
DHUAR…..
DHUAR…..
DHUAR…..
Langit malam kini sudah dihiasi berbagai kembang api berwarna warni. Menampilkan pesona kecantikan yang membuat para mata memandang tidak bisa mengalihkan perhatian mereka pada kembang api tersebut.
“Wah! Indah sekali.”
“Aku baru pertama kali melihat kembang api sebesar itu di langit.”
Entah tua dan muda, orang dewasa maupun anak kecil, semuanya terlihat meneruskan wajah bahagia mereka karena kembang api itu yang menghiasi langit malam.
“Ibu! Apa besok ada kembang api seperti ini lagi?” tanya seorang anak kecil kepada ibunya.
“Besok dan besoknya lagi juga masih ada nak.” Jawab sang ibu kepada malaikat kecilnya itu.
“Kalau gitu, besok kesini lagi ya bu?” anak kecil ini menatap mata ibunya dengan tatapan penuh harap.
“Baiklah sayang, besok kita lihat lagi bersama-sama.” jawab sang ibu lagi sambil mengusap lembut kepala anaknya itu.
Semua kebahagiaan mereka rasakan karena selain suasananya yang menyenangkan, mereka bahagia karena bisa mengajak seseorang yang mereka sayangi untuk melihat kembang api itu bersama-sama.
Tetapi tidak dengan Elbert yang dari tadi memperhatikan Alstrelia yang terus menatap ke depan dengan wajah seriusnya.
‘Dia terlihat tidak begitu tertarik dengan semua yang ada disini.’ Pikir Elbert kepada wanita yang ada di depannya itu.
“Sebenarnya aku malas mengatakannya, tapi kau yang terus memperhatikanku ini, kau sedang bertanya-tanya kenapa aku terlihat biasa saja kan?”
“Terus saja tebak isi pikiranku ini.” kata Elbert karena terus menerus ditanyai dengan tebakan yang terus tepat sasaran.
“Apapun yang ada didunia ini, aku tidak tertarik sama sekali. Itulah kenapa-” Alstrelia berhenti berjalan, yang mana sukses membuat Elbert ikutan menghentikan langkahnya juga dan berbalik berdiri didepan Alstrelia persis, gara-gara Alstrelia yang menggantungkan kalimatnya.
“.......................”
“Aku sama sekali tidak begitu menikmati semua yang ada disini, karena aku sudah melihat yang lebih meriah dari yang ini.” imbuh Alstrelia.
“Lebih meriah, khususnya yang seperti apa?”
“Khususnya? Itu seperti-” Alstrelia menoleh kebelakang. Dia melihat kembang api kembali di sulut. Semua warna-warni dari kembang api yang sudah meledak di langit, langsung terlihat di mata milik Alstrelia.
__ADS_1
DHUAR……
DHUAR……..
________________________________________
DHUAR…..
DHUAR……
Tepat di depan dari sebuah altar, seorang pria berusia awal tiga puluh tahunan itu berjalan ke belakang. Dimana tepat di belakangnya persis, berdirilah seorang gadis muda dengan seragam putih bersih berpadukan dengan jubah yang melekat di bahunya.
Semua lampu sorot tertuju kepada gadis dan pria ini sebagai pusat perhatian dari semua orang yang ada disana.
“Alstrelia Ve Der Vrancisteen.” Panggil pria ini dengan nada tegas penuh wibawa.
“Ya yang mulia.” gadis bernama Alstrelia ini langsung berlutut di hadapan pria itu.
Suara keras yang menggema itu langsung membuat semua orang yang mendengar, memutuskan untuk menutup mulut mereka dan memperhatikan tampilan dari layar besar yang terpampang di segala penjuru semua gedung kota metropolitan.
Bahkan semua kendaraan yang ada lewat saja, memilih untuk berhenti demi melihat apa yang akan terjadi kepada dua orang yang menjadi tokoh utama dari perayaan besar hari ini.
Seorang wanita berseragam militer sudah berdiri di sisi Alvaron dengan kedua tangan sudah membawa kotak kaca yang berisi sebuah mahkota kristal berwarna biru..
Alvaron mengambil mahkotal itu dan meletakkannya di atas kepala Alstrelia.
Setelah itu suara gemuruh dari banyaknya tepuk tangan langsung menggema di seluruh kota.
PROK...PROK…..PROK……
“Kalung ini akan menjadi identitasmu sekarang.” tambahnya.
