Putri Alstrelia

Putri Alstrelia
188 : Alstrelia : Dua peliharaan


__ADS_3

"J-jadi, kalau begitu kenapa Yang mulia Kaisar ada di hutan sana? Itukan tempat yang jauh, jika melihat Tuan Hasting saja ada bersamanya." Tanya lena saat itu juga, ingin menyelidiki kenapa seorang malahan pergi jauh dan meninggalkan kekaisarannya yang saat ini sedang dalam proses pemulihan dan prosesnya sendiri harus di dukung oleh sang pemilik wilayan langsung, tentunya.


"Karena dia menginginkan sesuatu dariku, maka sebagai bayarannya, aku tentu saja menginginkan sesuatu yang bisa dia dapat itu." Ucap Alstrelia, kembali menyesap teh manis miliknya.


"Memangnya koman ingin apa pada dia?" Tanya Elda juga, memberikan sepotong kue untuk di suapkan ke mulut komandannya yang sedang duduk santai dan ingin di berikan pelayanan terbaik oleh mereka berdua.


"Aku ingin batu sihir." Jawabnya. Memberikan cangkir teh miliknya kepada Lena.


"Batu sihir? Batu sihir yang seperti apa itu Nona? Karena saya menduga ada dua batu sihir di dunia ini, bentuk kristal dan bentuk seperti bola dengan bentuk bulat yang sangat sempurna itu." Lena kembali mencoba mengkonfirmasi ucapannya Alstrelia barusan.


Alstrelia akhirnya bangun dengan posisi duduk seperti biasa, lalu menjawabnya. "Batu sihir yang seperti kelereng itu. Aku sangat menginginkannya, dan dia orang yang tepat agar aku bisa mendapatkannya." Dengan tawa cekikikannya itu, Elda dan Lena pun jadi merasa merinding sendiri karena Alstrelia jadi terlihat seperti sedang membuat rencana jahat yang akan mengundang kegelapan di sekitar mereka semua.


"T-tapi dia itu Yang mulia Kaisar loh, anda kenapa cukup berani seperti itu?" Tanya lena dengan cukup hati-hati.


"Kaisar ya kaisar, pada akhirnya dia itu sama saja seperti kita, manusia yang punya keinginan untuk saling memanfaatkan. Jika dia ingin sesuatu padaku, artinya dia mencoba memanfaatkanku kan? Jadi terlepas dari statusnya itu, dia tetaplah orang yang harus aku manfaatkan juga karena dia punya keinginan terhadapku untuk memberikan informasi kepadanya." Ungkap Alstrelia kepada mereka berdua.


Elda termasuk Lena sendiri, mereka berdua pun langsung dibuat terkesima dengan jawaban yang cukup mengesankan itu.


"N-nona!"


"Hm.." Alstrelia yang sedang bersikap kalem layaknya perempuan lemah lembut, dengan penampilan sudah seperti seorang Putri, karena saat ini sedang memakai gaun, membuat Lena semakin bertambah semangat dalam menjawab.


"Lena memang jenius! Benar kata anda. Walaupun anda adalah Nona majikan saya, karena kita berdua sama-sama manusia, maka kita bisa saling memanfaatkan juga, termasuk Tuan Alrescha dan Sir Elbert, ya kan?"


"Bukannnya kau sudah melakukan itu? Alrescha sudah membuatmu jadi palayan, dia membayarmu, dia menerima manfaat karena pekerjaannya jadi efisien, dan kau sendiri sudah mendapatkan bayarnnya, jadi itu sudah jadi sistem dari kehidupan kita untuk saling memanfaatkan satu sama lain kan?" Jelas Alstrelia lagi.


"Benar juga. Jadi kalau begitu, aku juga harus mencba diriku ini bisa di manfaatkan orang lain agar aku juga bisa memanf-Akhh...!" Ucapan Elda berakhir dengan teriakan yang cukup keras karena kepalanya tiba-tiba saja di pukul.


"Jangan seperti itu juga. Orang yang bisa kau manfaatkan itu hanya aku saja, itu sudah tertulis dalam perjanjian, jadi ngan melanggar kalau melanggar kau akan kena konsekuensinya saat itu juga." Ujar Alstrelia memperingatkan Elda yang hendak dimanfaatkan untuk orang lain selain Alstrelia. "Ah~ Jangan-jangan karena kau belum pernah merasakan konsekuensi melanggar peraturan diantara kita berdua, kau jadi sangat penasaran ya, Elda?" Tambahnya, sambil memberikan delikan dengan senyuman miringnya itu.


