Putri Alstrelia

Putri Alstrelia
200 : Alstrelia : Tujuannya


__ADS_3

Tidak ada kata yang tepat selain ambisi untuk seseorang yang memiliki keinginan besar untuk memperoleh sesuatu.


Untuk mendapatkan apa yang diinginkannya, perlu sesuatu sebagai pemicu dalam mendapatkan semangat yang besar dan menjadikan hal itu sebagai ambisinya.


Dan setiap makhluk hidup pasti memilikinya, dan salah satunya adalah Agres.


Demi menggantikan satu pemikirannya yang salah tentang Alstrelia yang awalnya bisa mengancamnya, kini dia memiliki keinginannya yang lain untuk memanfaatkan sebuah ancaman menjadi keuntungan.


Lalu keuntungan seperti apakah yang di maksud oleh Agres itu adalah mendapatkan kemampuan yang dimiliki oleh Alstrelia yang mampu melihat masa depan.


"Hmm...jadi kira-kira aku harus memulainya dari mana ya?" Tanya Agres. Saat ni dia sedang melirik ke arah satu orang wanita dari ras manusia yang Agres selamatkan itu.


Setelah kejadian yang terjadi tempo hari, Agres kembali menemui wanita itu, yaitu Arsela.


"Apa yang kau mau dariku?" Tatapan penuh waspada itu terus tertuju pada seorang pra yang ada di depannya itu.


Agres yang kini tengah duduk sambil menyangga kepalanya dengan tangan kanannya itu. Matanya terpejam, tapi tidka dengan mulutnya yang menyunggingkan senyuman simpul yang hampir memperlihatkan deretan giginya yang berwarna putih itu. Lalu menjawab : "Tenang, aku tidak menginginkan tubuhmu yang sudah di pakai itu."


Arsela tentu saja langsung mendekap tubuhnya sendiri itu. "Lalu Apa?"


Mata Agres terbuka dan mengatakan yang sebenarnya kepada Arsela atas keinginannya itu, "Aku hanya ingin kekuatanmu." Ucap Agres sambil mengangkat tangannya menunjuk ke arah Arsela.


"Ha? Kekuatan? Kekuatan apa yang kau makusd itu?" Tanya Arsela seolah tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh Agres itu.


"Tidak masalah jika kau berpura-pura tidak tahu maksudku. Tapi akua akan tetap melakukannya, yaitu mendapatkan kekuatanmu." Ancam Agres.


Arsela yang awalnya terdiam, akhirnya angkat bicara. "Memangnya kau mau menggunakannya untuk apa?"


"Mungkin juga kau bisa menganggapnya aku ingin kekuatanmu itu sekedar hobi agar aku bisa mengoleksi kekuatan." Terang Agres.


Dengan kata lain, "Memamngnya aku akan mengatakannya kepadamu?" itulah arti di ucapannya tadi.


'Padahal kekuatan yang aku miliki hanyalah kekuatan yang hanya bisa di gunakan untuk melhiat masa lalu saja. Kenapa dia menginginkan kekuatan yang tidak berguna ini?' batin Arsela.


"Tuan, saya membawakan teh untuk anda." Ucap Alvei setelah membuat ketukan pintu beberapa saat tadi.


"Masuk." Jawab Agres, membiarkan satu-satunya pelayannya yang setia itu masuk ke dalam kamar.


Alvei pun masuk sambil membawa camilan makanan, makannya ida masuk dengan kedua mendorong troli makanan.


Sepintas sepasang mata Alvei menangkap basah Arsela yang beberapa saat tadi sempat meliriknya.

__ADS_1


"Kenapa waspada begitu? Takut aku mengambil buah yang menempel di dadamu itu dan merema*snya seperti waktu itu?" Tanyanya.


Tangannya dengan tidak sabar melertakkan secangkir teh di atas meja untuk di hidangkan kepada Arsela, hingga membuat bunyi keras, tapi tindaknanya langsung bertolak belakang saat menyajikannya untuk Tuan majikannya. Karena Alvei justru meletakkan secangkir teh nya dengan pelan, sopan, dan penuh wibawa layaknya seorang pelayan yang bermartabat.


Melihat kewaspadaan Arsela terhadap Alsei masih belum berhenti, Agres kembali angkat suara. "Tenang, dia tidak akan mengganas lagi kepadamu." Senyuman manis yang di perlihatkan oleh Agres itu pun membuat Arsela semakin curiga dengan ucapannya itu sungguh tidak di bisa di percaya.


"Aku sudah tidak berminat lagi, hmph..!" Alvei segera pergi dari sana sebelum amarahnya melonjak tinggi sebab Tuan nya tadi benar-benar memberikan senyuman manis penuh mat, karena setiap senyuman itu selalu mnegandung kekuatan.


Jika itu manusia baisa, tentu saja mereka akan mempercayai ucapannya begitu saja tanpa pikir panjang, entah sesuai dengan logika atau tidak itu sudah bukan lagi sebuah halangan. Akan tetapi jika itu bukan manusia biasa, tentu saja akan ada kecurigaan besar yang di dapati oleh orang tersebut.


Dan Arsela tidak mempercayai segala ucapan yang keluar dari mulu Agres. Bahkan untuk ukuran ingin mengambil kekuatannya Arsela, tidak mungkin dirinya di perlakukan cukup baik seperti ini.


_______


Sedangkan di tempat Chavire berada.


"Pici! Jangan tinggalkan aku!" Teriak Ailyn melihat anak pohon miliknya justru menyukai Chavire yang merupakan seorang manusi.


