
SYUHTT.....
Kedua puluh pedang itu pun melesat pergi ke tujuannya masing-masing. Sampai tidak perlu waktu yang lama, satu persatu dari pedang tersebut mendarat dan menancap di segala tempat, baik itu di depan perpustakaan kota, di taman, depan restoran, Academy, ditengah pemukiman rakyat biasa, tanah kosong, dan masih banyak lagi.
Kesemua pedang es tersebut menancap ke tanah ataupun jalan berbatu.
Setelah semua pedang itu sudah berada di tempatnya masing-masing, sang pengendali dari kesemua pedang tersebut, yaitu Alrescha, dia segera memutar posisi pedang yang awalnya posisinya kearah atas, sekarang berubah menjadi ke bawah.
Siluet mata berwarna lapislazuli itu pun bercahaya berwarna biru, dan begitulah yang terjadi, Alrescha langsung mengarahkan pedang miliknya ke awah bawah sampai ujung pedang tersebut menghantam lantai batu yang Alrescha pijak.
TAK.
"Membekulah." Bisik Alrescha.
Bagi Alrescha yang saat ini sedang menggunakan kekuatan miliknya sampai kedua matanya bercahaya, dia sekarang sedang melihat seluruh posisi dari semua monster yang muncul di sebagian kota.
Walaupun, Alrescha saat ini tengah berdiri di atas menara jam di pusat kota, sayangnya bagi diri Alrescha, dia bisa melihat semua pergerakan dari para monster yang saat ini sedang merusak, membantai semua orang dengan cara mereka sendiri, yaitu dimakan.
Tetapi semua kekacauan itu sesaat berhenti.
Sebagian kota tiba-tiba saja tertutupi kabur putih yang membawa suhu yang cukup dingin. Itu adalah akibat dari semua pedang di seluruh area kota langsung bereaksi dengan mantera sihir yang baru saja dia katakan.
Dan akibat dari tindakannya itu, semua monster yang tadinya berbondong-bondong untuk mengejar mangsa mereka, sekarang sudah tidak bergerak lagi, alias membeku.
__________
"Apa yang terjadi? Kenapa mereka tiba-tiba saja membeku?" Tanya salah satu kesatria kepada komandannya yang saat ini juga sama-sama sedang menyaksikan fenomena itu.
Fenomena dimana para monster tiba-tiba membeku tepat setelah kabut putih tadi menghilang. Dan yang hanya mendapatkan akibat dari kabut tadi hanyalah untuk para monster, sehingga mereka yang merupakan manusia, tidak memiliki efek yang sama dengan apa yang para monster dapatkan.
"Ini sihir milik Tuan Alrescha. Beliaulah yang membantu kita." Jawab komandan kesatria kekasaran ini kepada anak buahnya itu. Lalu tanpa mengalihkan mandangannya, dia langsung berteriak, "Kalian! Ini adalah kesempatan yang Tuan Alrescha lakukan untuk kita! Lakukan tugas kalian sebagai kesatria! Semuanya berpencar! Apa kalian mengerti?!" Teriak komandan kesatria ini kepada seluruh anak buahnya yang ikut kedalam medan perang.
"Baik!" Semua kesatria menjawab secara bersamaan.
Ketika ada lima monster yang ada di depan mereka sudah berhenti bergerak, mereka langsung berlari dan mengangkat pedang mereka untuk membunuhnya.
DRAP...DRAP...DRAP.....
__ADS_1
"Hyah!" Seru mereka saat pedangnya di ayunkan dengan keras untuk menebas tubuh musuhnya.
CRASH....!
KRAK...!
Dalam seketika mereka dengan mudah mengalahkan monster tersebut.
"Ini sangat mudah." Ujar kesatria ini saat berhasil mengalahkan musuh pilihannya, karena dari ketiga monster tersebut, dia memilih melawan monster yang memiliki bentuk seperti kadal.
"Benar, kalau seperti ini kita bisa mengalahkan mereka semua tanpa perlu mengharapkan bantuan tambahan jumlah." Kesatria ini pun mendukungnya.
Mendengar para anak buahnya merasa dimudahkan karena bantuan yang diberikan oleh Alrescha kepada mereka, komandan kesatria ini segera angkat suara, "Meskipun, kita sedang dimudahkan berkat bantuan dari Tuan Alrescha, kalian harus bergerak cepat. Mau bagaimanapun juga, setiap kekuatan yang dikeluarkan pasti punya batas waktunya. Aku tidak yakin jika Tuan Alrescha memiliki batas waktu untuk mengeluarkan sihir ini, tapi kalian tetap harus waspada."
