Putri Alstrelia

Putri Alstrelia
31 : Alstrelia


__ADS_3

DRAP….DRAP…...DRAP…….


Wanita ini terus berusaha berlari menghindari orang yang sedang mengejarnya.


“Hah! Hah! Hah!” tiap langkah yang diambilnya terus membuat tubuhnya hampir saja terjatuh karena benar-benar tidak memperhatikan jalan dengan begitu jelas. ‘Sialan! Ternyata kepala botak itu adalah seorang kesatria yang sedang menyamar. Aku terlalu ceroboh!’ Perempuan ini mengutuk nasibnya karena pada akhirnya sekarang dia sedang dikejar-kejar oleh seorang kesatria kekaisaran.


Hutan lebat itu tidak membuat adrenalinnya menciut karena gelap. Dia akan terus berlari demi bisa lepas dari kejaran orang-orang yang ada di belakangnya itu.


“Hah! Hah! Hah!” Wanita ini benar-benar sudah dalam kekacauannya sendiri. ‘Aku harus lepas dari kejaran mereka!’ pikir wanita ini.


Dia terus dalam pelariannya dan terus masuk kedalam hutan dan mencari tempat yang aman untuk bersembunyi.


KRAK…!


SRAK…!


Ranting dan dedaunan kering terus terinjak dan pada akhirnya akan meninggalkan jejak. Tapi apa yang mau diperbuat selain berlari terus tanpa kenal lelah.


Sampai dimana wanita tiba-tiba sekilas melihat seekor burung gagak. 


‘Kenapa ada burung gagak? Apa ini pertanda untukku kalau aku akan mati?’ Pikirnya lagi. Dia masih bersikeras dalam keinginannya untuk terus kabur, tetapi di saat itu pula wanita ini mendengar suara sekelebat angin berhembus dari atas kepalanya.


Ketika wanita ini mendongak ke atas, mata wanita ini langsung membulat lebar dan teriakan langsung menggema di dalam hutan itu.


“Arhh…!”


Dari jarak seratus meter, Elbert bersama dengan pria botak itu sama-sama mendengar teriakan yang berasal dari suara milik seorang wanita.


“Teriakan itu dari sana.” Kata Elbert, menunjuk ke arah samping kanannya.


“Ayo.” pria botak ini mengikuti petunjuk dari Elbert.


Mereka berdua kembali berlari, dan terus menghindari cabang pohon yang menghalangi jalan mereka dengan menunduk.


“Arhh…! Sakit!” teriaknya.


Tepat setelah itu, Elbert bersama dengan si pria berkepala botak akhirnya langsung menemukan seorang wanita berambut coklat itu sedang tersiksa akan sesuatu yang mengenai matanya.


“Arrhh…! Aku tidak bisa melihat! Air!” ronta wanita ini dalam penderitaannya.


Secara mereka berdua langsung bingung apa yang harus diperbuat, karena terlihat wanita ini menginginkan air, tapi disekitar mereka tidak ada air.


“Ayo ikut, kau akan mendapatkan air yang kau inginkan akan langsung kau dapatkan.” pria berkepala botak ini tanpa pikir panjang langsung menangkap saja wanita tersebut, sambil mencoba membujuknya.


“Tidak!” Teriak wanita ini tidak mau ikut pergi.


“Matamu akan disembuhkan. Tapi kau harus ikut kami, ayo!” pria berkepala botak ini terus memaksanya.


“Aku tetap tidak mau!” teriaknya lagi.


Karena mendapati wanita ini begitu keras kepala, mau tidak mau pria ini memukul tengkuk dari wanita ini.


BUAK..!


“K-kau!”


“Tunggu!” Elbert yang menyadari sesuatu, langsung berlari menyusul untuk menghampiri wanita yang baru saja dipukul tengkuknya. “Sumpal mulutnya segera!” Teriak Elbert kepada pria botak itu.


“Apa?!” tanyanya dalam kebingungan.


“Terlambat.” Kata wanita ini sambil menahan sakit di tengkuknya, lalu setelah itu wanita ini langsung menggigit sesuatu yang ada di mulutnya.


GRRTT…..


“Ini?!” si kepala botak langsung tercengang, karena melihat wanita yang sudah ditangkap, sekarang sudah tidak sadarkan diri dengan mulut berbusa, yang artinya sudah mati.

__ADS_1


“..................” Elbert hanya merasa sia-sia, karena tidak mendapatkan apapun selain mendapatkan mayat saja. “Dia baru saja makan pil bunuh diri.” ucap Elbert sambil meratapi kematian wanita itu yang begitu menyedihkan karena lebih memilih bunuh diri.


Tetapi keterkejutan mereka tidak hanya sampai disitu saja.


“Katakan, apa yang sebenarnya wanita itu lakukan sampai kalian mengejarnya hingga sejauh ini?” Tanya Elbert.


“Itu-”


DHUARRR……..