"T-tidak." Elda langsung meggelengkan kepalanya bahwa dia tidak mau mendapatkan hukuman yang akan di lakukan oleh komandannya itu. Karena sekali dapat hukuman, itu bukanlah sesatu yang bisa diselesaikan dengan satu atau dua jam saja.


Melihat kepatuhan yang dimiliki oleh Elda kepadanya, Alstrelia jadi menepuk ujung kepala Elda seperti seorang anak kecil yang membutuhkan pernghargaan kecil.


PUK...PUK...PUK..


"..........!" Lena termangu melihat hal itu, karena Lena sendiri jadi menginginkannya.


Seperti anj*ing kecil yang ingin mendapatkan perhatian dari sang majikan Alstrelia pun jadi tersenyum simpul dengan tatapan mata Lena yang cukup iri melihat Elda di berikan elusan di atas kepalanya.


"Jika mau, mendekatlah." Akhirnya Alstrelia pun mengajak Lena agar duduk di dekatnya.


Lena tentu saja dengan semangat langsung berlari kecil menghampiri Nona majikan palsunya itu, lalu duduk di sebelahnya dan membuat tatapan memohon.


Melihat ada dua anak yang terlihat sangat menginginkan sentuhannya, maka Alstrelia dengan senang hati mengusap kepala Lena juga, sehingga kedua anj*ing kecil di sampingnya itu bisa mendapatkan apa yang mereka mau.


*


*


*


Sedangkan Alrescha, dia hanya berdiri dan mendengar semua pembicaraan yang bisa Alrescha dengar itu, sekalipun Alrescha saat ini sedang berdiri dan bersandar di di dinding di lantai satu, tepat di bawah balkon kamar yang di huni oleh Alstrelia.


__________

__ADS_1


Karena kakinya yang besar, maka setiap langkah ynag dia buat pun menghasilkan suara yanng cukup mengganggu.


Akan tetapi, karena untungnya lantai marmer itu sangatlah kuat, maka semua langkah kaki yang dia pun tidak membuat lantai itu rusak.


Namun kemanakah langkag kakinya itu membawanya pergi?


KLEK


Kedua pintu besar itu terbuka, dan mempersilahkan si pembuka pintu itu sendiri masuk kedalam kamar yang di huni oleh seorang perempuan dari kalangan manusia, yaitu Alstrelia.


'Kenpaa dia tidak memintaku menyalakan api unggunnya? Disini kan suhunya jadi dingin seperti ini.' Pikir naga hitam ini melihat kamar yang ditinggali oleh Alstrelia saat ini cukuplah dingin.


Untuk mengembalikan kehangatannya, maka dia pun meletakkan kayu bakar yang baru saja dia bawa itu.


BRUK.


Kayu bakar itu satu per satu di tumpuk di pojokan kamar. Lalu menyisakan satu batang kayu yang sudah dipotong dengan ukuran yang sempurna.


Setelah itu kayu itu di masukkan kedalam tungku, dan mulutnya pun langsung dia buka dan menghembuskan api yang langsung membakar batang kayu itu.


Kayu kaib itu pun akan tetap menyala dan bertahan selama satu minggu.


Karena itu, kayu bakar yang dia bawa pun bisa di hitung dengan jari, karena dia memang tidak memerlukan kayu yang sedemikian banyak sampai menggunung, sebab kayu yang di bakar itu adalah kayu khusus.


Setelah berhasil kembali membuat kamar tidur itu hangat kembali, Naga ini pun melirik pada satu perempuan yang masih tidur nyenyak di dalam selimut tebal.


'Walaupun tidur saja, kalau cantik tetap saja cantik. Apa-apaan dengan penampilan manusia ini?' karena masih saja penasaran dengan Alstrelia ini, maka Naga hitam tersebut mendekatkan wajahnya ke atas tempat tidur Alstrelia dan memperhatikannya dengan jarak yang cukup dekat.


"K-kakak~, aku takut. J-jangan ting..galkan aku." Ucap Alstrelia di dalam tidurnya. "Jangan tinggalkan aku disini, jangan pergi kesana...kakak."


