
KLEK.
Ketika kedua pintu kamar Alstrelia terbuka, Lena langsung termangu melihat kekacauan yang sedang terjadi di kamar majikannya.
CTANG!
BRAKK!
Dan kedua pedang kembali beradu.
CTANG!
Alrescha kembali menahan serangan dari Alstrelia, sebelum pedang milik Alstrelia memotong pinggangnya.
Alstrelia yang tidak mau kalah dengan kepiawaian dari Alrescha, segera menarik pedangnya lagi dan kembali diayunkan dari arah kanan ke kiri.
Alrescha yang sudah menghafal gerakan itu mencoba untuk menangkisnya lagi.
Tapi apa yang terjadi jika Alstrelia ternyata melakukan itu untuk sekedar tipuan belaka?
Alstrelia memang mengayunkan pedangnya dari kanan ke kiri, tapi nyatanya apa?
“...................!” sudut mata Alrescha menangkap teknik serangan Alstrelia berubah total.
Alstrelia melepaskan pedang dari tangannya, lalu dalam waktu yang bersamaan Alstrelia memutar tubuhnya 360 derajat dari kiri ke kanan dengan kaki langsung diayunkan ke arah Alrescha.
GREP.
Tepat saat mengayunkan kakinya ke tubuh Alrescha dan menendangnya dengan keras karena lengah dan menerima tipuan tekniknya tadi, tangan kirinya pun langsung menangkap kembali pedangnya tadi sebelum jatuh ke lantai.
BRAK!
Alhasil, tubuh Alrescha terkena tendangan telak dari Alstrelia dan akhirnya menghantam ke lemari dengan cukup keras.
“Bagaimana rasanya? Sakit kan?” cemooh Alstrelia pada Alrescha. Meskipun terlihat Alrescha masih bisa berdiri setelah tubuhnya menabrak lemari, tapi itu jelas sebuah hantaman yang cukup menyakitkan walaupun bagi seorang petarung, menabrak lemari adalah sebuah kecelakaan kecil.
Sekarang pedangnya dia acungkan tepat ke wajah Alrescha yang sduha kembali berdiri dengan tegak.
“Jika itu bisa melampiaskan amarahmu, aku tidak mempermasalah nya.” jawab Alrescha dengan wajah tenang.
“Tch…..” Alstrelia mendesis kesal karena tidak bisa membuat Alrescha kembali marah dan menantang seperti tadi malam.
Alstrelia yang masih tersulut dengan amarah yang tersisa, membuat Alstrelia langsung melempar pedangnya ke arah Alrescha. Dan…
JLEBB….
“Ha…!” Lena yang melihat pemandangan mengerikan itu langsung menutup mulutnya dan buru-buru memunggungi mereka berdua.
__ADS_1
Pedang yang Alstrelia lempar dengan sepenuh tenaga itu berhasil menancap ke pintu lemari, dan membuat sisi dari pedangnya, menggores pipi Alrescha.
“Apa kau sudah puas?” tanya Alrescha kepada perempuan yang baru saja melampiaskan amarahnya sendiri dengan pertarungannya tadi.
Alstrelia hanya berdiam diri sambil menatap Alrescha yang memiliki reaksi wajah yang sama dengan apa yang sedang Alstrelia buat.
“Jika belum, kita bisa melanjutkannya lagi.”
||
“Aku hanya bisa puas jika aku memiliki lawan yang seimbang.”
Ucap mereka secara bersamaan.
‘Tuan dan Nona!’ Lena tergemap saat pertama kalinya Alstrelia dan Alrescha bisa berbicara secara bersamaan.
“Kalau mau, kita bisa pindah tempat dan aku akan melayanimu dengan sungguh-gungguh.”
||
“Kau kehabisan waktu untuk memuaskanku, karena mereka sudah mulai bergerak.”
Untuk kedua kalinya, Alrescha dan Alstrelia kembali berbicara di waktu yang bersamaan.
Alrescha dan Alstrelia sama-sama saling menatap satu sama lain.
GREP.
Alstrelia dengan sangat mudah, menangkap senjatanya sendiri. Dia kembali menghentakkannya dan memakaikannya lagi ke rok miliknya.
“Aku harus bersiap dulu.” ucap Alrescha sambil menyeka darah yang sempat merembes keluar dari kulit pipinya dengan punggung tangannya, setelah itu dia berjalan keluar dari kamar Alstrelia.
Lena yang melihat kepergian dari Alrescha, buru-buru kembali menatap Alstrelia.
Terlihat wajah yang semula serius itu, berubah 180 derajat menjadi lembut kembali.
“Lena, apa kau bisa membereskan kamar ini seperti sebelumnya?” tanya Alstrelia pada Lena yang masih tercengang.
