
TAP...TAP...TAP....
Alstrelia pun menyuruh ke empat Gimmicknya untuk terbang di atas balok es itu untuk mempercepat proses pencairan.
Selagi menunggu, tentu saja Alstrelia hendak pergi ke tempat lain untuk menyelidiki awal dari batu yang sebenarnya di gunakan untuk menyimpan pedang Alstoria nya waktu itu.
Puing bangunan mungkin memang sudah tidak ada, tapi Alstrelia berharap di depan sana masih ada kolam itu.
Makannya dia pun berjalan pergi untuk mengunjungi tempat itu lagi.
NGUUNGG...
Proses pencairan dari balok es tadi sudah berhasil, dan di saat yang sama juga, Alrescha tiba-tiba saja mencoba meraih tangannya Alstrelia.
GRREP...
Tentu saja Alstrelia yang menyadari itu, segera menarik tangannya dan sedikit bergeser ke samping kiri sambil menoleh ke belakang, dan berkata : "Apa lagi yang mau kau lakukan?" Tatap Alstrelia pada pria yang terlihat punya sedikit keanehan?
"Memilikimu."
"Aku bukan milik siapa-siapa." Alstrelia berpaling dari Alrescha, lalu kembali berjalan pergi.
Akan tetapi saat itu pula dia di cegat oleh sesuatu yang berasal dari bawah. Dimana salah satu kakinya tiba-tiba saja tidak bisa bergerak, dan ketika melirik ke bawah Alstrelia melihat adanya tangan berwarna hitam sedang mencengkram pergelangan kakinya.
Di samping itu semua, sebenarnya ke empat kolam yang sudah terisi dengan air itu, tiba-tiba surut dan hanya menyisakan separuh air saja.
Lantas kemanakan air itu pergi?
Itulah yang menjadi pertanyaan pada diri Alstrelia yang sempat menyadari adanya perubahan suasana di sekitarnya itu dengan cukup signifikan.
Apalagi saat Alstrelia yang hendak menginjak tangan bayang yang muncul dari tanah itu, justru di cegat dengan satu tangan lainnya, yang sama-sama mencegat kaki sebelah kirinya yang tadinya bebas itu.
'Apa ini? Kenapa Gimmick ku tidak merespon untuk menyerang tangan aneh ini?' Keanehan semakin terjadi selain ke empat Gimmick itu hanya terbang dan diam di tempatnya saja, yaitu..
GREP.
Tangan Alrescha tiba-tiba mencengkam tangan kanan Alstrelia.
"Apa kau mau membuat perkara lagi denganku?" Tanyanya, menatap tajam Alrescha.
Tapi respon Alrescha adalah, "Mungkin iya." Dengan seringaian khas dari seorang baru saja memikirkan pikiran yang cukup licik, maka hal itu menjadi alarm untuk diri Alstrelia bahwa akan ada sesuatu yang besar akan terjadi tidak lama setelah ini.
Dan itu sungguh terjadi.
Tangan bayang berwarna hitam tiba-tiba saja muncul dan perlahan menyusuri kakinya Alstrelia.
Alstrelia menarik ikat pinggangnya dan merubahnya jadi pedang, lalu dia gunakan pedang itu untuk memotong tangan bayang itu dari kakinya.
SYAHT...
Mencoba menarik kakinya agar terlepas, sebelum satu tangan lainnya datang untuk kembali mendapatkan kakinya Alstrelia.
__ADS_1
Itu memanng berhasil, tapi satu kakinya lagi masih belum terlepas dari cengkraman tangan itu.
'Huh..apa-apaan ini?' Karena tidak kunjung terlepas juga, Alstrelia pun akan mencoba menggunnkan api birunya. Karena dengan api itu, semua hal yang tersentuh dengan api itu akan langsung hangus.
Tapi semua itu langsung tertahan saat Alrescha tiba-tiba semakin mencengkram tangannya, lalu menariknya ke arahnya.
Dan ketika tubuhnya jadi tertarik ke depan, cengkraman tangan yang dilakukan oleh makhluk lain dari bawah sana, tiba-tiba saja terlepas juga.
"Untung saja terlepas. Tapi-" Tapi saat menoleh ke arah Alrescha, Alrescha langsung merespon ucapannya Alstrelia yang mengambang di udara itu.
