Putri Alstrelia

Putri Alstrelia
39 : Alstrelia


__ADS_3

“Jika ada kesempatan besar untukmu, apa kau mau mencoba menampar nona Alstrelia langsung?” tanya Alstrelia lagi.


“Ya, itu jika memang ada.”


“Kau memang pemberani ya?”


“Kenapa tidak berani? lagi pula dia dan aku juga sama-sama manusia.”


“Tapi status bisa membuatmu dipenjara langsung, loh.” ujar Alstrelia memperingatkan.


“Karena itulah, aku hanya bisa memendam amarahku sendiri.”


“Itu tidak baik, lama-lama jadi penyakit.”


“Jika kesempatan itu datang tanpa adanya kasus yang membuatku masuk dalm hukuman di penjara, aku ingin melakukannya.” jelasnya lagi, kin tangan yang sedang memegang lap langsung di cengkram lebih kuat.


“Kalau begitu lakukan saja sekarang.” tawar Alstrelia.


“Eh? Sekarang?” penasaran karena mendapatkan sebuah tawaran seperti itu kepadanya, pelayan ini langsung membalikkan badannya. 


“Ayo.”


“Nona?!” teriak satu orang pelayan yang dari tadi sedang menggosip tentang Alstrelia yang sebenarnya sudah berada di belakangnya persis, dan itu adalah orang yang dari tadi bertanya sekaligus menawarkan kesempatan besar kepada pelayan ini.


“Ternyata kau bisa seperti itu ya,Vin?” tanya Lena yang tadi juga sudah mendengarkan segala keluhan dari teman kerja yang Lena bawa dua bulan lalu. 


“L-lena- buk-”


“Aku sudah tidak percaya denganmu lagi.” kata Lena dengan wajah sedihnya karena mendengar langsung temannya itu membicarakan nona Alstrelia dari belakang sampai seperti itu.

__ADS_1


“Lena! Tunggu!” pelayan yang dipanggil Vin oleh Lena pun berjalan mendekatinya, tapi niatnya itu langsung tertahan karena di saat yang sama ada Alstrelia yang sedang berdiri di depan mereka semua. 


“Perasaan iri adalah pemicu hati berubah menjadi buruk.” kata Alstrelia sembari mengambil langkah pertama mendekati pelayan yang sudah membicarakan tentang dirinya (Alstrelia).


“Tu-tunggu nona.” pinta melayani sambil membuat wajah paniknya. 


DUAKH.


Bahkan lap yang tadi ada di tangannya sudah terjatuh bersamaan dengan ember yang tidak sengaja tersandung oleh kakinya sendiri, dan membuat seluruh air kotor di ember itu tumpah.


“Keinginan dari hati yang terus dipendam akan membuat dendam.” ucap Alstrelia lagi dengan ekspresi wajah datarnya. 


“..................!” sontak wajahnya semakin memberikan reaksi terkejut saat tangan kanannya tiba-tiba di cengkram oleh Alstrelia dan membuat tangan yang tadi digunakan untuk melakukan pekerjaan membersihkan jendela itu, kini sudah hampir menyentuh pipi sebelah kiri Alstrelia yang mulus itu.


“Jadi-”


“Bagaimana jika aku memberimu kesem-”


BRUK!


Pelayan ini langsung duduk berlutut di depan Alstrelia sambil berkata : “M-maafkan saya nona! Saya bersalah! Saya tid-”


“Bukannya kau ingin menamparku karena aku menampar kakakku?”


“Tidak nona! Itu hanya kemarahan saya sesaat! Saya tidak berani menampar anda. Saya tidak berani melakukan itu pada anda yang sudah mau memberikan saya kesempatan bekerja disini.” racau  nya lagi.


“Hati yang menyukai sesuatu, terkadang membuat seseorang akan melakukan hal yang tidak seharusnya dilakukan. Meskipun kau sudah membuatku dalam topik dari buah gosip mu aku tidak akan memecatmu, tapi kau akan diturunkan pangkatmu untuk bekerja dibagian mencuci.”


“B-baik,! Akan saya lakukan. Terima kasih atas kemurahan hati anda nona.” jawab pelayan ini, sambil berlutut dan semakin menundukkan kepalanya lagi kepada Alstrelia.

__ADS_1


“Kau mengerti kan?” toleh Alstrelia kepada satu orang pelayan lagi yang sedang menatap kearah rekan kerjanya yang sedang berlutut di depan Alstrelia  dengan wajah takutnya.


“I-iya nona.” menunduk hormat.


“Lena.” panggil Alstrelia dengan sebuah jelingan. “Pergi sarapan.”


“Baik nona.” Lena hanya sedikit menganggukkan kepalanya sesaat, lalu berjalan mengikuti Alstrelia yang sudah berjalan pergi. ‘Aku tidak tahu kalau Vinesa membicarakan nona Alstrelia dari belakang sampai seperti itu. Tapi, nona Alstrelia yang ini berhasil membuatnya patuh.’ 


TAP…….TAP…….TAP……


Setelah kepergian dari mereka berdua, kedua pelayan ini buru-buru membersihkan air yang tumpah ke lantai itu. 


“......................” diluar seseorang sedang berdiam diri mengintip sekaligus berhasil menguping pertengkaran itu, dia adalah Elbert. ‘Dia bahkan mampu mengurus pelayan yang diam-diam membicarakan nya dari belakang sampai bisa seperti itu. Artena, pelayan yang dikirim tuan pun juga bilang, kalau dia mengalami satu hal yang aneh. Dia memang ketahuan sedang menguping oleh Alstrelia, tapi Artena tidak ingat rincian kejadian saat ketahuan. Ha! Kira-kira apa yang sebenarnya dia sembunyikan?’ pikir Elbert.


Elbert terus termenung sambil mengingat segala peristiwa yang sudah terjadi dalam beberapa hari ini karena keberadaan dari Alstrelia yang ini. 


Hingga semua pikiran itu Elbert tarik kembali saat Anders tiba tiba datang menghampirinya.


“Apa yang anda lakukan disini?” tanya Anders kepada Elbert.


“Hanya melakukan kegiatan rutin. Kau sendiri, apa ada urusan denganku?”


“Iya, saya mau melaporkan tentang orang yang semalam kita tangkap.” 


“Apa terjadi sesuatu dengannya?” tanya Elbert penasaran, karena Anders memperlihatkan wajah cemasnya.


“Dia sudah mati.”


"................!" Elbert langsung tercengang dengan informasi yang Anders beritahu.

__ADS_1


__ADS_2