Putri Alstrelia

Putri Alstrelia
51 : Alstrelia


__ADS_3

“...............!” Ketika madam Luna mengangkat kepalanya, seketika dia paham betul dengan penampilan Alstrelia yang sangat berbeda dengan apa yang madam Luna ingat di terakhir kali pertemuannya dengan perempuan yang memiliki peringkat nomor dua di kekaisaran Regalia setelah putri mahkota.


Dengan apa yang sedang Alstrelia kenakan, maka itu akan menjadi pembeda jati diri Alsrtelia yang terlihat berani dengan lady bangsawan manapun yang pernah madam Luna temui.


Alstrelia yang ini adalah satu-satunya yang sangat berbeda dari kebanyakan peremuan.


Walaupun, Alstrelia hanya diam berdiri saja, sayangnya di mata madam Luna, perempuan itu tetap saja bisa menampilkan pesona kebangsawanannya.


“Baik, saya akan mengerjakan apa yang seharusnya menjadi pekerjaan saya.” jawab madam Luna atas ucapan dari Alstrelia barusan.


“Tanpa basa-basi lagi, ukur tubuhku dulu dan catat.” Ucap Alstrelia langsung pada poin intinya.


Tanpa sepatah kata lagi, madam Luna membuka tas yang dia bawa dari tadi. Semuanya berisi tentang keperluan yang berhubungan dengan pakaian. Dari contoh potongan kecil dari berbagai kain, daftar warna kain yang akan digunakan, buku majalan, tali pengukur, jarum juga ada, buku sketsa yang sudah madam Luna buat dan berisi berbagai gambar desain pakaian yang akan dibuat, semuanya terlihat dalam sekali lihat.


Tapi Alstrelia tidak membutuhkan hal itu,


Hanya dengan sekali lihat, Alstrelia tidak memiliki tatapan penuh minat dengan semua itu.


Karena apa?


Karena Alstrelia sudah memiliki apa yang dia inginkan untuk gaun yang akan dipakainya saat pesta yang akan diadakan minggu depan itu.


“...............” Alstrelia terus melihat gerak gerik wanita itu dengan seksama.


Alstrelia memperhatikan terus apa yang sedang madam Luna kerjakan, yaitu mengukur tubuh Alstrelia.


Dari mengukur tangan, lingkar tangan dan ketiak, pinggang, dada, sampai ukuran untuk membuat gaun yang diukur dari pinggang sampai ujung kaki.

__ADS_1


Semuanya tanpa terkecuali.


‘Walaupun tubuh Nona terlihat kurus, bukan berarti jelek. Tapi karena mempunyai perbandingan yang pas dengan kulitnya yang putih dan halus, maka mau apapun baik warna atau mau pakai celana pun tetap akan cocok. Tapi ini, dari mana nona mendapatkan desain baju seperti ini sampai kedua kakinya saja terlihat jelas. Tapi walau begitu, ini benar-benar tetap mempertahankan keanggunannya.’ Pikir madam Luna atas persepsi miliknya ketika melihat Alstrelia dari ujung rambut sampai ujung kaki.


“Apakah sudah?” Alstrelia melirik ke arah madam Luna yang sedang mencatat di buku catatannya.


“Sudah nona.” Sudah selesai mencatatnya, madam Luna kemudian memberikan sebuah buku majalah untuk Alstrelia.


Alstrelia hanya menerimanya saja dan membuka buku majalah itu dalam sekali lihat dan dalam durasi yang cepat. Semuanya memperlihatkan desain perhiasan, dengan kata lain madam Luna tidak sekedar seorang desainer baju, tapi juga punya bisnis perhiasan. 


Sayangnya, Alstrelia yang ini bukanlah perempuan yang akan memakai perhiasan berlebih seperti tante-tante.


Dalam berpenampilan, semuanya sudah memiliki aturannya sendiri. Dan Alstrelia tentu saja sudah mempelajari apa yang harusnya dia pelajari, karena dia juga seseorang yang kedepannya akan mengemban tugas negara juga.


“Ini.” Alstrelia segera mengembalikannya kepada madam Luna.


Alstrelia yang menyadari madam Luna masih mematung dengan buku yang ada di tangannya ternyata kembali dengan sangat cepat, membuat Alstrelia berkata : “Aku tidak memiliki ketertarikan untuk memakai perhiasan.”


