Putri Alstrelia

Putri Alstrelia
112 : Alstrelia : Kendali


__ADS_3

"Irine?!" Panggil kesatria ini kepada wanita yang ada di depannya itu.


SYUHT...


Wanita yang dipanggil Irine langsung mengibaskan pedangnya dan berjalan pelan kearah pria itu.


"Irine apa yang kamu lakukan disini?" Tanya kesatria ini dengan wajah khawatir, pasalnya wanita yang ada di depannya itu adalah Istrinya.


"Membunuh semua yang menghalangi kemenangan kita." Jawab Irine dengan nada tegas.


'Apa yang terjadi? Tatapan mataya seperti tatapan kosong.' Tidak mau melihat Istrinya pergi berkeliaran dengan pedang untuk membunuh monster seperti yang tadi, pria ini langsung mencegatnya. "Tidak, kamu jangan kesana." Pintanya dengan menahan tangan Istrinya.


"Ini perintah, perintah yang tidak bisa dilanggar. Mereka semua harus disingkirkan demi kemenangan milik kita dan membalaskan dendam kita untuk mereka yang sudah bertaruh nyawa" Tidak seperti yang diharpakan, Irine lagi-lagi menjawab dengan nada datar dan memiliki tatapan mata yang kosong seolah dia sedang dikendalikan?


"Irine! Siapa yang sedang mengendalikanmu?" Sadar dengan yang satu itu, pria ini segera mengguncang-guncang tubuh Irine agar tersadar.


GRARRHH.....!


Satu suara yang datang dari atas mereka, segera membuat mereka berdua mendongak keatas.


Satu lagi monster yang datang mendadak dari arah atas.


"Jika tidak ingin melawan, lebih baik pergi dari sini dan lindungi diri kalian." Satu suara lagi kembali muncul.


Saat ini suara yang datang itu adalah milik seorang pria. Tapi siapa itu?


DRAP...DRAP.....DRAP.....


Pria berpakaian pelayan berlari kearah mereka berdua. Tapi sebelum pria itu berlari menabraknya, dijarak 3 meter sebelum mencapai Irine dari kesatria itu, pria tersebut langsung melompat keatas menerjang monster yang datang dari atas itu.


Sama hal nya dengan ekspresi wajah yang diperlihatkan Irine kepadanya, pria itu pun sama-sama memiliki reaksi wajah yang sama juga.


"Makhluk jelek, sekarang kau dalam masalah." Ucapnya. Setelah itu pria berpakaian pelayan itu langsung mengambil beberapa pisau makan yang tersimpan di dalam jas miliknya dan mengeluarkan keenam pisau itu dengan kedua tangannya. Setelah menempatkan semua pisau itu di sela-sela jarinya, dia pun melemparnya kearah monster tersebut.


SYUHT..


JLEB.. (6X)


Dalam sekali lempar, semua pisau itu menancap di seluruh titik vital monster itu.


Dan dari aksi heroiknya itu, monster tersebut langsung tumbang setelah bagian dahi, mata, mulut, leher, perut dan beberapa dibagian tubuh lainnya tertusuk oleh pisau makan tersebut.


BRUK.


Sampai pendaratan dari monster itu berakhir dengan kematiannya sendiri.


TAP.


Mendarat dengan sempurna, pria berpakaian pelayan ini berbalik dan menatap kedua orang itu secara bergantian.


".............!" Kesatria ini pun dibuat bingung akan keadaan dari pelayan tersebut juga Istrinya, yaitu Irine.


"Apa yang sedang kalian berdua lakukan, pekerjaan kalian masih banyak, jangan disini terus jika kalian memang ingin melindungi kota ini dari Monster jelek itu." Seorang pria berpakaian koki pun datang dengan membawa pisau daging di tangan kanannya.


Sama halnya dengan Istrinya juga pelayan itu, koki terkenal dari restoran bintang lima pun jadi ikut datang untuk ikut dalam pertarungan ini?


SYUHT.....


Satu persatu dari mereka datang saling menghampiri, diantaranya adalah keberadaan dari ke delapan kesatria yang beberapa waktu lalu menyatakan tidak ingin bertarung melawan monster, saat ini keadaannya justru mereka semua seperti sudah siap untuk segala hal yang akan terjadi kepadanya.

__ADS_1


SRANG...!


CRASH...!


Tidak hanya ada di tempatnya saat ini, kesatria itu pun mendengar adanya pertarungan lain yang tidak jauh dari tempat mereka semua berdiri.


TAP....TAP....TAP......


Kesatria tersebut berbalik, terlihat adanya sekelompok monster sudah membentuk sebuah kelompok


"Tanpa perlu pergi jauh-jauh, ternyata makan malam kita datang sendiri." Ujar sang monster, mengawali waktu dari pertemuan mereka dengan bualan dari sebuah hinaan.


