
"Ya." Elda benar saja segera duduk setelah diperintahkan duduk oleh Alstrelia.
"Hmm..kalau seperti ini, ya sudahlah." Alstrelia bebricara sendiri dengan akhir membuat helaan nafas kasar.
"Maksudnya?" Elda tentu saja bingung dengan ucapannya Alstrelia.
Alstrelia lagilagi berbaring di sofa dalam posisi tubuh lurus. Tapi di samping itu pula, Alstrelia mengangkat tangan kanannya ke atas, lalu menjawab. "Berarti ada kemungkinan kita berdua akan lama tinggal diisni, kan?"
"Memangnya kenapa?"
"Elda," Tekan Alstrelia dengan tatapan membunuhnya.
Elda kembali terkesiap. "I-iy. Aku tahu. Selagi ceritanya belum selesai, kita berdua akan terus terjebak disini. Akan tetapi ada satu hal yang harus koman tahu, bahwa waktu di dunia ini lebih cepat ketimbang di dunia kita. Untuk perbandingan waktunya aku masih mencoba menyelidikinya.
Jdai selagi kiita bisa menyelesakan cerita disini, ada kemungkinan besar waktu di dunia nyata kita masuh lama untuk jadwal perang yang sudah di sepakati."
"Intinya masih ada cukup waktu ya?" Mengepalkan tangan kanannya.
"Iya."
"Kalau begitu karena aku sudah terjebak disini lumayan lama, maka tugasmu saat ini adalah mendongeng.
Beritahu semua kondisi yang ada di dalam Istana, termasuk Yang mulia Raja sendiri. Dia sedang apa dan suka apa di saat aku sendiri tidak ada. Jangan ada yang terlewatkan sedikitpun." Tunjuk Alstrelia, menunjuk persis wajah Elda. "Hilangkan kebosanannku dengan ceritamu itu." Imbuhnya, mempertegas kalimat perintah miliknya kepada sang anak buah, yaitu Elda.
"Baiklah~" Elda lagi-lagi harus bercerita panjang lebar layaknya robot pembaca.
Dengan begitu, di siang itu mereka berdua pun menghabiskan waktu mereka untuk saling bertukar informasi.
_____________
JDERR...
Kilata ndemi kilatan dari petir dengan dentuman yang keras itu terus menggelegar mengisi keheningan yang terjadi di dalam sebuah ruangan redup minim akan cahaya.
Disana berdirilah seorang pria sedang menatap dengan tatapan yang cukup dingin pada seorang perempuan muda berseragam militer berwarna putih, yang kini perempuan tersebut sudha tergeletak di lantai di depannya persis, yaitu Elda.
Elda dan pria yang sedang berdiri tersebut tidak lain adalah Alvaron.
Alvaron berjongkok di depan Elda persis lalu menyentuh anting yang sudah terpasang di telinga kirinya Elda. Akan tetapi di saat itu pula, Alvaron sedikit membungkukkan tubuhnya untuk membisikkan sesuatu pada telinga Elda.
Bisikan kecil yang mewakili semua perasaannya.
"Alstrelia, jaga dirimu baik-baik dan lakukan peran yang sudah kau miliki itu untuk menyelesaikan cerita yang sudah berubah total karena keberadaanmu." Kata Alvaron, tepat di telinga Elda, dimana anting yang di pakai oleh Elda itu mampu merekam suaranya dan akan diberikan kepada Alstrelia.
Setelah itu perlahan tubuh Elda menghilang dari depan maanya itu. Sampai akhirnya butiran layaknya kunang-kunang yang berkelap kelip berwarna biru berkilau itu jadi akhir peandangan akan sosol Elda yang sudah tidak ada lagi di depannya.
Alvaron kembali berdiri, lalu menatap pemandangan luar jendela yang saat ini seluruh wilayah sedang di landa hujan yang cukup deras.
JDERR...
__ADS_1
Kilatan akan petir itu pun kembali menggelegar. Dan Alvaron yang sedari tadi berdiri dan hanya menatap kosong jendela full glass itu, langsung berbalik dan keluar dari ruang kerjanya.
KLEK.
Setelah pintu itu tertutup, keadaah dari kamar yang terasa gelap dan dingin itu tiba-tiba jadi terang.
Namun ada satu hal yang terjadi juga. Komputer yang awalnya sduah mati itu tiba-tiba menyala dan menampilkan sebuah dokumen dari catatan baru yang masih kosong itu tiba-tiba muncul sebuah nama, Elda.
Setelah kalimat Elda, di belakangnya persis, pelan tapi pasti deretan kalimat langsung muncul dan membuat sebuah narasi yang menghasilkan sebuah plot cerita.
Dan cerita itu dari novel yang berjudul satu kisah dua bersadara.
Cerita dimana Elda sudah masuk dalam unsur plot cerita dari sebuah novel yang masih separuh perjalanan.
Dan kisah itu pun kembali di mulai dengan cerita baru.
________________
Cerita baru ini di mulai oleh....
BRAK....
Pintu yang semula kembali tertutup sebab Chavire sudah pergi, justru kembali lagi dengan ekspresi wajah tegas.
Hal itu pun berhasil menngacaukan kesenangan Reva dalam bermain dengan Charles itu.
Dimana saat ini Charles sedang sepenuhnya memegang buah dada Reva yang sudah menyumbul keluar dari tempatnya.
Chavire yang sedikit terjerat melihat tanganny ajustru digunakan untuk memegang aset milik Reva, hanya berusaha mengabaikannya.
