Putri Alstrelia

Putri Alstrelia
91 : Alstrelia


__ADS_3

Malam itu menjadi malam yang paling dingin diantara malam yang lainnya.


Pria pemilik dari manik mata berwarna hijau zamrud ini pun mendongak ke atas dengan seringaian miring.


Sebuah keadaan yang membuatnya tersenyum adalah karena semua tujuannya sebentar lagi akan tercapai.


‘Sebentar lagii. Sebentar lagi Kekaisaran ini akan hancur. Jadi, sudah waktunya bagiku untuk pergi. Memperlihatkan kepada semua orang, bahwa pemimpin kalian pergi di saat situasi kalian sedang genting.


Chavire, mau dengan cara apapun, negaramu ini tidak akan bisa kau selamatkan. Seperti yang kau lakukan pada tempat tinggalku, sekarang tempat tinggalmu juga akan hancur.’ Pikir Charles.


TAP….TAP….TAP…..


Dan langkah dari sepasang sepatu yang kian mendekat itu pun tetap tidak bisa menarik perhatian Charles untuk memperhatikan bulan sabit yang muncul tepat di atasnya persis.


“Tuan, semua persiapannya sudah selesai.” Ucap pria berpakaian tuxedo ini. Dia adalah seorang kepala pelayan dari istana Regalia.


“Sudah ya? kalian bekerca dengan sangat cekatan sekali ya?” Sahut Charlles.


Pria yang belum genap 40 tahunan itu pun menyunggingkan senyuman paling ramahnya, sambil menjawab. “Tentu saja Yang Mulia. Semua ini kami lakukan karena kami adalah pengikut anda yang setia Yang Mulia Charles Mervesaquez Lousian.”


Charles, yang mendengar nama lengkapnya tiba-tiba saja dipanggil dengan penuh hormat oleh pelayan tersebut, akhirnya dibuat untuk memutar tubuhnya ke belakang, dan menghadap ke arahnya dengan seringaiannya yang tidak pernah padam itu.


Namun, ketika Charles berbalik, ternyata dia tidak dihadapi oleh satu pelayan saja, melainkan puluhan orang dengan posisi mereka masing-masing.


Ada yang menjabat sebagai kesatria, pelayan, juru masak, bahkan beberapa bangsawan yang dia kenali juga turut hadir untuk berbaris di depan Charles. Dan mereka semua pun berlutut memberikan hormat kepada Charles selaku pemimpin mereka.


“Benar, kami berada disini adalah untuk anda. Membalaskan dendam teman-teman dan orang tua kami, juga keluarga anda, Yang Mulia Charles.” Ucap mereka semua secara serentak.


Charles pun menghilangkan senyuman itu ketika mereka semua mengatakan dendam.


Benar.


Semua perasaan yang saat ini muncul, jika itu perasaan bahagia, adalah karena sebentar lagi semua tujuannya untuk membalaskan dendamnya akan tercapai. Tapi di satu sisi, kesedihan paling mendalam pun ikut mencuat juga, saat mengingat keluarga yang dia miliki ternyata sudah tidak ada lagi.


Dan semua itu karena Chavire.


Tidak.


Kesalahan yang membuatnya menjadi sosok yang merebut tubuh Chavire, sekaligus orang yang menjadi akar dari semua permasalahan yang akan melanda Kekasiaan Regalia adalah karena mendiang kaisar sebelumnya.


Ayah Chavire lah yang sduah merenggut masa depannya yang cerah, karena sudah membuat semua keluarganya meninggal.


Jadi disini, Chavire pun menjadi peran untuk dijadikan pelampiasan membalaskan dendam dari Charles, dengan melakukan sesuatu kepada Kekaisarannya.


“Kami bersama dengan kelompok Cincin Matahari sduah sepakat untuk membersihkan noda dari Kekaisaran Regalia.” Ungkap mereka semua secara bersama-sama.


“Hah~ “ Chavire kembali tersenyum miring.

__ADS_1


KLEK.


Kedua pintu yang ari tadi tertutup, perlahan terbuka.


Dan sosok dari seorang wanita berparas cantik, membawa sebuah senjata yang di bungkus dengan kain dan dibawa di kedua tangannya pun muncul menampakkan diri kepada Chavire.


“Apa akhirnya kau sadar juga, untuk bergabung denganku, Arsela?” Tanya Charles dengan osrotan mata penuh dengan tatapan menyelidik.


Charles terus memperhatikan mantan tunangannya dulu itu, kini berjalan kearahnya dengan membawa sebuah pedang?


“Jadi kau sudah menemukan Artefak yang kau inginkan itu?” Pertanyaan kedua yang Charles lontarkan kepada Arsela.


Hingga semua orang yang ada di sana, sama-sama menatap tamu paling fenomenal itu.


Selain karena kecantikannya, Arsela juga merupakan wanita berbakat dari Academy Star White Galdeon karena punya sihir yang tinggi. Karean itu, tidak ada seorangpun yang berani mengusiknya.


