
“Hm?” Alstrelia tertawa mencibir ketika semua sepatu dan gaun yang ada dia pakai memiliki ukuran yang sama dengan tubuhnya. ‘Jika seperti ini, memang sudah pasti kalau aku mirip dengan dia.’ Pikir Alstrelia.
Dari semua gaun, sepatu, perhiasan yang cocok dengan warna itu, semua Alstrelia pakai dan pada akhirnya itu juga cocok dengan penampilannya.
Tapi apa gunanya gaun, jika Alstrelia sendiri adalah orang yang cukup aktif, maka gaun panjang itu akan menjadi penghalang terbesarnya.
‘Uh..!’ pelayan yang ada di dalam lemari ini terus saja bertahan di dalam lemari. Sampai di saat itu juga, pelayan ini sudah merasakan sesak yang teramat sangat.
“.................” Alstrelia hanya menjelingnya sekilas sembari memakai sarung tangan brokat berwarna hitam, lalu memakai cincin berwarna emas putih yang memiliki hiasan batu kristal berwarna merah.
Bibir yang semula diam itu tiba-tiba terangkat menjadi sebuah senyuman sinis.
‘Aku yang tidak melakukan apa-apa ini, ternyata berhasil membuatmu dalam derita. Manusia memang selalu berpikir naif, dia kira aku tidak tahu kau ada disana? Aku akan memujimu jika kau bisa bertahan sampai akhir.’ pikir Alstrelia lagi.
Dia pun mulai bercermin untuk yang kesekian kalinya.
‘Ah! Sesak. Berapa lagi nona akan disini terus?’ pelayan ini mengernyitkan matanya.
Suasana panas, pengap, dan duduk di tempat yang sempit dengan ditemani sederetan baju juga menjadi tempat penyiksaan paling menyesakkan tanpa adanya algojo.
Dengan kata lain, dia membuat dirinya sendiri masuk dalam ruang penyiksaan.
_______________
Di satu sisi, Alrescha yang baru saja ingat dengan undangan yang dia dapatkan dari Chavire, dimana undangan itu memiliki nama yang ditujukan untuk Alstrelia, membuatnya mengurungkan niatnya masuk kedalam mansion utama.
Dia mengambil tujuan lain, untuk pergi ke mansion milik adiknya, yaitu Alstrelia.
Namun tepat di depan mansion, secara tidak sengaja Alrescha bertemu dengan Elbert yang sedang membawa paksa orang yang dia kenal juga.
“Elbert, lepaskan aku. Aku janji tidak akan kabur.” pinta Andreas kepada Elbert.
“Kata hanya ucapan yang keluar dari mulut. Dan apa yang kau ucapkan bisa menjadi kebohongan. Untuk apa aku melepaskanmu?” kata Elbert, tetap pada pendiriannya untuk terus membawa Andreas dengan tangannya sendiri.
“Elbert, kenapa kau membawa dia seperti seorang tahanan?” tanya Alrescha dengan tatapan penuh selidik.
Elbert pun berhenti dan memberikan hormat sesaat sebelum menjawab : “Karena dia seorang penipu.”
Salah satu alisnya terangkat, “Apa maksudmu?”
__ADS_1
“Apa yang tuan pikirkan ketika penampilan yang seperti wanita ini adalah seorang pria?” tanya Elbert kepada Alrescha.
Alrescha langsung mengusap wajahnya dengan kasar. “Lepaskan dia.”
“Kenapa saya harus melepaskan penipu ini?” Elbert semakin tidak mengerti dengan perintah Alrescha yang memberinya perintah untuk melepaskan Andreas yang memiliki penampilan seperti seorang wanita.
“Dia bukan penipu seperti yang kau pikirkan, Elbert.” ucap Alrescha.
Mendengar hal tersebut, Elbert dengan ekspresi wajah enggan, terpaksa melepaskan orang yang berhasil menipu mata mereka itu.
“...............” Andreas langsung menarik tangannya dan mengusap pergelangan tangannya yang baru saja dicengkram dengan kuat oleh Elbert itu.
“Aku akan menjelaskannya padamu nanti di ruanganku. Dan kau-” Alrescha melirik kearah Andreas. “Karena kau gagal, ikut aku nanti dengan Elbert.” perintah Alrescha.
“Baik tuan.” Elbert menjawab dengan sopan dan hormat, tapi karena melihat Andreas tidak menjawab maupun memberikan hormat, Elbert dengan sengaja menekan kepala Andreas agar membungkuk ke arah Alrescha.
“..................” mendapatkan perilaku itu, Andreas langsung menepis tangan Elbert dengan kasar.
PLAK.
Elbert tidak menyiratkan rasa sakit sama sekali setelah tangannya di tampar seperti itu.
“Dengar kan apa yang dikatakan oleh tuan muda? Jadi jangan menyentuhku lagi.” ucap Andreas sambil merapikan pakaian dan rambutnya.
“Akkh!” Andreas yang memiliki fisik kurus layaknya perempuan jika berpakaian pakaian perempuan, membuat Elbert langsung membawa Andres dengan cara dipikul. “Apa yang kau lakukan, turunkan aku!” ronta Andreas.
