Putri Alstrelia

Putri Alstrelia
151 : Alstrelia : Cadangan


__ADS_3

"Elda, urus dia." Perintah Alstrelia.


"Baik!" Tidak mau tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada Alstrelia yang harusnya masih tertidur karena jelas, dia akan tetap menuruti perintah dari Komandannya itu.


Sebenarnya Elda tahu jika 'mana' sihir di dalam tubuh Alstrelia habis, apalagi setelah menggunakan kekuatan mata pengendali serta api birunya, maka Tuan Putri itu akan tertidur selama beberapa hari tanpa bisa di bangunkan sama sekali, walaupun Elda berteriak keras di telinganya Alstrelia sekalipun.


Tapi apa yang sedang terjadi sekarang, itu adalah diluar perkiraannya.


Daripada memikirkan hal yang bisa Elda pikirkan belakangan, Elda pun harus memberi pelajaran lebih dulu kepada Charles yang baru saja memikirkan hal yang bukan-bukan kepada Alstrelia, Komandan kesayangannya itu.


"T-tunggu, apa yang mau kau lakukan?" Tanya Charles dengan gugup, apalagi setelah melihat Elda tiba-tiba menarik lengan seragam kanannya dan telapak tangannya sudah mengepal erat membuat sebuah bogem mentah.


"Apalagi kalau bukan memberimu pelajaran. Otakmu harus aku bereskan lebih dulu, sobat." Seringai Elda. "Kebetulan sekali aku sangat butuh samsak, jadi kau bisa aku jadikan sebagai bahan percobaanku." dan Elda pun berjalan semakin mendekat kearah Charles. "Salahkan dirimu sendiri, memancing emosinya." Imbuhnya.


Dan emosi yang diperlihatkan oleh wajah Alstrelia tentu saja rasa senang.


"Tunggu..aku bisa jel-"


"Aku tidak butuh penjelasan dari mulutmu!" Elda sedikit berlari, dan tangan kanannya pun terangkat, lalu mengarahkannya ke arah Charles. Dan saat itu juga, sebuah hantaman keras langsung datang. "Rasakan ini!"


".............!" Charles membelalakkan matanya, dan akhirnya...


BRUKKHH....


*


*


*


Di luar istana, mereka semua langsung menoleh ke arah sumber suara.

__ADS_1


"Tadi suara apa?" Tanya Lena penasaran dengan kepulan debu yang berterbangan tepat di atas menara istana itu.


"Aku mana tahu." Ketus Elber, saat ini dia sedang membalut lengan kiri Lena yang terluka akibat serangan mendadak yang dilakukan oleh burung Galshad yang targetnya untuk menyerang Gamelo.


"Apakan anda pikir, saat ini Nona baik-baik saja?" Tanya Lena lagi.


"Melihat karakter dan sifatnya saat ini, sudah pasti baik-baik saja." Sahut Elbert.


"Anda benar, pasti Nona baik-baik saja." Timpal Lena.


Setelah beberapa saat, luka sayatan yang Lena dapatkan itu pun sudah di balut dengan perban dengan cukup rapi.


Itu hanya digunakan sementara waktu, karena jika sudah kembali ke mansion, maka Lena akan mendapatkan perawatan dari pendeta agar bisa sembuh total dalam waktu singkat.


"Tapi apakah anda tahu apa yang terjadi pada orang-orang ini?!" Tanya Lena dengan ekspresi terkejutnya, sebab saat ini di depan matanya saat ini, Elbert sebenarnya baru saja memindahkan sebagian besar orang yang tiba-tiba pingsan di tengah jalan, setelah mereka semua melakukan aksi heroiknya bisa bertarung dengan monster dan para Gamelo tadi.


Dan Elbert yang tidak suka dengan sesuatu yang berantakan, memindahkan semua tubuh orang-orang di pinggir jalan dan diletakkan dalam posisi berjejer seperti deretan mayat yang baru saja Elbert koleksi.


"Mereka hanya pingsan karena baru saja ada yang mengendalikan tubuh mereka." Jawab Elbert. 'Aku tidak tahu persis siapa, tapi dengan bantuan dari kekuatannya itu, kami jadi terbantu. Tapi kelihatannya efek samping terbesar jika mereka semua sudah bangun adalah, tubuh mereka akan pegal seperti mau mati.'


Setelah insiden besar yang terjadi di Ibu kota Kekaisaran Regalia, semuanya akhirnya kembali mendapatkan kedamaian, walaupun sedikit.


