Putri Alstrelia

Putri Alstrelia
110 : Alstrelia : Alrescha


__ADS_3

"Apa jawaban kalian atas pilihan yang aku berikan tadi?" Tanyanya lagi.


"Saya...saya mundur." Satu kesatria itu memilih mundur.


"Saya juga."


"Saya pilih maju." Satu persatu dari mereka pun memilih untuk maju dan ada pula yang mundur karena takut mati.


Kesatria yang memilih maju segera berkumpul bersama dengan pemimpim mereka dan yang mundur tetap berdiri di tempat.


"Apa gunanya jadi kesatria jika kalian takut mati." Cibir kesatria ini kepada delapan orang kesatria yang menyatakan mundur itu.


Mendengar hal tersebut, tidak ada satupun yang berkomentar atas tuduhan itu karena apa yang dikatakannya memang benar.


Sedangkan sang komandan kesatria itu hanya menatap mereka yang memilih mundur dengan tatapan kecewa. Tapi mau bagaimana lagi? Karena diwaktu seperti ini dia tidak punya waktu untuk berdebat degan anak buahnya yang tidak becus.


Mereka semua yang memilih untuk maju melawan para monster, segera berbalik dan langsung melompat dari satu atap ke atap bangunan yang lain, meninggalkan mereka yang tidak punya nyali untuk menghadapi kematian.


Selepas kepergian mereka, suara erangan dari monster ketimbang teriakan dari para manusia jadi lebih banyak. Yang artinya, itu menandakan kalau pertarungan diantara mereka semua membuahkan hasil.


DHUAR!


Ledakan pun terjadi lagi, lagi, dan lagi. Semua kekacauan itu mengisi Ibu kota Regalia.


"Argghh...!" Suara teriakan itu kembali mengisi keriuhan disana.


"Mereka berhasil mengalahkannya satu persatu." Gumam kesatria ini, merasa iri karena mereka yang memilih maju, dapat melawan monster dengan cukup baik.


"Sebenarnya aku ingin melawan mereka juga.Tapi aku benar-benar takut mati." Ucap kesatria yang lainnya.


"Benar. Aku juga takut. Tapi bukan soal takut mati. Aku hanya takut jika aku kalah dan mati, istriku harus bagaimana? Aku elum siap meninggalkannya sendirian jika aku mati."


"Itu sama saja bodoh." Tukas salah satu dari mereka.


"Tapi..." Satu kesatria lainnya memandang Ibu kota itu dengan tatapan khawatir. "Apa kalian mau melihat mereka dimakan seperti itu?" Tanya kesatria ini kepada teman-temannya.


Semua mata pun terpaku pada sekelompok monster yang berhasil mengepung puluhan orang dan perlahan monster tersebut menangkap satu persatu manusia untuk dijadikan makan malam mereka.


"Krauk...krauk...."

__ADS_1


"Uh...." Mereka semua langsung mentup kelopak matanya, tidak kuasa melihat pemandangan paling mengerikan ketimbang berperang di medan perang melawan engan negeri tetangga.


"Akhh...!" Teriakan demi teriakan menghilang dengan suara yang lain.


Sampai dimana mereka tiba-tiba merasakan hembusan angin yang lebih dingin layaknya sedang berada di area salju.


"Kenapa suhunya tiba-tib aturun drastis?" Bahkan ketika berbiacara seperti itu, mulutnya langsung mengeluarkan uap air dari nafasnya sendiri.


"Hah...jay benar. Kita serasa didaerah utara." Timpalnya.


Hingga mereka semua tiba-tiba melihat ada satu orang yengah berdiri di atas menara jam Ibu kota.


"Arkh...! Jangan! Jangan makan aku!" Teriak wanita muda ini, berteriak histeris ketika di depan matanya saat ini seekor monster besar tengah berjalan kearahnya dengan seringaiannya.


"Harimu berakhir sampai disini saja." Ucap monster tersebut kepada mangsanya yang sudah menaruh ekspresi horornya.


"T-tidak..! Jangan!" Pekik wanita ini lagi ketika tangan besar berhiaskan kuku hitam panjang itu perlahan terulur kearahnya, sampai bayangan dari tangan yang kian mendekat itu melahap wajahnya yang sudah ketakutan. 'Aku tidak mau mati!' Teriaknya, kini di dalam hatinya yang terdalam.


Padahal beberapa jam yang lalu dia sedang asik makan bersama dengan kekasihnya. Tapi semua kenangan manis itu langsung sirna setelah seekor monster keluar dari tanah dan langsung membunuh sang kekasih dengan cara mengerikan.


