Putri Alstrelia

Putri Alstrelia
128 : Alstrelia : Apa yang terjadi?


__ADS_3

WUSHH~


"Tidak ada yang bisa mereka hindari." Gumam Arsene. Dia melirik kearah samping kanan.


Sama seperti mereka yang memiliki musuhnya sendiri, maka Arsena pun sama juga.


Saat ini di samping kanannya sudah berdiri satu Gamelo menunggu dirinya.


"Walaupun kamu memakai topeng tengkorak seperti itu, aku sudah tahu kalau di balik itu, adalah diriku yang lain." Kata Arsene.


"Hahaha....karena aku melihat diriku sendiri, maka aku tahu kalau kamu pasti mampu untuk mengenaliku berdasarkan suaranya saja." Sahut makhluk ini.


Sekalipun makhluk itu memakai topeng tengkorak, tapi suara yang dimilikinya itu tidak bisa menutupi pendengaran Arsene yang berhasil mengenali suaranya yang benar-benar mirip dengan milik Arsene.


Pembuktian bahwa makhluk di hadapannya tersebut memang benar adalah musuh yang harus Arsene layani.


"Aku penasaran, kenapa kalian repot-tepot mau melawan kami. Bukankah lebih baik menyerah saja, agar semua lebih beres dan kalian tidak akan mendapatkan penderitaan dalam proses kematian kalian?" tanya Gamelo ini.


"Hah...walaupun aku mengatakan kalau kita sama, kita tetap saja memiliki perbedaan, yaitu dari segi berpikir. Rasa percaya diri kalian itu akan jadi bumerang untuk kalian, karena kalian sendiri saja tidak tahu apa yang terjadi kedepannya. Apakah perlawanan dari ras manusia seperti kami akan berakhir hanya mendapatkan kekalahan atau tidak, tidak ada yang tahu kan? Jadi jangan seolah karena jumlah kalian lebih banyak dari kami, kalian bisa menang dari manusia." Jelas Arsene panjang lebar.


"Tapi mengingat jumlah kami lebih banyak, pastinya kami akan mendang dari kalian para manusia lemah."


"Benarkah? Tapi apa kamu pikir dengan memenangkan pertempuran ini, kalian bisa kabur dari tempat ini? Salahkan diri kalian sendiri, atau orang yang memanggil kalian ke sini."


"Apa maksudmu?"


"Tidak ada maksud apa-apa juga sih, hanya saja..." Arsene sedikit menunduk, tapi arah pandangannya pun terus tertuju kepada makhluk di depannya itu, lalu berkata lagi, "Kalian memilih tempat yang salah, diriku yang lain." Kata terakhir Arsene. "Jadi pikirkan sendiri apa yang salah dari tempat ini, bodoh!"


Setelah berkata seperti itu, Arsene berlari kearah Gamelo itu dengan kedua tangan sudah memegang kedua belati.


"Bodoh? Hanya manusia bodoh sepertimu lah yang berani menantangku!" Tidak mau kalah dengan serangan yang akan Arsene lakukan, makhluk ini merentangkan kedua tangannya ke depan.


Kedua tangan yang awalnya tidak memegang apapun, dalam sekejap mata sebuah api tiba-tiba muncul dan menyelimuti kedua buah tangannya. Dan saat api itu sudah menghilang, senjata miliknya pun sudah ada di tangannya.


CTANG....!


Dua adu senjata menjadi awal permulaan dari mereka untuk saling melawan satu sama lain.


____________


"Hahahaha......, mereka terlihat sangat menderita." Gumam Reva, tatkala tubuhnya saat ini terbaring dalam posisi telungkup. Namun tubuhnya pun masih berada di atas lantai, tepat di tengah lingkaran sihir.


Di sebabkan Reva dan Vera terhubung satu sama lain, maka Vera yang saat ini sedang memenuhi tugasnya untuk melindungi seluruh daratan dari Ibu kota Kekaisaran Regalia dengan dinding pelindung yang dibuat dari jati dirinya itu, maka secara Reva tidak bisa pergi kemanapun selain bisa menikmati pemandangan apa yang bisa dia lihat dengan gambaran yang muncul di dalam kepalanya.


"Jadi ini yang disebut kehancuran?" Gumam Reva lagi. Satu tangannya memainkan jari telunjuknya untuk membuat lingkaran di atas lantai, karena terasa menyenangkan mengoles-oles darahnya sendiri yang tadi digunakan sebagai pengaktif sihirnya itu.

__ADS_1


"Setelah melihat ini, apakah kamu ingin keluar dari daftar nama anggota keluarga Kaisar?" Tanya Vera kepada Reva lewat kemampuan berpikir mereka berdua.


