
"Leluhur Vera ternyata ada disini."
Gumaman dari komandan sendirinya membuat kesatria ini balik bertanya. "Leluhur Vera? Siapa dia?"
"Dia adalah boneka Regalia yang secara turun temurun akan selalu berinkarnasi dengan mendiami tubuh salah satu tubuh keturunan dari generasi setiap generasi, keluarga Kekaisaran ini. Dan sekarang, dia muncul. Dengan kata lain..." Komandan kesatria ini pun menoleh ke belakang dan menatap semua anak buahnya yang sudah berkumpul. "Dia akan membuat dinding pelindung besar yang akan menyelimuti negeri ini, agar kejahatan yang sudah muncul di Ibu kota tidak menyebar ke tempat lain.
Selama kita belum mengalahkan semua lawan kita sampai bersih, dia akan tetap menutup tempat ini, bahkan sampai kalian mati pun, jika mereka belum kalah, Leluhur Vera akan terus mengaktifkan perannya sebagai leluhur pelindung.
Jadi...aku tidak akan bertanya apapun apakah kalian akan bertarung bersama sampai mati atau tidak, sekalipun kalian menyerah sampai disini, maka sama hasilnya akan sama saja. Tanpa membuat kalian ikut dalam peperangan ini, perlahan kalian akan mati juga disini. Karena itu, mulai sekarang, kalian tentukan nasib kalian sendiri dari hati kalian itu." Ucap komandan kesatria ini dengan panjang lebar.
Dimana segala ucapannya yang mengarah pada masa depan mereka akan di tentukan oleh tangan mereka sendiri.
Mau ikut berperang?
Atau bersembunyi menjadi seorang pengecut?
Selama kejahatan yang baru saja di ciptakan oleh Chavire dan Arsela belum di musnahkan, maka nasib semua orang adalah menyelimuti Kekaisaran Regalia dengan kematian masal.
Semua kesatria di sana, saling melirik dan menatap satu sama lain.
Akhirnya mau memilih apapun yang ingin mereka pilih, hasilnya ternyata akan sama saja.
Dari pada memilih menjadi seorang pengecut yang akan mati dengan sia-sia, mereka semua pun sama-sama setuju.
Setelah saling mengangguk, mereka semua kembali mendongak ke depan. Dimana, celah dimensi yang tiba-tiba terbuka itu, tiba-tiba memunculkan satu persatu sosok seperti manusa berpakaian putih.
Pakaian putih itu memiliki tudung kepala, dimana wajah mereka sama-sama di tutupi oleh kepala tengkorak dari binatang.
Itu bukan sekedar hitungan jari. Karena semakin waktu berlalu, jumlah mereka yang turun semakin banyak, seperti seluruh warga kekaisaran, harus melawan satu persatu dengan mereka.
TAP......
"Jadi ini negeri manusia?" Tanya seorang laki-laki berbaju putih dengan kepala tengkorak itu kepada Elbert yang saat ini berdiri saling memunggungi dan menatap masing-masing satu orang di depan mereka.
__ADS_1
Dari suaranya yang begitu berat juga redah, sudah jelas dibalik itu, dia adalah laki-laki.
"Kelihatannya memang begitu. Karena mereka berdua berhasil membuka portal untuk kita, kita akhirnya bisa keluar dari sana dan bersenang-senang disini." Sahut satu orang lagi, dimana suaranya cukup mirip dengan seorang wanita.
"Jadi percobaan pertama kita adalah membunuh mereka kan? Kita akan mengambil alih tempat ini menjadi kerajaan untuk kita." Ucap pria ini lagi sambil menatap Elbert.
"Kamu benar. Lawan kita ada mereka." Wanita ini pun menatap Lena.
"Sir Elbert, anda urus yang itu, biar saya urus yang ini." Bisik Lena kepada Elbert. Dan jawaban Elbert pun sebuah anggukan setuju.
Satu orang melawan satu musuh dengan perawakan dan suara yang terdengar cukup sama?
Persetan dengan itu semua, karena tujuan mereka pun sama dan itu hanya satu, yaitu mencoba mencari kemenangan!
