
Chavire terus memandangi Vera dengan tatapan penuh makna.
Vera pun demikian, yang mana mereka berdua jadi terlihat seperti memiliki niat yang sama untuk melakukan hal yang sama pula.
"Memangnya apa yang harus aku lakukan?" Tanya Chavire kepada Vera yang saat ini tengah memberikannya tatapan yang cukup serius .
Ya...bukan tatapan mata dengan senyuman untuk menggodanya, tapi seperti sebuah tatapan yang menginginkan hal lain kepadanya.
Apa itu?
Vera yang masih berada di atas pangkuannya Chavire kemudian dia menarik tengkuk Chavire agar lebih mendekat kepadanya. Dan disaat itulah Vera mendekatkan wajahnya tepat di samping wajah Chavire sambil membisikkan sesuatu.
Dimana bisikan tersebut sukses membuat Chavire membelalakkan matanya dan langsung menatap tegas wajah Vera yang sudah mengambil sebuah ekespresi penuh dengan kemenangan.
"Kau bil-"
Belum juga bertanya balik untuk mengkonfirmasi kembali apa yang baru saja dia dengan, Chavire dan Vera langsung dikejutkan dengan sebuah gebrakan pintu yang cukup keras.
BRAK!
"Kena kalian!" Suara yang baru saja mengucapkan kalimat itu adalah Alstrelia.
Alstrelia yang sesaat tadi memasang wajah penuh kemenangan dengan senyuman lebar di bibirnya karena berhasil memergoki dua orang yang sedang bermesraan, tiba-tiba langsung sirna ketika dia ternyata melihat Chavire sedang berduaan dengan seorang wanita.
Chavire yang terkejut akan kedatangan Alstrelia ketempatnya, sontak membuat Chavire langsung bangkit dan membuat Vera terjatuh dari pangkuannya.
"Aduh..." Vera yang terjungkal itu langsung memperbaiki posisinya sambil mengusap pantatnya yang sakit.
"Alstre-.. Ini bukan seperti yang kamu pikirkan." Di saat Chavire hendak menjelaskannya.
Ekspresi Alstrelia semakin dingin, membuat Chavire semakin kelabakan saat melihat ekspresi Alstrelia yang terlihat seperti marah.
"Memang benar, bukan ini yang aku pikirkan dan harapkan ketika mencoba menangkap basah kalian." Dengan wajah seperti kecewa, Alstrelia langsung berbalik pergi. 'Ini bukan seperti yang aku harapkan. Padahal aku pikir aku sudah berhasil memergoki wanita itu dengan pria itu.' Pikir Alstrelia.
Dia kecewa karena dia salah kamar. Bukannya menangkap basah Arsela dengan Charles, tapi yang ada justru Chavire dengan Vera.
Untuk saat ini dia belum tahu siapa itu Vera serta pria berambut merah itu, jadi dia hanya bersikap kalau pemandangan tadi hanyalah angin lalu saja.
__ADS_1
Tapi sayangnya jika Alstrelia berpikir demikan, maka tidak dengan Chavire.
Dia buru-buru memakai bajunya lagi. Sebelum pergi, dia pun memberikan perintah pada Vera, yang saat ini tubuhnya dikendalikan oleh sisi lain Vera yaitu Reva. "Kamu, gunakan kekuatan itu untuk membatasi seluruh area Ibu kota."
"Hmm...nanti bayar aku dengan itu." Gerutu Reva.
Tanpa memperdulikan lagi apa yang baru saja dikatakan oleh Reva, Chavire segera pergi menyusul Alstrelia.
"Alstrelia."
"................" Alstrelia hanya menjelingnya sesaat tanpa memberhentikan langkah kakinya untuk pergi ke tempat lain. "Kenapa kau mengikutiku? Jika itu untuk menjelaskan apa yang tadi aku lihat, simpan saja. Aku tidak membutuhkannya juga."
'Apakah dia marah?' Chavire yang sesaat lupa dengan jati dirinya yang sudah berada di dalam tubuh milik orang lain, justru terus mengerjar Alstrelia. "Tunggu, dengarkan aku."
Risyella akhinya menghentikan langkah kakinya dan berbalik lalu bertanya, "Memangnya apa yang membuatku harus mendengarkanmu?"
DEG!
Chavire seketika terperenjat.
'Memangnya kita punya hubungan apa sampai aku harus mendengarkanmu?'
'Sebenarnya dia siapa? Kenapa kondisi seperti ini justru terlihat seperti aku baru saja memergoki kekasihku sedang berselingkuh dan marah kepadanya?' Walaupun tebakannya memang benar, tapi Alstrelia tidak mau tahu.
Karena tidak kenal, maka dia tidak punya urusan dengannya.
"Memangnya kamu siapa?" Akhirnya Alstrelia bertanya juga.
