
“Baiklah, saya akan membawa anda keliling kota.”
“Tapi wajahmu terlihat meragukan.” sela Alstrelia, mencibir Elbert yang tidak terlihat serius.
“Itu karena anda juga seperti sedang memiliki niat terselubung.” kata Elbert di detik itu juga.
Alstrelia tersenyum smirk. “Kau pintar menilai apa yang sedang aku pikirkan. Tapi keinginanku ini mudah kau kabulkan, jadi tidak perlu khawatir.”
‘Karena kau bilang jangan khawatir, justru itulah yang membuatku semakin khawatir.’ Pikir Elbert.
“Apa adik dari anak itu adalah perempuan yang tidak pernah keluar rumah?” tanya Alstrelia tanpa sungkan sedikitpun kepada Elbert.
Elbert langsung memberikan peringatan di detik itu juga. “Sebaiknya jaga ucapan anda. Dia adalah tuan muda Alrescha, setidaknya jangan panggil tuan muda dengan sebutan seperti itu.”
“Kalau begitu aku harus memanggilnya apa?” tanyanya dengan wajah bingung, seolah tidak mengerti. “Biasanya Alstrelia yang itu, memanggil pria itu apa?”
“................!” Sayangnya Elbert langsung terdiam dengan pertanyaan sepele yang dilontarkan oleh mulut wanita ini.
Elbert sejujurnya tidak tahu persis nona memanggil tuan Alrescha dengan panggilan apa, karena Elbert tidak pernah sekalipun mendengar nona Alstrelia memanggil Alrescha itu, baik dengan sebutan kakak ataupun nama kakaknya secara langsung.
Alstrelia menghela nafas dengan kasar dan menatap Elbert dengan tatapan malas. “Sebenarnya keluarga macam apa yang kau layani itu?” tanya Alstrelia dengan sedikit memiringkan kepalanya.
“Sebaiknya jangan merendahkan keluarga tuan kami!” Kata Elbert dengan penuh penekanan.
“..................., sudahlah.” Alstrelia menyambar jubah yang diberikan oleb Elbert itu dan langsung memakainya. “PIkirkan itu nanti saja, sekarang aku ingin pergi tempat rekomendasi darimu.”
Elbert yang kembali tersadar dari lamunan sesaatnya setelah pakaian yang ada di tangannya langsung disambar begitu saja, langsung beranjak dari kursinya untuk turun dari kereta kuda.
Tapi..
“Tunggu.” ucap Alstrelia sambil menarik jubah Elbert dengan sedikit kuat, sehingga membuat Elbert yang merasakan adanya tarikan kuat di pakaiannya, langsung membuat Elbert kembali terduduk secara otomatis.
BRUK!
“....................!” Elbert sedikit terkejut karena tarikan dari tangan wanita ini cukuplah kuat. “Ada apa lagi?”
“Pinjamkan pedangmu.” pinta Alstrelia sembari menunjuk pedang besi yang dibawa oleh Elbert kemanapun itu.
Elbert melirik pedangnya sesaat, lalu kembali menatap Alstrelia sambil menjawab, “Anda tidak diperkenankan meminjam senjata berbahaya ini.”
“Aku hanya meminjamnya saja, apa yang berbahaya? Lagipula aku tidak akan menggunakan itu untuk menyerang siapapun.”
“Kalau begitu untuk apa?”
__ADS_1
“Apa yang lebih mengkilap dari kaca jendela ini? Itu adalah pedang besi milikmu. Aku hanya meminjamnya untuk bercermin.” jelas Alstrelia lagi, sukses membuat wajah Elbert terbengong.
‘Kenapa dia sampai punya ide macam itu untuk menggunakan pedang sebagai cermin?’ Elbert benar-benar dibuat geleng-geleng kepala dengan cara berpikir Alstrelia yang ini, karena memiliki cara berpikir yang aneh juga. “Anda bisa melakukannya di butik.”
Salah satu alis Alstrelia terangkat. “Kau bukannya tadi bilang untuk menyembunyikan identitasku? Padahal dengan rambut, wajah, mata ini, mereka tetap akan seketika tahu kalau aku ini dikira Alstrelia, adik dari Alrescha itu. Apalagi jika dipikir kalau Alstrelia dari nona kalian adalah orang yang tidak pernah keluar dari rumah, berarti jika keberadaanku ini sedang berada di luar diketahui, artinya aku sama saja menarik perhatian orang lain secara tidak langsung untuk nona kalian, kan?” jelas Alstrelia panjang lebar.
Dimana ucapan dari Alstreia yang ini, benar-benar tidak bisa Elbert sangkal, karena semuanya memang masuk akal dan terdengar rasional.
Karena itu Elbert kembali dibuat kalah adu mulut dengan Alstrelia yang ini. ‘Dia wanita yang mengerikan.’ pikir Elbert.
Dengan terpaksa Elbert akhirnya mengeluarkan pedang miliknya yang berkilau itu. Dia memegangnya tepat di depan wajah Alstrelia.
“Benar, begitu.” puji Alstrelia kepada Elbert yang mau menuruti permintaannya itu.
“..................” Elbert hanya terdiam ketika tiba-tiba dipuji hanya karena hal sepele seperti itu.
Kini Alstrelia mempertahankan posisinya untuk tetap berada di depan pedang milik Elbert itu, selagi itu pula tangan kanannya merogoh saku yang ada di balik rok pendeknya itu.