"Chavire, ini tanganmu loh. Mau memegangnya juga?" Charles yang punya keprobadian bebas itu justru membuat godaan kepada si pemilik tubuh yang sedang digunakan oleh Charles itu.
"Tidak."
"Lihat ini, kenyal." Charles mencoba menghasut Chavire lagi dengan memperlihatkan tangan kanannya yang bermain dengan cara mer*em*as milik Reva itu.
"Ahh~ kakak." lenguhan antik dari wanita yang m*ende*sah itu pun keluar dari mulut Reva juga, karena merasa geli.
"Kakakmu disini, bukan disana." Pungkas Chavire mendengar Reva mende*s*ah kana Charles mempermainkan salah satu asetnya itu.
"Tapi tubuh dari kakak kan ada di depanku." Kenyataannya memang seperti itu, dan Chavire harus apa lagi?
Reva ternyata bisa punya permainan seperti itu denga memanfaatkan Charles yang masih berada di dalam tubuh Chavire itu.
"Ah~ Kakak, itu geli." Reva sampai gemetar karena gerakan Charles yang cukup sensual.
Tidak mau membiarkan mereka berdua melakukan di depan matanya dan lebih jauh dari itu, Chavire pun melangkahkan kakinya dengan lebih cepat demi menghampiri Reva yang masih duduk di atas pangkuannya Charles.
"I-ini...sangat geli." Tubuh Reva semakin gemetar hanya dengan sentuhan nakal dari Charles itu, seakan Charles memang sudah mengerti cara untuk membuat mangsanya menjadi burung yang lemah. Dan Reva menjadi burung selanjutnya setelah Arsela itu.
__ADS_1
"Itulah daya tarik dari tanganku yang sudah ahli. Mau lebih puas lagi?" Lagi-lagi Charles membuat hasutan kepada Reva.
Sekalipun tidak ada gunanya, karena sebenarnya Charles tidak kan bisa melawan Reva, tapi bagaimana dengan si pemilik tubuh yang Charles gunakan itu?
Wajah Chavire pun sudah di sulut oleh perasaan yang sudah berapi-api.
"Menyingkir dari sana." Akan tetapi yang Chavire lakukan saat ini adalah menjauhkan Reva dari Charles.
"Ah...kenapa kau mengangkatku?" Tanya Reva, dimana Reva saat ini tubuhnya sudah terangkat dai berpisah dari pangkuan Charles, lalu di gendng layaknya anak kecil karena Chavire menggunakan satu tangan kirinya saja untuk menggendong sekaligus menahan tubuh Reva itu.
"Kenapa kau berani sekali memanfaatkannya untuk menodai tubuhmu dengan cara seperti itu?" Tanya Chavire seraya tangan kanannya itu, justru dengan spontan memasukkan buah dada Reva yang tadi menyumbul keluar untuk di masukkan kembali ke dalam baju Reva.
".........." Reva dan Charles pun terkesiap dengan tindakan yang dilakukan oleh Chavire tadi.
"Kenapa kalian berdua melihatku seperti itu?" tanya Chavire dengan delikan mata tajam.
"T-tidak." Sahut Reva dengan wajah sudah tersipu malu karena yang mamasukkannya justru berasal dari tangan kekar dan lebih besar itu.
"Duduk diam disitu." Tegas Chavire kepada Charles dengan tatapan sengitnya, karena Chavire akan membawa Reva bersamanya.
*
*
*
Setelah berhasil membawa Reva keluar dari kamar yang ada Charles itu, Chavire kemudian membawa Reva ke suatu tempat.
"Jadi ada apa? Sempai membawaku jauh-jauh dari dia?" Tanya Reva pada Chavire, tentunya, sebab pria inilah yang membawanya pergi dari situasi yang cukup menyenangkan tadinya, tapi sekarang tidak, karena suasananya jadi semakin tegang, apalagi saat Reva melihat sorotan mata dari ekspresi serius milik Chavire.
Chavire saat ini sudah berada di halaman belakang mansion utama milik Alrescha. Da tentu saat ini mereka berdua berada di tempat yang cukup sepi, sehingga bisa melakukan pembicaraan yang serius.
"Dimana kau menyimpan batu sihir yang pernah kau tunjukkan padaku waktu itu?"
"Batu sihir? Apakah yang bentuknya seperti bola itu?"
"Hmm...apalagi kalau bukan itu?"
"Karena kau tidak butuh, dan aku sendiri juga tidak butuh, jadi sekarang batu itu sudah tidak ada di tanganku." Sambil mengangkat kedua bahunya sebagai tanda kalau dirinya memang sudah tidak memiliki barang yang di inginkan oleh Chavire ini.
"Kemanakan batu itu?"
"Aku memberikannya pada yang membutuhkannya."
"Apa aku bisa mendapatkannya lagi jika aku mencarinya?"
"Tentu saja, bahkan daripada seperti aku yang tidak sengaja menemukannya di suatu tempat yang berbahaya, kau bisa mendapatkannya dengan mudah pada satu orang, ah..bukan orang sih, karena dia bukan manusia." Jelas Reva panjang lebar.
"Katakan," Demi menemukan Alstrelia, Chavire pun akan berusaha untuk menggunakan cara apapun demi tujuan utamanya itu.
__ADS_1
"Yaitu-" Reva sengaja menggantungkan kalimatnya, agar bisa melihat ekspresi wajah Chavire yang tidak sabaran itu.