Putri Alstrelia

Putri Alstrelia
55 : Alstrelia


__ADS_3

“Kau pasti datang bersama dengan wanita itu kan?” Alstrelia kini sedang duduk di ruang kerja milik Alrescha, dia hanya mencoba menikmati suasana di lingkungan barunya.


Meskipun, awalnya dia merasa enggan dengan semua hal yang ada di sekitarnya karena terlalu kuno, maka secara paksa Alstrelia sendiri harus beradaptasi secepatnya, dan hal yang diinginkan sekarang ini adalah menemui jagoan kerja.


“Apa ucapanmu tidak bisa dijaga lagi?” protes Alrescha karena Alstrelia menyebut Arsela, seolah Arsela adalah musuhnya?


Alrescha sudah melihatnya dari ucapan dan ekspresi wajah yang Alstrelai perlihatkan kepadanya saat ini.


“Apa yang harus dijaga? Aku tidak tahu siapa dia, jadi aku hanya bicara apa adanya.” Ketus Alstrelia, dia hanya berusaha menghindari memanggil namanya saja, karena mendengar nama Arsela, baginya cukup mengganggu telinganya. 


Dari awal dia memang tidak begitu menyukai orangnya secara sekilas mata, karena itu Alstrelia tetap menyebut kata wanita sebagai dominan panggilannya terhadap Arsela.


“Kalau begitu, apa yang sedang kau lakukan disini?" Karena tidak terbiasa ada orang yang menemaninya di saat bekerja, Alrescha jadi merasa aneh, dan tanpa sadar mulutnya jadi bertanya demikan kepada Alstrelia.


Salah satu alisnya terangkat “Apa? Apakah aku mengganggu kencanmu dengan tumpukan sampah ini?” Ujar Alstrelia sambil makan kukis pemberian Lena tadi, lalu ujung jari itu menunjuk tumpukan tebal dari ribuan lembar kertas. 'Menggunakan komputer saja juga melelahkan, ini apa lagi harus membacanya secara manual?! Gila! Aku tidak ingin berlama-lama di dunia ini!'


Perempatan di dahi Alrescha sudah muncul karena menganggap tumpukan dokumen yang menggunung di mejanya disebut sampah. 


“Jika itu aku, aku akan memasukkan semua sampah ini ke dalam mesin penghancur kertas.” Imbuh Alstrelia, menyesap air hangat kesukaannya.


“Mesin?” Tanya Alrescha baru pertama kali mendengar kalimat itu.


“Anggap saja kau masukkan semua kertas itu ke dalam api unggun. Sistemnya hampir sama saja, jangan bingung.” 


Alrescha dibuat sepenuhnya untuk berhenti bekerja karena terusik dengan keberadaan Alstrelia yang tiba-tiba muncul dan duduk di depannya persis. “Sebentar, sebenarnya apa tujuanmu datang kesini?”


Alstrelia berhenti makan dan menatap Alrescha. “Kau masih tidak sadar juga? Aku disini menggantikan sesuatu yang pastinya tidak pernah kau lihat dan rasakan.”


Kata ‘menggantikan’ menjadi pemicu Alrescha untuk kembali sadar. 


Alstrelia yang ada di depannya bermaksud menemaninya bekerja. Keberadaan yang memang dari awal tidak pernah terpikirkan untuk duduk bersama dan saling mengobrol dengan adiknya yang asli digantikan oleh dia?


“.............!” Alrescha awalnya ingin menepuk kepala Alstrelia yang ini, tapi tangannya langsung ia tarik kembali

__ADS_1


“Aku mengizinkanmu, manusia.” Alstrelia yang tidak peduli itu kembali melanjutkan makan kukis yang sesuai dengan lidahnya.


‘Manusia? Padahal dia sendiri juga manusia.’ Alrescha mulai berpikirkan aneh dengan cara bicara Alstrelia yang sering blak-blakan dan memiliki banyak kosa kata yang bagi Alrescha cukup sulit dimengerti.


Tapi asal Alstrelia si pengganti ini ada disini, bagi Alrescha sudah cukup.


Cukup untuk memenuhi kekosongan tempat milik adiknya yang sedang hilang.


‘Karena dia sudah memberiku kesempatan untuk mengelus kepalanya.” Alrescha secara tidak sungkan lagi tangannya kembali melayang diudara untuk menyentuh kepala Alstrelia. 


