
"Akh....." Teriak Arsela.
Ketika Vera tersenyum penuh kemenangan di sela-sela dia sedang menghisap darah Arsela, maka Charles sedang berekspresi sebaliknya.
Dengan tampangnya yang terlihat seperti sedang mengalami penderitaan, Vera merasa malam ini akan menjadi malam kemenangan khusus untuk miliknya sendiri, karena Charles yang ceroboh itu, Charles yang sembarangan ingin mneyerang Vera dari belakang?
Ekspresi Charles saat ini adalah imbas dari perbuatannya, karena hasil serangan yang Charles pakai untuk menyerang Vera, justru jadi bumerang untuk Arsela.
Yah...dengan perasaan senang yang dimiliki Vera saat ini, Arsela yang kebetulan memang sudah ada ditangannya, Vera buat sebagai tameng untuk menghalau serangan dari Charles.
Karena itu, hasil dari perbuatan Charles sesaat tadi membuat Arsela langsung mati.
KLANG.....
Pedang yang Arsela pegang itu langsung terlepas dari genggaman tangannya.
"A-arsela!" Charles langsung bangkit dari tempatnya, setelah beberapa waktu lalu terkena tendangan maut oleh Vera yang kebetulan tengah menguasai tubuh Reva yang merupakan manusia setengah Vampir.
Charles bergegas untuk menghampiri Arsela di tengah-tengah ditengah kemarahannya itu, dia menyerang Vera kembali.
Tapi karena Vera lagi-lagi membuat tubuh Arsela menjadi tamengnya, maka mau tidak mau, Charles pun mengendalikan batu kristal itu untuk mengunnci sepasang kaki Vera agar tidak bergerak lagi dari tempatnya.
KRAAK....
"Slurpp....." Dalam sekali hisapan lagi yang cukup dalam, Vera pun bisa mengenyangkan dahaganya. Dan selepas merasa sudah puas untuk meminum darah yang sudah tidak begitu enak itu, Vera mencabut taringnya dan kembali mencekik leher Arsela. "Tangkap saja kalau bisa," Kata Vera, lalu dengan kekuatan fisiknya yang melampaui seorang perempuan biasa, Vera melemparnya jauh sampai keluar jendela kamar.
Charles yang tercengang dengan perbuatan Vera yang begitu sadis itu, buru-buru berlari untuk meraih tubuh Vera sebelum jatu keluar.
Tapi apa yang terjadi?
"Siapa yang mengizinkanmu pergi dari sini, kakak?" Tanya Vera dengan kedua mata justru berwarna merah menyala. Dengan senyumannya itu, Charles yang hendak menangkap tubuh Arsela pun tidak bisa bergerak sedikitpun.
Padahal ujung jarinya sudah hampir menggapai tangan Arsela, tetapi apa yang tterjadi?
Tubuh Arsela pun keluar dari jendela kamar, dimana kamar yang sedang mereka gunakan berada di lantai empat.
"Kakak harusnya menemaniku saja, bukankah kakak sudah berjanji waktu itu? " Kata Vera lagi.
KRAKK....
__ADS_1
Dalam sekali gerakkan, sepasang kakinya yang awalnya terbungkus oleh batu kristal karena ulah dari Charles, dengan mudah langsung hancur.
Vera berjalan mendekat ke arah dimana Charles kehilangan gerakakkannya sebab Vera memang tidak mengizinkan Charles pergi dari sisinya.
Walaupun dia tahu kalau yang ada di dalam tubuh kakak tirinya sekarang jiwanya berganti dengan orang lain, apa pedulinya itu?
Karena yang dia pedulikan itu adalah tubuh dari kakaknya yang tidak boleh kenapa-kenapa lebih dari sudah menggunakan tubuh itu untuk berhubungan badan, maka dari itu, Vera pun menjerat Charles dalam genggamannya.
"Kakak...bukankah kakak seharusnya tidur denganku malam ini? Karena ini malam dari gerhana bulan, maka kakak harus menemaniku dengan tubuh kakak loh~" Ucap Vera lagi. Sesampainya Vera di belakang Charles persis, Vera langsung memeluknya dari belakang. "Itulah yang kakak janjikan padaku dua bulan yang lalu," Imbuhnya.
'Apa? Menemaninya tidur?' Terpegun Charles dengan janji apa yang sebenarnya sudah di buat oleh Chavire kepada adik tirinya itu? 'Tapi aku benar-benar tidak bisa menggerakkan tubuhku.' Seperti sudah di paku, sekarang tubuhnya memang tidak bisa Charles gerakkan sedikitpun kecuali kelopak matanya. Hanya itu yang bisa Charles lakukan ditengah-tengah Vera saat ini memeluk tubuh Charles dengan tubuhnya yang sebenarnya bagi Charles cukup lumayan.
Tapi mau bagaimanapun itu, Charles tetap memilih Arsela.
Tapi apa yang terjadi pada Arsela saat ini?
