
KLANG….
Pedang yang dia genggam langsung terpental jauh ke belakang dari tempat Alstrelia berdiri.
Dan dalam akhir pertarungan itu, pria tersebut jatuh terduduk dengan ujung pedang sudah berhenti tepat di jarak 7 cm sebelum ujung pedang itu benar-benar menusuk bola matanya.
Tapi perlahan namum pasti. Wajah dari pria itu mulai di lahap sebuah bayangan dari sosok Alstrelia.
“..............” Dia pun dibuat sedikit mendongak ke atas, dan dia akhirnya di pertemukan pemilik dari iris mata berwarna biru itu tengah menatapnya dengan tatapan tajam.
Alstrelia.
Tatapan mata yang tertuju ke arahnya terlihat seperti orang yang benar-benar memiliki dendam yang cukup besar padanya, dengan bukti sebuah sorotan mata membunuh.
Aneh…
Benar saja aneh, padahal beberapa waktu lalu wajah cantik itu selalu di hiasi senyuman yang memukau. Tapi semua ingatan itu seperti imajinasi berlebihan yang muncul dari otaknya saja karena sebagai pria normal, pasti punya imajinasi lebih jika sudah bertemu dengan wanita cantik yang sangat menarik perhatian.
Lalu seperti apakah sosok perempuan yang ada di depannya itu?
Itu adalah sosok dari seseorang yang mampu membantai semua orang yang ada di sekitarnya tanpa pandang bulu.
Itulah sosok dari Alstrelia saat ini yang masih berdiri di tengah hamparan tubuh manusia yang tergeletak di di lantai dengan pedang diacungkan ke depan wajah pria itu persis.
“Heh~...” Alstrelia yang dari tadi diam, kini merekahkan senyuman mencibir.
“..................!” sejenak pria ini terpegun ketika saat ini dia akhirnya melihat senyuman devil itu muncul dari bibirnya Alstrelia.
“Ekspresimu sangat lucu,” gumam Alstrelia dengan tatapan merendahkan, lalu pedang yang tidak jadi di hunuskan masuk menusuk kepala pria itu, segera digunakan untuk menusuk dada pria tersebut tanpa merasa bersalah.
JLEB..
“Arrhh…” rintih pria tersebut, akibat dada sebelah kirinya di tusuk dengan ujung pedang milik Alstrelia.
Walaupun tidak begitu dalam, itu tetap saja menyakitkan.
“Aku memberimu tanda,” imbuh Alstrelia dengan ekspresi wajah masih saja bertahan layaknya orang yang memiliki dendam besar kepadanya.
Tapi sebenarnya bukan itu yang membuat Alstrelia berkespresi seperti seorang iblis yang kehausan darah.
Meow~
Tapi karena kucing berbulu abu yang dari tadi duduk menonton itulah yang menjadi penyebab Alstrelia bersikap demikian mengerikan kepada pria itu.
Kenapa?
Karena keeberadaan dari kucing yang tidak berbuat apa-apa itu adalah sesuatu yang memang hariusnya dia singkirkan dari awal.
Karena apa?
Meow~
Karena kucing itu berbeda dengan kucing yang Alstrelia bunuh sebelumnya.
Alstrelia menatap bola mata kucing yang memiliki retina berbeda, yang satu berwarna kuning dan yang satunya lagi berwarna biru.
Meow~
“...................!” muak dengan suara kucing yang terus saja mengeong, Alstrelia langsung mengambil tumpuan dengan cepat untuk berlari ke arahnya.
TAP!
Meow!
Melihat Alstrelia berlari ke arahnya, kucing itu langsung berlari menghindarinya. Tetapi tepat saat melompati para tubuh tamu undangan yang tergeletak di lantai, sebuah tembakan langsung menembus tubuhnya.
__ADS_1
DORR..!
Dalam sekali tembakan, tubuh kucing itu langsung terjatuh bersimbah darah.
‘Tembakan apa tadi?!’ pekik Arsene.
‘Tadi asalnya?!’ pria yang di berikan tanda tusukan di dadanya itu mencari sudut dari asal tembakan tadi.
Dan itu ternyata dari sudut atas langit-langit dari Ballroom.
Karena letaknya tinggi dan juga jauh, maka semua orang tidak akan menyadari keberadaan dari benda yang menempel di sana?
NGINGG…..
Itu tidak menempel, melainkan terbang dan saat ini benda tersebut terbang menghampiri Alstrelia.