“Dengan bantuanmu, aku sudah endapatkannya. Pedang Curtana,” Arsela kemudian melepaskan kain yang membalut pedang tersebut. Sehingga terlihat sudah, pedang Curtana yang merupakan Artefak sihir yang sempat dirumorkan sudah menghilang.


“Apa artinya, kau sudah menguasai pedang itu?”


“Kau akan melhatnya sendiri nanti.” Sahut Arsela.


Charles memejamkan matanya dan memaklumi ucapan yang baru saja Arsela jawab. Dia sedang memancing rasa penasaran dalam diri Charles, dengan cara menungggu.


“Dengan seperti ini, artinya kau setuju kembali kepadaku?” Tanya Charles, mengkonfirmasi tebakannya sendiri.


Sontak semua orang yang ada disana kembali menunduk, sebab senyuman yang Arsela sunggingkan itu menjadi bahan jawaban untuk mereka semua, kalau mereka semua bersatu dengan tujuan yang sama.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*


TES...TES…..


Chavire yang semula diam tertidur itu, akhirnya membuka kelopak matanya.


Langit berwarna kelabu itu menjadi pemandangan pertama yang Chavire lihat setelah merasakan adanya tetesan air yang perlahan turun dan membasahi wajahnya.


“Kau sudah bangun?” Suara dari seorang wanita itu pun segera membuat Chavire tersadar sepenuhnya.


“Kenapa aku bisa tertidur?!” Tanya Chavire dengan nada sedikit tinggi itu kepada perempuan bersurai coklat, yaitu Eldania.


Eldania sepintas menjeling kearah pria berambbut merah itu, sebelum akhirnya kembali menatap ke depan. “Kau sendiri yang tiba-tiba tidur,” Jawab Eldania dengan kebohongannya sendiri. “Pegang erat-erat, kita akan turun dengan cepat.” perintah Eldania.


“Apa?!” belum sepenuhnya bereaksi terkejut, Chavire langsung disuguhkan kecepatan terbang dari burung yang masih Chavire naiki semakin tinggi, saat waktunya untuk turun. ‘Dia menyuruhku berpegangan?! Itu memegang apa?!’ Racau Chavire dengan wajah bingung, sampai dia hanya punya satu cara untuk menuruti perkataannya Eldania, yaitu dengan berpegangan pada pinggang wanita itu.


WUSHH…….


Aangin yang cukup dingin itu segera menerjang tubuh mereka berempat. Everst yang merupakakan peliharaan yang mampu merubah wujudnya menjadi sosok yang besar itu segera menjeling ke belakang.

__ADS_1


NGUNG….


Beberapa monster dengan bentuk tawon, tapi memiliki tubuh yang besar, sedang terang mengikutinya.


“Verst urus mereka.” Perintah Eldania.


Everst langsung merespon dengan cepat.


KWAAK..


Mendapatkan jawaban yang sesuai dengan apa yang diharapkan, Eldania pun kembali berkata : “Chavire, kau bisa melompat dari ketinggian kan?”


“Apa kau sedang bercanda? Melompat?!” Protes Chavire, karena Chavire sendiri masih belum tahu apakah tubuh yang sedang dia huni itu memiliki kemampuan untuk melompat dari ketinggian?!


“Sudah tidak ada waktu lagi, Everst akan mengurus monster yang ada dibelakang kita, jadi kita harus melompat.” Ajak Eldania. Dia langsung menarik tangan Chavire dan membawanya bersama dengan an*jI*ng yang Eldania pegang itu agar melompat.


KWAKK…!


Tepat setelah Eldania dan Chavire turun dari punggung Everst, Everst langsung bermanuver terbang ke atas untuk membereskan beberapa monster itu.


Sedangkan Eldania dan Chavire, akhirnya terjun dengan bebas, tepat dibawah rintikan hujan yang kian deras.


‘Dia wanita gila! Kenapa aku diajak melompat juga?!’ Chavire sejujurnya sudah sangat ingin berteriak karena dirinya harus melompat dari ketinggian lebih dari 300 meter itu.


Hal itu akan menjadi pengalaman pertamanya.


Tapi akan menjadi pengalaman yang ke sekian kalinya untuk Eldania sendiri.


GUK!


Sampai anj*i*ng yang dipegang oleh Eldania akhirnya menggonggong karena merasakan hal yang sama, yaitu memacu adrenalinnya.


GUK!... GUK…!


“Menyegarkan.” Hanya itulah yang Eldania ucapkan, sambil menggapai tangan Chavire. “Pegang tanganku,” Pinta Eldania.


Tanpa ragu lagi, Chavire pun menggapai tangan Eldania sebelum mereka berdua benar-benar terpisah.


Sambil terjun ke bawah, Chavire menyempatkan dirinya untuk menoleh kebelakang.


Kwak!


JLEB..


JLEB..


‘Apa-apaan dengan hewan peliharaannya itu?’ Detik hati Chavire ketika diperlihatkan Everst ternyata mampu menyerang balik tawon-tawon itu dengan cukup mudah, sebab burung jadi-jadian tersebut menggunakan helain bulunya sendiri untuk dijadikan senjata pembunuh!

__ADS_1


__ADS_2