'Dia tidak mungkin mati semudah itu,' Batin Charles.
**********
WUSHH......
Kerusakan parah akibat serangan yang dilancarkan oleh Chavire benar-benar berhasil membuat sebagian besar Istana saat ini rusak parah, bahkan serangannya yang tadi itu mencapai dinding pembatas kota yang letaknya lebih dari enam belas kilometer itu.
Dan efek dari serangan tersebut pun mengakibatkan atap dari menara itu roboh dan mengubur kedua Gameo yang tersisa itu, dimana salah satu Gamelo itu adalah lawan utama dari mereka berdua saat ini.
"Harusnya seranganmu itu berhasil membuat dia mati," Kata Alrescha kepada Chavire yang saat ini sedang menggendong tubuh Alstrelia yang sudah memucat.
"................" Tetapi Chavire hanya terdiam sambil menatap wajah Alstrelia yang begitu tenang. Hanya saja keterdiamannya itu menghilang karena dia penasaran dengan perempuan yang sedang dia gendong itu. "Dia bukan adikmu yang asli kan?"
Alrescha menjeling kearah perempuan yang saat ini ada di gendongannya Chavire.
"Dia adikku," Celetuk Alrescha.
"Mana mungkin adikmu ini bisa berubah seratus delapan puluh derajat." Chavire membalas jelingan Alrescha yang dengan jelas sedang berbohong.
Bahkan saat ini tangannya kanannya itu benar-benar merasakan kulit dari kaki Alstrelia yang begitu mulus.
Ahh...tapi dari pada memikirkan hawa naf*u nya yang menginginkan Alstrelia bisa menjadi miliknya, yang harus di pikirkan sekarang adalah bagaimanakah untuk mengurus permasalan terbesarnya?
__ADS_1
Karena saat ini, Alstrelia....
Mati?
Tapi itulah yang dilihat oleh mereka berdua. Alrescha dan Chavire benar-benar melihat Alstrelia di tikam sampai ujung dari pedang yang digunakan untuk menusuk perutnya saja, sampai tembus ke belakang.
"Apakah tidak ada sihir pengulang waktu?"
"Apa maksudmu, sihir itu hanya diperuntukan untuk mengulang waktu saja. Artinya itu hanya bisa di gunakan untuk tubuhnya sebelum tertusuk, tapi tidak dengan jiwanya." jelas Alrescha panjang lebar. "Tapi jika maksudmu kita mengulang waktu sebelum dia di tusuk, maka sama saja cari mati juga. Tenagaku sudah mencapai batasnya, dan kau sendiri? buk-" Ucapannya Alrescha pun langsung menggantung begitu saja setelah sebuah suara tiba-tiba terdengar.
KRATAK.....
Alrescha dan Chavire pun mencari sumber suara itu.
Suara puing bangunan yang mengubur ketiga Gamelo itu, atau lebih tepatnya salah satu musuh terberatnya terkubur itu tiba-tiba saja bergerak.
"Kalian yakin? Tidak ingin membuatku menggantikan posisi perempuan yang sudah mati itu?"
Suara yang sama persis dengan Alstrelia yang sudah terkulai di gendongannya Chavire pun berhasil menyita perhatian mereka berdua lagi untuk bersikap waspada.
Karena...
Tiba-tiba sebuah kilatan biru langsung muncul dari tumpukan puing yang mengubur Gamelo itu hidup-hidup.
Kilatan yang begitu cepat itu berhasil menghancurkan bongkah dari puing atap bangunan itu dalam sekali serang, dan membuat Gamelo, musuh dari dua orang itu karena berhasil membunuh Alstrelia akhirnya muncul lagi dalam keadaan utuh tanpa terluka sedikitpun.
Dan kini, sosoknya itu pun memberikan waktu baru bagi Alrescha dan Chavire untuk kembali membuat mereka bertiga saling bertarung satu sama lain.
"Bagaimana? Daripada merasa kehilangan satu perempuan lemah itu, aku mau menggantikan posisinnya juga. Tawaran yang menarik kan? Karena tidak seperti dia, aku mungkin bisa bersikap untuk lebih baik dari perempuan itu. Atau mungkin jika kalian jatuh cinta padaku nanti, aku bisa juga membagi hatiku untuk kalian berdua." Ucap Gamelo ini dengan terus terang.
"................." Alrescha dan Chavire pun menatap serius ucapan dari Gamelo itu.
Mencintai?
Dan di cintai?
Merasa terhina dengan ucapan dari makhluk yang sudah membunuh Alstrelia yang sudah susah payah menjadi pengganti adiknya yang saat ini masih menghilang, Alrescha pun langsunng memberikan serangan pertamannya demi melanjutkan urusannya yang ternyata hanya tertunda karena Gamelo ini suka mempermainkan waktu.
"Yang benar saja, aku mana mungkin membiarkanmu menjadi penggantinya!" Balas Alsrescha dengan ekspresi lebih menakutkan ketimbang saat dirinya melawan Chavire.
__ADS_1