
Alstrelia POV.
Alstrelia, itu adalah namaku. Sekarang aku pun tahu alasan kenapa namaku bisa di miliki oleh perempuan itu, adiknya Alrescha.
Dan ternyata yang membuatku masuk dalam semua masalah yang membuatku harus turun tangan sendiri adalah karena aku masuk ke dalam dunai novel yang di kembang oleh Ayahku, Alvaron.
Aku tidak tahu ternyata laki-laki itu punya hobi untuk menulis, padahal setiap harinya saja Ayahku itu selalu sibuk di ruangannya dengan setumpuk pekerjaan.
Atau mungkin pekerjaan Ayah sebenarnya adalah membuat Novel?
Aku sebenarnya sedang berusaha untuk tidak terlalu memikirkan kenapa Ayah bisa membuat Novel sendiri dengan menggunakan namaku sebagai tokoh sampingan yang cukup lemah.
Tapi sayangnya, untuk beberapa alasan tokoh sampingan tidak selalu berada di posisi yang lemah. Karena posisi dari perempuan bernama Alstrelia, ternyata adalah kunci untuk menjalankan kami semua. Yang artinya, dia bukanlah sosok yang lemah. Dia dibuat sebagai sosok yang cukup Istimewa.
"Apa anda akan menjalankan rencana strategi barunya?"
Suara yang barusan aku dengar itu ternyata berasal dari pedang yang ada di dalam kalungku. Bandul kalungnya tidak bercahaya, tapi yang bercahaya itu adalah pedang itu sendiri, hingga pedang itu akhirnya keluar dari dalam sana, dan sekarang pedang itu terbang di udara tepat di sampingku.
"Kalau tidak? Aku sama sekali tidak akan pernah bisa keluar dari sini dengan cepat." Jawabku tanpa mengalihkan perhatianku lagi dari semua layar yang berisi infomasi yang sedang di tulis oleh Elda.
Aku sengaja melakukan ini karena tubuhku memang cukup lelah, karena aku baru saja menggunakan Mana- sihirku untuk membantu laki-laki idiot itu.
Karena itu, tubuhku aku gunakan untuk tidur beristirahat dulu, sedangkan jiwa dan pikiranku ini terus berjalan untuk membuat rencana baru agar aku bisa keluar dari dunia novel ini dengan cepat.
"Apa anda membutuhkan bantuan saya?"
"Tidak, pekerjaanmu itu hanya untuk membunuh korbanku." Aku menjawabnya dengan sedikit ketus, gara-gara aku sungguh sama sekali tidak ingin di ganggu oleh pedang Alstoria ini.
Walaupun aku baru tahu ternyata pedang ini bisa berbicara, tapi aku tidak membutuhkan bantuannya untuk membuat strategi.
__ADS_1
"Padahal anda pernah mengatakan, satu bantuan bisa meringankan satu beban."
Hanya dengan sekali mendengarnya, aku tahu kalau dia sedang menantangku untuk adu ide.
Walaupun aku merasa enggan untuk mendapatkan bantuan darinya, tapi aku akan memberikan kesempatan padanya.
"Katakan, singkat dan jelas, jangan membuatku membuang waktuku." Kataku dengan nada yang terkesan sombong? Ya, aku sadar diriku ini sombong, tapi aku memang sedang tidak ingin membuang waktuku untuk sekedar mendengar omong kosong yang tidak berguna.
"Terima kasih Tuan Putri. Saya akan menjawabnya dengan singkat, yaitu anda hanya harus bertemu dengan lawan dari anak itu secara langsung. Selesaikan semuanya, sebelum musuh yang sebenarnya menjalankan rencananya."
Itulah yang di katakannya.
Aku kembali melihat deretan memori yang pilih dalam bentuk gambar untuk memasang satu petunjuk dengan petunjuk yang lainnya, di tambah aku harus membaca laporan terkini dari Elda, aku benar-benar di buat sibuk!
Ya aku tahu, aku adalah seorang Putri, jadi aku harus mengerahkan kemampuanku untuk memperlihatkan kepada semua orang kalau aku mampu untuk mengatasi semua masalah dengan mudah.
