Putri Alstrelia

Putri Alstrelia
32 : Alstrelia


__ADS_3

Alstrelia dan Elbert menatap kobaran api yang ada di depan mereka.


“Kita pulang.” kata Altstrelia kepada Elbert setelah puas dengan melihat-lihatnya.


“..............” Albert menoleh ke arah Alstrelia. Awalnya Elbert merasa sungkan karena harus pulang ketika di depan matanya sendiri melihat banyak warga sedang menderita karena ledakan tadi.


Tapi demi keadaan dimana dirinya merupakan kesatria yang ditugaskan untuk menjaga majikan palsunya itu, mau tidak mau Elbert pergi mengekori wanita itu dari belakang.


KORAKK…….


KROAKK…….


Setelah melihat kedua orang itu pergi, gagak hitam ini langsung mengibarkan kedua sayapnya untuk terbang.


Burung gagak ini awalnya terbang mengitari lokasi dari insiden dimana api yang membakar beberapa rumah masih berkobar. 


KROAKK……


KEPAK…..


Setelah selesai mengamatinya, burung gagak ini terbang lebih tinggi.


“....................” Alstrelia sempat mendongak ke atas, dimana dia melihat burung gagak itu kini sudah pergi.


“Ada apa?” Tanya Elbert sambil menengadah ke atas. Dia ingin melihat apa yang sedang dilihat oleh Alstrelia, tapi Elbert tidak melihat apapun di atas sana.


“Tidak ada.” jawab Alstrelia singkat. Alstrelia kembali berjalan menatap kearah ke depan. ‘...................’


__________________________


KLOTAK….KLOTAK…...KLOTAK……


Dalam kecepatan tinggi, kuda berwarna coklat ini berlari melesat menyusuri hutan yang dibelah oleh sebuah jalanan yang menuju ke suatu tempat.


Jubah hitam yang menutupi tubuhnya dari si penunggang langsung berkibar seiring tubuhnya menerjang angin malam yang dingin.


Tepat di ujung jalan, sebuah gerbang besi langsung terbuka sendiri dan membiarkan kuda bersama dengan penunggangnya lewat begitu saja.


NGIKK…….


BERRR…..


Kuda itu langsung berhenti tepat di depan sebuah villa kosong yang sudah terbengkalai. 


__ADS_1


Setelah turun dari kuda, orang ini langsung berjalan masuk ke dalam villa terbengkalai itu. 


KRIETT…….


“Hah~” Suara helaan nafas itu langsung keluar begitu saja dari mulutnya. Setelah itu orang ini langsung menyingkap tudung dari jubah yang dipakainya, sehingga akhirnya orang ini memperlihatkan wajahnya.


GUK!


Suara dari gonggongan anj*ng, membuat orang ini langsung menoleh ke belakang, dan tepat di waktu yang sama pula orang ini jadi menghadap cermin. 


Anj*ng tadi langsung berlari ke arahnya, dan menggesek kepalanya ke kaki sang majikan yang sedang melamun karena sedang memperhatikan dirinya yang terpantul di cermin itu.


GUK!


GUK!


“...................!” Pria berambut merah ini langsung memberikan kantong yang dia bawa di tangannya untuk diberikan kepada anj*ng berwarna coklat itu.


GUK!


Anj*ng ini langsung mengambil kantong yang tergeletak di lantai dengan cara menggigitnya, lalu dibawa pergi ke tempat lain. 


Setelah kepergian hewan peliharaannya, pria ini terus melanjutkan langkah kakinya untuk lebih dekat dengan cermin di depannya itu. 


Kemudian sorotan matanya kian waktu berlalu semakin gelap. Pria ini benar-benar menatap benci wajahnya itu, karena wajah yang ada di pantulan cermin itu sebenarnya bukanlah miliknya, melainkan milik orang lain.


“Aku harus tahu siapa orang dari pemilik tubuh asli ini, dan harus membuat rohku kembali ke dalam tubuhku yang asli.” gumamnya lagi. Kini yang terlihat di kedua matanya adalah sosok dari seseorang yang seharusnya memakai mahkota raja di atas kepalanya, dan memiliki banyak lencana serta perhiasan juga baju mewah.


Tapi apa?


Yang ada di depan cermin itu, dia malah sedang memakai pakaian sederhana dengan jubah hitam usang, wajah asing, rambut berwarna merah, pria ini benar-benar membenci semua itu. 


