Putri Alstrelia

Putri Alstrelia
84 : Alstrelia


__ADS_3

Kwak!


“................” Eldania menoleh ke belakang. Dia melihat Everst sudah bangun dan terlihat seperti sedang menunggunya. “Sudah waktunya ya?” 


Kwak!


“Kita sarapan dulu baru pergi.” jawab Eldania lagi. Dia berdiri dan berjalan menghampiri sisi lain kasur yang semalam sempat Eldania tiduri itu. Mengambil mantel coat miliknya dan langsung memakainya. 


“Setelah ini kemana tujuanmu selanjutnya?” tanya Chavire. 


Mendengar Chavire bertanya sedemikian rupa memiliki rasa penasaran tinggi, Eldania pun dengan senang hati menjawab. “Melihat kehancuran Kekaisaran.”


“Apa?!” gumam Chavire.


“Kekaisaran yang akan menjadi kuburan massal, aku ingin melihatnya.” jelas Eldania.


Dan ucapannya itu berhasil memicu gejolak dari amarah yang tersulut lewat tatapan matanya Chavire terhadapnya. “Kekaisaran apa yang kau maksud?” ulang Chavire, nadanya semakin rendah dan terkesan dingin


“Regalia,” balas Eldania dengan senyuman kian tersungging membentuk bulan sabit yang terlihat memuakkan.


“Jadi kau mampu pergi ke sana dengan cepat?” lirih Chavire. Jika bukan karena Eldania mau menjawab pertanyaannya, sudah jelas dirinya akan melupakan dari tujuan utamanya itu.


“Bisa dibilang iya, juga tidak. Kenapa?” 


“Bawa aku bersamamu,” pinta Chavire. 


“Semuanya tidak ada yang gratis,” cibir Eldania. Dia sama sekali tidak memiliki niat untuk membawa orang dengannya, tapi jika ada imbalan, maka dia akan menerimanya untuk ikut bersamanya.


“Apa yang kau inginkan? Uang? Rumah? Gelar? Aku bisa memberikannya kepadamu, atau kau mau jadi istriku dengan gelar ratu, aku juga tidak mempermasalahkannya asal kau bisa membuatku pergi ke Regalia dengan cepat hari ini juga.” bujuk Chavire. 


Terdengar konyol, karena menawarinya sebagai istrinya, tapi semua itu diucapkan dalam kondisi sadar dan benar-benar mengharapkan bisa pulang ke kampung halamannya dengan cepat.


“Kau sampai seperti itu. Ternyata kau memang bukan orang biasa. Tapi sayangnya aku tidak begitu tertarik dengan semua yang kau sebutkan, termasuk menjadikanku Istri?” Eldania menyeringai. Siapa lagi kalau bukan karena sedang merendahkan semua tawaran yang diucapkan oleh Chavire. “Kau sudah punya pasanganmu sendiri, apakah kau berusaha agar aku merebut posisi itu darinya?”


Mendengar hal tersebut, sontak Chavire melotot, menatap tajam Eldania. “Pasangan?”


“Buktinya ada di lehermu.” Eldania menunjuk ke arah leher Chavire.


Chavire langsung menunduk ke bawah, dan secara mengejutkannya di lehernya kali ini sudah ada kalung dengan bandul dari cincin. ‘Sebentar, aku pikir tadi adalah mimpi. Tapi kenapa kalung dan cincin ini benar-benar ada di leherku? Bagaimana bisa mimpi yang seperti tadi, membawa ini masuk ke dunia nyata?’ 


Chavire hanya tidak menyangka, kalau pertemuannya di dalam mimpinya itu membawanya masuk ke dalam perasaan aneh yang selama ini tidak pernah muncul. 


Perasaan sedih.

__ADS_1


Takut.


Amarah.


Kecewa.


Dan apalagi?


Semenjak Chavire menggunakan kalung itu, semua perasaan itu ternyata muncul secara tiba-tiba.


Sampai Chavire tidak menyadari kalau air matanya ternyata sudah keluar begitu saja. 


‘Apa ini? Kenapa hatiku jadi merasa sakit?’ Chavire memandangi air mata yang sempat membasahi telapak tangannya itu. Air mata pertama hasil dari rasa sakit di hati yang belum pernah Chavire rasakan. 


“Apa yang kau kejar sekarang?” suara dari pertanyaannya itu berhasil segera menarik perhatian Chavire lagi.


Chavire menatap wanita di depannya itu. Sepintas dia menyadari kalau wanita tersebut juga merupakan salah satu bagian dari petunjuk yang didapat dari hasil mimpinya semalam.


“Menyelamatkan seluruh rakyatku.” jawab Chavire dengan sorotan mata yang tegas. 


“Aku tidak membutuhkan apapun darimu selain dari tekad yang kau katakan itu.” terang Eldania, atas segala tawaran yang dia tolak tadi. 


