Putri Alstrelia

Putri Alstrelia
182 : Alstrelia : Dibalik itu semua


__ADS_3

"Hyahh..." Alstrelia semakin menyentakkan tali kuda itu agar kuda yang sedang di naikinya bisa berlari lebih cepat.


Sama hal nya dengan Alstrelia yang hanya mencoba naik kuda dalam beberapa kali percobaan saja, Elda pun punya kemampuan yang sama hebatnya, karena dia saat ini sudah berhasil mengendarai kuda dan terlihat cukup profesional.


DRAP...DRAP....DRAP.....


Suara dari derap langkah kaki kuda itu kian semakin cepat, menerjang angin yang perlahan sudah mulai mereka rasakan, sebab akhirnya dalam kurun waktu kurang dari delapan menit itu, mereka semua berhasil di bawa ke padang savana.


WUSSHH...


Angin yang masih sejuk itu berhasil menciptakan nuansa sejuk untuk Elda hirup, sebab selama dirinya berpindah ke dunia yang berbeda dengan tempat tinggal sebelumnya, kali ini dia meraskan perbedaan udara yang cukup signifikan.


Sampai aroma air dari embun yang menempel di permukaan dedaunan yang ada di sekitarnya, serta aroma tanah yang cukup familiar itu sungguh bisa Elda rasakan dengan jelas.


"Koman, disini sangat sejuk. Apakah di tempat kita bisa mendapatkan udara sesejuk ini?" Tanya Elda kepada Alstrelia yang kebetulan perempuan ini berhasil menyamakan kecepatan lari kuda yang dibawanya itu.


"Bisa, aku sudah tahu solusinya." Jawabnya.


"Bagaimana itu?" Tanyanya lagi.


"Kau akan tahu sendiri jika kita berdua sudah pulang. Walaupun saat ini aku ada rasa sedikit kesal, karena ternyata aku masuk ke dalam novel yang Yang mulia Raja buat, tapi di sisi lain aku bersyukur juga, aku bisa menikmati alam seperti ini." Jelasnya.


Demi menjaga rahasia milik mereka berdua, Alstrelia pun menyempatkan dirinya untuk menjawab dengan menggunakan telepatinya.


"Koman benar, aku juga merasa senang, bisa menikmati udara disini. Jarang-jarang kita bisa pergi ke tempat dengan udara sesegar ini." Elda pun mendukung apa yang di katakan oleh Alstrelia.


NGIK...BRR...!


Kuda yang mereka bawa terus berlari menerjang angin yang membawa berbagai oroma secara bersamaan untuk mereka berdua nikmati.


Di saat mereka berdua mencuri semua kuda yang ada untuk mereka bawa ke padang savana, maka para kesatria..


"Hah...hah....hah...." deru nafas milik mereka semua sudah membuktikan betapa lelahnya mereka berlari untuk mengejar para kuda yang saat ini sudah pergi jauh.


"Mereka sudah semakin jauh!"


"Iya. Mereka sudah semakin jauh, bagaimana ini? Jika kita tidak bisa mendapatkan kudanya?"


Beberapa orang kesatria sudah mulai mengeluhkan segerombol kuda yang sudah semakin jauh dari jangkauan mereka semua.


Namun di antara mereka semua, ada yang tiba-tiba berkata : "Ngomong-ngomong ini bukannya jalan menuju padang savana?" Salah satu kesatria merasakan adanya dugaan itu, dan membuat mereka semua jadi berpikiran yang sama.


"Iya sih, tapi memangnya mereka akan pergi ke sana?" Tanya rekan dari kesatria tadi.


"Coba saja dulu, kali saja kita bisa menemukan mereka disana." imbuhnya.


"Jika menurutmu seperti itu, bagaimana jika kita bagi dua tim. Yang separuh tetap lewat jalan ini, dan yang separuhnya lagi lewat jalan pintas dengan masuk ke hutan." Ujar satu kesatria lainnya, memberikan pendapat khusus yang cukup lumayan untuk di jadikan solusi, mempercepat mereka untuk menemukan kuda mereka.


"Benar juga, aku setuju."


"Aku juga setuju."


