Putri Alstrelia

Putri Alstrelia
118 : Alstrelia : Tujuan (2)


__ADS_3

Setelah mendapatkan serangan dari titik buta, dan membuat salah satu lengannya mendapatkan luka goresan yang cukup dalam, sekarang tiba-tiba jantungnya terasa sakit.


Wajah Chavire pun mengeluarkan keringat dingin. Meskipun begitu, dia masih bisa tersenyum, tapi itu dia lakukan untuk mencibir dirinya sendiri.


Ketika jantungnya merasa sakit, di saat yang sama dia juga meraskan perasaan nikmat yang tidak tertahankan?


'Sebenarnya apa-apaan dengan situasiku ini?' Tekan Chavire di dalam hatinya. Dia berusaha berdiri dan mencoba menahan rasa sakit di jantungnya.


Dan semua itu membuat Chavire segera pergi dari posisinya berdiri itu.


SYUHT...


Dengan tangan masih meremas dada sebelah kirinya, Chavire dibuat terkejut.


Sama hal nya dengan apa yang terjadi di tempat lain, kini di tempat dimana Chavire berdiri itu, tiba-tiba bongkahan batu kristal yang cukup besar langsung muncul dan memenuhi ruangan itu. Tidak, lebih tepatnya menutup jalan tadi dia masuk.


Di bawah tekanan kedua perasaan itu, dia menatap batu kristal yang mampu memantukan cerminan wajahnya sendiri yang sedang tersiksa itu.


Karena sudah tidak ada waktu lagi berlama-lama disana, dengan gerakan langkah yang dipaksakan, Chavire berjalan pergi dari sana.


'Batu itu, aku pernah melihatnya sekali. Bukannya itu adalah batu yang disimpan di kamar itu?' Dengan tatapan mata yang sendu, Chavire berusaha pergi menuju salah satu ruangan yang dari dulu selalu tersegel itu. 'Aku ingat, bukankah batunya waktu itu hanya sekuran gelas? Kenapa tiba-tiba jadi sebesar itu? Sebenarnya apa yang disembunyikan oleh Ayah kepadaku?'


TAP......TAP.......TAP......


Tak berselang lama, sepasang kaki yang saat ini melangkah dari arah berlawanan, segera menarik perhatian Chavire yang sedang dilanda kesakitan itu.


TAP.


Chavire menghentikan langkah kakinya sendiri ketika dia melihat sepasang kaki itu tertutup oleh sebuah gaun berwarna merah.


Saat Chavire melihat siapa yang ada di depannya itu, barulah dia tahu bahwa pemilik gaun merah yang cukup mewah itu adalah seorang perempuan.


Wajahnya cantik, putih, memiliki bulu mata yang panjang dan lentik, hidung yang mancung dan bibir mungil berhiaskan lipstik berwarna merah juga. Rambut panjang bergelombang berwarna coklat yang sengaja digerai itu pun menambah kesan dari sosok perempuan itu adalah perempuan yang cantik jelita.


"Reva?" Panggil Chavire, pada perempuan yang lebih muda 4 tahun darinya itu, yaitu Reva. Adik tiri Chavire.


"Siapa kau? Kenapa ada di istanaku?" Tanya Reva seraya memberikan tatapan penuh selidik.


"Kalau aku mengatakan, aku adalah Chavire, apakah kau akan percaya?"


Reva kemudian memperhatikan pria tinggi di depannya itu dengan seksama, dan menjawab. "Kau pikir dengan hanya mengatakan itu, aku akan percaya"


"Aku tidak menuntumu untuk percaya. Tapi kenapa kau tidak pergi dari sini?"


"Karena ini rumahku, maka aku harus berada disini, sekalipun aku mati."


Sorotan matanya yang tegas itu pun benar-benar membuktikan kepada Chavire bahwa Reva memang perempuan yang tidak akan kabur dari situasi yang berbahaya ini. Karena merupakan adik tiri Chavire, maka Chavire tahu posisi reva yang tidak ingin kabur sebagai seorang pecundang, mengingat Reva adalah putri pertama dari Kekasiaran Regalia.

__ADS_1


"Kalau mau jadi Putri yang bisa mati dengan cara terhormat di Istananya sendiri, tapi tanpa berbuat apapun, sama artinya dengan pengecut." Tukas Chavire, kembali berjalan melewati Reva.


"Hei..!" Reva yang merasa terabaikan dengan pria asing berambut merah itu, segera berlari meraih ujung baju Cavire untuk mencegat Chavire pergi darinya. "Aku itu tidak seperti kakak tiriku yang sombong itu, aku tidak memiliki kekuatan untuk melawannya."


"............" Chavire melirik kearah Reva yang saat ini sedang diperlihatkan ekspresi penuh harap kepadanya. Membuat Chavire pun angkat bicara lagi, "Ternyata kau masih saja berpikir untuk melawannya sendiri? Apa gunanya status jika tidak memperhatikan sekitarmu untuk memanfaatkan orang lain?"


'Kata-kata ini?' Ujung baju yang sempat Reva cengkram pun dia lepaskan.


Melihat Reva melepaskan cengkraman dari ujung bajunya, Chavire memutar tubuhnya. Sehingga mereka berdua pun saling berhadapan satu sama lain.


Dengan ekspresi ragu, Reva yang awalnya berekspresi tegas, kini jadi mempunyai raut wajah yang cukup sulit di jelaskan karena merasa tidak percaya kalau pria yang ada di depannya itu, adalah Chavire?


"Jadi kau benar-benar Chavire?"


"Kamu memanggilku dengan namaku, berarti kamu sudah percaya kan?"


Meskipun Reva memiliki paras cantik, punya status yang tinggi, karena merupakan anak kedua dari Kaisar sebelumnya, tapi tidak membuat Reva seperti menggilai kekuasaannya.