'Ekspresi wajah apa itu? Apakah mimpinya kali ini juga berhubungan dengan masa depan yang tidak sengaja di lihatnya?' Pikirnya.


Karena merasa kasihan dengan ekspresi wajah Alstrelia yang terlihat menyedihkan seperti itu, maka Naga hitam ini pun melakukan sesuatu.


Dia mencoba mengais apa yang ada di permukaan tubuhnya, yaitu keringat. Setelah mednapatkan satu tetes keringatnya, Naga ini mengambil satu kain yang dia dapatkan dari kemampuannya telekinesisnya untuk merobek selembar kain dari tirai, setelah itu keringat miliknya pun dia basahkan ke kain itu dan meletakkannya di atas dahi Alstrelia.


Setelah meletakkannya di dahi Alstrelia, barulah dia melhiat ekspresi wajah Alstrelia jadi lebih tenang.


"Huhh...ada kalanya dia bisa merepotkan juga. Tapi aku tidak begitu mempermasalahkannya, karena untungnya aku bisa berguna untuknya." Lirih Naga ini.


Setelah urusannya untuk melihat Alstrelia dalam kondisi yang baik atau tidak, Naga ini pun pergi keluar dari kamar.


Di dalam sebuah kastil yang terlihat tua dan tidak terurus dari depa, bukan berarti kalau yang ada di dalamnya juga nampak buruk seperti yang ada di luar, justru keadaannya adalah sebaliknya.


Di dalam kastil yang terlihat biasa saja dari luar, sebenarnya di dalamnya cukuplah bersih, rapi, dan terlihat barang-barang seperti vas bunga yang terbuat dari emas murni, bunga putih berkilau karena terbuat dari kristal, sampai meja pun juga sama-sama terbuat dari bahan yang cukup wah untuk sekedar meja biasa yang diletakkan di pinggir koridor.


Semua itu menjadi bukti kalau sebenarnya di dalam kastil banyak harta yang berharga untuk seorang yang melihatnya sebagai uang, sedangkan untuk seseorang yang menganggapnya sebagai dekorasi untuk menampilkan keindahan, maka itu orang yang sudah beda level lagi dengan orang biasa.


TAK.


Suara yang terdengar kecil tapi sebenarnya cukup dekat itu jadi menarik perhatian Naga itu untuk menoleh ke sumber suara.


Dan asalnya dari balik pintu yang ada di sebelahnya persis.


TAK..

__ADS_1


Naga ini tanpa sungkan lagi, mendorong pintu itu dan mecoba mencari tahu siapa yang ada di dalam kamar itu.


KLEK...


"Sungguh makhluk mitologi yang masih hidup. Dan di dalam otak kecilmu itu, pasti selalu terselip rasa penasaran yang cukup besar dengan wanita itu kan?"


Suara milik seorang pria yang saat ini sedang duduk di kursi single di balik meja kerja langsung menarik semua perhatian milik sang Naga ini.


'Siapa dia? Kenapa dia bisa masuk kesini?' Tatapan matanya tidak bisa Naga ini alihkan dari papan dan semua pion catur itu, karena semuanya terbuat dari emas juga, termasuk pria berambut pirang yang terlihat duduk besandar di tempatnya itu, pria tersebut nampak sedang menikmati permainannya sendiri.


"Tubuhmu yang besar itu ternyata tidak bisa menjamin kalau kau punya otak yang bisa diandalkan ya?" Imbuhnya.


Perkataan yang perlahan menciptakan emosi untuk sang Naga hitam ini untuk membuatnya memberikan tatapan sengit kepada pria di depan sana, karena berhasil menghinanya dengan cukup terang-terangan.


Dan hal itu justru menjadi bahan untuk membuat pria berambut pirang itu tiba-tiba saja menarik sudut bibir membentuk bulan sabit yang begitu memuakkan.


"Siapa kau. Apa urusanmu disini?"


"Urusanku cukup sederhana, aku hanya merasa akhirnya bisa menemukan tempat tinggal ynag cukup membuatku puas, dan lagian, jika kau memang berusaha untuk mengusirku setelah aku menghinamu tadi, maka jangan salahkan aku jika kau tidak akan mendapatkan bantuan apa-apa lagi oleh dia." Ujung dagunya yang terangkat itu menunjuk pada seseorang yang saat ini tengah berada di dalam kamar mandi.


