Putri Alstrelia

Putri Alstrelia
83 : Alstrelia


__ADS_3

“Kenapa kau mengikutiku?” tanya Chavire dengan jelingan yang cukup tajam, gara-gara ada satu orang wanita asing yang baru dia temui, ternyata mengikutinya dari belakang?


“Bibi itu tadi sudah bilang, kamarnya sudah penuh, dan kebetulan kamar yang mempunyai dua tempat tidur hanya tinggal kamar ini.” jawab wanita berambut coklat ini kepad Chavire. 


“Kenapa kau tidak cari tempat lain saja?” Chavire masih berekspresi tidak suka kepada wanita itu sebab selalu bersikap sembarangan. 


“Di tengah malam seperti ini? Kau rela membiarkan gadis sepertiku sendirian mencari penginapan?” sahut wanita ini.


“Tapi-” Chavire memperhatikan wanita di depannya itu dari atas kepala sampai mata kaki. 


“Tapi apa?” tanya balik wanita itu dengan ekspresi polosnya. 


“Pria dan wanita tidur di ruangan yang sama? Kau yakin?”


“.....................” Wanita ini pun hanya diam berdiri di ambang pintu sambil memeluk burung elangnya sendiri. 


Melihat hal tersebut, Chavire terbesit rasa tidak tega melihat ekspresi dari wanita asing itu terlihat seperti orang yang benar-benar tidak memiliki tujuan, dan hanya ditemani oleh seekor hewan peliharan nya. 


“Masuklah.” pada akhirnya dinding pertahanan Chavire untuk tidak membuat wanita asing itu dekat-dekat dengannya, runtuh juga. 


“Yey,” dengan wajah senangnya, wanita tersebut masuk kedalam kamar yang tidak seberapa luas itu.


‘Dia bisa sesenang itu?’ batin Chavire.


BRUK.


Saat Chavire sudah menutup pintu kamarnya, dia langsung dikejutkan dengan wanita tersebut yang sudah duduk di kasur nya..


“Itu tempatku.” beritahu Chavire, bahwa tempat tidur yang terletak di samping jendela itu adalah miliknya.


“................” Wanita yang hendak meletakkan burung Elangnya di atas kasur pun langsung dia hentikan. “Begitu ya?” tanyanya, dengan ekspresi wajah merasa bersalah.


“.....................” Melihat wajah bahagia itu menghilang begitu saja hanya karena tempat tidur, lagi-lagi membuat Chavire tidak enak hati. “Tidak usah pergi. Disitu saja,” ucap Chavire sambil mengusap wajahnya dengan kasar. 


Chavire benar-benar berhasil di kecoh dengan ekspresi wajah wanita itu yang terlihat kasihan, dan ingin mendapatkan simpati.


“Terima kasih,” jawab wanita tersebut. Lalu meletakkan burung kesayangannya itu di atas kasur agar tidur bersama dengannya.


“...............”


‘Kenapa burung itu menatapku terus? Apa aku menyinggung perasaan tuannya, karena itu dia menatapku setajam itu?’ pikir Chavire, merasa terusik dengan tatapan tajam dari burung Elang yang terlihat memang bisa mengerti bahasa manusia.


“Kau sudah aku izinkan untuk tidur disini, bukannya tidak sopan jika kau tidak memberitahu namamu?”


Wanita yang hendak melepaskan mantel coat nya pun memberhentikan pekerjaannya dan menoleh ke belakang. “Eldania.”


“Eldania? Apa kau tidak memiliki marga?”


“Memangnya apa hubungannya dengan marga? Kau kan hanya tanya siapa nama ku kan? Namaku adalah Eldania, itu saja.” jawabnya. 


‘Warna matanya…., merah? Banyak yang menganggap warna mata merah sebagai keturunan anak haram, dan merupakan darah campuran. Dia dianggap sebagai pembawa sial. Itulah rumor yang sering aku dengar. Apa dia seorang petualang?’ Chavire sepintas hanya memiliki rumor yang beredar tanpa mengetahui cerita aslinya. Jadi Chavire pun tidak memiliki perasaan benci saat dia melihat wanita berambut coklat dengan iris mata ruby itu.


“Lalu kau sendiri?”


“Aku Chavire.” jawab Chavire singkat.


“Ternyata kau orang yang punya banyak dosa.” celetuk Eldania.


“Apa kau bilang?!” perempatan siku di dahinya pun mulai muncul saat namanya dianggap sebagai pendosa besar.


