
'Darurat?!' detik hati Elbert. “Apa kamu merasakan adanya musuh?”
"Jika dibilang musuh, memang iya. Dia musuh semua perempuan, apa kau tahu apa yang biasanya perempuan pakai didunia ini ketika sedang Haid?"
"....?! Apa?" Elbert bertanya lagi dengan wajah tercengangnya sambil menatap wajah Alstrelia.
PLAK
Alstrelia menepuk kedua pipi Elbert dan menatap wajah Elbert dengan wajah horornya sambil berkata : "Inilah keadaan daruratnya! Katakan dimana aku mendapatkan itu?!" Kata Alstrelia dengan nada penuh penekanan, seakan keadaannya sedang diambang kematian.
"A-aku tidak tahu." Jawab Elbert dengan gugup. 'Dekat sekali?!' Pikir Elbert ketika wajah mereka berdua benar-benar sangat dekat. Bagi Elbert ini untuk pertama kalinya menatap wajah perempuan dari sedekat itu.
"Kau pria tidak berguna." Alstrelia segera melepaskan wajah Elbert. "Meskipun kau pria, seharusnya kau tahu apa yang sering dialami oleh banyak wanita. Seberapa berat, menyiksa, saat hari-hari itu datang, jangan hanya tau menu-" seketika mulutnya terbungkam oleh tangan Elbert.
Alstrelia melirik Elbert dengan cukup sengit.
"Jangan melanjutkannya lagi, aku tahu itu dan tahu harus apa. Tapi jangan bicara tentang itu di depan umum seperti ini.” kata Elbert memberikan peringatan kepada Alstrelia. 'Apa perempuan ini tidak berpikir kalau ini di tempat umum? Mulutnya sangat berbahaya sekali dia' pikir Elbert tidak mengerti lagi apa isi dari pikiran Alstrelia kali ini.
SLURP…
".............!" Merasakan telapak tangannya di jilat, Elbert langsung menarik tangannya lagi.
"Apa tanganmu itu bersih? Berani-beraninya menutup mulutku dengan tangan kotormu yang sudah banyak memegang segala barang kotor." tatap tangan Elbert dengan tatapan mata penuh jijik. "Pakaian, gagang pedang, pintu, koin, apalagi yang sudah kau pegang dengan tanganmu itu?" racau Alstrelia lagi.
DEG!
"..............." Elbert seketika sadar kalau apa yang dikatakan oleh Alstrelia memang ada benarnya, tangannya itu sudah banyak memegang banyak benda, belum cuci tangan, dan itu malah digunakan untuk menutup mulut wanita ini.
Terlihat Alstrelia sedang mengusap bibirnya dengan lengan bajunya sendiri.
"..............!" Elbert seketika sedikit terpana, ketika melihat bibir mungil berwarna merah ranum itu benar-benar bukanlah karena pemerah bibir, tapi itu asli berwarna demikian. Itu karena lengan baju yang dipakai oleh Alstrelia berwarna putih, dan ketika lengan bajunya itu digunakan untuk menyeka bibirnya, tidak ada bekas noda apapun di sana, baik itu make up yaitu bedak maupun lipstik.
Itu adalah kecantikan alami yang tidak diperlakukan khusus apa-apa.
"Aku benci dengan aromanya." Ejek Alstrelia.
"..............." Elbert menatap tangannya sendiri.
__ADS_1
Melihat Elbert bertindak seperti itu, Alstrelia kembali bicara, "Itu memang termasuk, tapi apa yang aku katakan tadi adalah itu." Alstrelia menunjuk ke arah depan sana, beberapa orang perempuan yang sedang berkumpul dan sedang membicarakan sesuatu. "Mereka suka sekali pakai make up, itu membuatku jijik."
"Memangnya kenapa? Mereka itu ingin tampil cantik."
"Cantik dengan topeng berbau itu?" celetuk Alstrelia.
"Bau?"
"Menutupi kulit dengan tumpukan semen, memakai lipstik sampai warna merah itu termakan sendiri, itu menyebalkan. Secara tidak langsung mereka sedang memakan bahan-bahan yang terkandung di dalamnya. Untungnya, kau ternyata tidak memakai parfum.” toleh Alstrelia menatap Elbert dan memindai pria ini dari ujung rambut sampai ujung kaki.
“Aku memang pada dasarnya tidak pernah memakai parfum.”
“Tapi jika memang mau pakai parfum, buat pilihan dan tanya padaku.” jelas singkat Alstrelia. “Tapi sebaiknya antar aku ke suatu tempat untuk masalahku ini. Aku sudah tidak tahan dengan ini.” ucap Alstrelia sambil memejamkan matanya dan dahinya mengernyit tidak suka.