"Tapi kau tidak akan lepas dariku."
Alstrelia mencoba melepaskan cengkraman tangannya dari Alrescha, tapi Alrescha dengan berani, lebih menguatkan lagi cengkraman tangan itu.
Itu adalah sinyal tanda bahaya karena sesuatu memang akan terjadi lagi dan urusannya adalah dengan Alrescha lagi?
SYUHH...
Angin yang lembut itu tiba-tiba saja membawa kedamaian?
Air dari ke empat kolam yang sempat surut tadi tiba-tiba merembes keluar dan membasahi lantai yang terbuat dari batu yang di tata sedemikian rupa.
Apa itu?
GREP.
Alrescha tiba-tiba saja menarik kencang tangan Alstrelia hingga Alrescha akhirnya mendapatkan pinggang ramping dari perempuan ini.
"Apa kau mau melakukan sesuatu kepadaku? maka aku penggal leher ini." Di saat yang sama juga, pedang yang Alstrelia pedang di tangan kirinya itu sudah menghadang leher Alrescha.
Itulah yang di katakan oleh Alrescha kepadanya?
Tanpa sungkan, tentu saja Alstrelia mulai menekan pedangnya itu ke leher Alrescha hingga darah mulai mengaliar.
SYAHH...
Tapi di saat itu juga, ketika tangan kiri Alstrelia benar-benar akan menggorok leher Alrescha yang terlihat aneh itu, lagi-lagi ada tangan bayang berwarna hitam yang muncul dan dengan kecepatan kilat meraih tangan, siku dan bahunya.
Dengan artian yang lebih jelas, kalau Alstrelia tidak di perbolehkan untuk membunuh Alrescha?
'Dia pasti bukan Alrescha. Didunia ini itu ada banyak hal yang tidak masuk akal. Mungkin saja aku kebetulan masuk ke dalam lingkaran sihir yang tidak terdeteksi.
Tapi sekarang aku merasa aku mendeteksi adanya lingkaran sihir di bawah kakiku, tepat di saat air yang ada di ke empat kolam itu merembes keluar dan menggenangi lantai batu ini.' Karena punya anggapan yang seperti itu, tentu saja Alstrelia berusaha untuk lepas dari jeratan tangan bayang ini dengan api birunya.
Tapi sayangnya hatinya tiba-tiba saja mendapatkan keraguan. Karena di saat yang sama Alrescha yang ada di depannya ini sedanng mencengkram tangannya juga, maka jika Alstrelia menggunakan api birunya, sudah pasti Alrescha akan terkena imbasnya.
'Tunggu, kenapa aku jadi punya keraguan seperti ini? Dia kan hanyalah tokoh dari Novel yang ayah buat? Sialan juga, kenapa hatiku jadi tidak berkenan untuk menggunakan api biru? Kan urusannya jadi beres dengan mudah.
Tapi kalau yang ada di depannya ini adalah Alrescha betulan, dan membuat tokoh utama pria di sini mati, bukankah novelnya semakin hancur? Lalu pada akhirnya adiknya yang dijadikan tujuan awal mula jalan cerita nove lini, akan hilang juga.
Hashh...
__ADS_1
Sebenarnya apa-apaan dengan pengaturan Novel ini? Aku memang bisa merubahnya, tapi selama itu tidak ada sangkut pautnya dengan nyawa tokoh utama Novel, maka itu tidak akan jadi permasalahan.
Tapi yang akan jadi permasalahan teresarnya, jika dia mati di tanganku, apa yang akan terjadi kepadaku? Apakah aku tidak akan bisa kembali ke tempat asalku?' Dalam segala pertimbangan, Alstrelia pun jadinya memutuskan untuk tidak menggunana api birunya.
Tapi apa yang akan terjadi jika Alstrelia hanya diam saja seperti ini?
Masalahnya tentu saja akan menjadi sebuah bumerang untuk Alstrelia sendiri, karena Alstrelia lah yang akan mendapatkan bahaya, jika hanya diam saja.
'Tapi setidaknya biarkan dia mendapatkan rasa sakit yang aku rasakan karena dia mencengrkam tangaku dengan keras ini.' Sebab Alstrelia tidak jadi menggunnakan api birunya, maka Alstrelia pun berusaha melawan apa yang menahan tangannya saat ini.