"Kalau begitu, kita berpisah disini. Aku akan pergi lewat hutan." Ucapnya lagi, memimpin satu kelompok baru untuk memimpin penyisiran mencari kuda lewat jalan pintas hutan.

__ADS_1


Dan setelah mereka semua mengangguk setuju, mereka semua pun langsung berpisah di tempat itu.


______________


Di samping itu, di sebuah kastil.


"Ehmh..." Mata itu perlahan terbuka. Dia pengerjapkan matanya, berusaha untuk menyesuaikan kondisi cahaya yang masuk ke dalam matanya. 'Dimana aku?' Pikir wanita ini, yaitu Arsela.


Setelah sadar dari pingsannya, sebab kehilangan banyak darah, Arsela mencoba memperhatikan lingkungan ke sekitar, yaitu ke kiri dan ke kanan.


Akan tetapi, dari pada itu, Arsela sebenarnya menyadari satu hal yang terasa aneh, yaitu saat ini tubuhnya terasa dingin.


"Oh, rupanya kau sudah bangun?" Sampai suara milik seseorang itu sukses menarik perhatian Arsela yang sedang di landa kebingungan.


Arsela pun melirik ke bawah, dan melihat ada seorang naak kecil sudha duduk di atasnya. Akan tetapi yang lebih parah dari itu adalah, "Apa yang sedang anak kecil sepertimu lakukan di atas tubuhku? Dan kenapa juga aku tidak pakai baju?"


Baru juga bangun, tapi Arsela harus dihadapi oleh orang lain dengan posisi aneh, apalagi dirinya saat ini sedang tidak pakai baju.


"Diam." Ketusnya. "Aku ini sedang mengukur tubuhmu, mengerti?" Anak perempuan ini, yaitu Alvei, dia saat ini sedang menarik pita ukurnya untuk mengukur segala sisi dari tubuh yang sedang Alvei duduki itu.


"Mengukur untuk apa?" Tanya Arsela. "Jika hanya mengukur tubuhku, tidak mungkin harus sampai telanjang seperti ini." Imbuhnya.


"Karena pakaian lamamu sudah tidak bisa digunakan, makannya aku sedang mengukur tubuhmu untuk membuatkanmu baju baru." Jawab Alvei, seraya menarik pita ukur yang saat ini sudah ada di bawah punggung Arsela, lalu menariknya sampai tepat di depan dada nya Arsela.


"Kau, bisa buat baju?" Arsela kurang percaya dengan kemampuan dari anak kecil yang ada di atasnya itu.


"Jangan meremehkanku. Dan ngomong-ngomong aku benci untuk menanyakan ini, tapi katakan kepadaku, bagaimana caramu bisa punya dada sebesar ini?" Tanya Alvei, iri dengan Arslea yang mempunyai segala sisi tubuh yang sempurna, sedangkan Alvei sendiri tidak sama sekali.


Arsela melirik ke arah dari Alvei punya, lalu menjawab : "Aku tidak punya cara apapun, punyaku memang bisa punya ukuran seperti ini itu karena gen dari ibuku. Jika kau iri, kenapa tidak menyuruh penyihir saja? Lagi pula tubuhmu masih dalam masa pertumbuhan, jadi tunggu saja." Jelas Arsela panjang lebar.


Dan karena Alvei tidak punya sisi malu untuk menanyakan rasa penasarannya langsung, membuat dia tidak sungkan juga untuk menyentuh hal besar dari dua gunung itu.


PAK.


".........!" Arsela langsung mengernyitkan matanya. Gara-gara dadanya benar-benar di sentuh sembarangan, karena itulah, sekalupun Arsela masih berada di tempat tidurnya, tangan kanan Arsela terangkat ke depan dengan posisi siku masih menempel di atas permukaan tempat tidur, namun satu hal mengancam itu segera daang ke leher Alvei dan Arsela.


Arsela mengarahkan pedang miliknya ke leher Alvei, karena dia sedang membuat ancaman kepada Alvei yang berani menyentuh dadanya dengan tangannya itu, maka leher Arslea pun juga sedang di todong oleh ujung tombak berwarna hitam pekat milik dari seseorang yang ternyata saat ini sudah berdiri di samping kanannya persis.


"Mau memenggal leher Alvei? Maka lehermu akan aku gunakan sebagai ganti lehernya Alvei." Kata pria ini, yaitu Agres, mengancam Arsela yang berani menodongkan pedangnya ke arah anak buahnya itu.