Alvaron memakaikan kalung dengan bandul kristal berwarna biru di leher Alstrelia. Setelah selesai memakaikan barang kehormatan milik kerajaan kepada Alstrelia, Alstrelia langsung berdiri sambil menatap wajah Alvaron yang tidak lain adalah ayahnya.
“Saya akan menjaga kehormatan ini sampai mati, yang mulia.”
Wajah dingin Alvaron sesaat menghilang dan digantikan senyuman tipis, yang membuat semua orang yang melihat langsung tercengang.
“Yang mulia tersenyum?”
“Apa aku tidak salah lihat, yang mulia raja bisa tersenyum lembut seperti itu?”
__ADS_1
Keterkejutan mereka belum habis ketika perempuan muda yang melihat siaran langsung itu, langsung membuat wajah mereka semua sama-sama tersipu.
“Yang mulia ternyata bisa tersenyum seperti itu.” ucap wanita ini, sambil memperhatikan layar ponselnya.
“Kyaa..! Yang mulia kenapa bisa tersenyum menambah ketampanannya?” Wanita ini pula mulai menggila sendiri saat melihat Alvaron yang mempunyai tampang wajah yang dingin, berhasil meluluhkan hatinya.
“Jika saja yang mulia belum menikah, aku ingin sekali menikahinya.”
“Kau jangan membual teman.” Ucap wanita di sebelahnya dengan senyuman miringnya, memberitahu kenyataan sebenarnya kepada sahabatnya itu. “Perempuan yang terlihat seumuran dengan kita yang ada di depan yang mulia raja saja adalah anaknya. Jika mereka tahu kau bicara seperti itu, yang ada tuan putri Alstrelia akan memenjarakanmu saat ini juga.”
“............!”
“Tapi yang mulia, bukankah baru berumur 30 tahun?”
“Ayolah, memangnya ada apa dengan umur 30 tahun? Kenyataannya tuan putri Alstrelia adalah anaknya sudah bukan rahasia lagi.”
Wanita ini menatap sahabatnya dengan tatapan tidak percaya. “Ha?! Kau serius? Aku pikir perempuan yang ada disana itu hanyalah seorang anggota pasukan militer saja.”
“Kau buta ya?” sindirnya. “Lihat warna mata mereka, jelas sama kan? Warna mata mereka sudah melambangkan keturunan terhormat, kau jangan asal bicara begitu jika tidak tahu asal-usulnya.” Tegur wanita ini kepada temannya yang bodoh itu.
Alstrelia yang melihat senyuman tipis milik ayahnya, sebenarnya ikutan melongo dalam diam. Tapi demi citranya, dia harus mempertahankan ekspresi wajahnya agar tidak jadi buah bibir orang-orang yang sedang melihatnya dari siaran langsung yang disiarkan ke segala media di kota dan dimanapun itu.
“Lindungilah kerajaan ini bersama dengan pasukanmu.” kata Alvaron lagi, sambil mengusap kepala Alstrelia dengan lembut.
“...................” Alstrelia yang tercengang langsung menunduk hormat begitu saja tanpa sepatah kata.
Dalam hati Alvaron, dia sedang menahan tawanya karena melihat wajah bingung Alstrelia untuk pertama kalinya. Tapi kejutan tidak hanya ada disitu saja, karena Alvaron langsung memberikan Alstrelia pelukan hangat.
“Akkhh……”
“Y-yang mulia?! Memeluk nona Alstrelia?!” Keterkejutan dari orang-orang tidak pernah habis dalam waktu dekat ini.
“Kenapa dari pada kenyataan kalau mereka berdua adalah ayah dan anak, aku merasa yang mulia dan nona adalah sepasang kekasih?!” Lagi-lagi sebuah kegilaan dari segala sudut pandang orang-orang semakin memeriahkan acara terbesar sepanjang sejarah dari kerajaan Asgardia.
Semua pesawat tempur dan kapal angkasa, terbang diatas gedung untuk membawa semua orang dari kalangan pasukan militer istirahat dan untuk menghormati selagi menonton acara tersebut.
Setelah acara pemberian kehormatan kepada Alstrelia, Alstrelia diharuskan keliling dengan pesawat yang tidak lain adalah kapal angkasa miliknya, untuk berkeliling kota dan menyambut semua rakyatnya.
Kemeriahan itu juga dibarengi dengan kembang api yang memiliki motif tulisannya sendiri.
Benar-benar sebuah acara terbesar yang diadakan karena kenaikan pangkat dari Alstrelia Ve Der Francisteen yang resmi menjadi seorang putri mahkota dari kerajaan Asgardia.
__ADS_1