“Aku mengangkatmu dengan kasar, jangan salahkan aku jika aku menurunkanmu dengan kasar juga, seperti karung gandum itu.” Elbert memberitahu Andreas saat mereka berdua melihat ada seorang pedagang yang sedang menurunkan barang angkutan dengan cara kasar, karena yang diturunkan adalah sekarung gandum
“.................” mengingat Elbert bisa melakukan hal apapun selama punya tubuh besar dan berotot seperti itu, Andreas jadi memilih diam dan rela dibawa pergi oleh Elbert dengan cara dipikul.
Sedangkan Alrescha, dia hanya membiarkan bagaimana caranya Elbert membawa orang yang dianggap sebagai penipu itu, karena satu tujuannya saat ini adalah memberikan undangan yang seharusnya ditunjukkan untuk adiknya yang asli, tapi karena ada si pengganti, maka Alrescha pun akan memberikannya kepada perempuan itu.
Hingga tepat saat Alrescha hampir sampai di kamarnya Alstrelia, dia melihat kedua pintu kamar itu terbuka lebar.
“.................” Alrescha mencoba masuk kedalam kamarnya, ternyata tidak ada satu orang pun disana. ‘Dia pergi kemana sampai pintu kamarnya tidak ditutup?’
Karena ada satu kamar sebelah lagi yang digunakan sebagai tempat penyimpanan semua berbagai perhiasan, sepatu, gaun, dan barang mewah lainnya, Alrescha pun memutuskan untuk mengunjungi kamar itu.
KLEK.
__ADS_1
“..................!” Hal yang pertama kali Alrescha lihat adalah pakaian milik Alstrelia sepenuhnya ada di lantai. ‘Apa dia sedang berganti pakaian?’
Sampai semua pikiran itu Alrescha tarik kembali saat dia akhirnya mendengar suara perempuan itu.
“Masuk tanpa mengetuk pintu, apa yang sebenarnya kau lakukan sebagai seorang pria yang terhormat?” ujar Alstrelia.
Alrescha mencari-cari suara itu berada di mana, hingga dia akhirnya menemukan Alstrelia sedang naik tangga untuk mencapai sebuah kotak sepatu yang ingin Alstrelia ambil itu.
“..................!” Alrescha membelalakkan matanya saat melihat Alstrelia ternyata sedang memakai gaun milik adiknya.
Alstrelia kembali menoleh kebelakang, melihat di bawah sana ada Alrescha yang sedang menatapnya dengan tatapan terpana, maka Alstrelia pun kembali menambahkan, “Tatapanmu itu seperti mengisyaratkan padaku, kalau aku cocok dengan gaun ini, kan?”
Alstrelia yang naik tangga dengan masih memakai sepatu, tiba-tiba saja telapak sepatunya tergelincir.
“Awas!” Alrescha berlari menuju Alstrelia yang akan jatuh itu.
DRAP…..DRAP…...DRAP…..
Ketika Alrescha berlari dengan wajah paniknya, tapi apa yang terjadi dengan Alstrelia?
Dia hanya memberikan reaksi sebuah senyuman miring.
‘Dia-’ Alrescha melihat senyuman tipis itu.
Apa yang membuat perempuan itu tersenyum di saat semua perempuan akan merasakan panik jika akan terjatuh dari ketinggian?
Sepatu yang dipakai Alstrelia yang membuatnya tergelincir itu tidak membuat Alstrelia merasa panik dengan semua itu, karena yang ada dia menggunakan kesempatan itu untuk turun lebih cepat, dengan sengaja melompat dan…
TAP.
“..............!” Alrescha segera memberhentikan tindakannya untuk berlari, karena terlanjur melihat Alstrelia yang turun dengan sangat anggun, meskipun dengan cara yang cukup ekstrim.
“Kau juga terlihat panik.” kata Alstrelia sambil memutar tubuhnya ke belakang dan menghadap ke arah Alrescha yang diam mematung. “Apa yang membuatmu datang kesini? Yang pasti sedang mencariku kan?” tanya Alstrelia lalu berjalan ke depan dan berhenti di depan Alrescha.
Alstrelia kemudian menggapai tangan kanan Alrescha dan tiba-tiba masukkan sebuah cincin putih yang tadi Alstrelia pakai di jari telunjuknya, untuk Alrescha pakai di jari manis Alrescha.
“Apa yang ka-” mulutnya langsung terbungkam saat jari telunjuknya mendarat di bibir Alrescha.
“Shh…” desis Alstrelia dengan tatapan yang cukup datar, tapi sudut bibirnya terus saja terangkat untuk membuat senyuman penuh makna.
__ADS_1
‘Apa yang dia lakukan?’ Alrescha sekarang benar-benar tidak bisa berbuat apapun ketika melihat tindakan yang Alstrelia lakukan itu bukanlah sekedar perbuatan berdasarkan bahan gurauannya. ‘Tapi tetap saja, dia memakaikan cincinnya ke jariku?’
Alrescha pun masih saja melirik tangan kanannya yangs duah terselip cincin berwarna emas putih yang dimana hiasan dari batu kristal itu dibuat terbalik.