“Jangan-jangan perempuan itu bukan Putri!” tutur penjahat yang tersisa.
“Dia pasti Iblis yang menyamar menjadi putri!” sahut penjahat yang kedua.
Mereka berdua adalah penjahat yang Arsene urus. Tapi karena Arsene masih memasang wajah tercengang pada Alstrelia, kedua orang yang sudah panik karena keberadaan dari Alstrelia yang sangat di luar perkiraan mereka tidak bisa dikalahkan dengan mudah, membuat mereka langsung kabur.
“Siapa yang menyuruh kalian pergi?” tanya Alstrelia.
Sadar dengan dua orang yang akan kabur dari sana, Alstrelia melirik ke arah mereka berdua dengan sorotan mata yang dingin. Tentu saja layaknya reaksi wajah tidak puas hati Alstrelia, ternyata juga memberikan pengaruh pada benda yang terbang di samping kepalanya.
Alat gimmick berbentuk layaknya salib itu masih terbang di samping kepalanya, tapi ujung dari benda tersebut mengarah pada mereka berdua.
Alstrelia sudah membidik mereka berdua dengan senjatanya.
Saat ujung dari senjata itu mulai mengumpulkan cahayanya untuk menembak mereka berdua, sesuatu lain yang lebih mengejutkan menjadi hadiah untuk mereka semua.
“Anghh~” Suara lenguhan tidak jelas itu langsung menyita perhatian mereka berlima.
Alstrelia menatap darah kucing yang tercecer itu.
Dan sesuatu yang dicarinya, darah itu ternyata mencari tubuh manusia. Dara tersebut masuk ke dalam tubuh para tamu undangan yang tergeletak itu entah itu masuk lewat telinga, maupun lewat mata.
Setelah masuk, semua tubuh mereka semua tiba-tiba merespon. Mereka tiba-tiba saja bangkit dan akhirnya berdiri.
“Kenapa tubuhku tiba-tiba bergerak sendiri?” gumam wanita bergaun putih itu, saat sudah sadar kembali, dia terkejut dengan tubuhnya tiba-tiba saja bergerak sendiri tidak sesuai dengan keinginannya.
“A-aku pikir tadi aku mati. Tapi tanganku-” satu keluhan dari suara lainnya pun muncul.
“Kenapa dengan tubuhku? Eh?!” suara protes itu lagi-lagi muncul dan terus mengisi ke seluruh sudut ruangan.
Sampai akhirnya mereka semua terdiam dan tiba-tiba semua orang menoleh ke arah Alstrelia.
“Apa yang tiba-tiba terjadi dengan mereka semua?” Bisik salah satu penjahat yang hendak melarikan diri itu.
“Ini kesempatan kita untuk kabur!” temannya pun memberikan saran kepadanya.
‘Apa aku menyuruh kalian kabur?!’ Tidak terima kedua orang penjahat itu kabur di saat awal kekacauan itu datang, Alstrelia langsung menembak mereka berdua dengan senjatanya gimiknya.
DORR….
DORR……
"Akhh!"
Di saat yang bersamaan, semua orang yang berperan menjadi tamu undangan tiba-tiba berlari ke arah Alstrelia.
“Jadi ini maksud dari keberadaan kucing itu?” gumam Alstrelia disertai tawa cekikikan. ‘Awalnya aku pikir kucing-kucing itu adalah kucing yang membawa kematian untuk siapapun yang menyentuhnya. Tapi saat aku membunuhnya, ternyata darah dari kucing yang mati itu adalah faktor utama untuk melengkapi proses dari tujuannya untuk mengendalikan tubuh semua orang. Dan sekarang mereka semua datang ke arahku? Ha~ Apa kaisar palsu itu tergila-gila denganku sampai menyiapkan rencana semeriah ini untuk menangkapku?’
Dan Alstrelia pun sudah sepenuhnya paham kalau pesta malam ini adalah perayaan khusus yang diperuntukan untuk Alstrelia seorang.
__ADS_1
Lalu seseorang yang bisa mengendalikan permainan rumit dan besar itu tentu saja siapa lagi kalau bukan Kaisar.
DRAP…..DRAP…...DRAP…….
Ketika semua orang berbondong-bondong berlari ke arah Alstrelia, Alstrelia sendiri masih diam saja.
Alstrelia sedang berpikir, apakah dia akan membunuh semua orang yang ada di sini?
Tapi jika membunuh mereka, maka apa jadinya jika adik Alrescha yang asli sudah kembali?
