
"Apakah dia kenalanmu?" Tanya Alstrelia.
".............." Alrescha awalnya diam dan terus memperhatikan pria itu. Wajah yang semula memperlihatkan ekspresi takut itu tiba-tiba berubah menjadi seringaian penuh akal muslihat.
Apa yang akan dilakukan oleh Lonel?
Sembari berpikir dan bersikap waspada, Alrescha kemudian menjawab, "Dia bukan kenalanku, tapi aku memang kenal dia. Dia adalah murid dengan peringkat terendah di Academy. Tapi, untunng saja..." Lalu Alrescha menjeling ke arah kanan sedikit belakang.
Terlihat di belakang sana, tepatnya di sebuah kubangan darah hasil dari orang-orang yang berhasil Alstrelia bunuh itu.
Kubangan darah itu bergerak, dan langsung terbang kearah mereka berdua.
"Untung saja apa?" Tanya Alstrelia penasaran dengan jawab Alrescha yang benar-benar sengaja di gantung.
Alstrelia dan Alrescha yang menyadari sekaligus melihat hal tersebut pun kembali dituntut untuk menyerang balik. Ketika Alstrelia berperan sebagai tameng untuk mereka berdua sebelum terkena dampak dari serangan itu dengan menggunakan Gimmick nya, maka Alrescha berperan untuk memberikan pelajaran kepada Lonel, yang sudah berani menghalangi mereka berdua untuk masuk kedalam Istana.
"Untung saja aku bisa menemukannya." Seperti halnya apa yang tadi Alrescha lakukan, Alrescha kembali mengangkat tangannya kedepan.
Ekspresi wajahnya sudah tidak baik lagi, Alstrelia yang melihat hal itu, bahkan terasa seperti orang yang baru saja menemuukan pelampiasan dendam lamanya. 'Ada apa dengannya?' Alstrelia mulia curiga dengan eskpresi Alrescha itu.
'Tch..dia kenapa?' Tidak mau tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada Alrescha, Lonel menggerakan jarinya dan langsung mengendalikan darah yang menjadi faktor dari segala serangan yang dia lakukan kepada mereka berdua.
SYUHT....
Ketika jari kanannya bergerak kearah kanan, maka serangan dari darah itu segera menargetkan Alrescha. Tapi Alrescha justru dapat menghentikannya dengan cara merubah tetesan darah yang tadi hendak menyerangnya dari belakang itu dengan menjadikannya darah beku layaknya esbatu berwarna merah.
WUSHH......
Aura kuat milik Alrescha tiba-tiba muncul, menimbulkan angin dan kabut putih yang dingin itu segera memenuhi ruangan Balroom.
"Lonel, spertinya kau tidak ingat ya?" Tanya Alrescha dengan nada rendah dan terasa dingin, atau bahkan sebenarnya lebih dingin dari kabut yang ada di dalam sana.
Dengan seringaiannya, Alrescha berjalan kedepan, mengangkat tangan kanannya ke depan pula. Wajah dan tatapan yang datar itu terus menyimak reaksi wajah Lonel yang saat ini mulai bespresi takut.
Ya..
Apa yang dilakukannya?
__ADS_1
Adalah untuk membalaskan dendamnya.
"Ingat apa?" Tanyanya. 'Kenapa tiba-tiba auranya cukup mengintimidasi?' Entah kenapa, hatinya terasa dibuat menciut setelah Alrescha saat ini bertanya dengan tatapan dan nada yang cukup dingin.
Lonel yang tidak mau kehilangan saat-saat Alrescha terus menatap kearahnya secara serius, dalam diam Lonel mengendalikan banyak darah yang ada di lantai itu ke arah mereka Alrescha dan Alstrelia.
Seketika itu darah tersebut bergerak membentuk sebuah senjata dalam bentuk jarum kecil, panjang, juga tajam.
SYUHHT...
Alstrelia yang hendak memberikan perlindungan diri, langsung didahului oleh kemampuan Alrescha yang sudah berhasil membekukan kesemua darah itu menjadi es batu, sehingga keberadaan dari semua itu langsung terjatuh keatas lantai.
Sedangkan Alrescha yanng masih teringat dengan jelas dengan pertanyaan Lonel tadi, yaitu 'Ingat apa?' sontak kedua mata Alrescha langsung melot tajam. Alrescha berjalan cepat kedepan dan disaat itu pula, sebuah dinding es dari belakang dari tempat Lonel berdiri langsung muncul dan menghantam tubuh Lonel untuk terdorong kedepan.
