
Alstrelia menggeleng gelengkan kepalanya, dia tidak mau berpisah lama-lama dengan kakaknya, sebab belum setengah bulan saja rasanya seperti sudah berbulan-bulan.
"Makannya lebih baik agar dia keluar dari tempatnya, dan melawan langsung." Ujar Eldania.
"Kau sungguh sangat percaya diri sekali wanita. Biasanya orang sepertimu itu bisa masuk ke jurang." Kata Agres.
Eldania memejamkan matanya, dan menjawab. "Aku sudah sering masuk ke jurang, jika yang kau maksud jurang kematian, aku juga sudah pernah. Jadi aku sudah tidak ada lagi yang aku takutkan lagi."
"Baiklah, jika itu memang sudah jadi tekadmu. Tapi ngomong-ngomong Alstrelia, apakah kau sama sekali tidak ingin bicara denganku dengan mulut manismu itu?" Goda Agres.
Alstrelia yang takut itu, segera bersembunyi di balik punggung Eldania, dan hanya menjawab : "Tidak."
"Begitu ya, sayang sekali, aku ingin sekali mendengar suaramu yang sama cantiknya dengan wajahmu dan tubuhmu itu lebih lama lagi. Tapi karena kau sudah menolaknya, kita berpisah dulu. Sampai bertemu di pertemuan berikutnya. Siap-siap untuk semuanya ya, Alstrelia. Aku pasti akan mendapatkanmu." Begitulah, setelah mengatakan itu kepada mereka semua, burung hantu itu langsung hancur dengan kembali menjadi darah, dan segera menguap.
'Bagaimana ini? Memangnya aku mampu menghadapi dia?' Alstrelia pun mengalami kecemasan berlebih, sampai tubuhnya gemetar. Dia benar-benar sangat takut dengan musuhnya sendiri yang ternyata benar-benar menginginkannya.
Apalagi ada kemungkinan besar kalau musuhnya itu bukan sekedar hanya menginginkan kekuatannya saja, tapi juga tubuhnya?
"Tidak, aku tidak mau berhadapan dengannya. Aku takut, aku takut!" Alstrelia pun berlari pergi dari sana.
BRAK...
Pintu itu tertutup dengan cukup kasar, meninggalkan Eldania bersama dengan satu ekor burung Elang.
Di dalam koridor, Alstrelia berlari dengan air mata sudah membasahi pipinya, dia sama sekali tidak ingin terlibat dengan banyak orang seperti ini, rasa takut, cemas, rindu, sedih, semua itu bersatu untuk menekan semua pikiran Alstrelia dalam satu kali hantaman.
'Kakak, aku benar-benar takut. Aku rindu kakak, dan aku takut pada orang jahat, yang hanya di inginkan semua orang hanya aku dan status yang aku miliki. Aku benci ini, aku benci! Aku sama sekali tidak bisa bebas, dari musuh dan kekuatanku! Aku benar-benar tidak suka!' Racau Alstrelia.
______________
WUSHH.....
Sepintas ada angin yang menyapu kepalanya Alrescha.
'Alstrelia?' Panggil Alrescha sambil menoleh ke belakang. 'Aku seperti baru saja mendengar sesuatu. Dan perasaan ini-' Alrescha memegang dadanya sendiri. Rasa sakit dari hatinya itu membuat Alrescha tiba-tiba jadi memiliki semua segala rasa dalam waktu singkat.
Ada rasa sedih, cemas, takut, dan rindu, semuanya bersatu dalam benak hati Alrescha.
'Kenapa aku jadi merasa takut seperti ini? Sedih, juga cemas. Apa-apaan denganku ini?' Dan perasaan itu tentu saja membuat hatinya jadi merasa gelisah juga, dan sudah pasti ada hubungannya dengan adiknya, "Alstrelia."
__ADS_1
"Apa?" Tapi yang tiba-tiba menyahut nama panggilan itu adalah Alstrelia yang ini. "Kau suka sekai memanggil namaku, suka ya?"
Sudut mataya berkerut, dan menjawab, "Percaya dirimu tinggi sekali. Aku hanya memanggil nama untuk adikku, bukan dirimu."
"Tapi nama kita berdua sama tuh. Berarti secara tidak langsung sedang memanggil namaku."
Alrescha menghela nafas panjang lalu berkata : "Meskipun begitu, yang aku panggil tetap adalah adikku, bukan kau."
Elda yang malas mendengar perdebatan itu, langsung menengahi mereka berdua. "Bagaimana jika kita makan dulu?"
"Otakmu hanya ada makanan ya? Padahal belum lama ini kau juga makan kan? Seperti macaron?" Tanya Alstrelia dengan tatapan menyelidik.
Dan tentu saja tebakannya terlampau benar.
"Bagaimana koman bisa tahu?" Elda jadi menutup mulutnya.
"Karena ada sisa yang tertinggal di gigimu." Alstrelia memberitahu dengan memperlihatkan letak giginya.
Elda buru-buru berbalik dan membersihkan giginya.
Selagi itu Elda melakukan hal memalukan dirinya sendiri di depan kedua pria ini, Alstrelia menatap bola Savar yang sudah di bungkus dengan jubah dari seragam milik Elbert.
Alrescha justru lebih memeluk lagi batu Savar itu, seakan tidak boleh ada satu orang yang merebutnya.