“Tapi nona, anda sebagai tuan putri, anda seharusnya memakai perhiasan yang bisa membuat anda menjadi tokoh ut-”


“Apa kau tidak dengar, aku tidak ingin memakai hal yang merepotkan, karena gaun saja sudah merepotkanku untuk bergerak bebas, apalagi perhiasan yang tidak berguna.” Sela Alstrelia dengan cepat. 


Alstrelia berjalan menuju sebuah lemari, kemudian membuka laci dan langsung mengambil lembaran kertas penuh warna.


“Semua kecantikan yang dimiliki oleh seorang wanita bukan berasal dari set perhiasan, gaun mewah berhiaskan dengan batu permata mahal atau apapun itu. Apalagi orang sepertiku tidak membutuhkan hal semacam itu, karena kakakku yang akan membiayai apa yang aku pakai, maka buat ini semua.” Setelah mengatakan semua itu kepada madam Luna, Alstrelia melempar semua kertas yang dipegangnya.


SRAK.

__ADS_1


Alstrelia melempar lembaran kertas yang tadi Alstrelia ambil di laci, ke atas meja dan membuat madam Luna melihat semua gambar yang ada di atas kertas putih itu dengan tatapan terkejut.


“Anting, kalung, gelang itu berat. Buat saja itu, kelihatannya juga tidak memerlukan waktu lama.” Perintah Alstrelia kepada madam Luna, setelah memperlihatkan desain yang Alstrelia buat sendiri.


Madam Luna bergegas duduk di atas lantai dan mengambil semua kertas itu untuk madam Luna lihat dengan lebih seksama lagi.


‘Ini! Nona mendesainnya sendiri? Darimana semua inspirasi ini? Bahkan gambarnya lebih bagus ketimbang milikku. Lalu desain dari gambar sepatu ini, kenapa di mataku terlihat seperti sepatu sungguhan yang menempel d atas kertas?’ Madam Luna akhirnya memberikan ekspresi wajah penuh dengan ketertarikannya. “Nona, apa anda yang membuat ini sendiri?” Madam Luna memperlihatkan gambar sepatu berwarna biru kepada Alstrelia.


“Iya. Apa menurutmu gambarnya terlihat nyata?” Alstrelia mencoba bertanya balik. 


“Ini bahkan seperti sihir. Seakan saya bisa mengambil sepatu ini.”


“Aku memperlihatkanmu itu untuk membuktikan kalau yang palsu saja bisa terlihat seperti asli.” Beritahu Alstrelia kepada madam Luna. ‘Padahal aku hanya menggambarnya dalam bentuk 3D. Tapi dia terlihat sangat terkejut sampai seperti itu.’ Alstrelia dalam diam tersenyum mencibir. “Gambar 3D seperti itu saja sudah berhasil menipu matamu kan?”


“I-ya nona. Saya merasa ambar ini memang terlihat nyata, tapi jika dari sudut pandang sebenarnya, ini tetaplah gambar di atas kertas saja.”


Alstrelia yang sedang duduk di sofa langsung bersandar ke belakang sambil bersilang tangan dan terus memperhatikan madam Luna, dan madam Luna sendiri terus menatap mata Alstrelia.


“Berarti kau paham maksudku kan? Mata saja bisa dimanipulasi dengan hal sederhana. Aku mengatakan ini untuk memberi pengetahuan padamu madam Luna, kalau apa yang terlihat diluar memang tidak menjamin apa yang ada di dalamnya. Semua orang selalu memiliki topengnya sendiri, selalu berhati-hati dengan sekitarmu. Sekarang kau oleh pergi.”


Madam Luna langsung berdiri dan menunduk dengan gaun yang madam Luna sedikit kibarkan dengan kedua tangannya. “Baik nona. Saya akan segera menyelesaikan semua ini dan saya juga yang akan mengirimkan pesanan anda secara langsung. Semua rahasia ini akan saya jaga, dan terima kasih sudah memberikan saya pengetahuan juga peringatan dari anda.”


Setelah menyimpan kembali semua barang bawaannya, madam luna kembali menunduk hormat kepada Alstrelia.


“Saya permisi.” Ucap madam luna untuk yang terakhir kalinya.


CKLEK.

__ADS_1


__ADS_2