Putri Alstrelia

Putri Alstrelia
61 : Alstrelia


__ADS_3

‘Dia terus saja menyentuhnya.’ Arsela sedikit kesal melihat tangan Alrescha tidak henti-hentinya menyentuh pin yang terpasang di kerah bajunya. ‘Tapi, melihat anak itu memakai gaun yang sama denganku, kira-kira apa jadinya jika semua orang melihat gaun yang sama dipakai oleh dua orang perempuan, dengan statusku yang sudah bertunangan dengan Alrescha, dengan dia yang hanya menyandang putri, tapi tidak pernah sekalipun masuk dalam dunia sosial. Pasti dia akan dihujat, walaupun tidak secara terang-terangan, itu akan berefek pada reputasinya semakin buruk.’


“Arsela, apa kau meminta madam Luna untuk membuat gaun yang sama dengan Alstrelia?” Tuding Alrescha akhirnya bertanya kepada Arsela.


“Tidak. Aku bahkan tidak tahu Alstrelia akan membuat gaun seperti itu pada madam Luna. Aku memang menyuruh madam Luna membuatkanku gaun, tapi jelas sangat berbeda. Apa kamu tidak percaya denganku?” Arsela memperlihatkan ekspresi sedih seakan kecewa kepada Alrescha karena sudah menuduhnya.


Awalnya Alrescha menatap wajah Arsela dengan tatapan menyelidik, tapi setelah melihat raut wajah Arsela yang sedemikian sedih karena tiba-tiba dituduh, Alrescha segera memalingkan wajahnya ke arah lain.


Antara masih percaya dan tidak percaya, ia tetap saja masih diselimuti keraguan yang mendalam antara dua wanita ini. 


Jika itu adalah adiknya yang asil, maka Alrescha memilih untuk antara Arsela atau Alstrelia yang harus ganti gaun saat itu juga.


Atau lebih tepatnya untuk saat ini, Alrescha akan memilih Arsela lah yang harus ganti gaun, karena ia tidak mau menyinggung hati adiknya. Tapi melihat sifat adiknya yang asli, Alstrelia lebih memilih mengalah, sudah pasti yang ganti gaun dengan hati lebih sedih adalah Alstrelia sendiri.


Tapi karena Alstrelia yang ini punya sejuta siasat yang tidak mudah ditebak orang lain, bahkan Alrescha sendiri, maka kali ini Alrescha tidak akan membahas soal gaun yang sama itu lebih dalam lagi.


‘Dia masih tidak percaya.’ Arsela hanya dalam diam menatapnya dengan perasaan tidak suka. 


Kereta kuda yang mereka berdua naiki pun terus membawa mereka ke tempat tujuan. Tidak hanya satu kereta kuda, melainkan ada satu lagi yang ada di belakangnya, itu adalah kereta kuda yang dinaiki oleh Elbert dan Alstrelia.


____________________________


Ruang ballroom. 


Dari puluhan menjadi ratusan orang dan seiring waktu berlalu orang-orang terus berdatangan untuk memenuhi aula pesta yang diadakan di dalam istana.


Baik dari kalangan bangsawan tinggi sampai terendah, bangsawan lama maupun keluarga bangsawan baru yang belum lama menaikkan status mereka masuk dalam dunia sosial, semuanya datang memenuhi permintaan dari undangan yang mereka semua terima. 


Karena hari ini adalah hari spesial, maka mereka hadir dengan pakaian dan perhiasan yang serba mewah. 


Acara besar seperti itu juga membawa banyak keuntungan untuk semua butik yang tersebar si segala penjuru Kekaisaran untuk merap keuntungan yang sangat besar, sebab banyak yang menggunakan jasa mereka di saat itu juga.


Tetapi dari pada itu semua, sayangnya dari sekian banyak orang, hanya sedikit orang yang mempunyai sudut pandang berbeda mengenai acara ini. 


Di balik pesta yang ditunjukkan untuk memperingati hari berdirinya Kekasiaran Regalia, sebenarnya itu adalah ajang untuk memamerkan segala hal yang mereka miliki.


Entah itu harta, kecantikan, gosip yang sedang beredar, maupun mencari pendamping.


Semuanya hanyalah dalih untuk semua orang bisa memperbarui gosip serta tren yang ada di Kekaisaran.