“Hanya kesalahan teknis saja. Jadi aku akan tetap menghadiahkan batu ini untuknya.” Papar Alrescha.
Dia tetap bersikukuh untuk membuat barang dari batu itu, karena satu-satunya hal yang bisa melindungi adiknya dari bahaya adalah dengan batu itu.
‘Karena sudah pasti dengan kekuatannya, sampai aku bisa terpengaruh seperti tadi, maka aku akan membuat beberapa perhiasan untuknya.’ Batin Alrescha.
Sebab batu Savar yang sudah di tempa, akan membuat batu tersebut mudah di kendalikan, dan salah satu kekuatan yang bisa dilakuan oleh batu Savar adalah untuk mempengaruhi pikiran orang lain yang melihatnya.
Itulah alasan kenapa Alstrelia dan Alrescha beberapa waktu lalu bisa bicara baik-baik seperti dua orang polos yang mengejar kejujuran. Saling berbicara jujur layaknya sedang bicara antara hati ke hati, tanpa ada pemaksaan apapun.
“Baiklah, itu terserahmu. Tapi nanti buatkan untukku juga, sebagai bayaran aku sudah membantumu mengalahkan Tregon tadi.”
“Tregon? Makhluk macam apa lagi yang koman kalahkan?”
“Sebenarnya dia itu T-Rex, tapi karena dia menyebutnya Naga, maka aku menamai monster itu dengan nama Tregon.”
__ADS_1
“Wah! Seperti yang aku harapkan dari koman! Pasti setiap hal yang Koman temui akan di namai ulang dengan nama yang lebih keren. Inilah Komandanku.” Elda yang terlampau senang itu menepuk bahu Alstrelia dan berakhir dengan merangkul seperti dua orang sejolin yang tidak bisa di pisahkan.
‘Mereka berdua terlihat sangat dekat. Tidak seperti adikku, dia walaupun di temani Lena yang setia dengannya, dia sama sekali tidak sampai sedekat itu seperti dua orang ini.’ Pikir Alrescha, melihat Alstrelia dan Elda terlihat sangat dekat, sampai nama julukan saja di singkat dan terdengar nama kuman, tetap Alstrelia terima.
Lucu, tapi tetap di hargai oleh Alstrelia.
Hingga di satu detik kemudian Alrescha tiba-tiba saja seperti baru mendapatkan sebuah koneksi, yang mana otaknya seperti baru saja menemukan getaran yang sedikit menyakitkan tai masih bisa Alrescha tahan.
Karena itu, Alrescha buru-buru menyerahkan batu Savar itu kepada Elbert yang kebetulan berdiri di sampingnya, setelah itu Alrescha berjalan menghampiri Alstrelia yang sedang saling merangkul dengan Elda.
“Hei apa ya-mphh…!” Alstrelia yang tiba-tiba saja tangannya di tarik, langsung di bungkam dengan ciuman?
“Alrescha-” Elda yang geram karena Alrescha kembali mengambil ciuman milik komandan nya, langsung mengarahkan pedang yang langsung muncul setelah Elda menodongkan tongkat hitam sepanjang dua puluh centimeter ke arah Alrescha.
Pedang dengan aura berwarna merah itu menjulur ke arah depan leher milik Alrescha, lalu menyentuh sisi tajam dari pedang milik Elda ke lehernya, sampai darah itu pun keluar juga.
CESS….
“Apa yang kau lakukan! Apa kau masih belum puas dengan apa yang terjadi kemarin?” Tanya Alstrelia penuh dengan penekanan, lewat kemampuan telepatinya.
“Aku harap kau memaafkanku, tapi hanya dengan cara ini, aku bisa melihat apa yang ada pada dirimu. Karena ada satu benang tidak kasat mata, menghubungkan antara dirimu dengan adikku, jadi dengan cara ini, aku bisa melihat sebenarnya dia ada di mana.
Itulah yang aku temukan setelah kemarin aku melakukan ini juga kepadamu.”
“Ha? Memangnya tidak ada yang lain?”
“‘Sentuhan secara langsung, dengan air liur, adalah sesuatu yang lebih efektif. Jika kau memang punya cara lain, maka beritahu aku.
Aku juga tidak ingin seperti ini, membuatku seperti orang mesum, tapi mau bagaimana lagi? Satu-satunya yang bisa aku lakukan agar aku menemukan adikku adalah dengan bantuanmu sebagai perantara keberadaanya.” Alrescha pun jadi menjelaskannya panjang lebar.
Karena keadaan yang mendesak, Alrescha pun sedang menemukan jawaban dengan cara yang membuat image nya sudah pasti hancur dimata dua orang di belakang mereka.
“Begitu ya? Apa kau mau bertanggungjawab karena sudah merebut lagi ciumanku? Bagaimana jika aku nantinya jatuh cinta padamu, hmm?”
GREP….
Sambil mengatakan itu, Alstrelia juga menahan dang milik Elda agar tidak melukai leher Alrescha lebih dari itu.
“Koman~” Elda yang mendapati pedang miliknya di cengkram oleh Alstrelia, maka dia pun menyimpan kembali mana sihirnya ke dalam tubuh, sehingga bilah pedang berwarna merah tadi sudah menghilang dan menyisakan tongkat yang merupakan gagang pedang itu sendiri.
__ADS_1