Tapi seperti yang di duga, seolah demi menjaga Alrescha untuk tidak kenapa-kenapa tangan bayang itu bertambah satu lagi, dan saat ini seakan memeluk kakinya!
Merasakan geli yang cukup menyita niat membunuh Alstrelia untuk memporak porandakan lantai itu, Alstrelia pun jadinya mengurungkan niatnya untuk menyakiti leher Alrescha lebih dalam, dan mengarahkan pedangnya itu ke arah bawah.
Dengan pengendalian mana miliknya, maka api biru itu muncul di ujunng pedang dan dia tembakkan ke arah tangan bayang itu.
SYUHT..
DOR...
Satu hilang, maka muncul satu lagi.
Alstrelia mengulanginya beberapa kali, tapi semuanya hasilnya berakhir sama. Karena kesibukannya dalam mengurusi tangan bayang itu, maka Alrescha yang merasa memang mendapatkan kesempatan, Alrescha gunakan kebebasan itu untuk menghentikan apa yang sedang dilakukan oleh Alstrlia ini.
GREP.
Tangan kanan Alrescha pun meraih tangan kiri Alstrelia.
"Hentikan itu, asal kau tidak melawanku, maka mereka tidak aka melakukan apapun kepadamu."
"Oh ya? Berarti jika aku tidak melakukan apapun kepadamu, maka kau akan melakukan sesuatu kepadaku kan?" Tanya Alstrelia dengan tebakan yang cukup akurat itu.
"Ya.." Tepat setelah mengatakan hal itu, Alrescha melepaskan tangah kirinya dari tangan kanan Alstrelia dan menggantinya untuk melingkarkan tangannya itu di pinggangnya Alstrelia lagi, dan menariknya masuk ke dalam pelukannya.
BRUK....
"Apa kau sadar apa yang kau lakukan kepadaku ini?" Tanya Alstrelia, tanpa menatap lawan bicaranya, karena yang dia tatap saat ini adalah dada bidang Alrescha yang ternyata memang cukup lebar dan mempesona juga seperti wajahnya? 'Apakah aku terkena halusinasi sesuatu? Kenapa aku punya pandangan seperti itu kepada pria ini?'
Alstrelia pun mengerjapkan matanya, dia berusaha untuk menyadarkan dirinya sendiri dari pikiran aneh yang tiba-tiba membayanginya, kalau apa yang ada di depannya itu adalah sesuatu yang harus Alstrelia dapatkan dengan cara di peluk?!
'Ha?! Tidak beres, disini memang ada yang tidak beres, dan salah satunya adalah ini.' Tiba-tiba saja di tengah-tengah Alstrelia mencoba berpikir, tanpa sadar lutut Alrescha ini menyela masuk diantara kedua kakinya Alstrelia.
Alstrelia yang tidak terima mendapatkan perlakuan yang tidak sopan itu, tentunya membalasnya dengan berusaha mendorong tubuh Alrescha ini dengan sekuat tenaga.
Mana yang lebih kuat?
Apakah dari Alrescha yang mendapatkan suatu godaan yang membuat jati dirinya sebagai serigala yang lapar, anehnya tiba-tiba saja muncul?
Ataukah Alstrelia yang memang punya mulai mendapatkan kesadaran penuhnya lagi dan mengerahkan kekuatan di kedua kakinya untuk menubruk Alrescha?
Semua itu di tentukan dari kecepatan, antara diri Alstrelia dengan kecepatan tangan bayang yang mulai muncul lagi untuk mencegag Alrescha mendapatkan serangan dari Alstrelia.
__ADS_1
TAP.
'A-aneh, tapi aku harus berpikri logis Alstrelia!' Meskipun karena ulahnya sendiri, yaitu berusaha untuk menubrukkan dirinya ke arah Alrescha membuat pangkal pahanya langsung mendapatkan serangan langsung dari paha Alrescha yang lantas memubuat Alstrelia jadi merasakan sensasi anehnya sendiri, maka demi mempertahankan dirinya dari pria ini, maka Alstrelia pun berusaha untuk tidak memperdulikan itu.