"Baik, kami mengerti. Kalau begitu kami akan pergi berpencar."
"Ya."
Kedua kesatria tersebut pun segera bergerak cepat meninggalkan pemimpin mereka untuk mencari mangsa baru untuk mereka buat sebagai pelampiasan.
Pelampiasan apa?
CRASH...!
ARGGHH!
CRASHH...!
Dalam kurun waktu kang dari 10 menit itu, mereka yang ikut dalam pertarungan mereka perlahan mendapatkan kemenangan mereka karena kemudahan mereka dalam membunuh musuhnya.
Tapi apa jadinya ketika semua monster yang sudah membeku itu, kini efek sihirnya sudah menghilang?
"Satu lagi." Belari dengan percaya dirinya yang tinggi untuk membunuh satu lagi monster yang ada di depannya itu, tepat di jarak 2 meter, monster yang dia kira masih terpengaruh sihir milik Alrescha pun tiba-tiba menoleh kebelakang dan..
KLANG...
Pedang yang kesatria itu genggam langsung ditepis kasar oleh monster tersebut hingga terlepas dari tangannya, dan disaat yang sama pula tubuhnya langsung kena tangkap.
__ADS_1
"Kena kau!" Ucap Bab* ini dengan senyuman penuh kemenangan sebab berhasil menangkap manusia yang hendak menyerangnya dari belakang.
"...........!" Kesatria ini mencoba meronta agar terlepas dari cengkraman tangan monster tersebut, tapi hasilnya dia tidak bisa lepas. 'Sialan, aku jadi tertangkap. Apa aku akan mati dimakan?' Batin kesatria ini sambil berusaha untuk melepaskan dirinya.
"Melihatmu menggunakan seragam militer, aku yakin kau lebih enak ketimbang rakyat biasa." Ucap monster ini, perlahan tangannya bergerak untuk mendekatkan tubuh kesatria yang sudah berhasil ditangkapnya itu untu dia gunakan sebagai santapan makan malamnya.
Kesatria tersebut memejamkan matanya. Dia sudah menduga pasti akan ada satu waktu manusia akan menghadapi kematian. Dan dia berpikir kalau kematiannya itu bukan karena terbunuh di medan perang, atau sakit, tapi dia akan mati karena dimakan oleh monster?
'Maafkan aku Istriku, aku akan meninggalkanmu lebih dulu.' Batinnya. Dia sudah pasrah akan dimakan oleh monster tersebut, sebab dia adalah kesatria yang tidak memiliki kemampuan sihir seperti kestria regu inti.
Tapi karena mendapatkan apresiasi dari pemimpinnya, yaitu sang komandan, dia pun tidak menyesali atas nasibnya itu.
Kalau dirinya akan dimakan.
"Ahh...." mulai membuka mulutnya.
"................." Pria ini semakin memejamkan matanya atas nasibnya sendiri.
SYUHT...!
Gerakan cepat itu berhasil memuncratkan darah segar dari monster tersebut ke wajah kesatria itu.
"Apakah anda adalah kesatria bodoh yang akan menyerahkan nyawa anda begitu saja tanpa perlawanan?" ucap wanita ini.
Ucapan sekaligus darah yang menyembur kearah kesatria itu berhasil membuat pria itu tersadar sepenuhnya, bahwa dia baru saja diselamatkan oleh seorang wanita yang berhasil menebas leher dari monster itu dalam sekali ayunan.
BRUK.....
Karena kehilangan nyawa, maka tubuh monster itu pun segera ambruk.
Kesatria tersebut melepaskan diri dari cengkraman tangan makhluk yang sudah mati itu lalu segera berdiri untuk membersihkan wajahnya dari darah segar tapi kotor itu.
"Mereka itu masih banyak, jangan membawa beban untuk teman-teman anda Tuan kesatria." Imbuh wanita ini lagi, memberikan peringatan tegas bahwa kematian dari satu orang kesatria akan memberikan dampak ke rekan-rekannya itu.
Secara kesatria ini tidak mampu untuk menyangkalnya.
Setelah wajahnya bersih dari noda darah yang mengotori wajahnya itu, kesatria ini pun akhirnya dapat melihat dengan jelas siapa wanita yang baru saja menolongnya.
__ADS_1
'Siapa dia? Kenapa suaranya cukup familiar?Dari pakaiannya dia terlihat seperti orang biasa, tapi-.' Kesatria ini pun mempunyai rasa penasaran yang cukup tinggi, hingga ketika wanita itu berbalik, kesatria tersebut pun langsung membelalakkan matanya.