"Kelihatannya pendapatmu salah tentang keberadaan kami disini," Kini Irine pula yang bersuara, membuat kesatria yang ada dalam mode bingung yaitu suaminya Irine, langsung membuat wajahnya jadi kosong. "Justru kami disini karena sedang menunggu kalian menghampiri kami. Heh~" Akhir dari ucapan Irina langsung dibuahi sebuah senyuman mencibir.


Terpancing dengan provokasi dari Irine, sontak sekelompok monster itu jadi marah. "Manusia rendahan, nyalimu besar juga. Kita akan lihat siapa diantara kita yang akan menjadi pemenangnya!"


DRAP...DRAP....DRAP...


"Kalian, maju!" perintah Irine. Iriene pun berlari dengan pedang yang dia bawa, sang pelayan, koki, dan kedelapan kesatria pengecut itu, mereka semua secara serentak berlari kedepan untuk menghadapi musuh mereka.


"Baik!" Jawab mereka semua secara serentak sambil mengeluarkan senjata mereka masing-masing.


Kedua kelompok beda ras itu pun akhirnya saling beradu kekuatan demi meraih kemenangan.


Kesatria yang ber notabene suaminya Irine pun mau tidak mau harus ikut membantu mereka semua dalam perlawanan yang semakin sengit. Dan berharap kalau malam yang terasa lebih panjang ini bisa segera berakhir.


CTANG...!


"Argghh!"


DHUAR...!


Antara kalah dan harus mengorbankan diri mereka untuk jadi makanan monster, dan membuat ibu kota Kekaisaran Regalia hancu, atau bisa meraih penghargaan untuk seumur hidup mereka, bisa memukul mundur para makhluk yang serakah itu dalam artian membunuh mereka semua sampai keakar-akarnya?


Semuanya ditentukan di malam yang dingin ini.


Yah~


Malam yang harusnya dibuat menjadi waktu paling nyaman mereka semua untuk tidur beristirahat, sekarang justru digunakan untuk menjadi ajang pertaruhan nyawa.


_____________


WUSHH~


Dengan keberadaannya yang ada di tempat yang tinggi, rambut hitam panjang milik Alstrelia pun berkibar seiring angin malam itu terus berhembus menerjang tubuhnya dan dengan posisi angin terus berkeliarah kesegala arah menyelimuti Ibu kota Kekasiaran Regalia.


Alstrelia, dia saat ini sedang duduk tepat di tepi pagar pembatas dari balkon tersebut dan menatap dingin pemandangan pusat kota dari atas balkon Istana paling tinggi. Dia duduk dalam posisi kaki kiri di tumpukkan ke atas kaki kanan, dan arah pandangannya tidak bisa dia alihkan pada segala arah yang dimana dia bisa melihat seluruh pertarungan itu dengan cukup jelas berkat kemampuannya.


Kemampuan yang membuat sepasang matanya kembali bersinar berwarna biru.


Tapi karena perbedaan kemampuan yang sedang dia gunakan, maka dia justru mampu mengendalikan kesadarannya sendiri.


Tapi kemampuan macam apa yang sedang Alstrelia gunakan saat ini?


Sampai wajahnya yang cantik itu terus memasang wajah paling seriusnya dan menatap datar semua apa yang bisa dia lihat dengan kedua matanya sendiri?


WUSHH.....


Mantel coat yang saat ini tersampi di bahunya pun ikut berkibar bersamaan dengan rambut panjang miliknya.

__ADS_1


"Dari pada kalian menganggur dengan wajah takut kalian, yang seperti ini justru lebih baik kan? Kesatria yang sedang kekurangan jumlah, kalian bisa mendapatka pasukan tak terduga. Kerjakan tugas kalian dengan baik manusia." Gumam Alsttrelia.


Layaknya seorang Ratu, Alstrelia yang tidak terlihat seperti kedinginan sekalipun memakai seragamnya sendiri yang dia bawa dari dunianya sendiri karena kedua kakinya yang jenjang itu tidak terselimuti apapun kecuali rok pendek yang menggantung di pinggangnya, dia pun menatap dengan senyuman sinisnya, ketika melihat rakyat biasa dan para kesatria yang punya nyali kecil untuk melawan monster, sekarang sedang beraturung melawan ketakutan mereka dengan cara paksa.


Benar sekali.


Hampir sebagian besar masyarakat ibu kota mendapatkan peran mereka sebagai pahlawan berkat kemampun Alstrelia yang mampu mengendalikan pikiran mereka semua.


Sebuah kemampuan yang Alstrelia sembunyikan dari semua orang.


"Kalian, berbanggalah karena kalian bisa melindungi diri sendiri juga orang lain. Dan semua itu..." Alstrelia kemudian menyeringai seraya menatap remeh mereka semua, karena saat ini semuanya sudah ada di dalam kendalinya.


Tanpa perlu melakukan apapun lagi, dia mampu meutarbalikkan situasi sebanyak 180 derajat.


"Pfft.....mereka semua tampak bersemangat sekali. Aku yakin nanti saat mereka sadar lagi, tubuh mereka seperti remuk." Hina Alstrelia dengan tawa geli yang sedang coba dia tahan.


