
Semburan api itu menyebabkan semua tulang tengkorak yang terkena imbasnya, langsung menghilang menjadi abu.
"Itu..terlihat seperti T-rex?" Ucap Alstrelia, saat menantikan makhluk macam apa yang muncul, rupanya makhluk yang Alstrelia pikir adalah Naga, itu adalah pikiran yang sangat meleset, sebab makhluk tinggi dan besar yang ada di depan mereka bedua saat ini adalah seekor T-rex?
"T-rex? Apa itu?" Tanya Alrescha.
"Itu adalah julukan dari hewan yang ada di tempatku. Mungkin nama dari makhluk itu bisa saja berbeda di sini." Jawab Alstrelia. "Jadi dia makhluk apa?"
Pada akhirnya pertanyaan itu dilontarkan balik kepada Alrescha.
Dan Alrescha hanya menjawab "Naga merah."
Jawaban yang cukup singkat, jelas juga padat?
Hal itu pun membuat Alstrelia langsung melongo dengan mulut sedikit terbuka membentuk O.
"Hah?"
"Disini, dia di juluki Naga merah." Jawab Alrescha lagi, tanpa memperdulikan ekspresi macam apa yang sedang di perlihatkan oleh perempuan yang ada di sampingnya ini.
"Memangnya tidak ada nama yang lebih keren?" Alstrelia tiba-tiba saja protes karena nama dair monster yang jelas punya bentuk seprti T-Rex itu malah di juluki sebagai Naga merah, hanya karena warna kulit dari monster itu memang berwarna merah.
"Memangnya itu penting?" Pungkas Alsrescha tidak mengerti kenapa hanya sekedar nama, membuat dirinya berdebat lagi dengan perempuan ini.
Alstrelia mendelik tajam ke arah Alrescha, lalu kembali menatap ke depan untuk melihat kembali monster besar itu seraya menjawab. "Bagiku penting, biar terdengar keren. Tapi tidak apalah karena tidak ada gunanya."
__ADS_1
Tapi ucapannya tadi langsung Alstrelia ralat, karena tiba-tiba sebuah ide untuk memberikan nama yang lebih layak dengan penampilannya.
"Tapi sebelum menyerangnya, aku akan menamainya sebagai Tregon." Cetus Alstrelia dengan sebuah nama asing yang memang tiba-tiba saja muncul di dalam otak kecilnya itu, bahwa nama yang paling cocok untuk makhluk di depannya itu tentu saja adalah Tregon.
Alrescha yang penasaran dari mana asal mula nama itu bisa keluar dari mulutnya Alstrelia membawa Alrescha untuk bertanya. "Darimana kau bisa mendapatkan nama seperti itu?" Tanyanya, tanpa melupakan untuk melirik perempuan di sebelahnya ini.
"Hanya ngasal. Tapi keren, kan?"
Alrescha maju satu langkah ke depan dan menjawabnya : "Memberikan nama dengan cukup asal, kau pakar dengan itu ya?"
Sama hal nya dnegan Alrescha yang ternyata sduah bersiap untuk bertarung dengan Tregon itu, Alstrelia pun ikut dengan maju satu langkah ke depan. "Tidak juga. Itu hanyalah gabungan dari dua nama T-Rex dan Dragon. Itu saja."
"Hmm..tapi itu boleh juga untuk ukuran nama yang sekedar ngasal." Jawab Alrescha, akhirnya menyetujui nama yang di berikan oleh Alstrelia untuk monster yang ada di depan mereka berdua.
Di saat beberapa detik lalu Alstrelia dan Alrescha bertengkar karena memperebutkan mantel, tapi sekarang tiba-tiba topik yang mereka berdua bahas adalah nama untuk monster itu, akhirnya membuat momen aneh dari semua situasi yang silih berganti dalam sekejap itu pun membuat Alstrelia dan Alrescha sama-sama ikut tersenyum tipis.
Tregon, monster yang baru saja mendapatkan nama baru dari Alstrelia ini, setelah dia melihat ada dua orang manusia di depannya, tanpa sungkan Tregon ini kembali menyemburkan api yang besar kepada Alstrelia dan Alrescha.
Tentu saja Alstrelia dan Alrescha segera mendapatkan sebuah perlindungan eksklusif dari ke empat Gimmick milik Alstrelia yang otomatis bergerak untuk melindungi majikannya itu dari mara bahaya.