“Ya..Chavire, ditempatku panggilan itu adalah untuk menyebut si pendosa besar. Apakah aku salah? Kita punya perbedaan persepsi, jika itu menyinggungmu, anggap saja tidak mendengarnya.” jelas Eldania tanpa memperhatikan wajah Chavire sudah separuh kesal. “Dan nama dia adalah Everst.” Eldania mengelus punggung dari burung Elang itu dengan gemas.


Itu terlihat seperti tatapan orang yang sedang memiliki perasaan suka. 


‘Tapi dia menyukai burung?’ Chavire jadi semakin terheran.


“Ayo tidur, besok kita menempuh perjalanan jauh.” ajak Eldania kepada Everst yang masih saja mendelik tajam kearah Chavire.


“................” Everst menoleh ke arah Eldania. Lalu disaat wanita itu sudah terbaring, Everst pun ikut berbaring di sampingnya juga, dan membiarkan tubuhnya menjadi bantal peluk oleh Eldania sendiri.


‘Kenapa semenjak aku tinggal di tubuh ini, aku sering mengalami hal aneh?’ Chavire yang pada dasarnya sudah sangat lelah itu, langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kasur single itu.


Suasana di dalam kamar itu pun menjadi sunyi.

__ADS_1


Setelah beberapa waktu, Chavire lagi-lagi mencuri-curi pandang terhadap Eldania yang terlihat tidur cukup lelap. ‘Dia seperti orang hilang saja. Tapi aku sendiri juga orang yang kehilangan arah. Aku secepatnya harus bisa pulang ke Kaisaran, sebelum tempat itu menjadi kuburan massal.’


Tapi semua pikiran yang Chavire cerna, langsung menghilang begitu saja saat sudut matanya lagi-lagi melihat apa yang tidak pernah dilihatnya.


‘Apakah itu senjata?’ Chavire tidak sengaja melihat sebuah barang berwarna biru, dan cukup berkilau.


Kwak.


“.............!” ketahuan sedang menatap penuh tatapan selidik pada barang yang terselip di dalam tumpukan mantel coat itu, Chavire buru-buru mengambil sisi kanan dan tidur membelakangi Eldania. ‘Jangan-jangan dia burung si penjaga!’ 


Terkadang ada beberapa hewan mistik yang memiliki kemampuan lebih dari pada hewan pada umumnya. Dan hewan tersebut mampu menjalin hubungan kontrak dengan manusia. 


Maka dari itu, kali ini Chavire berpikir kalau burung Elang itu adalah burung penjaga yang menjaga majikannya sendiri.


‘Tidur saja. Jangan menoleh ke belakang, jangan menoleh!’ sayangnya kata hati Chavire tidak membuat tubuhnya benar-benar terlepas dari rasa penasarannya. Chavire akhirnya menoleh ke belakang juga, dan….


Kwak!


“.............!” Melihat Everst hendak terbang ke arah Chavire, Chavire langsung terbangun.


GREP….


“Apa yang kau lakukan? Apa kau akan meninggalkanku lagi?” tanya Eldania, menangkap kaki burung itu sebelum benar-benar pergi dari sisinya.


“Kau belum tidur?”


“Kau sendiri belum tidur?” Eldania justru bertanya balik kepada Chavire yang terlihat terkejut setengah mati itu. 


Ya…


Siapa yang tidak akan terkejut, jika mata yang dari tadi tertutup, langsung terbuka dengan sorotan mata yang cukup dingin. Dan ditambah, karena Eldania memiliki warna mata ruby, maka kesan menakutkannya langsung muncul sesaat.


“Apa kau takut?” tanya Eldania dengan lirih. Pertanyaan yang sangat menuntut sebuah jawaban dari lawan bicaranya itu. “Apa kau sekarang takut denganku, setelah mataku yang berwarna merah ini tiba-tiba menatap tajam kepadamu?” tanyanya lagi.


“Kau hanya wanita, apa yang harus ditakuti?” sejujurnya Chavire tadi masih merasakan setengah takut.


Eldania secara mengejutkan mengumbar senyuman remeh kepada Chavire. ‘’Hah~ Kau ternyata pria yang cukup dewasa dari pada penampilanmu.”


“Tidak juga.” Eldania menoleh kearah jendela, dimana di luar jendela terlihat langit sudah lebih gelap karena kedatangan dari awan kelabu yang membawa hujan. “Bagiku, sebutan wanita yang tertuju padaku adalah julukan dari pria yang sudah punya pemikiran lebih luas. Kau-” meskipun, tatapannya terlihat seperti sedang menatap ke arah jendela, tapi sudut matanya menangkap basah Chavire yang terlihat termangu itu. “Sekalipun, penampilanmu terlihat seperti laki-laki pada umumnya, tapi dimataku aura milikmu itu terlihat berbeda, dan justru seperti bukan orang dari kalangan biasa.”