Namun melihat pakaian yang tergeletak di atas tempat tidur itu cukuplah familiar, maka Naga hitam ini pun akhirnya tahu, siapa orang yang saat ini ada di dalam kamar mandi itu.


"Everst! Aku lupa bawa handukku, ambilkan untukku!" Suara teriakan dari seorang wanita mengisi kesunyian aneh itu.


KLEK...


Dengan menggunakan jentikan jari saja, sebuah handuk yang berada di dalam lemari tiba-tiba keluar dan terbang melayang menuju depan pintu, lalu handuk itu langsung tersampir di knop pintu.


KLEK...


Tangan yang basah itu langsung mengambil handuk tersebut. Setelah pintu itu tertutup lagi, maka tatapan mata dari pria berambut pirang itu kembali mengunci sosok dari Naga yang ada di ambang pintu itu.


"Jadi, apa kau bisa pergi dari tempatku untuk bisa berduaan dengannya? Kalau tidak-" Kalimat yang menggantung itu menjadi awal untuk pria ini memberikan ancaman dengan tatapan paling datar dan cukup dingin disertai senjata tombak yang sudah muncul dan di todong tepat di bawah leher Naga itu.


"Asal kau tidak membuat keributan seperti memprovokasiku-" Naga ini pun mencengkram tombak emas yang hampir menusuk lehernya itu dengan tangannya. "Aku akan membiarkanmu tinggal disini. Tapi jika tidak, aku tidak yakin kau bisa berdua dengan manusia yang ada di dalam sana dalam waktu dekat ini." Naga ini pun berani memberikan ancaman kepada pria haus kekuasaan serta cinta yang ada di depan sana.


"Ha~ Apa kau baru saja memperingatkanku kalau aku mengacau disini artinya aku tidak akan bisa melakukan apapun dengannya? Apa kau berusaha memisahkan kami?" Tanya pria ini, mencoba mendapatkan konfirmasi dari si pengancam.


BRAK...


Seluruh bidak catur serta papan catur itu langsung terjatuh dan berserakan di lantai, setelah itu karena rasa kesalnya tiba-tiba muncul, mengingat apa yang di katakan oleh Naga hitam itu seolah memang mampu untuk memisahkan mereka berdua, maka peria bersurai pirang emas ini pun jadi menunjukkan kemarahannya dan memberikan ancaman lebih besar dengan mengerahkan seluruh senjatanya ke arah Naga kesepian itu.


'Apa-apaan manusia ini? Apa aku baru saja menyinggung masa lalunya?' Di mata Naga ini, sorotan mata tidak suka yang terlihat jelas di mata pria di depan sana itu seolah ada kilatan masa lalu yang baru saja di dapatkannya lagi, dengan kata lain, kalau sekarang dirinya benar-benar menyinggungnya, maka tidak akan berakhir dengan baik, mengingat semua senjata yang keluar dari lubang dimensi berwarna emas itu sudah siap untuk memulai sebuah pertarungan.


"Jika maumu begitu, aku ti-"


KLEK..


Suara pintu yang terbuka itu segera menjadi kepanikan mereka berdua untuk menghentikan singgungan diantara mereka berdua.


Naga hitam itu buru-buru menarik kembali kepalanya dan menutup pintunya, dan pria bersurai emas itu langsung menyimpan kembali seluruh senjatanya kembali ke dalam lubang dimensi penyimpanannya lalu tubuhnya langsung berubah menjadi seekor hewan bersayap berwarna coklat, yaitu...


"Everst, apa kau lakukan di atas meja?" Tanay Eldania, lalu sudut matanya jadi tidak sengaja melihat adanya papan catur yang tergeletak di bawah sampai semua pionnya berserakan juga. "Apa kau baru saja menendang papan catur itu karena tidak ada yang menemanimu main?"


Suara dari pertanyaan yang terlontar dari mulutnya Eldania itu menjadi daya tarik tersendiri untuk Everst untuk terbang dan langsung mendarat di atas bahu dari perempuan itu.

__ADS_1


"itu adalah pemikiran yang bagus. Aku butuh tangan dan otakmu agar bisa menemaniku main catur." kata burung ini dengan serta merta, menyembunyikan jati dirinya yang mampu berubah wujud menjadi manusia.


__ADS_2