Putri Alstrelia

Putri Alstrelia
173 : Alstrelia : Insiden untuk mereka semua


__ADS_3

"Hahaha....." Alvaron tertawa hebat melihat novelnya sendiri jadi berubah secara otomatis.


"Tuan, jaga image anda. Mereka semua sedang melihat anda loh," Peringat ajudan dari Alvaron ini, karena melihat Yang Mulia Raja mereka baru saja tertawa lepas untuk pertama kalinya.


"Apakah aku yang sudah setua ini tidak boleh tertawa ketika mereka saja bisa tertawa?" Tanya Alvaron kepada ajudan miliknya itu sekaligus untuk mereka semua, yang terlihat terheran karena baru pertama kali Raja mereka bisa tertawa lepas di depan banyak orang.


'Tua apanya? Anda saja tetap awet muda seperti itu.' Batin salah satu perdana menteri yang kebetulan sedang hadir dalam rapat rutin mereka.


Mereka saat ini sedang ada di dalam ruang rapat. Meja panjang yang menghiasi ruang rapat itu, memperlihatkan para bawahan Alvaron yang duduk berjejer memenuhi sisi kanan dan kiri meja.


Namun dengan adanya laptop di depan mereka semua, dan salah satunya Alvaron, maka mereka tidak tahu apa yang membuat Raja mereka bisa tertawa keras seperti itu.


"Memangnya apa yang membuat anda tertawa?" Salah satu diantara mereka semua pun berani bertanya, untuk menghilangkan rasa penasaran mereka.


"Novel."


"Apa?"


"Ya?"


"Maksud anda-"


Semua orang yang bingung itu langsung mendapatkan jawaban jelasnya dari Alvaron lagi. "Aku tidak sengaja menemukna novel yang lucu, apakah ada masalah dengan itu?"


Awal dari senyuman lebar itu berakhir dengan ekspresi wajah serta tatapan mata Alvaron yang langsung berubah menjadi serius.


"T-tidak Yang mulia. Anda sah-sah saja membaca novel yang ternyata membuat anda tertawa bahagia seperti itu." Ungkap perdana menteri tadi, mengoreksi umpatannya yang sebenarnya sudah dia katakan di dalam hatinya tadi.

__ADS_1


"Iya Yang mulia, anda santai saja membacanya, sedangkan kami akan terus memberikan laporan kami kepada anda." Ucap perdana menteri yang lainnya.


Mau tidak mau harus mendukung apa yang terbaik agar mood milik Raja mereka tidak berubah menjadi bengis, karena sekalinya membuat pria tampan yang sudah punya satu orang anak berusia delapan belas tahun itu marah, satu gedung pencakar langit yang sedang mereka gunakan itu bisa langsung hancur.


"............." Awalnya Alvaron diam dan memperhatikan satu persatu anak buahnya itu dengan tatapan penuh selidik.


Melihat tidak ada yang mau protes dengan apa yang sedang dia lakukan karena di tengah rapat, justru dirinya sedang membaca Novel yang di masuki oleh anaknya serta salah satu anak buahnya, maka Alvaron kembali menyunggingkan senyuman manis yang penuh daya pikat, bahkan untuk mereka semua yang kebanyakan adalah pria.


"Bagus. Aku apresiasi keputusan kalian tidak ada yang mau protes denganku. Silahkan berikan laporan kalian, dan aku akan membaca novelku lagi, sambil mendengarkan kalian semua bicara." Perintah Alvaron kepada semua penghuni yang hadir dalam rapat mingguan mereka.


"Baik." jawal semua orang di sana.


"Saya akan memberikan laporan milik saya mengenai jumlah pasukan yang sudah siap untul berperang." Kata perdana menteri ini.


'Sebenarnya apa yang dipikirkan Yang mulia Raja sih? Secara tidak langsung, perilaku Yang mulia juga mempengaruhiku.' Pikir Ajudan ini, lalu, karena penasaran juga, maka dia pun sedikit melirik kearah laptop yang digunakan oleh majikannya itu.


Dan di saat yang sama pula, ketika ajudan ini hendak melihatnya juga, tiba-tiba saja Alvaron menggebrak meja.


BRAKK..!


Meja yang tiba-tiba mendapatkan bogem mentah oleh Alvaron itu berhasil membuat meja sepanjang tujuh meter itu langsung hancur.