“Apa kau tahu putri Als-”


“Shh~” Seseorang langsung menyela ucapannya agar tidak membicarakan satu nama yang sudah menjadi hal tabu. “Jangan membahas masalah itu, bagaimana jika beliau tahu?” kata wanita ini, dia adalah salah satu dari sekian beberapa puluh orang yang menghadiri acara pertunangan Alrescha dan Arsela. 


“Memangnya kenapa? Tidak mungkin dia ada disini kan?” Tanya bali sambil berbisik.


"Tapi anda harus tahu, waktu itu sungguh kacau, beliau bisa mengancam." Bisiknya lagi.


Sampai suara milik seorang laki-laki, menghapus segala kekhawatiran tadi.


“Apa yang sedang kalian bahas sampai berbisik segala?” 


Mereka bertiga langsung terperengah saat mereka tahu siapa pria yang tiba-tiba datang dan masuk kedalam kelompok mereka.


“Tuan Marvin? Saya kira anda sedang berada di luar negeri.”


Pria yang dipanggil Marvin ini hanya mendelik wanita yang tadi bertanya kepadanya sambil menjawab, “Kebetulan urusan pekerjaan sudah selesa tepat waktu, jadi bisa datang ke pesta. Tapi dari pada itu, apa yang kalian bisikkan tadi?”


Ketiga orang wanita itu saling pandang satu sama lain, sampai salah satu diantara mereka memberikan kode kepada Marvin agar sedikit menunduk agar bisa diberikan jawabannya dengan sebuah bisikan pula.


“Ini hanya soal Tuan Putri, adik Tuan Duke Fisher. Beliau itu ad-”


Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, sebuah teriakan langsung mengisi keriuhan di dalam Ballroom itu.


“Tuan Alrescha Vion Beltmore Fisher dan Nona Arsela Lyodra Varesna, memasuki ruangan!”


Setelah penyebutan nama dari tamu undangan, pintu utama dari ruang Ballroom itu akhirnya dibuka oleh kesatria penjaga pintu.

__ADS_1


Semua tamu undangan yang hadir segera mengalihkan perhatian mereka untuk melihat dua tamu paling fenomenal di kekaisaran.


Arescha dan Arsela, mereka berdua berjalan dengan bergandengan tangan.


“Wah lihat, Tuan Duke ternyata lebih tampan dari biasanya.”


"Pakaiannya juga unik tapi bisa serasi seperti itu."


“Nona Arsela, beliau bahkan terlihat lebih cantik, dan lihat saja gaunnya itu, tidak ada yang bisa menyamai gaun cantik itu. Kira-kira dari butik mana ya, Nona Arsela beii?” 


“Tapi dengan gaun seperti itu, kelihatannya Nona tidak memakai itu.” Satu orang lagi mempunyai pertanyaan yang berhasil membuat para wanita lainnya ikutan penasaran.


“Bagaimana jika kita hampiri dia sekarang?” pertanyaan itu langsung disetujui oleh banyak pihak, sehingga kurang dari satu menit, para wanita bangsawan langsung berbodong-bondong menghampiri Arsela. 


“.................” Alrescha yang sudah melihat semua tatapan penuh dengan rasa penasara yang terpancar dari semua wanita bangsawan yang ada, membuat Alrescha melepaskan rangkulan tangan dari Arsela. “Setelah ini kau akan lebih tkenal. Aku tinggal dulu.” 


“................” Arsela hanya memandang kepergian Alrescha yang ingin menghindari sekumpulan wanita bangsawan yang sudah mulai berdatangan. 


Langkah kaki mereka secara cepat berhasil membuat Arsela terkurung di dalam desakan itu.


“Nona Arsela, dari mana anda mendapatkan gaun secantik ini?” Tanya wanita pertama.


“Perhiasan anda pasti pemberian dari Tuan muda kan?”


“Nona, beritahu kami siapa desainer yang membuat gaun anda?”


Satu persatu Arsela dihujani banyak pertanyaan yang membuat Arsela sedikit kewalahan. Tapi itulah aya tarik sebenarnya bisa menjadi bunga sosialita.


Siapa yang terkenal dalam hal kecantikan, kemewahan, apa pun itu apalagi jika sudha berkaitan erat dengan kebanyakan perempuan, maka ia akan menjadi sorotan utama. 


“Akan saya jawab pertanyaan kalian satu-persatu, jadi bisakah kalian berbaris saja, saya merasa sesak.” Pinta Arsela dengan nada lembutnya disertai mimik wajah yang terlihat tersiksa.