Yang ada, Reva adalah orang yang justru lebih suka bekerja dibalik layar, dengan artian lain Reva tidak terlalu suka berhadapan dimuka umum, sama seperti Alstrelia.


Karena itulah, banyak orang yang selalu dibuat penaaran akan sosok dari dua orang Putri yang sangat jarang muncul di muka publik.


"Aku hanya menaruh sedikit kepercayaan, tapi bukan berarti aku percaya sepenuhnya dengna ucapanmu. Jadi setidaknya katakan, apa alasanmu datang kemari, padahal tahu sendiri, disini adalah tempat yang berbahaya."


"Kan aku sudah bilang, aku adalah kakak tirimu. Bukannya artinya aku datang kesini untuk merebut apa yang seharusnya aku miliki?"


"Jika kau memang benar-benar kakakku, apakah artinya maksud dari merebut kembali yang memang milikmu itu adalah mengambil kembali tubuh yang sudah ternodai itu?"


Seketika, Chavire menjeling tajam kearah Reva.


"Bukan berarti aku melihatnya langsung olahraga dari mereka berdua, tapi aku hanya mendengar erangan gairah dari mereka berdua diruangan itu." Beritahu Reva secara gamblang kepada Chavire.


Chavire mengerutkan keningnya. Dia tidak bisa mempercayai kalau adik tirinya yang lebih muda empat tahun itu sudah lebih dulu diperdengarkan sesuatu yang harusnya tidak Reva dengar di usianya itu.


Tapi mau bagaimana lagi? Semuanya sudah terjadi, dan Reva sudah mendengar momen dua orang sedang bercinta.


"Apa kamu tahu siapa wanita yang bersamanya?" Tanya Chavire, menuntut Reva untuk menjawabnya.


Reva menutup mulutnya dengan tangan kanannya dan menjawab dengan nada berbisik. "Kamu akan terkejut saat melihatnya sendiri."


Karena berhasil dibuat penasaran, Chavire yang tahu kalau Reva tidak akan mengatakannya secara langsung siapa wanita yang saat ini berhubungan dengan tubuhnya, Chavire segera mengangkat tubuh Reva dan memikulnya di bahu kanannya.


"Turunkan aku." Pinta Reva kepada Chavire sambil memukul-mukul punggung Chavire.


Berbeda dengan tubuh Chavire yang asli, tubuh yang Chavire diami itu justru memiliki penampilan fisik yang besar. Jadi pukulan sepeti itu, hanya terasa seperti cubitan kecil yang tidak berarti apapun.


"Tidak bisa. Walaupun kamu hanyalah adik tiri, kamu tetaplah keluarga kekaisaran yang harus aku jaga." Balas Chavire, berhasil membuat Reva tidak bisa menyangkalnya lagi.

__ADS_1


Sekalipun, Chavire itu memang sombong, tapi tanggung jawab yang diemban Chavire benar-benar dilaksanakan.


Sampai Reva, yang keberadaannya hanyalah seperti parasit saja, karena merupakan anak haram, benar-benar Chavire jaga layaknya seorang kakak kandung Reva.


"Memangnya tidak bisa, gendong aku dengan benar?" Rungut Reva di balik wajahnya yang sudah tersipu malu.


Sebab apa? Karena sekalipun saat ini pria yang sedang menggendong tubuhnya adalah sang kakak, yaitu Chavire, tapi tetap saja tubuh itu adalah tubuh asing yang baru Reva lihat dan Reva temui.


"Jika aku menggendongmu dengan dua tangan, aku akan lebih repot jika tiba-tiba dihadapi musuh."


"Kan tinggal turunkan aku."


"Memangnya kamu pandai bela diri?" Timpal Chavire, berhasil membungkam mulut Reva yang terus ngoceh itu.


"Walaupun kau tidak memiliki kekuatan tempur sepertiku, setidaknya apa yang kau miliki, bisa kau gunakan untuk melindungi kita semua." Kata Chavire, memberikan harapan pada Reva bahwa apa yang bisa Reva lakukan, justru memiliki efek yang jauh lebih besar dari pada masuk dalam pertarungan.


"Tapi-"


"Tapi apa?" Tanya Chavire penasaran dengan kalimat ragu yang ingin Reva lontarkan kepadanya.


"Bicara itu memang mudah. Aku belum pernah memberitahumu ya? Kalau untuk mengaktifkan kemampuanku yang satu itu, aku harus menerima..." Reva semakin terjerat dengan kalimat yang ingin dia ucapkan kepada Chavire.


"Katakan saja." Sela Chavire, masih bersedia menunggu jawaban Vera yang menggantung itu.


**********


PHIUU....


Dua sinar lurus berwarna merah langsung menembus dan memotong batu kristal yang menghaangi jalan mereka berdua.


BRAKK.....


Antara meleleh dan hancur, semua itu menjadi pembuka jalan terbaik untuk Alsrescha dan Alstrelia.


NGUUNGG...


"Sudah." Ucap Alstrelia.


"Apa itu?"


"Sinar laser. Cara kerjanya hampir seperti pedang." jawab Alstrelia, tanpa menatap lawan bicaraya itu. "Ok, karena jalannya sudah terbuka, apakah kau yakin untuk menemui mereka berdua?"


"Lagi pula sudah seperti ini. Untuk apa aku mundur hanya karena mereka berdua?"


'Jadi dia benar-benar sudah tahu dan melilhat apa yang dilakukan oleh tunangannya itu?' Pikir Alstrelia.


'Jaga diri kalian.'

__ADS_1


DEG!


Alrescha dan Alstrelia sama-sama memperlihatkan reaksi wajah terkejut mereka ketika suara itu tiba-tiba terengar di dalam kepalanya.


__ADS_2