Putri Alstrelia

Putri Alstrelia
28 : Alstrelia


__ADS_3

Malam lagi-lagi kembali datang. 


Acara festival yang diadakan sepanjang jalan semakin memeriahkan suasana dari ibu kota.


“Mereka terlihat senang sekali ya Alres?” tanya Arsela kepada Alrescha yang kini sedang duduk di depannya persis.


Sesuai janji yang sudah disepakati tadi siang, Arsela dan Alrescha pergi ke salah satu restoran bintang lima. Karena sudah melakukan reservasi restoran seluruh lantai dua saja, maka kebersamaan mereka berdua tidak akan ada yang mengganggunya. Sebaliknya, dengan keadaanya yang ada di lantai dua, mereka berdua jadi bisa melihat pemandangan yang terjadi di luar bawah sana.


“Ya. Mereka terlihat bahagia.” jawab Alrescha, sambil menyesap cairan merah dari gelasnya. 


Arsela yang melihat mata berwarna lapislazuli itu menatap dingin orang-orang yang berlalu lalang dijalanan, membuat Arsela bertanya, “Apa yang terjadi? Dari tadi siang wajahmu terlihat tidak baik.” Arsela menatap khawatir Alrescha. “Apa jangan-jangan ini karena apa yang terjadi saat acara pertunangan kita kemarin?”


Mendengar Arsela menyinggung apa yang sudah terjadi, membuat Alrescha langsung menyuapi mulut Arsela dengan sepotong daging. “Bukan itu, apa yang sudah berlalu biarlah berlalu. Sekarang yang sedang aku pikirkan adalah kira-kira hadiah apa yang akan akan aku berikan kepadamu di saat ulang tahunmu nanti? Kau ingin apa?”


“................” Arsela langsung mengunyah sepotong daging itu, dan setelah menelannya Arsela langsung menjawab, “Aku tidak tahu apa yang aku inginkan, tidak usah memikirkan soal hadiah ulang tahunku.”


“Apa kau sedang menolak tawaranku?”


“Tidak.” Arsela menggeleng pelang. “Aku hanya tidak tahu apa yang aku inginkan, karena selama ini aku selalu hidup berkecukupan. Sampai aku sendiri jadi bingung, kira-kira apa yang sedang aku butuhkan saat ini?” Arsela melirik tunangannya sendiri dengan wajah malu-malu.


“................? Ada apa? Kenapa menatapku seperti itu?” Tanya Alrescha kepada Arsela.


“Mendekatlah. Di sudut bibirmu ada saus yang menempel.” pinta Arsela sambil mendekatkan serbet miliknya untuk menyeka sudut bibir Alrescha yang sedikit bernoda itu.

__ADS_1


Karena Arsela yang memintanya, Alrescha menurutinya. Dia sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, agar tangan Arsela jadi sampai. Arsela kemudian berdiri dan sedikit membungkuk ke depan, hingga tangan kanannya akhirnya sampai untuk membantu membersihkan bibir Alrescha dengan serbet.


SRET.


“..................” 


Alrescha langsung memandang wajah wanita di depannya dengan ekspresi datar. Sedangkan Arsela terus menatap wajahnya dengan ekspresi yang kian melembut, dan memperlihatkan rona pipinya yang sudah memerah karena menahan perasaan malu. “Apa ya-’


CUP.


“................!” Sesaat Alrescha sedikit membelalakkan matanya karena kecupan sesaat tadi yang Alrescha terima di bibirnya karena Arsela, tapi sesaat kemudian mata Alrescha kembali memperlihatkan sorotan matanya yang dingin lagi, seolah kecupan tadi tidak berarti apapun untuknya.


“Sudah.” kata Arsela, menyudahi perbuatannya yang serba singkat itu kepada Alrescha.


“Terima kasih.” ucap Alrescha kepada Arsela, karena sudah membantu membersihkan bibirnya.