KROAKK...


Seekor burung gagak berwarna hitam pun akhirnya datang dan mendarat persis di samping Alstrelia saat ini tengah duduk santai.


KROAKK...


Alstrelia menyempatkan dirinya untuk melirik kearah burung gagak itu.


"Apa kau sudah mendapatkannya?" Tanya Alstrelia.


Tanpa banyak suara lagi, burung gagak itu menunduk kebawah sambil membuka paruhnya lebar-lebar. Sebuah batu kristal berwarna Ruby itu akhirnya keluar dari mulut gagak itu.


Alstrelia mengambilnya dan mengarahkan batu itu tepat di depan matanya persis untuk dia perhatikan lebih teliti lagi.


"Lumayan juga. Kau sudah berhasil menempa batu ini dengan baik." Puji Alstrelia terhadap burung gagak tersebut. Setelah dirasa sudah cukup, Alstrelia bergumam, "Baiklah, karena ini sudah ada ditanganku lagi, kira-kira selanjutnya apa?"


DHUAR...!


Suara serangan, teriakan, dan daging yang saling terpotong ataupun dimakan, terus menerus mengisi sudut kota.


Tanpa terkecuali Alrescha yang saat ini masih berdiri di atas menara jam, dia pun berbalik dan menatap sosok dari seorang perempuan yang kini sedang duduk santai menatap kearahnya dengan sepasang mata mereka berdua sama-sama bersinar berwarna biru.


Dua pasang mata yang terliihat saling bertemu itu pun membuat mereka secara tidak sengaja mampu apa yang lawan tatap mereka saling melihat apa yang mereka lihat.


Ketika Alstrelia menatap Alrescha, Alstrelia justru mampu melihat dirinya sendiri, seakan Alstrelia adalah Alrescha yang sedang berdiri di menara jam.


Dan itupun berlaku untuk Alrescha juga. Dia yang sejujurnya sedang berdiri di menara jam, justru seolah dia adalah Alstrelia yang sedang duduk di balkon sana dan melihat dirinya sendiri yang ada di menara jam kota.


"Siapa kau sebenarnya?" Ucap Alrescha terhadap Alstrelia dengan menggunakan telepatinya.


"Kalau aku bilang aku adalah kembaran adikmu yang berasal dari dimensi lain, apakah kau akan percaya itu?" Jawab Alstrelia, akhirnya dia mengungkapkan sedikit dari dirinya kepada Alrescha.


__________


"Hahh....dua orang yang menarik. Ya kan? Everst?" Gumam Eldania. Sama halnya dengan apa yag sedang Alstrelia lakukan, dia saat ini sedang duduk santai ditemani oleh burung peliharaannya, yaitu Everst.


Layaknya sedang kencan, meja yang ada di depannya sudah ada beberapa makanan. Dan untuk membuat kesan semakin romantis, dia pun menyalakan lilin. Sambil menggoyang-goyang gelas berisi wine berwarna merah itu, Eldania menatap burung di depannya itu dengan tatapan remeh.


"Kau benar-benar menikmati ini ya? Eldania. Apa kau menginginkan istana ini sebagai tempat tinggal kita selanjutnya?" Ucap Everst atas pertanyaan yang dilontarkan oleh perempuan di depannya itu.


"Jangan mengajakku masuk ke dalam suasana rumit. Aku tidak menginginkannya sama sekali, selain hanya menjadi penonton mereka semua dari tempat ini saja." Eldania pun kembali menatap kedepan sambil menyesap wine miliknya. 'Kalian sungguh berusaha keras. Tapi itulah hidup. Jika hanya menginginkan hasilnya saja, maka banyak orang yang akan merasa hidup itu tidak adil. Karena itulah, sampai rakyatnya sendiri dijadikan sebagai pion negera ini untuk melawan makhluk itu semua, ah~malam ini benar-benar jadi menyenangkan, karena aku bisa melihat kemampuan menakjubkan dari perempuan itu.' Matanya pun mencari sosok wanita yang saat ini sedang duduk dengan senyuman kemenangan tersungging di bibirnya. "Menjengkelkan, dia punya wajah dan bibir yang cantik. Siapapun pasti menginginkan tubuh itu," Gerutu Eldania, merasa tersaingi akan kecantikan yang dimiliki oleh Alstrelia.


"Tidak peduli seberapa cantiknya wanita itu, itu hanyalah keberadaan yang hanya akan ada untuk sementara waktu sebelum ditelan usia. Tapi kau berbeda, jadi kenapa harus iri?" Ucap Everst di sela-sela sepotong daging sapi itu terbang dan masuk kedalam mulutnya.

__ADS_1


"..................." Eldania yang menerima ucapan penenang itu dari Everst pun akhirnya dibuat terdiam dan terus memperhatikan Alstrelia dengan tatapan datar. 'Masa depan.'


__ADS_2