"Pi..pi!!" Kata Pici dengan lambaian tangan miliknya yang tidak lain adalah ranting berdaun hijau.


"Aku tidak tahu apa yang kau katakan, tapi kelihatannya kau senang ya bisa mengerjai Elf itu." Ucap Chavire.


"Uww..suaramu cukup imut. Coba bicara lagi." Bujuk Chavire.


Karena merasa gemas dengan anak pohon yang sedang di gendongnya itu, dia pun mengelitik batang pohon Pici hingga Pici bia mengeluarkan suara imutnya lagi Eksklusif untuk Chavire seorang.


Dan Chavire tentu saja menggendongnya, membawanya pergi masuk ke dalam Istana pohon yang cukup besar dan menjulang tinggi.


Apa tujuannya?


Yaitu adalah menemui sang Ratu Hutan, Darayad.


Lorong Istana yang di dominasi berwarna hijau, termasuk karpet itu sendiri menjadi pemandangan untuk Chavire seorang.


Hingga tepat di depan pintu kayu besar berwarna coklat tapi memiliki ukiran pohon sebagai lambang dari pintu yang akan di masuki, pintu tersebut akhirnya terbuka sendiri.


KLEK..


Chavire menurunkan Pici agar anak pohon itu berjalan sendiri menemani Chavire yang akan menghadap sang Ratu hutan yang saat ini sedang berdiri di depan kursi singgasana nya.


"Sudah datang, manusia?" sapa Darayad dengan senyuman yang cukup menawan layaknya Ibu dari seluruh anak di muka bumi, karena terlihat seperti sosok yang cukup baik hati, hingga Chavire sendiri sesaat terlena dengan senyuman itu.

__ADS_1


"Ya, saya manusia bernama Chavire sudah datang untuk menghadap anda Yang mulia Ratu." Sebagai seorang bangsawan bergelar cukup tinggi, maka Chavire pun memberikan salam dengan cara yang paling hormat, sampai Chavire berlutut di depan Ratu Darayad itu sendiri.


Melihat Chavire benar-benar memberikan salah hormat dengan cukup sopan sampai seperti itu, Darayad pun menuruni lima anak tangga untuk menghampiri Chavire yang masih berlutut di depannya itu.


Sesampainya di depan Chavire, Darayad mengusap ujung kepala Chavire dan usapan dari tangan kanannya itu pun turun sampai menyusuri wajah tampannya.


Darayad kemudian membungkuk dan akhirnya meraih wajah Chavire lalu sedikit mengangkatnya, sehingga Chavire pun di perkenankan untuk mendongak ke arahnya untuk menatap wajahnya langsung.


Chavire dengn ekspresi wajah yang tenang, hanya diam dengan mata terus tertuju pada sang wanita cantik yang memiliki status tertinggi di wilayah ini.


"Kamu sudah bekerja keras, Kaisar dari negeri Regalia." Puji Darayad, dan setelah itu Darayad semakin membungkukkan tubuhnya ke arha Chavire, sampai akhirnya sebauh kecupan basah tepat di dahi Chavire menjadi salam sapa untuk pertemuan mereka berdua.


CUP.


Chavire sesaat memejamkan matanya, menikmati kesejukan dari kepala yang tiba-tib ajadi terasa bisa berpikiran lebih jernih, dan hati yang merasa tenang.


Dan semua itu berkat ciuman berkat dari Ratu hutan ini.


"Terima kasih Yang mulia." Ucap Chavire.


WUSHH.....


Tiba-tiba hembusan angin dengan kilatan petir berwarna hijau bercampur kuning muncul dari mereka berdua dan menerpa ke seluruh sisi dari tempat tersebut.


Ailyn yang baru saja masuk, harus di buat menganngkat lengan tangan kanannya demi menghindari debu masuk kedalam mata.


Sedangkan Pici yang melihat fenomena tersebut hanya mematung dengan mulut sedikit terbuka. "Piiii~"


Mereka berdua langsung terpegun ketika apa yang mereka berdua lihat barusan, yaitu pria dengan rambut berwarna merah layaknya darah, dan punya wajah tampan tapi terkesan seperti seorang pemimpin dari organisasi gelap, tiba-tiba penampilan dari pria itu langsung berubah drastis dengan rambut serta tubuh yang berbeda.


Jika tadi punya tubuh tinggi dan besar layaknya beruang kutubuh, maka tidak dengan ini.


Chavire, lebih tepatnya pria itu baru saja mendapatkan penampilan miliknya yang asli di depan mereka bertiga.


"Pi..pi...pi!?" Pici yang merasa familiar dengan aura milik Chavire tapi juga ragu karena punya penampilan yang berbeda jauh dengan yang tadi, akhirnya bertanya-tanya kepada Ailyn sambil menepuk-nepuk lutut Ailyn untuk menjawab pertanyaannya.


"Kenapa bisa?" Tanya Ailyn dengan nada lirih.


Dia tidak menghiraukan pici yang juga sama-sama penasaran dengan penampilan Chavire yang berubah drastis menjadi sosok yang terlihat lebih seperti seorang bangsawan tinggi, Ailyn berjalan menghampiri mereka berdua yang baru saja mendapatkan ciuman dari sang Darayad dan melakukan ciuman mistik dari sang Darayad sendiri.


"Yang Mulia, kenapa-" Ailyn berjalan mendekati mereka berdua dan mulai bertanya, "Kenapa penampilan dia bisa berubah seperti itu?" Tanyanya dengan wajah penasaran.

__ADS_1


__ADS_2