“................!” Elbert langsung membelalakkan matanya saat melihat ledakan keras menghasilkan asap mengepul yang langsung naik ke atas langit. Dimana dari tempat Elbert berdiri, dia masih melihat kepulan asap dari hasil ledakan besar tadi. “NONA!” 


Barulah yang dia sadari adalah, Elbert meninggalkan seorang wanita di sana. Elbert langsung berlari meninggalkan mereka berdua begitu saja, karena sekarang yang lebih penting daripada alasan yang Elbert tanyakan kepada orang tadi, adalah keberadaan dari Alstrelia.


'Aku seharusnya tidak meninggalkannya. Harusnya aku membawanya pulang saja, semoga dia tidak apa-apa. Tidak! Aku harap wanita itu tidak kenapa-napa, karena perannya saat ini adalah menggantikan nona Alstrelia yang masih menghilang!' Semua pikiran Elbert benar-benar hanya tertuju pada Alstrelia yang terakhir kali dia ingat, dia meninggalkannya sendirian dengan ekspresi wajah wanita itu yang terlihat datar.


DRAP…...DRAP…….DRAP……..


Elbert yang merupakan wakil komandan dari pasukan utama keluarga bangsawan Duke Fisher itu langsung menggunakan sihir penguat di sepasang kakinya.


Dia langsung mempercepat pergerakannya untuk sampai ke tempat tujuannya yang semula yang ada di depan sana, yaitu tempat terakhir dimana Elbert meninggalkan wanita yang mirip dengan nona Alstrelia mereka di sana.


Tinggal 500 meter lagi, Elbert terus mempertahankan kecepatan berlarinya itu, terus dan terus. Meskipun lelah, tapi apa yang dia prioritaskan adalah bergegas untuk menemui wanita itu, Alstrelia yang bernar-benar mirip dengan nona nya.


Karena setelah ini, jika orang yang sedang dipikirkannya baik-baik saja, maka dia akan lebih memperhatikannya lagi.


Karena dia adalah nona dari adik tuan Alrescha yang sepenuhnya harus dia jaga itu.


Alstrelia.


Warna matanya yang biru bagaikan birunya laut samudra. Jernih, namun juga terlihat dalam, itulah kesan Elbert saat pertama kali melihat tatapan mata yang dingin dari Alstrelia.


“Kyaaa….!”


“Huhuhu…..”


Suara teriakan yang memilukan, tangisan yang menyesakkan dada, memmbuat Elbert langsung mendapati jantungnya semakin berdebar tidak karuan, karena rasa khawatirnya yang dia dapatti ketika pikirannya terselip kalau Alstrelia ikut kenapa-kenapa.


Hingga akhirnya setelah berlari cepat seama kurang dari tiga menit itu, Elbert bisa keluar dari hutan.


WOSHH~


Angin malam yang dingin bercampur dengan angin pnas karena api yang berkobar, membuat Elbert tercekat kaget. 


“.......................!” Elbert tidak bisa berkata-kata ketika melihat api besar sudah menyulut beberapa rumah. 


Mengetepikan pikiran dari rasa terkejutnya karena api yang besar itu, Elbert langsung celingukan dan mencari keberadaan dari wanita yang membuatnya dalam kegelesihan itu.


Alstrelia.


Lagi-lagi wanita yang keberadaannya selalu mengkhawatirkan itu berhasil membuat Elbert panik sendiri. 


“Dimana?” Gumam Elbert, matanya terus mencari-cari sosok dari wanita itu.


Elbert berlari kecil ke depan, dan kembali toleh kanan dan kiri.


‘Dimana?!’ Elbert menoleh ke kanan, ‘Kenapa aku tidak melihathnya?’ kepalanya menoleh ke kiri. Elbert terus memutar tubuhnya dan langsung meritasikan pandangannya terus, kali saja ada di kerumunan.


TAP….TAP……


Elbert yang hendak pergi ke depan lagi, menuju ke sekumpulan orang yang ada didepan sana tiba-tiba langsung menghentikna langkahnya ketika matanya tidak sengaja melihat seseorang yang sedang duduk dibawah pohon dengan tubuh bersandar ke belakang pohon itu sendiri.


Perlahan Elbert berjalan mendekatinya. Saat sudah ada di depannya persis, Elbert langsung mengendurkan wajah tegangnya tadi, karena akhirnya dia berhasil menemukannya.


‘Ternyata dia disini.’ batin Elbert saat megetahui wanita yang sedang dicarinya itu sedang duduk manis di tempatnya. 

__ADS_1


Elbert berlutut dan mencoba melihat wajahnya lebih dekat untuk memastikannya kalau Alstrelia yang ini tidak kenapa-napa.


‘Dia tertidur?’ Elbert terheran sekaligus sedikit takjub ketika melihat Alstrelia yang ini sedang tertidur pulas.


“...............”