Tapi semua itu terhenti saat Alstrelia tiba-tiba kembali berbicara, “Kematian tidak bisa diprediksi, jika kau seperti ini terus, kau akan masuk dalam jurang penyesalan yang lebih dalam lagi dari ini. Alrescha-” Alstrelia tiba-tiba memberikan ekspresi seriusnya itu kepada Alrescha. “Kau sudah diperbudak oleh kekuasaan mu sendiri, apa kau tidak akan pernah merubah pikiranmu itu? Asal dari semua permainan ini?”


Lagi-lagi tangannya terhenti di udara.


Apa yang baru saja dikatakan oleh Alstrelia kepadanya tadi berhasil menciptakan semua pikiran dari segala situasinya saat ini. 


Disini, duduk dan berbicara bersama perempuan asing yang memiliki wajah yang sama dengan adiknya.


Karena Alstrelia masih memiliki hati nurani, tangannya tidak jadi merobohkan tumpukan kertas itu.


“Alrescha, pikirkan baik-baik jika semua ini sudah kembali seperti semula.” Alstrelia berdiri lalu mengambil satu kukis dan menyuapinya ke dalam mulutnya Alrescha.


“...............!” Alrescha segera menjepit kukis itu dengan mulutnya. Tapi melihat Alstrelia hendak pergi, Alrescha mengeluarkan kukis itu dari mulutnya dan buru-buru bertanya, “Katakan satu hal padaku. Apa kau sudah mengetahui semua hal yang sudah terjadi?”


“Aku tidak akan mengatakannya. Cari jawabannya sendiri, lalu kau masih berhutang padaku tentang tamparanmu waktu itu.” Jawab Alstrelia tanpa peduli dengan apa yang sedang Alrescha ekspresikan, karena Alstrelia terus berjalan keluar dari ruangannya Alrescha.


‘Terus saja seperti ini. Dia selalu membuatku penasaran.’ Alrescha memutuskan memakan kukis pemberiannya Alstrelia. "Tapi diperbudak." Alrescha kembali memikirkan kata-kata Alstrelia tadi. 


Alrescha pada dasarnya memang sudah diperbudak oleh pekerjaannya sendiri yang menumpuk bagai gunung.


Kekuasaan yang dimilikinya juga menjadi penyebab dirinya tidak memiliki waktu untuk melakukan hal yang diinginkan.


Semua tumpukan dokumen yang sangat banyak dan melebihi sejarah kekaisaran itu adalah pembelenggu Alrescha.

__ADS_1


Alrescha terus saja menatap semua dokumen itu. 


Setelah mendengar peringatan yang diberikan Alstrelia kepadanya, alrescha pun sudah mulai menemukan suatu keputusan.


___________________


“Yang mulia, ini dokumen terakhir hari ini yang harus segera anda tanda tangani.” 


Seorang laki-laki berkacamata bundar datang menghampiri Chavire yang sedang duduk di belakang meja kerja nya.


“Bawa kesini.” Perintah Chavire.


“Ini yang mulia.” Pria ini menyerahkan lembaran dokumen tepat di depan Chavire. 


Chavire tanpa membaca apa isi dari dokumen tersebut, langsung menandatanganinya begitu saja.


Sekretaris itu terdiam melihat sang Kaisar benar-benar menandatangani dokumen tanpa melihat dengan jelas apa isi yang disahkan dengan tangannya sendiri.


“Apa semua persiapan untuk pesta nanti sudah selesai?” tanya Chavire.


“Semuanya hampir selesai yang mulia. Pakaian anda juga akan siap hari ini juga.” jawab pria berkacamata ini. 


“Sudah, kau bisa pergi sekarang.” Tanpa berkomentar apapun lagi, Chavire segera mengusir sekretarisnya sendiri.


“Baik, yang mulia.”


Setelah kepergiannya, Chavire mengeluarkan sebuah botol kaca dari dalam laci mejanya.


‘Kelihatannya mereka sudah mulai curiga denganku. Sekalipun semua bangsawan menolak Chavire menjadi Kaisar, tapi melihat sikap mereka tetap saja mau bekerja dibawahnya kepemimpinannya, maka itu akan menjadi pion bagus untuk menggulingkan Duke Fisher, sekaligus membuat kekaisaran ini menjadi lautan api neraka.’ Pikirnya.


Chavire mengambil botol kaca berwarna ungu itu. Ia tatap dan mencoba menggoyang botolnya, hingga cairan yang ada di dalamnya ikut bergoyang.


‘Salahkan dirimu sendiri Chavire.’ Imbuhnya. 

__ADS_1


__ADS_2