Dan kali ini, usahanya untuk kabur demi keinginannya untuk terus hidup, akan berakhir sampai disini?


WUSHH...


Sebuah kabut putih membawa suhu terdingin itu tiba-tiba datang dan mulai menyelimuti beberapa distrik di Ibu kota. Diman akabut putih yang hanya perlahan kembali menghilang itu menyisakan sesuatu yang mencengangkan.


"B-beku?" Wanita ini lantas terkejus saat monster yang ada di hadapannya itu tiba-tiba berhenti bergerak tepat ketika jarak antara wajahnya dengan tangan besar milik monster tersebut tinggal 10 cm.


DRAP....DRAP....DRAP.....


Suara derap langkah kaki yang sedang berlari itu segera muncu. Tapi disaat itu juga suaranya langsung menghilang sebab pemilik dari kaki tersebut sudah melompat keatas.


Wanita itu mendongak keatas.


"'Maaf membuat anda menunggu, Nona." Suara berat milik seorang pria datang menghampirinya dari arah atas, setelah itu juga pria tersebut menggunakan teknik membunuhnya.


CRASSH....


Seranga ncepat itu berhasil memotong tubuh monster tersebut menjadi dua dengan sekali ayunan pedang.

__ADS_1


TAP.


Pria berjubah biru itu pun mendarat dengan sempurna sesaat melakukan aksi heroiknya sebagai seorang kesatria untuk menyelaatkan warga sipil.


"Apa anda tidak apa-apa?" Tanya kesatria ini yang tidak lain adalah Elbert.


Sesaat itu wanita tersebut tersentak kaget karena sempat bengong gara-gara orang yang menyelamatkannya dalah seorang kesatria dari Fisher, yaitu Elbert yang terkenal dengan wajahnya yang rupawan.


Itu juga menjadi salah satu topik dikalangan para perempuan setelah Elbert datang dalam acara pesta di hari pertama.


"T-tidak apa-apa, terima kasih." Balas wanita ini dengan nada gugup.


Siapa yang tidak gugup ketika pria yang menyelamatkannya adalah tokoh utama dalam topik hangat para kaum perempuan.


Elbert segera menyimpan kembali pedang miliknya kedalam sarung pedang, kemudian berkata : "Sudah kewajiban bagi seorang kesatria seperti saya untuk melindungi orang lian. Sebaiknya anda cepat pergi ke Istana, disana ada sihir pelindung yang terpasang secara menyeluruh, jadi anda akan lebih aman jika pergi kesana."


Wanita itu memberikan anggukan tanda mengerti. Dengan cepat-cepat, wanita itu berdiri dan berlari pergi menuju tempat yang direkomendasikan oleh Elbert barusan.


Setelah kepergian wanita tersebut, Elbert langsung menatap kearah menara jam, dan memberikan kode sebuah anggukan kecil.


"................." Orang yang menjadi penerima kode dari Elbert, yaitu Alrescha pun segera menatap lurus kedepan.


Alrescha kemudian mengeluarkan pedang miliknya dari sarung pedang. Setelah dikeluarkan, pedang tersebut pun Alrescha genggam dengan kedua tangannya dan memposisikan gagang pedang di depan dada persis dengan ujung pedang menghadap keatas.


Setelahnya, Alrescha pun memejamkan matanya dan mulai merapalkan mantera miliknya untuk melakukan sihir besar dengan perantara artefak pedang miliknya.


"Donu vian forton, protektu tion, kio meritas esti protektita, ĉesigu ĉian malbonon per via malvarma koagulaĵo."


Setiap rapalan mantera yang diucapkan, disaat itulah langit menjadi sedikit mendung.


Setelah itu, di sekeliling menara jam tempat Alrescha berdiri, tiba-tiba terbentuk pedang dengan bahan dasar es. Pedang es itu pun tercipta sebanyak 20 buah.


Selepas merasakan mana di dalam ke dua puluh pedang itu sudah berhasil terkumpul dan siap digunakan, Alrescha membuka kelopak matanya dengan cepat dan langsung mengarahkan pedang miliknya ke depan sambil berkata, "Jatuhlah." Dengan nada tegas dan penuh dengan penekanan.


Sampai siluet mata berwarna biru itu terkesan semakin masuk kedalam kegelapan. Menatap dingin apa yang bisa dia lihat saat ini.


SYUHTT....!


Seluruh pedang yang sudah berhasil Alrescha ciptakan dengan bahan dasar Es tapi itu bukanlah sekedar pedang es biasa, akhirnya bisa berkumpul. Setelah itu kesemua pedang itu pun bergerak melesat dengan cukup cepat kearah segala penjuru arah di Ibu kota.

__ADS_1


__ADS_2