"Tidak perlu. Apa gunanya lari dari tanggungjawab? Semuanya pada akhirnya sama saja. Bahkan termasuk kamu. Jika bukan karenamu, aku tidak mungkin dalam posisi seperti ini." Jawab Reva. Dia sebenarnya sedikit tidak puas hati, karena keberadaan Vera di dalam tubuhnya itu, membuat mereka jadi saling terikat satu sama lain. Dan karena keberadaan Vera pula, Reva sekarang jadi tidak bisa berbuat sesuka hatinya. Sebab, Vera juga membutuhkan suplai mana sihir milik Reva yang cukup banyak itu.


"Apa itu ungkapan dari rasa protesmu kepadaku? Padahal jika bukan karena aku, kamu sebagai Putri negeri ini, pasti sudah kehilangan muka di depan semua orang, bahkan termasuk para pelayan yang melayanimu." Beber Vera.


Hal tersebut pun berhasil membuat Reva membungkam mulutnya rapat-rapat, sebab yang dikatakan oleh Vera kepadanya adalah benar.


Jika bukan karena Vera, maka Reva hanyalah seonggok manusia yang terpajang di dalam Istana tanpa pengetahuan.


"Tapi tetap saja, kamu memanfaatkanku sampai seperti ini." Ketus Reva.


"Itulah takdirmu. Dimanfaatkan oleh ku. Jika tidak puas dengan tadirmu itu, kamu bisa membunuh dirimu sendiri. Hanya itulah yang bisa kamu lakukan agar hubungan antaramu denganku bisa terputus. Bagaimana?" Ungkat Vera.


"Tch...diam. Lakukan saja pekerjaanmu itu." Jawab Reva singkat dengan nada kesalnya.


Takdir?


Dan untuk memutuskan takdir diantara mereka berdua, Reva harus bunuh diri?


Reva mana mungkin mau membunuh dirinya sendiri sebelum dia sendiri belum menikmati apa yang namanya cinta dan bisa menyukai seorang pria yang Reva sukai.


Tetapi karena pikiran yang sedang terlintas itulah, Vera pun berkata lagi : "Anak baik. Nanti aku akan mencarikamu pria yang sesuai tipe idealmu, sebagai balasan dariku." Ujar Vera sekali lagi.


"Huh...." Wajah Reva berubah menjadi cemberut, sebab Vera ternyata mampu membuat solusi lain atas rasa kesalnya itu dengan hal lain yang sedang Reva inginkan.


Lain hal dengan apa yang terjadi dengan mereka berdua, di tempat utama akan semua kondisi yang ada.


Dimana Charles, apalagi Arsela melakukan hubungan terlarang mereka dan menodai Istananya Chavire serta tubuh asli Chavire. Ditempat asal mula dari kekacauan yang sedang terjadi itu....


PRANK.....


Seluruh bingkai jendela besar yang terpajang tepat di belakang Alrescha berdiri langsung pecah setelah adanya makhluk yang tiba-tiba saja terbang masuk kedalam dan mengganggu pekerjaan mereka.


'Mereka benar-benar sudah datang.' Batin Chavire merasa bangga dengan dirinya sendiri, sebab sudah berhasil emlakukan pemanggilan itu dan membuat makhluk Gamelo muncul juga.


Seperti yang diharapkan oleh Charles saat ini, ada tiga Gamelo yang masuk kedalam ruangan tersebut. Dan saat ini mereka bertiga sudah berdiri sambil memandangi mereka semua.


"Apakah mereka yang harus kami singkirkan, Tuan, Nyonya?"


'Tuan? Nyonya?' Alstrelia yang mendengar panggilan Tuan dan Nyonya itu di tunjukkan untuk Charles dan Arsela, tentu saja hal tersebut mebuat Alstrelia tertawa. "Ahahaha....ini sangat lucu."


SRANGGK..!


Tawa dari Alstrelia itu dibarengi dengan pedang miliknya yang dia gunakan untuk menangkis pedang Arsela dengan cepat. Sampai Arsela terpaksa harus dibuat mundur lebih dulu, karena tangkisan dari pedangnya Alstrelia, sekalipun hanya menggunakan satu tangan saja, ternyata itu tidak bisa dihindarkan dari yang namanya tenaga Alstrelia rupanya kuat.

__ADS_1


Alrescha pun jadi dibuat melompat mundur, dan mendarat tepat di samping Alstrelia persis.


"Tuan? Nyonya..? Julukan kalian berdua ternyata menggelikan juga ya?" Tukas Alstrelia dengan tatapan jenakanya.