Tapi hal itu tidak terjadi di mansion milik Alrescha yang langsung di hebohkan oleh sesuatu.


"Hei, kau harus cium kakiku." Perintah Alstrelia kepada pria yang memiliki wajah yang cukup mirip dengannya, yaitu Alsrescha.


"Nona!" Lena terkejut setengah mati melihat Nona majikan yang dia layani itu, justru memberikan perintah pada seorang Duke Fisher.


"Ada apa Lena~" Alstrelia menyangga kepalanya dengan tangan kanannya, dan melirik ke arah Lena yang sedang memasang wajah panik.


'Kenapa Nona jadi lebih berani seperti ini?! Sampai menyuruh Tuan untuk cium kakinya?! Itu sudah keterlaluan!' Protes Lena dalam pikirannya.

__ADS_1


Kalau tidak berada di dalam pikirannya, apa lagi kalau begitu? Dia mana berani mengungkapkan segala pikirannya saat dirinya saja saat ini melihat wajah bangga yang dimiliki oleh Nona majikan barunya itu.


"Kenapa aku harus melakukan itu?" Tanya Alrescha.


"Bukannya kau memiliki janji untuk melakukan apapun, karena dia membantu segala permasalahanmu sampai tuntas seperti ini? Dan lagi pula~" Alstrelia pun menarik dasi yang mengikat di leher Alrescha, dan secara otomastis, tubuh Alrescha pun menunduk kedepan Alstrelia persis.


"Dia?" Alis Alrescha mengernyit.


Alstrelia lebih mendekatkan wajahnya lagi ke depan Alrescha, sehingga jarak diantara mereka berdua pun sudah cukup dijadikan untuk berciuman.


"Lakukan saja manusia. Kau kan kakak tidak berguna, sampai adikmu sendiri menghilang dan membuat dia mau menggantikan posisinya. Dan lagi pula, hutangmu kan sangat banyak, jadi lakukan itu lebih dulu sebagai ucapan terima kasihmu itu. Kau harus bangga manusia, aku memberikanmu kehormatan utuk mencium kaki ini." Jelas Alstrelia.


Dia tidak akan membiarkan Alrescha pergi sampai pria di depannya itu mau mencium kakinya.


"Nona..kenapa Nona Alstrelia bersikap sedikit aneh seperti itu?" Bisik Lena kepada Elda yang saat ini menikmati macaron kesukaannya.


Setelah kejadian tempo hari dimana Alstrelia tiba-tiba saja bangun dari tidur, yang seharusnya saat ini masih tertidur untuk pemulihan diri setelah menghabiskan banyak mana setelah melakukan banyak pertarungan, justru terbangun karena ternyata ada sisi lain yang menjadi cadangan dari diri Alstrelia, ketika jiwa Alstrelia yang asli sedang tertidur.


Untuk Elda sendiri sebagai sahabat sekaligus anak buahnya, ini adalah yang pertama kalinya.


Karena itu, Elda pun sedikit kewalahan, karena ternyata cadangan jiwa milik Alstrelia ini benar-benar lebih merepotkan.


Seperti sekarang ini. Karena Alrescha adalah si pihak peminta, maka secara terang-terangan, sebab Alstrelia sudah banyak sekali membantu atas permasalahan yang dimiliki baik itu Alrescha sendiri, adik aslinya Alrescha yang menghilang, serta masalah dari tempat yang di tinggalinya, maka jiwa cadangan milik Alstrelia pun menuntut salah satu keinginannya, dan itu adalah agar Alrescha mencium kaki Alstrelia saat ini juga.


"................" Alrescha pun menatap wajah Alstrelia dengan begitu lekat, lalu berbisik, "Apakah harus?"


"Tentu saja harus, manusia."


"Padahal aku punya nama."


"Nama itu tidak penting. Lakukan saja perintahku," Kata Alstrelia menuntut Alrescha agar cepat melakukan perintahnya.

__ADS_1


"Baiklah." Jawab Alrescha dengan tatapan datar. Antara kesal karena merasa selalu berada di bawah tekanan ini dan itu oleh perempuan di depannya itu, sekarang mau tidak mau karena segala jasa yang sudah Alstrelia kerahkan untuk menolongnya, maka Alrescha pun menurutinya.


"Nah beg-" Ucapannya Alstrelia langsung sirna, sepasang matanya membulat sempurna setelah mulutnya justru di bekap dengan sesuatu yang lembut?!


__ADS_2