udara untuk dia gunakan sebagai serangan kombinasi miliknya.
"Usahamu akan sia-sia saja Alrescha. Kau sudah menggunakan hampir seluruh 'mana' milikmu untuk memanggil makhluk itu. Dan sekarang, kau masih saja bersikeras untuk mengalahkanku? Haha...itu hanya mimpimu saja." Cibir Gamelo wanita ini, melihat wajah Alrescha yang sduah telihat cukup lelah.
"Mau sampai aku kehabisan 'mana' selagi kau masih hidup, maka aku tidak akan membiarkan diriku kalah."
"Sekalipun yang bisa kau gerakkan hanya kelopak matamu saja?" Tanyanya sambil sedikit memiringkan kepalanya. " Ternyata kau diam-diam bisa bercanda ya? Kalau begitu coba saja. Kita lihat, kau punya batasan fisik sampai mana." Tantang Gamelo ini.
Tanpa membuang waktu lagi, Alrescha pun membuat hujan es untuk di berikan kepada Gamelo itu.
Dan wanita itu tersebut segera melompat ke atas?
Tentu saja Alrescha tidak akan membiarkan itu terajadi. Sebelum makhluk itu melompat ke atas, maka Alrescha sudah mengunci sepasang kaki itu agar tidak dapat bergerak.
Gamelo yang merasakan kedua kakinya tidak dapat tidak gerakkan, dia meliriknya sekilas ke arah bawah. Dan benar saja, sepasang kakinya sudah dibuat beku, dan tidak bisa dia gerakkan dengan mudah.
__ADS_1
Alrescha yang berpikir itu adalah sebuah kesempatan emas untuk membalaskan perbuatan makhluk itu dengan nyawa, selagi serangan hujan Es itu hampir mengenainya, Alrescha pun merapalkan sebuah mantera sihir.

Lingkaran sihir itu segera muncul di lantai tempat di mana Gamelo itu berdiri.
"Inilah balasan untukmu," Kata Alrescha dengan nada yang lirih. Tangan kanannya pun Alrescha gerakkan ke arah bawah.
Dan serangan terbesar yang Alrescha miliki itu pun menghujam kearah makhluk itu.
----> ----> ----> ---->
----> -----> ----> ----->
----> ----> ----> ---->
Dengan suara seperti hujan batu yang mampu memporak porandakan apapun yang di hantamnya, Alrescha pun melakukan itu kepada Gamelo yang saat ini sudah terkunci di lingkaran sihirnya.
Dimana lingkaran sihir itu untuk mengunci sihir alias kekuatan yang dimiliki oleh Gamelo itu untuk beberapa waktu.
Dan sekarang adalah waktu yang cocok untuk membalaskan dendam atas apa yang dilakukan oleh makhluk itu kepada Alstrelia.
"................." Tapi apa yang dilihat di detik-detik terakhir dari Gamelo itu?
Tapi apakah memangnya begitu?
Apakah Gamelo itu benar-benar diam saja?
DRAHKK....DRAHK....DRAHKK.....
Suara bising itu berhasil menarik perhatian Arsela dan Caharles.
Dikarenakan Alrescha memusatkan kekuatannya untuk menyerang Gamelo itu, secara otomatis burung Glashad Es itu pun menghilang bersamaan dengan hujan dari bulu es yang hendak di lakukan oleh burung itu.
"Arsela, kini saatnya." Ucap Charles lewat telepatinya. Dia mengulurkan tangannya kedepan Arsela.
"Saatnya apa?" Ragu dengan uluran tangan yang diberikan oleh Charles.
"Aku memang tidak bisa menggunakan teleportasiku untuk pergi keluar dari kota ini. Tapi selama tujuannya masih berada di dalam kota, aku masih bisa melakukannya." kata Charles, membujuk Arsela untuk keluar dari situasi itu, karena secara kebetulan Alrescha dan Chavire sedang sibuk dengna musuhnya sendiri, karena itu, Charles membuat waktu ini menjadi waktu yang tepat untuk pergi dari sana.
Mendengar penjelasan singkat itu, Arsela pun meraih tangannya Charles.
__ADS_1
Dengan berdiri saling berhadapan, Charles memejamkan mataya.
___________
CTANG......
Dengan tangan kanan yang saat ini memegang sebuah pedang khas miliknya, dia berhasil menangkis serangan dari Gamelo itu.
Dan dikarenakan sudah bosan sendiri dengan pertarungan seimbang yang tidak kunjung habisnya itu, tangan kanan Chavire yang saat ini tengah memegang pedang, segera dia gerakkan dari arah kiri ke kanan.
WUSHH.....
Tepat di atas langit, terdapat lubang dimensi yang tiba-tiba terbuka, dimana lubang hitam itu menampilkan bintang berkelap kelip layaknya berada di luar angkasa.
Tapi masalahnya bukan itu. Karena saat pedang Chavire dia arahkan ke atas. Sebuah cahaya tiba-tiba saja masuk kedalam pedangnya.
Gamelo itu berlari ke arahnya lagi untuk melakukan serangan.
Tapi di waktu yang sama pula, Chavire yang merasakan adanya 'mana' sihir yang muncul di sekitarnya, dia langsung mendelik tajam kearah samping kiri.
Dia melihat Charles dan Arsela yang sudah berpegangan tangan.
'Kalian mau kabur ya?' Tatapan Elangnya langsung mengisyaratkan bibirnya untuk memanggil nama 'Vera'.
Dan di saat yang bersamaan itulah, Gamelo itu sduah berada di jarak tiga meter dari tempat Chavire berdiri.
Chavire yang sudah tidak bisa menahan diri lagi dengan situasi yang benar-benar kacau itu, akhirnya menurunkan pedang miliknya yang tadi sudah menyerap cahaya bintang yang baru saja Chavire buat. Dengan demikian, Cavire pun mengayunkan pedangnya itu dengan ayunan yang cukup besar.
_________
"Baik," jawab wanita ini atas nama yang tadi di panggil oleh Chavire. Tepatnya di kamarnya Reva, dimana tubuh yang sedang terbaring dalam posisi tengkurap itu pun tiba-tiba mengembangkan sebuah senyuman miringnya selepas dirinya mendapatkan panggilan dari Chavire.
Cahaya hijau dari lingkaran sihir yang Vera buat itu langsung berubah warna menjadi kuning.
Dari situlah, sebuah ledakan besar langsung terjadi.
DHUARR......
Seluruh bangunan dari Istana tersebut langsung bergetar.
'Akhirnya kau menggunakan itu ya? Chavire?' Batin Vera masih mengulas senyuman penuh kemenangan, di balik sudut bibirnya yang saat ini terlihat adanya darah merah segar yang hampir sewarna dengan lipstik serta gaun mewah yang dia pakai.
__ADS_1
Sampai darah itu pun menetes ke lantai.