Ada terselip sebuah perasaan lain ketika melihat Alstrelia yang ini tertidur, yaitu perasaan dari jati dirinya yang seoang wanita, membuat Elbert berpikir kalau wanita ini tetap cantik sekalipun tidur sembarangan seperti itu.


Elbert langsung memjamkan matanya untuk menata hatinya lagi. ‘Apa yang aku pikirkan tadi?’ detik hati Elbert.


“..................?! Kau sering menatapku.”


“.................!” Suara milik Alstrelia yang tiba-tiba terdengar membuat Elbert langsung membuka matanya lagi.


“Kenapa kau terlihat terkejut seperti itu? Sesuai dengan ucapanku, aku tetap disini menunggumu. Jadi apa yang kau dapat setelah ikut mengejarnya?” tanya Alstrelia pajang lebar.


Elbert yang medengar perkataan dari wanita ini sedikit tidak percaya, kalau wajahnya tidak terlihat ada kepanikan ketika di depan sana baru saja terjadi ledakan besar.


“Wanita itu mati karena memakan pil bunuh diri.” jawab Elbert.


“Begitu ya?” Alstrelia mengalihkan pandangannya tidak peduli dengan hasil jawaban dari Elbert itu, karena yang lebih menarik perhatiannya adalah dimana di depan sana ada kobaran api yang besar sedang melahap rumah-rumah sampai hangus tidak tersisa.


“.......................” Elbert ikut menatap kobaran api yang masih menyala itu.


“Suasananya jadi penuh dengan kesedihan.” ucap Alstrelia. ‘Itu benar-benar seperti kejadian yang menimpaku hingga membuatku pindah dan datang ke dunia ini.’ Pikir Alstrelia.


Alstrelia hanya menatapnya dengan penuh kenangan, dimana insiden yang ada di depan matanya itu benar-benar sama persis dengan apa yang terjadi kepadanya.


Di awal hanya ada keheningan bercampur dengan kedamaian, tapi semua itu langsung berubah menjadi suasana yang mengerikan.


“Akh! Mama! Mama! Mama dimana?!” Teriak seorang bocah, memanggil-manggil ibunya dengan isak tangis yang begitu menyedihkan.


“Kapan penyihirnya datang?! Api ini sudah semakin besar dan merambat ke bangunan sebelahnya!” Teriak serang pria berseragam tentara kepada rekan kerjanya yang sedang kewalahan memberikan pertolongan pada orang-orang yang selamat, tapi dalam kondisi sekarat.


Semua kesibukan ada di depan matanya, tapi Alstrelia?


Dia hanya menatapnya dalam diam. Tidak ada perasaan khusus yang terjadi di dalam hatinya ketika melihat kepanikan yang dialami oleh mereka semua.


Elbert juga tidak bisa membantu apa-apa, karena pekerjaannya saat ini adalah untuk menjaga wanita ini agar tetap aman. 


____________________


“Semuanya jangan panik!” tutur pria berseragam pelayan ini kepada semua tamu yang ada direstoran.


“Ah, bagaimana ini jika ada ledakan lagi?” tutur wanita ini dengan kekhawatirannya.


“Apa yang sebenarnya terjadi? kenapa sampai ada kejadian seperti ini? Apa yang dilkaukan oleh kesatria kekaisaran sih?” protes pria muda ini, ketika dirinya akhirnya melihat sekelompok kesatria berlari buru-buru menuju lokasi.


Di saat kondisi di lantai bawah sedang riuh karena kepanikan sudah muncul di dalam diri mereka, dan buru-buru untuk keluar dari restoran, dua orang yang ada dilantai dua juga sama-sama dalam kepanikan yang sedang mereka tahan bersama.


“Alres, aku takut.” Kata Arsela sambil melihat kondisi di luar sana yang sangat kacau dengan orang-orang berlari kesana kemari mencari tempat yang aman.


Sedangkan Alrescha lagi-lagi masih dalam wajahnya yang tidak tersirat ketakutan. Dia justru menatap orang-orang dibawah sana dengan tatapan datarnya, sebuah wajah tanpa ekspresi.


“Mereka bisa menangani ini. Tidak akan ada yang terjadi disini, jika itu ada aku yang akan melindungimu.” kata Alrescha kepada Arsela.


Arsela langsung memandang wajah dingin milik tunangannya itu. Karena mendengar kata-kata yang terdengar membuatnya aman, Arsela langsung memeluk erat Alrescha.


Alrescha ynag mendapatkan pelukan dari Arsela yang sedang menahan ketakutannya, perlahan dia membalas pelukan itu.


Meskipun tubuhnya sedang bersama dengan Arsela, sayangnya tidak dengan pikirannya yang sedang melayang jauh.


Dia memikirkan seseorang yang selalu membuatnya dalam kekhawatiran, siapa lagi kalau bukan Alstrelia.


‘Apa dia sudah ada dirumah?’ pikir Alsrescha.

__ADS_1


__ADS_2