‘Dia-’ Chavire tanpa sadar jadi semakin memiliki harapan kepada Eldania yang ternyata punya mata yang tidak biasa itu. Walaupun, mata merah memang terkesan seperti orang hina, tapi semua kesan itu dalam seketika langsung lenyap saat dirinya akhirnya menatap mata Eldania dengan tatapan berani. 


‘Apa dia tahu?’ benak hatinya memiliki satu harapan, kalau Eldania benar-benar tahu kalau orang yang ada di depannya memang bukanlah orang biasa, melainkan seorang Kaisar.


“Aku ingin tidur, jadi jangan menanyai apapun kepadaku.” ucap Eldania sebagai penutup dari pembicaraan mereka. 


“.................!” Chavire pun kembali di perlihatkan oleh seorang wanita yang langsung tidur begitu saja di depan matanya. 


Tidak terlihat adanya rasa waspada kepadanya, karena mereka berdua tinggal dan tidur di kamar yang sama. 


Chavire tidak melihat adanya itu di segala gerak-gerik dari Eldania. 


______________________



“Ehmm?” perlahan kelopak mata yang awalnya tertutup itu dia buka. 


Chavire, dia dengan kebingungan tiba-tiba sudah terbangun dan berdiri di tempat lain?


‘Aku dimana?’ pikir Chavire, saat pertama kalinya dia berada di tempat asing seperti berada di dalam sebuah kuil besar. 


Chavire pun perlahan mencoba menyesuaikan matanya untuk menangkap cahaya yang tidak begitu terlalu terang itu. 


Dia terus memperhatikan sekelilingnya. Ada kolam air besar yang menggenang di depannya persis. Tapi ternyata matanya itu tidak sekedar menangkap pemandangan kolam dan bangunan dengan pilar-pilar tinggi itu, karena secara kebetulan Chavire samar-sama melihat seseorang sedang berdiri di seberang sana.


‘Siapa?’ rasa penasaran di benak hatinya pun kembali muncul. ‘Dia terlihat seperti wanita?’ 


Chavire perlahan melihat sosok bayangan itu kian berjalan menuju ke tengah bangunan tersebut. 


‘Sebentar, kenapa rasanya dia cukup familiar?’ tidak ingin hanya berada di ruang tebak menebak saja, Chavire pun mencari jalan untuk pergi ke sana. 


Dia akan melihat orang misterius itu dengan mata kepalanya sendiri.

__ADS_1


Dengan kakinya yang panjang itu, Chavire berjalan dengan langkah lebar, dan harus berjalan memutar. 


Tapi semua usahanya untuk berjalan sedikit jauh, tidaklah sia-sia saat akhirnya Chavire dapat melihat sosok perempuan menggunakan gaun sutra berwarna putih. 


Perempuan itu memiliki rambut hitam panjang, dan beberapa aksesoris menghiasi rambut hitam lurus itu. 


‘Siapa?’ Chavire perlahan melangkah pergi untuk menghampiri perempuan it. Meskipun, harus menaiki beberapa tangga, pandangannya benar-benar tidak bisa Chavire alihkan, apalagi saat dia semakin berjalan mendekat, dia merasakan aroma yang sangat wangi seperti berasal dari perempuan tersebut.


Itulah kenapa, membuat Chavire semakin tertarik untuk berjalan mendekatinya. 


“Siapa?” tanyanya, namun suaranya yang begitu lembut untuk sekedar bertanya itu segera menarik segala kesimpulan milik Chavire.


“..................” Tepat setelah mendengar suara itu, Chavire langsung memberhentikan langkah kakinya, tepat di belakang perempuan itu.


Tidak berapa lama kemudian, wanita itu pun berbalik dan langsung memperlihatkan wajahnya kepada Chavire.


“Alstrelia?” Panggil Chavire dengan ekspresi wajah tertegun.


“Kamu-?” perempuan yang memang adalah Alstrelia, sedikit mendongak ke atas untuk melihat wajah orang yang tiba-tiba datang ke arahnya itu.