Sebenarnya dia memang punya rasa penasaran yang cukup besar terhadap pria ini, sebab Alstrelia sadar kalau pria ini sempat menolongnya, meskipun respon yang dirinya berikan kepada Chavire adalah sebuah pertahanan otomatis karena sudah menyentuh tubuhnya.
Tapi dari segi ekspresi wajah yang diperlihatkan Chavire kepadanya, Alstrelia hanya bisa menebak saja, kalau pria ini memang punya hubungan dengan Alstrelia yang itu.
Tapi karena tidak tahu nama dari pria ini, Alstrelia tentu saja harus menanyainya jika pria ini memang ingin dirinya mendengarkan apa yang ingin dia ucapkan kepadanya.
"Apa kamu tahu siapa itu Chavire?" Tanya Chavire balik.
Agar Alstrelia bisa melihat wajah dari pria ini, maka dia benar-benar harus sedikit mendongak keatas.
__ADS_1
"Tahu atau tidak, apa hubungannya?" Alstrelia bertanya seperti itu dengan sengaja. "Lagi pula, apa yang sedang kau lakukan tadi, aku tidak cemburu. Karena kita memang tidak saling mengenal, dan tidak memiliki hubungan apapun, kan?"
"Meskipun kamu mengatakan itu, tapi-" Chavire tiba-tiba saja menggantungkan kalimatnya.
Tiba-tiba dia seperti merasakan Deja Vu yang amat nyata. Itu adalah peristiwa saat dirinya bertemu dengan Alstrelia di dalam mimpinya.
Dan hal yang membuat Chavire tidak bisa mengalihkan pandangannya dari perempuan di depannya itu adalah ketika dia benar-benar melihat penampilan Alstrelia yang sangat bertolak belakang dengan karakter Alstrelia yang selama ini dia kenal.
"Tapi apa?" Tanya Alstrelia, Tetapi ketika matanya tidak sengaja melihat kalung yang dipakai oleh Chavire, kalung yang di isi cincin berwarna emas sebagai bandul, tiba-tiba saja pandangannya langsung gelap.
BRUKK.....
Chavire yang bertindak cepat itu, berhasil menangkap tubuh Alstrelia, sebelum tubuh itu jatuh ke lantai.
"Alstrelia...hei," Chavire menepuk-nepuk wajah cantik itu dengan penuh perasaan, karena dia tidak mau tindakannya itu menyakiti wajahnya. 'Apa yang terjadi? Kenapa dia tiba-tiba pingsan?' Pikir Chavire.
Chavire yang sudah panik itu langsung membopong tubuh Alstrelia untuk yang kedua kalinya dan membawanya pergi ke dalam salah satu kamar kosong yang memang pada dasarnya ada medan sihir lain, sehingga kamar itu mampu menghalau batu kristal yang tumbuh tak terkendali itu.
Setelah sampai di depan kamar yang Chavire tuju, Chavire segera mendorong pintu kamar itu dengan kakinya.
Setelah itu, dia pun meletakkan tubuh Alstrelia dengan cukup hati-hati.
"Kenapa ini? Dia tiba-tiba pingsan. Apakah dia kelelahan? Tapi dari karakteristik tubuh fisiknya, aku rasa bukan karena faktor itu." Gerutu Chavire sambil memperhatikan wajah Alstrelia yang terlihat kalem dari pada tadi. "Tapi kenapa karakternya jadi berubah drastis?" Masih menatap Alstrelia yang terlihat sedang tidur itu.
Karena Chavire memperhatikan wajah Alstrelia cukup lama, semakin lama dia memandang wajah itu, Chavire pun secara naluri jadi ingin melihat wajah itu lebih dekat lagi.
Lagi, dan lagi, sampai Chavire saat ini akhirnya terus membungkuk dan menempatkan wajahnya di depan wajah Alstrelia persis.
'Bibirnya-' Sorotan mata milik Chavire pun berubah dari rasa penasaran jadi semakin tertarik untuk merasakan bibir merah ranum yang cukup alami.
Benar...
Tidak seperti Vera yang dimana wajahnya yang cantik itu tetap saja di lapisi make up serta bibir yang dihiasi oleh lipstik, maka itu tidak terlihat pada diri Alstreli.
Semuanya terlihat sangat alami, sampai Chavire yang sejatinya adalah pria tulen, dia jadi semakin tertarik untuk mencicipi bibir yang terlihat menggoda itu.
'Alstrelia, walaupun karaktermu berubah. Kalau kita memang ditakdirkan bersama, kita pasti akan bertemu lagi dan lagi.' Benak hati Chavire.
__ADS_1
Dan Chavire pun memejamkan matanya, sebagai pria, dia akan mengambil kesempatan di dalam kesempitan.
Itulah bisikan yang ada dalam hati Chavire, agar cepat membuat keputusan, dengan mengambil ciuman pada Alstrelia yang sedang terlelap itu.