
Satu anak panah dengna aura yang kental dengan warna hijau itu kembali datang dan hendak menyerang mereka berdua.
SYUHTT...
Tapi memangnya mereka berdua akan membiarkan anak panah itu melukai mereka berdua?
Edward yang tidak mau mendapatkan luka lagi setelah mendapatkan goresan di pipinya, dia langsung menjentikan jarinya.
KLIK...
Anak panah itu menghilang dan begranti posisi sudah ada di belakang mereka berdua, dan langsung menancap ke tanah.
"Apa?" Wanita ini yaitu Elf pun langsung terkejut, karena rupanya pria berambut putih silver itu ternyata adalah seorang penyihir.
"Jadi ada penyihir, kalian berdua serang mereka. Jangan biarkan kedua manusia itu masuk kewilayah kita." Perintah Elf ini kepada kedua pohon yang sudah siap untuk memberikan serangan kepada Chavire dan Edward.
"Baik." Jawab kedua pohon itu.
"Apa? Pohon itu bisa bicara?" Tanya Chavire, terkejut karena ternyata ada pohon yang bisa bicara secara terang-terangan di depan manusia seperti itu.
"Bukannya kau sendiri juga bisa bicara? Semua makhluk hidup di bumi itu pada dasarnya bisa bicara, tapi untuk bisa bebicara seperti itu, maka kedua pohon itu harus mendapatkan dukungan dari sihir lain yang membantunya bisa berbicara.
Tapi karena disini adalah wilayah mereka, wajar saja pohon yang terpilih bisa di angkat untuk di jadikan pohon penjaga hutan, dan yang mendampinngi mereka adalah Elf itu." Edward seketika mendongak ke arah atas, sebab Elf yang baru saja di panggilnya itu sudah berada di atas dan hendak memberikan serangan untuk mereka berdua lagi.
"Mulutmu memang harus aku bungkam selamanya ya, jangan panggil aku elf! Aku itu berbeda!" Seru wanita ini, tidak puas hati dengan panggilan yang di sebutkan olh Edward barusan. Setelahnya, wanita ini kembali menarik busur panahnya langsung, sampai anak panah yang awalnya tidak ada, tiba-tiba saja jadi ada dan langsung terbang ke arah merek dengan sederet anak panah yang langsung menjadi banyak.
Hanya saja, demi menghindari adanya trik licik dari penyihir yang cukup mengancam strategi serangannya, wanita tersebut pun langsung mengerahkan puluhan daun milik kedua pohon penjaga tadi untuk terlepas dahannya dan terbang menyerang mereka berdua?
"Padahal kau itu Elf, kenapa tidak mau di panggil Elf?" Tanya Edward dengan selamba, seakan dia tidak mengerti maksud dari kemarahan yang di perlihatkan oleh wanita elf itu.
"Kau berisik." Wanita ini mendarat di tanah, dan merentangkan tangan kanannya ke depan, memerintahkan daun dan anak panah yang sudah siap untuk menyerang itu, terbang ke arah mereka berdua.
Melihat adanya serangan yang akan dilakukan oleh Elf itu, maka Edward yang merasa terpancing dengan semangat dari makhluk itu, membuatnya memilih maju untuk melawannya.
"Serang." Perintah Elf ini kepada semua senjatanya.
"Jika bisa." Sambung Edward. Dengan percaya diri, Edward mencoba membuat dinding penghalang untuk mempertahankan diri mereka berdua dari serangan yang di lakukan oleh Elf itu.
SYUHTT....
Namun apa jadinya, ketika dinding pelindung yang Edward buat itu memang berhasil menghalangi semua anak panah itu, tapi tidak dengan puluhan daun hijau yang berhasil menembus dinding pelindungnya.
Puluhan daun hijau itu sama sekali tidak menyerang mereka berdua, karena sasaran sebenarnya dari semua daun itu adalah tanah yang mereka pijak.
JLEB...
__ADS_1
Setelah semua daun menancap ke tanah, saat itu juga lingkaran sihir berwarna hijau tiba-tiba tercipta.
"Sihir apa ini?" Tanya Chavire, baru melihat warna hijau yang muncul dari lingkaran sihir yang mengung mereka berdua itu, cukup cantik dan terlihat menjadi daya pemikat.
"Segel-"
"Seg a-" Chavire yang hendak bertanya balik itu, tiba-tiba saja lagsung di suguhi deretan anak panah lagi, bersamaan dengan kedua pohon besar yang sedang berlari kearah mereka berdua! "Edward! Mereka berdua bisa lari!" panik Chavire melihat kedua pohon yang biasanya diam-diam saja di tempat, justru berlari!
"Kau sendiri punya kaki, mereka juga punya kaki dari akar, bodoh." jawab Edward.
"Hei~" Delik Chavire mendengar dirinya di katain bodoh lagi oleh penyihir bar-bar itu.
"GORARRHH...! Kalian mengganggu Nona kami! Akan kami singkirkan kalian!"
Seluruh anak panah itu pun langsung menerjang ke arah mereka berdua, dan begitu pula dengan kedua pohon penjaga itu, mereka berdua berlari ke arah Chavire dan Edward.