"Hyahh....!" Lena dan Elbert yang pergi berlari dengan senjata masing-masing, memutuskan untuk pertama kali menyerang mereka berdua.
"................." Dua makluk yang bersal dari dimensi lain itu pun berdia diri. Saat Lena dan Elbert sudah berada di separuh pelarian mereka, salah satu tangan dari wanita dan pria itu pun terangkat ke depan. "Kalian akan mati bersama." Suara itu diucapkan secara bersama oleh mereka berdua.
"Kita akan lihat, siapa yang akan mati lebih dulu!" Kata Lena dengan semangat. Wajahnya yang menyiratkan keseriusannya dalam ucapannya tadi, berakhir dengan senjata dari tombak yang di bawanya itu, dia ayunkan dari arah atasi ke depan.
Lalu sama hal nya dengan Elbert, Elbert pun akan menggunakan serangan penuhnya agar dia bisa memenangkan pertarungannya dalam sekali buat.
Dan takdir mereka berempat pun menjadi salah satu diantara takdir mereka semua.
DHUARRR......
Ledakan itu terjadi tepat di tempat dimana Elbert dan Lena memulai pertarungan mereka dengan makhluk itu.
WUSHH~
Angin malam kembali bertiup.
"Ternyata yang keluar dari hasil pemanggilan itu mereka." Tatap Edward kepada puluhan orang yang terlhat seperti manusia, tapi karena mereka yang muncul dari celah dimensi itu tetaplah berasal dari dimensi lain, maka Edward hanya akan menyebut mereka seperti yang seharusnya. Makhluk hasil pemanggil, yaitu Gamelo.
__ADS_1
Sama seperti artinya, kembar. Maka dengan itu, Edward yang saat ini duduk di atas dinding pembatas dari Ibu kota Kekaisaran Regalia pun, sama-sama dihampiri satu sosok yang akan menjadi lawan bertarungnya.
"Akhirnya aku bisa bertemu denganmu." Kata makhluk tersebut.
Edward pun menoleh ke belakang. Dia akhirnya mendapati rekan untuk saling menentukan nasib, antara siapa yang menang, dan siapa yang akan kalah.
".................." Edward yang hendak berbicara itu, hanya mengatupkan mulutya saja sebelum dia kembali menatap kedepan. Hal yang ingin dikatakannya segera Edward rubah dengan kata lain. "Apa yang akan kalian lakukan jika kalian menang?" Tanya Edward.
"Mengendalikan manusia untuk menjadi budak kami," Jawabnya.
Sepintas Edward termenung. Menatap dingin sebuah Istana yang saat ini sudah rusak parah dengan adanya batu kristal yang ternyata bisa menjadi sebesar itu.
"Setelah itu?" Tanya Edward lagi, kini dia pun bangkit dari tempat dia gunakan untuk duduk, lalu berdiri dan memutar tubuhnya ke belakang, sampai mereka berdua saat ini jadi saling berhadapan.
"Membuat kekuatan baru untuk dunia ini. Sekaligus......mempergunakanmu untuk tujuan itu!" Tepat setelah berkata demikan, makhluk ini pun mengarahkan tangan kanannya ke arah Edward.
Sebagai sesama seorang penyihir?
Edward langsung menghilang dari hadapannya sebelum sihir peledak itu mengenainya.
DHUARR......
"Kamu tidak akan bisa lari, Edward." Ucapnya. Karena memilik kemampuan yang sama untuk berteleportasi, dia pun terus mengikuti kemana Edward pergi dan memberikannya serangan demi seranga.
DHUARR.....
Edward saat ini sudah berada di udara. Dia memandang seluruh tempat dari posisinya itu.
Kekacauan yang lebih buruk terjadi. Bahkan lebih mengenaskan dari serangan yang dilakukan oleh para monster tadi. Sebab musuh mereka saat ini adalah Gamelo.
Ras dari dunia lain. Memiliki ciri fisik layaknya manusia, punya kekuatan yang setara dengan kemampuan dari lawan yang mereka miliki.
Dengan kata lain, mereka adalah kembaran dari diri mereka masing-masing yang datang untuk menggantikan mereka semua dengan keberadaan mereka, yaitu Gamelo.
__ADS_1