Alstrelia akan dipandang sebagai pembunuh berantai.
Itulah berita besar yang kemungkinan akan terjadi.
Dan nama baik Fisher akan jatuh.
“Apa ini ulah dari kelompokmu juga?” tanya Alstrelia secara mendadak kepada pria yang disampingnya itu. Musuh yang beberapa waktu lalu Alstrelia kalahkan.
“Bukan, ini bukan bagian dari rencana kelompokku.” jawab pria ini.
“Jika kau jujur siapa yang menyuruhmu untuk menculikku, aku akan membuatmu bekerja di kediaman Fisher.
Gaji di sana lebih tinggi, dan kau sendiri jadi punya kehormatan sendiri jika bekerja di sana. Dan salah satu keuntungan lainnya, kau tidak akan masuk dalam perangkap dari klien kau sendiri. Kau tahu, Alrescha adalah orang yang memiliki tanggung jawab ketat pada semua bawahannya, kau tidak akan rugi sama sekali.” hasut Alstrelia kepada pria tersebut. “Lalu sebenarnya aku tahu-”
Alstrelia kemudian menoleh ke arah pria tersebut, dan menatap wajahnya dengan intens.
“Kau pasti adalah orang yang menyerangku di hari saat aku berkuda di padang rumput, kan?”
‘Seberapa banyak yang dia tahu?!’ detik hatinya.
“Pikirkan itu,” tambahnya.
Setelah berkata seperti itu untuk menghasut pria itu bekerja sama dengannya, Alstrelia kembali melihat ke depan.
Semua orang benar-benar seperti sedang terobsesi dengannya, karena mereka semua rela berlari berdesak-desakkan demi pergi ke arah dimana Alstrelia berdiri.
“Mereka masih hidup, tidak mungkin di bunuh kan? Mereka sem-”
“Itu akan menjadi urusanku sendiri.” sela Alstrelia dengan cepat. “Kau tidur saja sana, dan ingat ucapanku tadi.” imbuhnya, dengan nada ketus.
‘Apa maksudnya?! Tid-’ belum sempat mengutarakan pikirannya, tiba-tiba suara dengungan yang menyakitkan itu langsung menyeruak masuk kedalam indera pendengarannya dan otaknya. “Akhh…!” pekik pria ini saat gendang telinganya seperti akan pecah. ‘Apa yang dia lakukan?!’ pria ini bertanya dengan wajah tersiksa dan di bawah tekanan merasa penasaran dengan Alstrelia yang ternyata masih saja berdiri dengan senyuman kemenangan terukir di bibirnya.
“Kenapa aku harus membunuh kalian? Menodai tanganku dengan tubuh kalian yang penuh dosa itu?” gumam Alstrelia melihat semua orang yang hendak datang mengeroyoknya, langsung berjongkok dan berbaring menahan dengungan yang menyakitkan telinga mereka.
“Akhh! Ini sakit sekali!” teriaknya.
Tapi ada juga yang bertahan dengan suara keras itu dan terus berlari menyerah kearahnya.
Banyak yang bisa bertahan, dan rata-rata adalah para laki-laki.
Benar, karena tidak semua tamu undangan dari kalangan laki-laki adalah manusia biasa, mereka pastinya bisa menahan serangan suara dari Alstrelia.
“Ternyata kalian ngotot juga,” cibir Alstrelia, lalu dia bergerak maju dan terpaksa melawan mereka yang masih bertahan itu.
CTANG…!
Mereka yang bisa bela diri, mengambil apapun yang bisa di gunakan untuk senjata mereka.
_________________________
Di dalam kamar.
Kaisar, atau tubuh Chavire namun yang mendiami tubuh itu adalah Charles, mantan tunangannya Arsela 3 tahun yang lalu.
Kini tawa yang awalnya menggelegar itu sudah terhapus saat Charles menemukan sesuatu yang lebih menarik dari dugaannya. ‘Jika saja kucingku tidak mati, aku pasti bisa melihat lebih banyak lagi. Tapi dengan begini aku bisa tahu kalau dia ternyata bisa bertarung. Ini memang diluar dugaanku.
__ADS_1
Hanya saja aku jadi mengerti, kalau wanita yang aku ajak dansa tadi adalah orang yang harus diwaspadai.
Sayang sekali, dia ternyata wanita ganas. Jika saja dia seperti dua bulan lalu, aku mungkin akan lebih mengasihaninya lagi.’ pikir Charles.