Semua orang yang mendengarnya, perlahan mundur dan membuat barisannya sendiri.


“M-maafkan kami nona.”


Melihat wajah bersalah dari mereka yang menyadari kesalahan mereka sendiri, Arsela hanya memberikan mereka senyuman lemah. “Tidak apa, yang penting sekarang saya jadi bisa bernafas lega. Jadi siapakan yang ingin bertanya duluan?” Arsela dengan sengaja menawarkan dirinya untuk dimintai pertanyaan oleh mereka secara satu persatu.


“Saya!”


“Saya dulu!”


“Saya dulu nona, ini sedikit mendesak.”


Banyak yang mengangkat tangannya untuk ditunjuk sebagai penanya pertama dan mendapatkan jawaban lebih dahulu.


Mengetepikan posisi Arsela yang dikerumuni oleh banyak wanita muda, layaknya sorang guru yang sedang mendidik anak muridnya, disuatu tempat di lantai dua terlihat Edward Hastings sedang duduk di pagar pembatas sembari menonton kerumunan orang yang diciptakan oleh tunangannya Alrescha.


‘Dalam hitungan detik, dia langsung menjadi sorotan.’ Pikir Edward melihat Arsela yang sedang melayani banyak penanya. ‘Tapi jika Alrescha dan Arsela ada disini, apakah dia ditinggal lagi?’ Edward lagi-lagi memikirkan Alstrelia yang tidak pernah muncul lagi di depan masyarakat. 


Bagi Edward, Alstrelia adalah orang yang keberadaannya sangat tipis. Bahkan lebih tipis dari kabut yang biasanya muncul di pagi hari. 


“Apa yang sedang kau lamunkan?” Tanya Marvin saat tidak sengaja melihat kenalannya duduk sendirian diatas, padahal semua orang sedang bersenang-senang di bawah dan menikmti gosip baru yang terus berkembang pesat tanpa bisa dihentikan. “Apakah kau menyukai Arsela? Tapi sayangnya dia sudah punya tunangan.” Tatatapn mata Marvin berpindah dari Arsela menuju Alrescha yang berdiri sedikit berjauhan, dengan urusan berbeda tapi juga terlihat sama.


“Aku tidak menyukai wanita.” jawab Edward terdengar sembarangan.


“Bohong, kau pasti hanya punya alasan lain sampai mengatakan itu, kan?” Terka Marvin, masih tidak percaya dengan ucapannya Edward.


“Apa tampangku terlihat seperti sedang berbohong?” Edward memperlihatkan ekspresi datar kepada Marvin.


“Yah~ Walaupun aku tidak begitu peduli kau suka wanita atau tidak, tapi pasti kau sedang menunggu sesuatu,kan?”


Lagi-lagi tebakannya Marvin benar, sampai Edward merasa malas untuk menyangkal lagi.


"Hei, apa kau tidak penasaran seperti apa wajah adiknya Alrescha? Dua bulan lalu aku dengar adiknya ikut pesta, tapi setelah itu tidak ada kabar lagi tentangnya. Waktu itu aku masih diluar negeri, jadi tidak sempat datang."


"Tidak, untuk apa aku penasaran dengan orang yang bahkan tidak punya reputasi apapun." Bohong Edward jika tidak penasaran, tapi ia tidak mau dituding hal yang bukan-bukan lagi oleh Marvin.

__ADS_1


"Kalau Tuan Putri Mahkota?"


"Aku tidak suka orang dengan status setinggi itu." Jawab Edward lagi dengan sedikit ketus.


*


*


*


"............." Di bawah, Alrescha menyempatkan dirinya menjeling kearah Edward yang terlihat sangat santai itu. 'Penyihir seperti dia memang tidak bisa dipercaya.' Pikir Alrescha.


Alrescha sebenarnya sudah mengirim permintaan kepada Edward yang bertanggung jawab sebagai pemimpin menara sihir untuk membantunya menemukan adiknya, tapi sampai seminggu lamanya, Edward terus saja mengatakan usahanya belum membuahkan hasil.


“Apa adik anda kali ini juga tidak datang?” 


Pertanyaan itu berhasil menarik segala pikiran Alrescha saat itu juga. Dia melirik ke arah seorang pria paruh baya.