Melihat wanita yang lebih pendek 20 cm itu sudah menundukkan kepalanya dan sudah ada dalam keterdiamannya, Elbert langsung memimpin jalan dari wanita ini untuk pergi ke suatu tempat.
Masalah yang sedang dihadapi oleh Alstrelia, Elbert tahu harus pergi kemana. Karena itulah, Elbert menuntun jalan Alstrelia ke tempat miliki seseorang yang dia kenal.
Karena tempatnya cukup ramai dan sesak, Elbert pun menyuruh Alstrelia untuk menggenggam ujung bajunya.
“......................” Alstrelia memperhatikan tangannya sendiri yang kini sedang mencengkram ujung dari baju milik Elbert. ‘Kenapa dia tidak memegang tanganku saja? Ini sangat merepotkanku karena harus memegang ujung bajunya.’
Jadi dia merasakan keanehan tersendiri, karena harus berjalan mengekorinya seperti itu.
‘Tapi dia adalah pria yang cukup bertanggung jawab. Meskipun tampangnya seperti orang yang memusuhiku, tapi karena dia ternyata pengertian dan mau menghormatiku, lain kali aku akan memberinya hadiah.’ pikir Alstrelia ketika melihat punggung Elbert yang punya tubuh tinggi dan besar. ‘Harusnya tipe wanita yang seperti Elda adalah pria seperti Elbert ini.’
Alstrelia pun menarik sudut bibirnya dan membentuk sebuah senyuman lembut.
Itu adalah senyuman yang belum pernah dia perlihatkan kepada mereka semua.
“Kita hampir sampai.”
“...................” Alstrelia hanya memilih untuk diam dan terus mengikuti Elbert dari belakang.
______________
KLING.
__ADS_1
Suara lonceng pintu tanda seseorang baru saja masuk atau keluar menjadi tanda untuk seorang wanita ini langsung pergi dari tempat dia duduk tadi untuk menyapa seseorang yang datang.
“Halo nona, apa ada yang bisa saya bantu?” tanya wanita ini kepada seorang wanita bangsawan yang baru saja masuk ke dalam salon nya.
“Karena kebetulan aku sedang lewat sini, aku mampir untuk memotong ujung rambutku ini.” wanita berambut coklat ini mengambil rambut panjangnya dan memperlihatkannya kepada wanita si pemilik salon.
“Ternyata karena rambut bercabang. Baiklah, akan saya urus ini dan sekalian memberikan anda sampo khusus masalah rambut ini agar kedepannya tidak ada rambut bercabang lagi.” setelah itu, wanita ini mengajak nona itu pergi untuk duduk di depan meja rias.
“Baik, terima kasih.” ucap nona ini sambil duduk di depan meja rias.
Sebagai profesinya, maka wanita ini segera melakukan pekerjaannya dengan cepat.
KLING.
“Selamat datang, apa an-” belum sempat menyelesaikan kalimatnya, ucapannya langsung di sela.
“Win!” panggil Elbert detik itu juga.
“....................!” sadar dengan sosok orang yang baru saja menerobos masuk dan langsung memanggil namanya langsung, membuat wanita yang memiliki nama Winda tapi punya panggilan Win ini segera menoleh ke arah pintu. “El?”
“Aku memerlukan bantuanmu sekarang juga.”
“...............!” WInda yang merasa terpojok dengan situasi itu, segera berbisik pada tamu yang pertama. “Nona, maaf bisa menunggu sebentar?”
“Ya, silahkan. Tapi jangan terlalu lama ya, soalnya sebentar lagi aku harus pergi lagi.”
“Terima kasih.” setelah itu Winda langsung berjalan menghampiri Elbert dan langsung bertanya, “Bantuan seperti apa?”
“Kau urus dia, berikan apa yang dia mau.” Elbert sedikit bergeser ke samping kiri.
“Dia?” Winda sedikit terkejut dengan seseorang yang Elbert sembunyikan di belakang punggungnya tadi adalah seorang wanita.
“Aku tidak ingin berlama-lama disini, tapi apa kau punya sesuatu yang biasa dipakai oleh semua wanita ketika datang bulan?” tanya Alstrelia secara terang-terangan.
Elbert sudah memalingkan wajahnya ke tempat lain sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
Winda sendiri terkejut setengah mati saat wanita yang dibawa Elbert langsung mengatakan poin intinya secara gamblang di depan semua orang di sana.
__ADS_1
Bahkan wanita tadi yang sedang menunggu Winda untuk memotongkan rambutnya, ikutan terkejut dan langsung memutar tubuhnya kebelakang untuk melihat siapa wanita yang berani mengatakan hal sensitif secara terang-terangan di salon yang memang sebenarnya cukup ramai.