Warna matanya berwarna kuning, dan bentuk retinanya yang seperti hewan reptil, tubuhnya yang besar dengan tinggi tubuh sampai dua puluh meter itu pun membuat makhluk ini langsung menemukan dua orang yang berhasil mengganggu masa hibernasinya yang sebenarnya belum selesai.
Karena itu, melihat dua orang manusia itu adalah dalang dari dirinya yang terbangun dari tidurnya, membuat dia pun langsung melampiaskan amarahnya.
Deretan kulit sisik yang berada di ujung ekor hingga separuh ekornya tiba-tiba bercahaya berwarna merah, mulut Tregon yang terbuka lebar, sepasang matanya yang menatap ke arah Alstrelia dan Alrescha, membuat hal itu jadi satu waktu yang pas bahwa serangan dari Tregon yang sedang marah pun terjadi.
__ADS_1
"GROARRH....!" Semburan api berwarna jingga kemerahan itu langsung mengisi seluruh area dari ruang bawah tanah itu, sampai seluruh tulang belulang yang ada di sana sudah menghilang menjadi abu yang bahkan sekarang saja abu itu sudah tidak ada lagi. Abu dari tulang itu sudah hilang tanpa jejak, entap pergi kemana.
'Tregon ya? Aku pikir makhluk ini hanya sekedar mit- Oh iya...jika bukan karena Ayah, aku tidak akan mungkin masuk kedalam novelnya dan berurusan dengan semua karakter di cerita miliknya. Alstrelia..Alstrelia, apa yang sebenarnya kau pikirkan? Apakah karena aku semakin lama tinggal di sini, aku akan semakin terlena dan melupakan kenyataan kalau aku bukan berasal dari dunia ini?
Jangan sampai itu terjadi. Karena kalau terjadi.' Astrelia kemudian melirik ke arah Alrescha yang rupanya sama-sama sedang meliriknya.
"Biar aku saja yang menghadapinya." Itulah yang Alrescha katakan kepadanya?
"Apa kau mau pamer kekuatan denganku?" Tanya Alstrelia dengan sebuah cibiran. 'Kalau terjadi, ada kemungkinan aku akan mengamuk. Ya...walaupun tempat yang di rancang oleh Ayah ini cukup bagus, tapi aku adalah orang yang tidak bisa melepaskan kebiasaan aku pada teknologi. Jadi aku harus secepatnya pergi dari sini.' Imbuh Alstrelia.
Alrescha tidak peduli jika memang dirinya sedang di anggap pamer oleh Alstrelia yang ini, karena di satu sisi, sebenarnya Alrescha pun punya tujuannya.
'Kenapa aku ingin mengalahkannya, itu karena aku ingin batu savar yang ada di dalam tubuh Tregon ini jadi milikku.' Dan Alrescha pun maju satu langkah lagi. Selagi itu pula, dia kini sedang mencengkram pergelangan tangan kanannya dengan tangan kirinya. Menggoyangkannya layaknya mau adu hantam dengan bogem mentah miliknya, Alrescha akhirnya berhenti, saat sepasang mata Tregon itu, kini sudah menarik minatnya untuk menatap Alrescha.
Menandakan kalau Alrescha berhasil menarik perhatiannya.
"Aku tidak sedang pamer, hanya memberitahu kepadamu kalau cara untuk melawan Tregon ini adalah dengan kekuatan milikku." Akhirnya Alrescha pun menjawab ejekan dari Alstrelia tadi dengan sebuah telapak tangan, dari tangan kanannya itu dia arahkan ke atas.
Setelah itulah, sebuah kabut putih menyelimuti tangan Alrescha.
Alstrelia yang awalnya hendak pergi bertarung juga, memutuskan untuk mengurungkan niatnya itu. "Api dan Air, itu maksudmu kan?" Tebak Eldania.
Alrescha hanya menoleh, tapi sesaat kemudian dia kembali menatap ke arah depan dan menjawab, "Ya. Karena aku ingin membuat kombinasi pada batu itu."
'Batu? Batu apa yang dia maksud?' Alstrelia yang kebingungan itu pun kembali memperhatikan Tregon itu.
__ADS_1
Tidak ada batu apapun yang dimaksud oleh Alrescha tadi.
Lantas apa dan di mana batu yang Alrescha katakan itu?