'Ini segel sihir! Pantas saja aku tidak bisa menggunakan mana sihirku.' Pikir Chavire, dia akhirnya menyadari kenapa dia tidak bisa menggunakan kekuatannya.
Kelabakan dengan keadaan dimana sihir mereka berdua sudah di segel, maka itu pula lah celah sebagai kesempatan untuk Elf tersebut dengan kedua pohon menjaga itu untuk menyerang kedua manusia itu.
"Apa kau bisa melawan mereka tanpa sihir?" Tiba-tiba Edward bertanya.
Sedangkan Chavire, melirik tidak puas hati dengan keadaan Edward yang sihirnya sudah pasti sama-sama tidak bisa di gunakan alias di segel.
"Begini-begini, kau sendiri membutuhkanku untuk melakukan teleportasi sampai ke sini, apa kau pikir aku tidak membutuhkan mana yang besar?" Sahut Edward.
Kedua tatapan mata saling tidak suka itu pun juga dirasakan oleh Elf itu.
'Mau mengabaikanku? Baiklah, aku akan buat kalian jadi pupuk tanaman di sini.' Batin Elf ini. "Kalian berdua, jangan biarkan mereka lolos."
DRAP...DRAP....DRAP....
"Ya, Nona."
Setelahnya, seluruh anak panah yang hanya tinggal berjarak kurang dari lima meter itu, tiba-tiba saja...
SYAHT...
Satu bilah panjang itu berhasil memotong semua anak panah itu.
Satu pohon penjaga itu menghantamkan tangan yang asalnya dari dahannya yang besar itu untuk menyerang Chavire.
BRAK.
Tetapi Chavire dengan cukup cekatan, justru melompat ke atas, dengan tongkat besi panjang miliknya yang sudah dia keluarkan itu sebagai sebuah sejata untuk mempertahankan dirinya dari hujan anak panah tadi.
__ADS_1
Elf itu tidak akan membiarkan Chavire bisa lepas dengan mudah.
Elf ini pun mengarahkan busur miliknya ke depan, dan di saat itu juga busur yang terbuat dari besi itu bisa Elf itu rubah menjadi pedang. Dan Elf tersebut pun muncul dari belakang pohon penjaga kedua, lalu menerjang ke arah Chavire.
"HYAHH...!"
"...........!" Chavire yang tiba-tiba saja di sergap dari belakang, langsung menoleh ke belakang, lalu mengayunkan tongkat sepanjnag dua meter itu ke arah Elf tersebut hingga kedua senjata dari besi itu saling beradu.
CTANG....
"Apa kau tidak mau mendengar penjelasan alasan kami datang kesini?" Tanya Chavire di sela-sela menahan pedang yang di gunakan oleh Elf cantik ini.
"Apa gunanya itu, ujung-ujungnya kalian para manusia hanya ingin mengambil sesuatu yang hanya dimiliki oleh kami. Itu sudah bisa ketebak, manusia!" Elf ini semakin mengerahkan tenangannya untuk menepis tongkat besi milik Chavire, dan..
SRAHKK...
Gesekan kedua besi yang terjadi cukup cepat dan saling menekan satu sama lain, berhasil menciptakan percikan.
'Dia tenaganya kuat juga. Apakah bertarung melawan Elf memang seperi ini? Tapi aku pikir Elf itu tidak akan memakai senjata hasil tempaan, kelihatannya dia berbeda.' Di tengah-tengah pertarungannya, Chavire pun menganalisis cara bertarung Elf ini.
"Kalau sedang bertarung, jangan kebanyakan berpikir!"
CTANG...
Serangan dari Elf ini kembali berhasil di tahan, tapi memangnya siapa yang mau tarik ulur seperti itu?
Ketika di satu sisi Chavire bertarung dengan Elf cantik itu, maka Edward dari tadi dengan mudah menghindari gerakan dari pohon penjaga itu. Dari melompat ke belakang, berlari dan menjatuhkan diri ke atas rumput hingga terseret ke depan, dan membuat Edward dapat melintasi celah dari bawah akar pohon itu.
"Apa kau tidak ada cara lain selain menghindar seperti itu?" Protes Chavire dengan cara Edward mengatasi satu musuhnya itu.
"Jangan mengalihkan pandanganmu ke tempat lain!" Peringat Elf ini, melihat Chavire masih sempat-sempatnya memberikan protes mengenai cara Edward mengurus satu pohon penjaga itu.
"Oh..jadi mau diperhatikan olehku?" Seringai Chavire, membuat senyuman penuh menggoda.
Elf ini yang merasa terhina dengan cara Chavire membalas ucapannya, semakin marahlah Elf ini terhadap Chavire.
"Kau-"
"Ya, aku?" Chavire lagi-lagi mempermainkan kalimat yang terpotong itu, dengan sahutan yang cukup menjengkelkan untuk Elf tersebut.
"Aku akan bersumpah membuatmu jadi pupuk!" Pekik Elf ini kepada Chavire.
"Pupuk apa? Banyak artian yang aku dapatkan, apakah itu pupuk untuk membuahi telur?" Goda Chavire dengan kata-kata yang cukup intim.
Semakin terprovokasi dengan ucapannya Chavire, Elf ini langsunng menghentakan kakinya, maka keluarlah akar pohon yang hendak menjerat tubuh Chavire.
__ADS_1