‘Antonio, dia adalah pemilik tambang batu permata terbesar kedua Kekaisaran Regalia, yang letaknya di pulau Arkelis. Walaupun, hubungan bisnis kami lancar, tapi dia adalah orang yang harus diwaspadai karena dia diam-diam masih menyelundupkan barang di pasar gelap. Aku mengharapkan perempuan itu tidak dekat-dekat dengan orang tua ini.’ Pikir Alrescha. Ia sebenarnya sangat enggan untuk berbaur dengan semua bangsawan yang ada, tapi kehendak selalu berkata lain.


Di saat sendirian, meskipun ia sudah bertunangan, terkadang masih ada perempuan lain yang datang mendekat. Tapi jika ikut berkumpul dengan para bangsawan lain, ia hanya disuguhi banyak jilatan. 


‘Aku muak dengan ini.’ Alrescha sudah tidak tahan dengan posisinya saat ini. ‘Tapi kenapa dia lama sekali?’ Alrescha melirik lagi kedua pintu besar itu. Padahal jelas sekali tadi mereka berempat berangkat bersama, tapi sejak turun dari kereta kuda, Alrescha sama sekali tidak melihat keberadaan dari kereta yang dinaiki oleh Elbert dan Alstrelia.


KLEK.


Suara pintu yang berasal dari lantai dua tiba-tiba terbuka. 


“Yang Mulia Kaisar memasuki ruangan!”


Mendengar teriakan dari seorang pengawal, semua tamu undangan segera menghentikan pembicaraan mereka dan segera berbalik menghadap ke depan, dimana Chavire muncul dengan penuh wibawa. Dia sekarang berdiri di atas balkon dari lantai dua ruang Ballroom.


“Salam hormat kepada matahari kekaisaran Regalia.” Ucap semua orang secara serentak.


Itu adalah panggilan sederhana yang lebih dari cukup untuk menyambut keberadaan dari Chavire.


“................” Chavire terdiam dan memperhatikan semua tamu undangan yang hadir. Yang paling mencolok di mata Chavire sekarang adalah keberadaan dari Arsela, Alrescha, Marvin, Edward, dan tidak terlihat satu orang lagi yang sangat diharapkan untuk datang. “Terima kasih kepada kalian semua, sudah bersedia menghadiri pesta untuk merayakan berdirinya kekaisaran Regalia yang ke 1190. 


Tidak terasa kan, Kekaisaran Regalia yang besar ini sudah memasuki hampir 12 abad? 


Pesta ini akan diselenggarakan selama 7 hari 7 malam, sebagai gantinya para bangsawan yang menikmati kemewahan di dalam istana, amal bantuan kepada seluruh rakyat di kekaisaran juga akan berlangsung selama 7 hari penuh. 


Sebagai kaisar, saya hanya memberikan sedikit keadilan untuk semua orang, benar bukan?” Chavire sedikit tersenyum, seolah sedang menikmati sesuatu yang tak kasat mata.


“Anda memang sungguh bijaksana, keputusan anda mengadakan amal untuk seluruh masyarakat, mereka pasti akan merasakan kebahagiaan karena mereka sama-sama menerima imbas dari perayaan ini.” Ucap Antonio.


Mereka yang mendengar ucapannya, hanya bisa mengangguk dan akhirnya memberikan tepuk tangan meriah.


PROK….PROK….PROK...


‘Mereka semua memang kolot, kenapa malah bertepuk tangan kepadaku?’ Karena Chavire tidak memiliki apapun untuk dibicarakan lagi, ia akhirnya turun dari lantai dua menuju lantai pertama.


Chavire segera menghampiri orang yang paling ia sukai untuk diajak bicara.


“Alrescha, apa kau tidak membiarkan adikmu ikut di malam pertama pesta ini?” Tanya Chavire. “Semua orang yang ada disini pasti penasaran dengan adikmu yang sangat jarang keluar dari mansion.” Imbuhnya lagi.


“Saya su-”


Belum sempat mengatakan apa yang ingin Alrescha katakan kepada Chavire, teriakan dari satu nama itu terpanggil dengan cukup lantang.


“Tuan putri Alstrelia Vion Beltmore Fisher dan Wakil komandan kesatria Fisher, Elbert, Memasuki ruangan!”


Setelah itu, kedua pintu yang awalnya tertutup perlahan dibuka oleh kesatria penjaga.


KLEK.


Suara dari semua orang langsung tertahan di tenggorokan mereka, saat melihat dua orang yang tidak sangat jarang muncul di muka publik, kini berjalan berdampingan layaknya seorang sepasang kekasih.

__ADS_1


__ADS_2