“Itu apa?” Tanya Elbert penasaran dengan kotak kecil berbentuk persegi panjang, dan memiliki ukuran separuh jari kelingking milik Elbert.
“Barang untuk penyamaran.” jelas Alstrelia dengan singkat. Dia membuka kotak berukuran mini itu, dan langsung mengambil benda tipis transparan dengan ujung jari telunjuknya dan jari tengahnya. Setelah itu, Alstrelia membuka matanya lebar-lebar dan semakin mendekatkan kedua ujung jari itu ke arah bola matanya, dan karena itu pula Alstrelia juga semakin mendekatkan wajahnya di depan pedang.
“Hei ka-” Elbert yang hendak memberi wanita ini peringatan, langsung kehilangan kata-katanya saat melihat mata Alstrelia saat ini sudah berubah warna menjadi warna hijau zamrud.
“Aku kenapa?” tanyanya bingung, karena kalimat Elbert langsung menghilang begitu saja.
“Secara singkatnya, cara kerja barang ini seperti kacamata, tapi hanya ukuran dan komposisinya untuk retina mataku saja. Intinya ini bukan sihir, dan aku bisa melepaskan ini kapanpun aku mau.”Jelasnya.
“Darimana asal barang itu?”
“Ini aku bawa sendiri dari tempat asalku.” jawab Alstrelia, menutup dan menyimpan kotak penyimpanan softlens miliknya itu ke dalam sakunya lagi.
Setelah mengurus kedua matanya, sekarang hanya tinggal permasalahan rambutnya. Karena sekarang rambutnya terurai, maka Alstrelia kepang dan menggulung nya dengan sebuah tusuk rambut yang sebenarnya tusuk rambut itu adalah sebuah pulpen.
Alstrelia berubah menatap Elbert yang seperti patung itu.
“Aku sudah selesai, apa sekarang kau akan menggorok leherku?” tanya Alstrelia sambil memberikan senyuman miringnya kepada Elbert.
CLING.
“.................”
“.....................!” Kilauan dari bilah pedang Elbert segera mengenai wajah Alstrelia persis. Membuat Elbert buru-buru menarik pedangnya dan menyimpannya balik di sarung pedang.
__ADS_1
“Kenapa tidak mencobanya? Bukankah aku sudah banyak bicara dengan omong kosongku yang terus tepat sasaran ke hati kalian?”
DEG!
‘Jujur aku ingin sekali menutup mulutnya yang cerewet itu, tapi-’ Elbert kembali lagi kepada kenyataannya. Kalau perempuan yang ada di depannya adalah Alstrelia yang benar-benar serupa dengan nona Alstrelia mereka.
Meski Alstrelia yang ini sungguh banyak bicara dan membuat Elbert benar-benar ingin membungkam mulut cerewet itu, tapi disatu sisi perempuan ini harus mengisi kekosongan di kediaman Duke Fisher.
Itulah kenapa Elbert harus dibuat bersabar dengan sifat dari Alstrelia yang ini.
Misalnya saja seperti saat ini. Dimana seharusnya lelaki turun lebih dahulu dan menyambut tangan nona majikannya dengan sopan santun, tapi tidak dengan yang ini.
‘Dia ini!’ Elbert sudah ditinggal turun lebih dulu oleh Alstrelia.
“Kau membuatku menunggu Elbert.” Celetuk Alstrelia sambil menjeling kearah Elbert yang masih ada di dalam kereta kuda.
‘Dia memanggil namaku langsung?’ detik hati Elbert. dengan mata mata membulat sempurna. ‘Tapi tatapan matanya itu, itu benar-benar seperti tuan muda!’ pikirnya lagi.
Meski sekarang warna mata Alstrelia berwarna hijau zamrud, tapi tidak dengan cara sepasang mata itu menatap tajam ke arahnya. Bagi Elbert, itu seperti Alrescha yang sedang menyamar seperti seorang perempuan.
___________________
Di sisi lain.
“Hachumm…!” Alrescha tiba-tiba saja bersin keras.
“Apa anda sedang sakit tuan?” Tanya sang pelayan, saat melihat tuan Alrescha yang berjalan di belakangnya tiba-tiba bersin.
“Tidak.” jawab Alrescha dengan dingin.
“Baiklah kalau begitu.” kata sang pelayan, setelah mendapatkan konfirmasi dari Alrescha langsung.
‘Kira-kira siapa yang sedang membicarakanku dari belakang? Apa wanita itu?’ pikir Alrescha, saat ini sedang berjalan dipimpin oleh seorang pelayan untuk pergi menemui seseorang yang memiliki kedudukan tertinggi di kekaisaran Regalia.
“Kita sudah sampai, tuan.”
Alrescha kemudian berdiri tegap penuh dengan wibawa, lalu menunggu kedua kesatria penjaga itu, membukakan pintu itu.
“Alrescha Vion Beltmore Fisher memasuki ruangan.”
Setelah namanya dipanggil, Alrescha pergi melangkah masuk melewati kedua pintu besar itu.
TAP…….TAP…….TAP……
__ADS_1
Setelah 50 meter berjalan menyusuri karpet merah, Alrescha akhirnya berhenti dan memberikan salam hormat kepada sang kaisar.
“Alrescha Vion Beltmore Fisher menghadap sang matahari kekaisaran.” ucap Alrescha.