'Apa yang membuat dia tertawa sampai seperti itu?' Pikir Chavire.


"Karena di telingaku, panggilan untuk kalian berdua itu terasa menjijikan. Satu orang pac*r dan satu orang gig*l*." Imbuh Alstrelia dengan sorotan mata menyindir.


Sekalipun Chavire merasa sedikit tersinggung karena di anggap Gig*lo oleh Alstrelia, tapi matanya itu segera dia alihkan lagi untuk menatap tubuhnya sendiri yang saat ini dihuni oleh jiwa Charles. Dimana mata berwarna hijau Zamrud itu, tiba-tiba saja mengalikan pandangannya juga untuk melihat kearah Alstrelia yang sedang menertawainya.


Itu seperti tatapan mata yang tertarik kepada wanita di sana.


Sungguh....


Bagi Chavire yang saat ini sedang berada di tubuh orang lain, melihat wajahnya sendiri sedang menatap Alstrelia dengan tatapan mata yang seperti itu, ternyata membuat lubuk hati kecilnya yang terdalam jadi merasa terganggu.


Chavire merasa terganggu karena Charles yang ada di depannya ini, selain sudah menodai tubuh asli milik Chavire, ternyata Charles masih bisa-bisanya menatap Alstrelia dengan tatapan seperti punya rasa tertarik, layaknya pria yang menyukai hal menarik dan jadi ingin mendapatkannya.


"Tch....." Chavire yang sudah marasakan amarah yang dari tadi terpendam, decihan kecil yang berhasil menarik perhatian Charles lagi, Chavire buat sebagai awal pertarungan diantara mereka berdua.


"Haha...wajahmu yang marah itu, eh menggunakan wajahku dengan ekspresi marahmu.....kamu pasti kesal. Mana mungkin tidak kesal, jika tubuh ini jadi aku gunakan untuk mencicipi wanita lain, padahal wanita yang kamu sukai itu sedang menertawakanku." Bisik Charles dengan sebuah hasutan dari kimat provokasinya.


Chavire jadi menggertakkan giginya. Dia sudah emosi dengan ucapan Charles karena sudah memanfaatkan tubuhnya untuk melakukan terlarang itu.


'Karena kebetulan sekali tubuhku ada disini, maka ini adalah kesempatan untukku, agar aku kembali ke tubuhku. Biarkan tubuh ini jadi pembawa bencana pada negaranya sendiri, karena proses pemanggilannya sudah sukses seperti ini, sekalipun jiwaku pindah ke tubuh asliku lagi, maka mereka akan tetap menganggapku sebagai majikan mereka. Sempurna.....Charles, kamu punya rencana yang sangat sempurna.' Pikir Charles, menemukan solusi yang sangat kebetulan itu.


Karena itu, Charles pun jadi harus menahan Chavire untuk berada di posisnya, dan setidaknya jangan sampai keluar dari ruangan itu.


'Lalu wanita itu, akan lebih bagus jika aku mendapatkannya juga. Aku memang menyukai Arsela, tapi apa masalahnya jika aku menambah satu lagi. Kira-kira apa yang akan diperbuat oleh Alrescha, jika aku bisa merebut adiknya itu?' Dengan segala pikiran yang memiliki banyak niat terselubung, Charles pun mengangkat tangan kirinya sebagai kode untuk ketiga makhluk Gamelo itu untuk bergerak.


SYUHTT.....


Ketika mereka bertiga bergerak maju untuk menyerang sasaran mereka bertiga yang sudah mereka target itu, maka disaat yang sama pula Charles yang saat ini beradu kekuatan dingan kedua pedang yang masih beradu itu, dengan cepat Chares lebih mengerahkan tenaganya agar Chavire jadi terpojok dengan cara terpaksa melangkah dua langkah mundur.


SHRAKK...


"................!" Chavire pun melompat mundur.


Tapi seakan Charles tidak bisa membiarkan sasarannya mendapatkan kesempatan untuk istirahat sejenak mengambil nafas, Charles kembali berlari dan pergi melesat kearah Chavire.


Chavire pun sudah bersiap dengan kedatangan Charles. Dia mengarahkan pedangnya dengan kedua tangan di depannya persis, dan menunggu kedatangan Charles.


"Makan ini," Lirih Chavire dengan seringaiannya itu.


Tepat dimana Charles sudah berada di jarak lima meter di depannya dengan pedang yang sudah mulai Charles ayunkan kearah Chavire, Chavire tiba-tiba saja dibuat menemukan kejutan lain.

__ADS_1


SYUHT......


__ADS_2