"Tuan, lihat manusia yang anda bawa ini, bukannya berterima kasih kepada saya karena saya sudah mau membersihkan tubuhnya, tapi dia justru mengancam dengan pedangnya. Bukannya ini sungguh keterlaluan?" Beritahu Alvei kepada Tuan majikannya itu.


Agres langsung melirik ke arah Alvei dan berkata, "Ya, apa yang kau katakan memang ada benarnya, padahal sudah diselamatkan, tapi sayangnya usahamu malah hampir membuat kepalamu di penggal."


CESS....


'Diselamatkan? Aku? Oleh dia?' Pikirya, sampai Arsela mulai merasakan sesuatu yang cukup menyengat dan menyakitkan tepat di lehernya, karena ujung dari tombak itu betulan perlahan menekan kulit tipisnya, sampai darah dari lehernya, berhasil keluar juga.


Setelah itu Agres menurunkan arah pandangannya sampai ke bawah dan bertanya. "Tapi Alvei, dengan tanganmu yang ada di sana itu, apakah kamu sedang menginginkan itu?" Tanya Agres, seolah sedang menawarkna hal hebat yang dimiliki oleh manusia dari wanita yang Agres bawa itu.


Dan tatapan mata Alvei pun terus tertuju pada dua gunung kembar yang dimiliki oleh Arsela itu, lalu menjawab. "Jika memang bisa, aku memang menginginkannya."


"Tapi apakah kau sudah tahu, hal seperti itu akan jauh lebih merepotkanmu dalam melakukan banyak hal." Terang Agres seakan Agres lebih mengerti ketimbang Alvei yang merupakan seorang perempuan.

__ADS_1


Arsela sebenarnya langsung tersinggung dengan ucapan yang keluar dari mulut Agres itu.


Sedangkan mata Alvei langsung mengernyit dan tangannya yang masih menempel pada permukaan kulit dari buah kenyal itu tiba-tiba segera Alvei remas dengan kuat, sampai akhirnya..


"Argghh...!" Pekik Arsela. 'K-kenapa tubuhku tidak bisa aku gerakkan?' Pikir Arsela, semakin di buat panik dengan tubuhnya yang benar-benar tidak mampu Arsela gerakkan untuk menyingkirkan tangan Alvei yang mengusik asetnya itu.


Sampai teriakan itu akhrinya disusul dengan suara nyaring dari pedang Arsela yang terjatuh ke lantai.


KLANG....


"B-berhenti!" Pinta Arsela terhadap Alvei yang benar-benar tidak punya perasaan, karena berani meremasnya seolah kalau itu bukanlah sesuatu yang hidup.


Agres yang melihat teriakan dari rasa siksa milik Arsela pun membuatnya jadi tersenyum, sebab bisa melihat pemandangan paling menyenangkan yang pernah ada.


Tentu saja karena setelah terbiasa melihat ekspresi manusia mendalami rasa nikmat dari segala sentuhan yang sangat menggoda, maka apa jadinya jika sesuatu yang bisa di belai itu diperlakukan dengan kasar?


"Tidak akan, karena benda ini benar-benar membuatu sebal. Kalian para wanita, menjunjung tinggi benda seperti ini, seolah memang sangat berharga ya? Aku benci ini." Jelas Alvei sambil memperlakukan kasar milik Arsela itu.


"Argghh!"


Arsela terus berteriak keras, kedua kakinya yang ternyata bisa di gerakkan itu, terus menendang-nandang selimut, dia terus berusaha agar tubuhnya bisa bergerak, namun ternyata usahanya sungguh sia-sia.


'Apa-apaan ini? Sebenarnya siapa mereka berdua? Kenapa aku bisa ada disini? Padahal aku pikir aku mati, karena darahku di hisap banyak oleh Vampir sialan itu. Dan sekarang? Dia iri denganku, aku jyga yang kena imbasnya.' Pikirannya terus meracu, dan mulutnya terus berteriak dengan rasa sakit yang dia dapatkan itu.