Harta, kekuasaan, semuanya adalah sesuatu yang bisa habis dan menghilang kapanpun itu. Tapi bagi Eldania, tekad adalah satu hal yang cukup berbeda. 


Dan alasan Eldania menolak segala tawaran yang diucapkan Chavire tadi tidak lain adalah karena yang Eldania butuhkan bukanlah sesuatu yang bisa menghilang tanpa jejak, melainkan kekuatan yang terdapat di hati manusia. 


Sesuatu yang bisa menghilang, tapi masih bisa menyisakan jejak di hati. 


“Aku akan mengantarmu ke Regalia. Hanya sebatas itu, tidak kurang dan tidak lebih.” ucap Eldania, memberikan kesempatan besar kepada kepala negara yang sudah mengemban banyak tugas tapi tidak ada satu orang pun yang mengerti tanggung jawab dari kekuasaannya itu selain pria itu.


Ya…


Sejujurnya Eldania tahu siapa pria yang ada di depannya itu. 


‘Chavire Varius Von Argelia, Kaisar termuda dari Kekaisaran Regalia. Dia menjabat menjadi kaisar di umurnya yang masih berusia 20 tahun, karena deretan kaisar sebelumnya selalu didapatkan setelah berusia lebih dari 25 tahun. Jika saja dia tidak mengatakan namanya langsung, aku mungkin masih belum menyadarinya kalau di dalam tubuh itu adalah roh dari seorang Kaisar.’ Eldania memiliki sesuatu yang membuatnya mampu mengenali apakah di tubuh orang yang dia hadapi memang orang asli dari dunia itu sendiri maupun manusia hasil reinkarnasi. 


"Kalau begitu antarkan aku kesana."


‘Kelihatannya kau benar-benar menganggapku sebagai penyihir tulen. Sayangnya itu hanyalah sebatas ekspektasimu belaka.’ pikir Eldania. 


Dia memang seorang penyihir, tapi apakah setiap penyihir mampu menggunakan sihir teleportasi?


Tidak semua penyihir mampu menggunakan teleportasi.

__ADS_1


Lalu bagaimanakah cara mereka berdua pergi menuju Kekaisaran Regalia?


“Kau siap-siap, karena kita akan melakukan kencan pertama di langit.” cibir Eldania. Akhirnya dia akan mendapatkan teman sebagai kesenangannya untuk mengisi waktunya.


Lagi-lagi berhasil membuat Chavire kebingungan. ‘Kencan?!’ 


_________________


JDER…..


Dentuman keras dari petir yang terus menggelegar di angkasa membuat sebagian besar orang tidak akan pergi keluar rumah.


JDERR….


Tapi apakah begitu?


Meskipun, sebagian besar dari mereka memilih untuk menetap di dalam rumah, tapi tidak dengan dia.


“Nona, kita sudah sampai.” kata Sena memberitahu Nona majikannya, yaitu Arsela.


Demi melindungi identitasnya, Arsela memakai rambut palsu, memakai pakaian seperti pria, lalu tidak ketinggalan adalah mantel hujan untuk menghindari tubuhnya basah.


Setelah perjalanannya dari rumah, sekarang dia berada di depan sebuah pintu tua dari sebuah bangunan yang sebagian besar sudah hancur.



Tapi dari sekian banyak bangunan, tersisa sebuah pintu yang mengarah ke lorong bawah tanah.


Arsela membuka penutup kepalanya, lalu memperhatikan sekelilingnya. 


“Nona, ayo kita masuk.” sambut Sena.


Dia kemudian mengeluarkan bandul kristal, dimana saat berada di kegelapan, bandul tersebut langsung mengeluarkan cahaya terang.


Itu adalah Bloodstone. Batu sihir yang mampu mampu menyimpan energi sinar matahari saat siang hari dan menjadikannya cahaya penerang di malam hari yang bisa bertahan sampai jam subuh. Batu sihir yang sebagian besar digunakan di seluruh lampu di istana.


Dan Sena memilikinya, karena pemberian dari Nona majikannya itu. 


“Selain kau, apakah ada orang lain yang tahu?” tanya Arsela. Karena bersifat rahasia, Arsela selalu menyuruh Sena untuk selalu berhati-hati dengan sekitarnya. Agar tidak ada orang lain yang tahu, atau setidaknya sebagian kecil orang saja yang tahu apa tujuan dari Arsela meminta Sena mencari sebuah artefak sihir. 


“Ada satu orang lagi, yaitu kepala Guild. Saya tidak akan bisa menemukannya secepat ini tanpa bantuan dari orang itu, Nona.” jawab Sena, merasa bersalah karena harus bekerja sama dengan orang lain.


“Siapa kepala guild yang kau mintaibantuannya?”

__ADS_1


“Dionart.”


Mata Arsela membulat sempurna. ‘Bukannya itu kepala Guild Silviat? Kenapa Sena mampu bertemu dengan kepala guild misterius itu?’


__ADS_2