Dan sebelum itu terjadi, mereka semua buru-buru mengangkat laptop mereka sebelum rusak karena jatuh.


"Y-yang mulia? Apakah ada yang salah dengan laporan milik saya?" Tanynya, karena tiba-tiba kalimatnya langsung di potong oleh tindakan keras milik Alvaron yang menandakan kalau laporannya tidak sesuai dengan keinginan dari sang Raja yang terlihat marah itu.


"Yang mulia...anda kenapa?" Bisik ajudan ini kepada sang Raja yang terlihat marah itu.

__ADS_1


"Apa kau buta? Padahal dari tadi sempat melirik kesini terus. Lihat ini! Lihat!" Alvaron yang marah itu, menarik dasi yang di gunakan oleh ajudannya untuk segera membungkukkan tubuhnya dan melihat apa yanga ada di dalam layar komputer yang memperlihatkan satu cerita mengenai novel yang sedang dia baca.


"A-apa?!" Ajudan ini pun sama-sama terkejut. "Ini tidak boleh terjadi, saya harusnya datang kesana untuk memenggal kepalanya karena berani melakukan itu kepada Tuan Putri." Bahkan ekspresi dari ajudan Alvaron itu jadi sama-sama memperlihatkan kemarahannya dengan apa yang ada di dalam laptop milik Alvaron.


'Sebenarnya ini kenapa? Kenapa aku bisa punya Raja yang seperti ini? Dia pasti sibuk dengan Novelnya lagi. Hanya saja...aku penasaran kenapa wajah yang mulia Raja dan ajudannya itu bisa berekspresi marah seperti itu? Lalu apa hubungannya dengan Tuan Putri Alstrelia yang katanya sedang menghilang?' Pikir perdana menteri ini atas peristiwa dari rapat mereka semua yang sudah kacau balau oleh sang Raja sendiri.


__________


"A-apa?! Tuan! Kenapa anda disini?!" Tanya Lena sambil membuat penghalang tubuh untuk melindungi penampilan majikan palsunya itu dari pada terlihat oleh pria berambut merah itu!


"A-aku tidak sengaja, lagian dia sudah mengizinkanku untuk masuk" Chavire pun langsung berbalik menghadap ke pintu seraya tangan kanannya menunjuk pada satu wanita yang tidak lain adalah Elda sendiri.


"Tapi anda melihatnya kan?" Tanya Lena dengan nada penuh menuntut.


"K-koman...aku tidak sengaja. Lagi pula, kenapa koman langsung keluar begitu saja?" Elda pun jadi merasa bersalah dengan apa yang dilakukannya tadi, yaitu mengizinkan Chavire untuk masuk kedalam kamar mereka.


"............" Alstrelia memang diam, dia pun sampai mendelik satu persatu wajah dari kedua orang yang berhasil membuat perkara di dalam kamarnya itu, karena Elda mengizinkan Chavire masuk kedalam kamar tanpa minta izin darinya.


Karena dia tidak mau suasananya menjadi runyam, maka Alstrelia pun segera memperbaiki handuk kimono miliknya, mengikat ikat pinggangnya agar kedua sisi dari handuk yang sedang dia pakai itu menutupi bady tubuhnya.


Setelahnya, Alstrelia mengulurkan tangannya kedepan dan meraih tangan Lena yang sempat di rentangkan ke samping kanan untuk menjadi tameng miliknya, karena tiba-tiba ada seorang pria masuk kedalam kamarnya, dan membuat dirinya jadi bahan tontonan sesaat dari seorang Chavire.


"Lena," Pangggil Alstrelia, agar Lena tidak bersikap waspada lagi.


"Tapi Nona- orang asing ini-"


"Aku sendiri tidak mempermasalahkannya, kenapa kalian sangat bermasalah dengan dia yang tidak sengaja melihatku keluar dengan penampilanku tadi?" Tanya balik Alstrelia. "Lalu untukmu, apa yang membuatmu datang kesini? Masih belum kapok?" Tanya Alstrelia kepada Chavire yang saat ini masih memunggunginya. "Berbalik, aku ingin tanya apa tujuanmu datang kesini." Perintah Alstrelia.

__ADS_1


__ADS_2