Itulah yang aku harapkan.
Apakah ini sebuah kebetulan? Aku sendiri memang terbesit untuk menghadapi langsung lawan kembaranku itu, agar semua ini bisa di selesaikan.
"Hahh~" Aku tertawa dengan maksud sebagai cibiran. Aku mencibir diriku sendiri karena aku benar-benar harus turun tangan untuk memenuhi peranku sendiri di novel ini.
Walaupun tidak terhitung sebagai tokoh novel tetap, karena aku adalah peran tambahan yang tiba-tiba saja masuk, tapi tidak bisa aku pungkiri kalau semuanya sungguh terasa sangat nyata.
Apa yang sebenarnya di pikirkan oleh Ayahku, dan apa yang Ayahku sembunyikan, aku memang tidak tahu.
Bahkan untuk masalah Elda sendiri, dia bisa masuk ke novel yang anak itu baca dengan bantuan Ayahku, dengan kata lain, yang menggerakkan cerita ini bukannya, Ayahku sendiri?
"Apa anda baru menyadari sesuatu?" Tanya pedang Alstoria itu kepadaku.
__ADS_1
Pedang Alstoria adalah pedang bersejarah karena akan di turunkan dari generasi ke generasi selanjutnya.
Tapi sayangnya, pedang ini adalah pedang yang cukup pemilih. Dia hanya bisa di gunakan oleh orang yang terpilih, bahkan Ayahku sendiri hanya bisa mendapatkan separuh kekuatan saat bisa menggunakan pedang itu.
Tapi, entahnya...
Pedang Alstoria yang saat ini sedang terbang di sampingku ini, terkesan menyukaiku?
"Menyadari soal apa?" Aku bertanya balik atas pertanyaan dari pedang Alstora ini.
Aku ingin berpikir lebih lama lagi soal pedang Alstoria ini.
Karena ada keanehan.
Pedang yang seharusnya masih tersimpan di dalam altar dari kuil penyimpanan yang ada di dalam Istana Asgardia, menghilang dan ternyata di tempatkan di dalam kisah dari Novel ini, menggunakannya sebagai latar belakang cover buku digital nya.
Aku memang mendapatkannya, karena aku ingin menggunakannya. Akan tetapi aku tidak bisa menyimpan pedang itu di dalam tubuhku?
"Kalau sekalipun anda adalah peran tambahan yang harus anda perankan sebagai diri anda sendiri, pada akhirnya yang menjadi pengatur paling absolut dari dunia novel ini adalah Yang mulia Raja Alvaron itu sendiri." Jelas pedang tersebut.
Hanya dengan mendengarnya saja, aku langsung tahu, apa yang di katakan nya itu memang sangat benar.
Dengan begin aku jadi punya akar bercabang yang tumbuh di dalam kepalaku, yang pertama adalah musuh yang harus aku hadapi itu masih berada di luar sana, yang kedua pedang ini, dia menerimaku sebagai masternya.
Aku sendiri langsung tahu karena aku sangat ingat, pedang ini membuatku jauh lebih kuat, dan pengendalian api biru milikku bisa aku lakukan dengan baik, padahal selama ini, aku sama sekali tidak bisa mengendalikan api biru milikku.
Setiap aku melakukannya, api itu akan terus membakar apapun yang di sentuhnya tanpa bisa di padamkan sama sekali. Tapi untuk kasus yang terjadi saat aku melawan Orc Lord disaster itu, aku benar-benar bisa mengendalikannya dengan sangat, teramat sangat baik, sampai aku berpikir kalau aku ini bertambah hebat, padahal aku menyadari kalau itu semua berasal dari pedang Alstora.
Yang ketiga, cara agar aku keluar dari dunia ini, aku harus membuat ending baru. Berarti intinya itu terserah kepadaku mau membuat ending yang seperti apa, ya kan?
__ADS_1
Dan yang orang yang sepenuhnya mengendalikan jalan cerita, semuanya tetap pada satu orang, dan itu adalah si Author nya sendiri.