"Kau juga, pasti di dalam lingkunganmu, kau selalu berpikir kau adalah yang tercantik diantara wanita yang lainnya kan? Bagaimana jika aku lukai wajah ini? Wajah yang selalu kau pamerkan pada teman-teman palsumu itu.?!" Alvei yang sudah mulai hilang kendali atas emosi yang dia miliki itu, tiba-tiba saja melepas jepit rambutnya, dimana bagian ujung dari jepit rambut itu, Alvei arahkan ke bawah untuk dia gunakan sebagai alat untuk melukai wajah Arsela.


"Tidak..! Jangan! Jangan lakukan itu!" Teriak Arsela, dia saat ini benar-benar tidak bisa menggunakan kekuatannya dengan benar, karena untuk mempertahankan pedang Curtana itu, dia terpaksa mengeluarkan mana tersisanya, dan karena saat ini mana sihirnya sudah habis, maka dia hanya bisa berteriak untuk memohon. "Berhenti1 Jangan lukai wajahku!"


"Kan, wajahmu juga termasuk aset untuk menjadi manusia bermuka dua." Sela Alvei, atas permintaan Arsela, yang tentu saja akan Alvei tolak, karena dia sudah sangat ingin memberikan tanda kepemilikannya bahwa wanita di bawahnya itu harus dia jadikan pembantu saja. "Sini, biar wajahmu tambah cantik di mata orang lain," Kata terakhir Alvei, sebelum tangan kanannya dia ayunkan ke depan wajah Arsela dan ..


GREP...


"Tuan?!" Alvei terkejut, saat mendapati tangan yang hendak Alvei gunakan untuk meakukan sesuatu terhadap wajah Arsela yang cantik dan membuat Alvei sendiri iri, justru di cegat oleh Tuan majikannya.


"Berhenti."


"Tapi kenapa?! Tadi saja Tuan terlihat senang melihat wanita ini tersiksa kan?!"


"Aku memang senang, karena dia bisa memperlihatkan wajah kesakitan seperti itu. Tapi waktu untuk menonton pertunjukan penyiksaan untuknya itu sudah selesai, Alvei.


Sekarang kau lakukan tugasmu lagi, jangan biarkan rasa irimu karena dia punya tubuh molek seperti itu, justru membuat tanganmu ternodai. Aku tidak ingin tangan emasmu ini dinodai dengan hal yang tidak berguna." Jelas Agres, membujuk Alvei agar tidak bertindak lebih jauh lagi dengan kata-kata manis.


"...........!" Alvei berpikir sejenak, tetapi akhirnya terbujuk juga oleh ucapan dari majikannya itu. "Baiklah, aku juga tidak ingin membuang waktuku untuk manusia ini lagi."


"Kalau begitu, karena aku belum mandi, bagaimana jika kau bantu gosokkan punggungku?" Tawar Agres kepada gadis kecil itu.


"Hm. Aku akan siapkan air mandi untuk Tuan dulu." Dan setelah terbujuk, ALvei pun pergi keluar lebih dulu, untuk menyiapkan air mandi untuk Agres, selaku majikannya.


KLEK..


Seperginya Alvei dari kamar, Agres kembali menoleh ke arah Arsela yang sudah terbaring lemas dengan buah dada yang sudah memerah akibat perbuatan Alvei tadi, bahkan ada beberapa lecet, akibat terkena kuku panjang Alvei.


"S-siapa sebenarnya kalian?" Di bawah tekanan rasa sakit yang masih mendera di tubuh bagian depan, Arsela pun masih punya keberanian untuk berbicara dalam bentuk pertanyaan.

__ADS_1


Agres yang awalnya hanya menutup mulutnya untuk Arsela, akhirnya berkata. "Jadi kau belum tahu siapa yang ada dibalik semua rencana kalian yang sudah gagal untuk menghancurkan Kekaisaran Regalia, termasuk Putri Alstrelia itu?"


'Kalian? Apakah maksudnya itu adalah aku dan Charles? Dari mana dia tahu? Lalu Alstrelia? Ah! Jangan-jangan dia punya hubungan dengan Charles? Charles kan tidak pernah memberitahuku siapa yang ada di balik rencana itu, berarti apakah dia? Diakan orang yang punya rencana konyol, sampai aku berhubungan badan dengan Charles?' Arsela pun di buat untuk berpikir keras.


__ADS_2