Disaat itulah, ketika Lonel terhuyung karena terdorong ke depan, tepatnya kearah Alrescha, Alrescha langsung melayangkan sebuah tinju tepat wajah Lonel.
BUKHH...
"HA?" Tercengang Alstrelia karena melihat Alrescha justru meninju wajah Lonel dengan tangannya sendiri.
Di satu sisi, Lonel yang baru saja terkena bogem mentah oleh Alrescha, tepat diwajahnya, justru menanamkan ekspresi wajah terkejutnya.
"Ini untuk yang waktu itu." Belum usai dengan tinjunya yang pertama, Alrescha langsung menendang perut Lonel.
BUKHH..
"Itu balasan karena kau membuatnya menangis." Kata Alrescha lagi.
'Siapa yang menangis?! Alrescha ini sebenarnya sedang kenapa?' Batin Alstrelia dengan wajah bengong, karena baru pertama kalinya Alrescha yang biasanya berlagak seperti orang yag berkepala dingin, kini justru bertindak membabi buta pada Lonel.
BRAK.
Hasil tendangan yang dilakukan oleh Alrescha berhasil membuat tubuh Lonel terlempar kearah dinding dan membuat tubuh itu terbentur dengan kuat, sampai meninggalkan jejak dari sebuah retakan yang kian memanjang.
"Uhuk..uhuk..kalau kau mau membunuhku, lakukan saja anak manja!" Teriak Lonel setelah batuk darah.
"Membunuhmu? Bagiku itu terlalu cepat." Sinis Alrescha. Dia berjalan lagi menuju Lonel yang sudah dalam poisi terduduk dengan penampilan yang cukup luar biasa mengenaskan. "Dan apa yang kau bilang padaku tadi? Anak manja?" Decak Alrescha.
__ADS_1
Alrescha menggertakkan giginya.
Siapa yang tidak kesal ketika dirinya disebut sebagai anak manja? Padahal selama ini dirinya selalu melakukan segalannya dengan tangannya sendiri. Mengurus wilayahnya sendiri, dan menghidupi banyak orang dengan kekuasaan yang Alrescha bangun dengan tanganya sendiri pula.
Serta...
Adiknya.
"Aku bukan anak manja, tapi lebih tepatnya kakak yang memanjakan adiknya, apa kau paham?" Alrescha langsung mencengkram kerah baju Lonel dan mengangkat tubuhnya dengan cengkraman itu, setelahnya, dia pun melayangkan kembali bogem mentahnya kewajah Lonel.
BUKH....
"Akh..." Rintih Lonel dengan wajah sudah babak belur.
"Itu untuk adikku dan yang ini untuk kesalahanmu karena sudah membuatnya menangis." Imbuh Alrescha. Dia terus memukul Lonel hingga babak belur.
"Adikmu? Memangnya apa...uhuk...yang sudah aku lakukan pada adikmu?" Tanya Lonel tidak paham alasan kenapa Alrescha memukulnya terus.
Dengan sorotan mata penuh amarah, Alrescha memberikan pukul terakhir yang cukup telak. "Aku menuntutmu untuk ingat semua setelah ini, Lonel." Setelah berkata seperti itu, Alrescha memukul Lonel.
BUKHH....
Sampai perkelahian tidak jelas itu berakhir dengan Lonel yang sudah tidak sadarkan diri.
Alstrelia yang hanya diam berdiri terus itu akhirnya angkat suara. "Apa kau sudah selesai?"
"............" Selepas mendengar pertanyaan dari Alstrelia pengganti itu, Alrescha pun bangkit. Mengelap tangannya dengan saputangan yang dia bawa dan membuangnya. Setelah itu Alrescha sedikit menoleh dan bertanya "Tidak penasaran?"
"Aku tidak mengharapkan itu darimu." Tukas Alstrelia.
BRAK...
DHUAR.....
Alstrelia yang awalnya masih menggunakan kemampuannya untuk mengendalikan semua orang di luar Istana agar mereka bertarung melawan monster, tiba-tiba dia kehilangan kendali itu gara-gara ada sebongkah batu kristal yang tiba-tiba muncul dan menghancurkan dinding di sana serta kekuatan miliknya yang jadi tidak stabil.
"............" Alstrelia kemudian mengerjapkan matanya untuk mengkondisikam mata dan pikiranya, karena dia baru saja melakukan dua hal secara bersamaan. "Kristal apa itu?"
__ADS_1
"..........." Alrescha berbalik ke belakang, membuat raut wajah menyeramkan kembali muncul.