“Kenapa kau disini?” tanya Chavire sambil sedikit menunduk ke bawah. ‘P-pakaiannya itu-’ 


Secara gamblang Chavire segera menahan sipu malu nya sendiri saat melihat gaun putih, panjang yang dipakai oleh Alstrelia ternyata tidak menutupi pesonanya, saat Chavire melihat sepasang buah dada itu seperti hanya ditutupi kain dari gaun yang dipakainya saja.


‘Kapan terakhir kalinya aku bertemu dengan adiknya Alrescha? Aku pikir waktu tea time setengah tahun yang lalu. Kenapa dia terlihat berbeda?’ pikir Chavire. 


“Membungkuklah.” pinta Alstrelia.


“..................” Chavire dengan menurutnya, sedikit membungkukkan tubuhnya ke depan. 


Setelah itu, Chavire melihat Alstrelia langsung melepaskan rantai kalungnya. Kalung tipis dan polos tanpa adanya bandul apapun.


Lalu, Alstrelia melepas sebuah cincin yang terpasang di jari telunjuknya, dan memasukkan cincin itu ke dalam rantai kalung.


“Jaga ini untukku,” pinta Alstrelia sambil mengalungkan kalung miliknya tadi ke leher Chavire. 


Karena Alstrelia melakukannya sendiri, secara tubuhnya semakin dekat dengan wajahnya. Pipi Chavire sudah merona saat melihat tubuh Alstrelia yang wangi itu benar-benar ada di depannya persis. 


“Kenapa kau memberikan ini padaku?” 


“Aku tidak memiliki alasan apapun. Hanya ingin memberikannya padamu saja.” jawab Alstrelia. 


Wajah cantiknya itu tetap memperlihatkan ekspresi tenang, yang membuat Chavire masuk ke dalam lautan kenyamanannya sendiri, apalagi saat aroma yang dia cium itu membuat pikirannya entah kenapa menjadi rileks. 


“Walaupun, kamu sekarang berada di tubuh orang lain. Kamu akan tetap menjadi dirimu sendiri. Kamu sudah bekerja sangat keras, tapi tidak ada siapapun yang mengerti rasa lelah itu selain diri sendiri. Kejarlah harapanmu, Chavire.” ucap Alstrelia. 


Tangannya yang ramping itu pun mengusap wajah Chavire dengan lembut, sampai Chavire sendiri merasa kalau itu adalah apresiasi dari ketulusan hatinya untuk Chavire agar tidak putus asa.


“Kembalilah,” pinta Alstrelia.


Chavire semakin memejamkan matanya dan menikmati usapan di pipinya dari tangan Alstrelia yang cukup halus. 


‘Kenapa aku bisa merasakan ketenangan seperti ini?’ Chavire sebenarnya tidak mengerti sama sekali alasannya tiba-tiba dipertemukan Alstrelia di tempat seperti itu. Tapi Chavire sangat yakin, kalau itu adalah sebagai petunjuk untuknya?


___________________


“Hah?!” kelopak mata yang awalnya tertutup, langsung terbuka begitu saja. 


“Ternyata kau sedang membuatku merasakan stimulasi, pria yang liar.” ejek Eldania.


“Apa?!” Chavire yang baru saja terbangun dari tidurnya langsung menoleh ke arah kiri. “Kenapa kau sedekat ini?” 


Eldania menyeringai tipis. Dia saat ini berbaring di sebelah kiri Chavire persis, lalu dia menjawab, “Harusnya akulah yang tanya, kenapa kau mencengkram tanganku untuk mengelus pipimu? Lihatlah tanganmu yang nakal itu, kau membuatku kesakitan agar tanganku mengusap wajahmu itu.” ujar Eldania sambil menunjuk ke arah tangannya yang saat ini sedang di cengkram oleh tangan Chavire.


“Kenapa bisa?” Chavire langsung melepaskan cengkraman tangannya dengan sedikit kasar, lalu bangun dari tempat tidurnya?


Tapi kenyataannya, Chavire ternyata sedang ada di atas lantai kayu. Dan saat melirik ke samping kiri, wanita asing itu juga terlihat baru saja tiduran di lantai juga.


‘Berarti yang tadi hanya mimpi saja?’ detik hati Chavire.


“Wajahmu terlihat menyesal kalau aku tangan yang mengusap pipimu ternyata bukan seseorang yang ada di dalam mimpimu kan?” terka Eldania, membuyarkan lamunan Chavire yang sangat serius itu.


‘Wanita ini, aku merasa dia seperti punya siasat lain.’ lirik Chavire, menatap curiga Eldania, sebab selalu menebak dengan benar. 

__ADS_1


__ADS_2