‘Siapa orang yang sudah menggunakan tubuhku yang seorang pemimpin kekaisaran ini?’ pikir pria ini, tidak terima dengan apa yang sedang terjadi saat ini. “Alrescha Vion Beltmore Fisher, yang pertama aku harus menemui dia lebih dulu.” Dengan tatapan penuh kebencian, hatinya sudah memiliki tekad yang kuat untuk menemui satu-satunya orang yang bisa dia percaya, dan sekaligus orang yang mampu mengerti dengan sihir. 


Itulah kenapa pria berambut merah ini, sekarang sudah memiliki rencana untuk pergi ke wilayah Fisher.


Karena kemarahan yang terpendam akibat tiba-tiba merasuki tubuh milik orang lain, pria ini langsung mengepalkan tangannya dan….


BUKH…!


PRANK..!


Bogem mentah yang melayang itu, berhasil mendarat di permukaan kaca dan sukses menjadi pecah berkeping-keping. 


“Alrescha.” panggil pria ini dengan penuh penekanan.

__ADS_1


__________________


TOK...TAK…..TOK…..TAK……


Di dalam kereta kuda, Alstrelia duduk dalam keterdiamannya. 


Berbeda seperti yang terjadi tadi pagi, Alstrelia yang ini hanya diam saja tanpa mengeluarkan sepatah kata yang menusuk.


Elbert yang melihatnya justru dibuat semakin tidak nyaman, karena keterdiaman dari Alstrelia yang seperti ini seolah menjadi awal yang akan terjadi.


“......................”


“Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan?” Akhirnya Alstrelia membuka suaranya karena dari tadi merasakan tatapan dari pria di depannya itu. Karena mendapatkan keterdiaman dari Elbert, Alstrelia akhirnya membuka matanya. “................?” Dalam pikirannya Alstrelia bertanya-tanya saat melihat Elbert memalingkan pandangannya ke arah lain.


“......................”


“Biasakan dirimu.” perintah Alstrelia ketika tahu alasan dibalik Elbert memalingkan wajahnya ke tempat lain adalah karena Alstrelia sudah membuka jubah miliknya jadi secara Alstrelia memperlihatkan kembali pakaiannya yang memiliki desain dan kesan berbeda dari pakaian pada umumnya. “Jika yang seperti ini saja membuatmu tergoda, artinya kau belum menjadi pria sejati.”


JLEB.


‘Dia ini, kenapa bisa menggunakan alasan dari pakaiannya sebagai tujuan untuk mengataiku?’ Padahal jelas sudah kalau dimata Elbert seragam yang dipakai oleh Alstrelia benar-benar tidak mengesankan wanita baik-baik.


Tapi karena seragam itulah, Alstrelia menjadikannya sebagai alasan untuk Elbert agar terbiasa.


“Tapi-”


“.................!” Melihat Alstrelia menggantungkan kalimatnya, dan menatap dingin ke sisi kirinya, Elbert langsung merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh Alstrelia.


“Sepertinya kita kedatangan tamu lain.” Imbuhnya. 


Tepat seperti apa yang dikatakan oleh Alstrelia barusan, kereta kuda yang dinaiki oleh mereka berdua langsung berhenti dengan sedikit kasar. 


“Diam disini, dan jangan keluar.” Mode Elbert sebagai kesatria langsung aktif. Dia memerintahkan Alstrelia untuk tidak keluar dari kereta kuda, karena peran Elbert disini akan dimulai, yaitu memberikan perlindungan kepada Alstrelia, sekalipun wanita itu adalah peran pengganti yang menggantikan nona Alstrelia yang asli.


“.......................” Alstrelia tentu saja menuruti ucapan dari Elbert, karena secara kebetulan Alstrelia tidak ingin terlibat dalam pertarungan.


Alstrelia melirik ke arah samping kiri dan kanan secara bergantian. Meskipun memang dalam kondisi di tengah hutan yang pada dasarnya gelap, Alstrelia masih bisa melihat wajah dari orang-orang itu.


‘Kira-kira apa yang akan mereka lakukan?’ Alstrelia sejujurnya penasaran, karena ini adalah pertama kalinya perjalanannya di cegat di tengah hutan dan dalam kondisi naik kendaraan kereta kuda yang tidak nyaman itu.


“Katakan, apa yang kalian lakukan sampai menghalangi kereta kudaku?” kata Elbert dengan nada yang tegas, dan terkesan seperti sedang menginterogasi.


“Elbert-”


“.......................” mendengar orang di depannya bisa tahu namanya, membuat Elbert semakin memasang wajah waspada.

__ADS_1


__ADS_2