Bagaimana tidak terkejut saat beberapa menit lalu, Alstrelia dan Alrescha seperti dua orang musuh bebuyutan yang sedang bertarung demi membalaskan sebuah dendam lama, tapi semua itu langsung berubah seperti angin lalu saja.
‘Kemana pertengkaran dari kakak beradik tadi?!’ Tidak seperti yang diharapkan oleh seseorang yang akan menangis atau merasa khawatir karena melihat kedua majikannya bertengkar, Lena adalah salah satu orang yang memiliki pemikiran berbeda dari pada orang lain.
“Nona! Kenapa Nona menghentikan pertengkaran antara anda dan Tuan?” tanya Lena secara tiba-tiba kepada Alstrelia.
“Lena? Apa maksudmu kau ingin aku melanjutkan pertengkaran tadi?” tanya Alstrelia balik dengan senyuman tawar.
Lena mengangguk setuju. “Karena tidak pernah melihat pertengkaran antara kakak dan adik, jadi sesaat tadi entah kenapa-” Lena tiba-tiba meletakkan tangan kanannya di dada, lalu kembali berkata : “Rasanya sangat menakjubkan. Jika seluruh Kekaisaran tahu, Nona dan Tuan akan lebih disegani sebagai dua bersaudara yang kuat.”
__ADS_1
‘Apakah itu pujian?’ Alstrelia hanya menanggapi harapan milik Lena dengan senyuman canggungnya.
“Oh ya! Nona tadi bilang ‘bergerak’ apanya yang sedang bergerak?” Lena benar-benar bertanya dengan wajah polosnya.
Tapi karena itulah, Alstrelia pun memberitahu Lena maksud dari ucapannya tadi. “Monster.”
“Ya?” Senyuman penuh harap tadi berubah menjadi senyuman yang terlihat di paksakan. “Tadi anda bilang monster? Yang tinggi besar dan kuat itu?”
“Iya. Monster tinggi bertubuh besar dari berbagai ras hewan yang terlihat kuat jika dipandang dari sudut mata manusia biasa.” jawab Alstrelia se jelas-jelasnya, sampai dia berani menyebutkan lagi kata manusia.
“Apa?!” reaksi terkejut Lena yang sudah sangat terlambat itu berhasil memicu hati Alstrelia yang tergelitik karena tingkahnya itu. “Berapa banyak?” Lena benar-benar ingin tahu.
“Kalau tidak salah ada-” sebagai ganti dari kalimatnya yang menggantung, Alstrelia menunjuk satu jarinya kepada Lena.
“Satu peleton?”
Alstrelia menggeleng pelan, berusaha agar Lena menebaknya lagi.
“Seribu?”
Gelengan kembali terjadi.
“Sera-”
“Shh~” Tepat sebelum Lena mengatakan seratus ribu, Alstrelia mendesis agar Lena diam. Karena tidak mau ada yang mengetahui isi pembicaraan mereka berdua, Alstrelia kemudian memberitahunya lewat pikiran. “Benar, seratus ribu bahkan lebih. Apa kau tahu sesuatu?”
“Ehmmm…….” Lena mendekap tubuhnya sendiri dengan wajah berpikirnya. “Ini cukup aneh. Mengingat selama lebih dari 10 tahun ini tidak ada atau jarang terlihat adanya monster.
Dan anda bilang sekarang pasukan sebanyak itu sedang bergerak, bukannya berarti ada sesuatu yang mengendalikannya?
Nona, kemana arah para monster itu pergi?”
“Ke sini.”
“Ha?!” Lena terkejut untuk yang kesekian kalinya. Dia tidak menyangka kalau pasukan sebesar itu akan datang menyerang Kekaisaran Regalia.
Bukan Kerajaan atau Kekaisaran dari negara lain, tapi ke Regalia!
“Jangan-jangan ini juga ada hubungannya dengan kelompok itu! Kelompok Cincin Matahari!”
“Kenapa Cincin Matahari? Kenapa bukan Matahari Cincin.”
“Mereka memang menyebutnya seperti itu! Pasti ini ulah mereka, agar Kekaisaran hancur!” Meskipun berbicara lewat kemampuan telepati, Lena terus menggebu dengan tebakannya sendiri kalau serangan dari monster yang akan terjadi itu, akibat ulah dari suatu kelompok Cincin Matahari.
Tapi, memangnya apa tujuan sebenarnya dari kelompok itu?
“...................” Alstrelia terdiam mendengar semua ocehan dari Lena, dan membuatnya berpikir, ‘Apakah ini juga artinya ada hubungannya dengan Kaisar palsu itu?’
__ADS_1
Walaupun, belum memiliki bukti seutuhnya untuk menuduh seseorang, tapi Alstrelia tetap saja mempunyai kecurigaan besar terhadap Kaisar.