Alsrescha dan Arsela pun kembali menikmati momen makan berduanya. Meskipun disamping itu semua, sebenarnya Alrescha diam-diam sedang memikirkan sesuatu tentang wanita itu.


‘Alstrelia.’ panggil Alrescha dalam diam. Dia menyuapi mulutnya dengan daging steak miliknya, tetapi arah tatapan matanya diam-diam terus tertuju untuk menjeling ke arah kerumunan orang-orang yang ada dalam kebahagiaan mereka masing-masing karena berkumpul dengan teman, saudara, maupun keluarga.


Di pikiran Alrescha, dia kembali menyadari dan berada dalam suasana penasarannya. Alrescha penasaran apa yang sedang dilakukan oleh Alstrelia saat ini?


Ketika dirinya berada direstoran mewah dan sedang makan berdua dengan Arsela di tempat yang sudah direservasi, ‘Kira-kira apa yang sedang dia lakukan?’ pikir Alrescha penasaran.

__ADS_1


Disini Alrescha kembali seperti tidak memperdulikan soal keberadaan Alstrelia yang entah sedang melakukan apa, Alrescha tidak tahu. 


Setelah mengetahui kalau adik aslinya masih menghilang, semua kenangan yang sudah dilaluinya membuat Alrescha akhirnya merasakan kesedihan, karena benar-benar belum menjadi keluarga sekaligus kakak yang baik untuk adiknya.


Seperti saat ini, ketika dirinya sedang makan makanan yang enak di tempat yang mewah, maka apa yang dilakukan Alstrelia ketika malam-malam seperti ini? Ketika mengingat adiknya tidak memiliki teman satu pun.


“................” Alrescha benar-benar terjerat akan semua kesalahan dari pikiran masa lalunya yang sudah dilakukan selama ini kepada adiknya, yaitu Alstrelia.


_______________


“Ini.” Elbert menyerahkan buku yang diminta Alstrelia.


“....................” Alstrelia seketika sadar kembali setelah beberapa waktu tadi serius membaca buku. Astrelia menerima buku yang disodorkan oleh Elbert, setelah itu dia mendongak keatas. Tepatnya ke arah langit-langit perpustakaan. Dia akhirnya menyadari kalau langit sudah berubah menjadi gelap. “Aku tidak sadar sudah selama ini di perpustakaan.” kata Alstrelia begitu saja.


Elbert ikut mendongak ke atas. “Sebaiknya kita pulang.”


“Itu juga yang aku pikirkan.” Alstrelia langsung menutup bukunya dan meletakkannya langsung di rak buku yang ada di belakangnya. Selagi itu pula, Alstrelia mengembalikan buku yang tadi diberikan oleh Elbert untuk dikembalikan ke tempatnya semula, yang kebetulan ada di rak bagian atas kepalanya persis.


“Nona, perpustakaan kami akan ditutup.” seorang wanita muda berkacamata bundar tiba-tiba datang memperingatkan Alstrelia dan Elbert kalau jam kunjungnya untuk hari ini sudah habis.


“Maaf merepotkan anda. Kami akan pergi sekarang juga.” Jawab Elbert, mewakili keterdiaman Alstrelia.


“Tidak masalah, karena kalian berdua sudah mengerti. Waktunya tinggal lima menit lagi.” kata wanita ini, lalu kembali pergi.

__ADS_1


“Kita pergi sekarang.” pinta Elbert kepada Alstrelia.


“........................” Tanpa sepatah kata lagi, Alstrelia berjalan pergi mengekori Elbert dari belakang. Untuk beberapa saat Alstrelia menjeling kebelakang, melihat deretan rak buku yang berjejer di belakang sana. ‘Ternyata aku bisa membaca tulisan dari dunia ini. Apa ini karena softlens yang aku pakai, atau karena apa? Aku merasa tidak pernah mempelajari tulisan bahkan bahasa yang seperti ini. Jika aku pulang, aku akan tanya pada raja. Karena dia yang lebih tahu apa yang aku lakukan sebelum aku berusia 7 tahun.'


__ADS_2