
"Tapi sudahlah, yang penting, akhirnya aku bisa menemukan wanita ini." Agres pun tersenyum melihat wanita yang sedang kebingungan mencari gaun itu ternyata sedang tidak memakai apapun, sehingga Agres jadi melihat pemandangan yang bisa dia gunakan untuk mencuci matanya.
Hanya dengan duduk santai di dalam kamarnya, Agres pun bisa melihat sesuatu yang jauh dari tempatnya dengan menggunakan anak buahnya itu.
"Entah cara seperti apa sampai aku ternyata jadi terkecoh dengan Alstrelia yang palsu itu, sekarang yang penting aku sudah menemukan keberadaan dari pelengkap Arsela itu." Puas dengan hasil yang dia temukan, Agres pun akan menyiapkan rencana untuk bisa membawa Alstrelia yang ada di dalam kastil itu.
Karena dengan adanya Alstrelia yang mampu meramalkan masa depan, maka itu akan jadi rencana paling sempurna untuk Agres, agar bisa mengatur dunia.
Akan tetapi, burung hantu milik Agres yang dia tempatkan di dalam kamar Alstrelia, tiba-tiba saja mendapatkan sesuatu yang mengejutkan.
KWUUKK...
_______________
Burung hantu berwarna putih ini tiba-tiba di injak dengan kaki kekar milik Everst, setelah dia diam-diam muncul di belakang burung hantu berwarna putih itu.
"Kyaa...a-apa, kenapa kenapa kalian bisa ada di sana?" Terkejut Alstrelia sambil memegang gaun untuk menutupi tubuh bagian depannya, dan langsung bersandar ke lemari, karena terkejut melihat Everst si burung Elang, juga Eldania sudah ada di dalam kamarnya dan sedang menangkap basah seekor burung hantu yang bagi mereka berdua cukuplah mencurigakan.
"Kau sendiri yang tidak sadar dengan kemunculan kami." Sahut Eldania sambil mengeluarkan belati dari sarung pisau yang terikat di kedua paha nya.
"Itu, kalian mau apakan dengan burung hantu itu?" Tanya Alstrelia, jadi penasaran dengan mereka berdua yang sudah menangkap seekor burung hantu dengan bulu putih yang begitu cantik dan menawan.
Kuu~
Kuu~
Suara itu pun lantas keluar dari mulut burung hantu itu, seolah sedang meminta pertolongan.
"Aku akan memasaknya. Karena kebetulan kita kekurangan daging, benar kan Everst?"
Kwak.
Dengan sahutan layaknya seekor burung, Everst pun memberikan kode kepada master Eldania itu untuk menyembelih burung hantu itu.
"Tapi kan itu kasian."
"Kasian? Kau harus tahu. Tidak ada yang perlu di kasihani oleh makhluk seperti ini." Jawab Eldania, dan dalam sekejap mata, tangan kanannya yang sudah memegang pisau belati itu pun dia ayunkan dan melayangkannya menuju ke leher burung hantu itu, dan akhirnya ujung dari pisau belati itu pun menancap di leher burung hantu tersebut.
JLEB...
__ADS_1
Sampai ujung belati itu menancap ke permukaan meja.
"Karena di balik burung ini, ada seseorang yang sedang mengawasimu. Jadi untuk apa di kasihani?" Imbuh Eldania.
"Apa? Mengawasi? Jadi aku sekarang sudah tidak aman lagi, jika tinggal disini?" Tanya Alstrelia kepada Eldania yang baru saja menancapkan keinginan sadisnya untuk memenggal kepala burung hantu itu.
Eldania dan Everst pun menatap wajah Alstrelia yang terlihat ketakutan itu.
Siapa yang tidak takut jika sekarang keadaannya sudah tidak aman. Dan Alstrelia adalah orang yang menjadi bahan incaran oleh semua orang karena memiliki kemampuan untuk meramalkan masa depan.
Dengan kekutan Prohet Art itu, maka orang yang mampu menguasai itu bisa menjadi kartu AS untuk menghindari segala bahaya yang kemungkinan akan mengancamnya.
"Ya. Kau sudah tidak aman lagi jika hanya terus bersembunyi di sini." Kata Eldania memberitahu Alstrelia kalau sekarang bukan lagi masanya untuk bersembunyi terus di tempat yang sama. Itulah yang harus di pikirkan oleh Alstrelia itu.
"Kau harus pindah tempat, jika memang kau ingin terus bersembunyi dari kenyataan." Imbuh Eldania.
Mengingat Alstrelia yang ada di depan mereka berdua adalah Alstrelia yang memiliki sikap yang cukup bertolak belakang dengan Alstrelia yang sempat mereka temu di medan perang, maka Eldania pun berani mengatakan itu agar perempuan di depannya itu paham, kalau hanya bersembunyi saja, maka itu sama saja dengan bersembunyi dari kenyataan.
Dan pilihan itu tidak akan menjadi pilihan yang terbaik ketimbang menghadapi musuhnya secara langsung.
Itulah yang di pikirkan oleh Eldania pada Alstrelia yang merupakan kunci antara kedamaian atau kehancuran dari dunia ini.
Eldania pun berjalan menghampiri Alstrelia yang masih berdiri bersandar ke lemari.
Setelah itu berada di depan Alstrelia, Eldania kemudian berjongkok di depannya persis. Menyayat sedikit ujung jari telunjuknya hingga darah akhirnya keluar.
Darah itu pun kemudian dia gunakan untuk membuat lingkaran sihir. Dan selepas selesai, Eldania meletakkan kepala burung itu di tegah-tengah lingkaran sihir.
Dan lingkaran sihir itu kemudian bercahaya berwarna merah. Alstrelia yang penasaran jadi berjongkok.
Eldania menarik salah satu tangannya Alstrelia untuk memegang kepala burung hantu yang sudah terpisah dari tubuhnya. Dan ketika itulah sebuah gambaran pun muncul, masuk kedalam kepalanya.
"Ini!" Alstrelia sontak langsung memperlihatkan ekspresi wajah antara terkejut juga takut.
"Lihat, kan? Ada yang mengawasimu dan menginginkanmu untuk dijadikan kartu AS dia untuk menguasai semua orang. Karena dengan kekuatanmu, Prophet Art, semua masa depan bisa di cegah, yang baik jadi buruk dan sebaliknya, itu tergantung yang memakainya." Jelas Eldania, bahwa keputusan kali ini benar-benar berada di tangan milik Alstrelia.
Apakah hanya ingin bersembunyi terus dari musuh, atau mau menghadapi musuh?
Itulah yang menjadi pilihan untuk Alstrelia saat ini.
__ADS_1
______________
‘Frost? Dari mana dia bisa memikirkan nama julukan untukku di tengah-tengah situasi seperti ini? Dan dia-’ Alrescha pun melirik ke arah samping kirinya di mana Alstrelia sedang memilin rambut miliknya karena tertarik dengan warna rambutnya?
Tapi memang seperti itulah kesan dari Alrescha saat memandang Alstrelia yang terlihat asik dengan menyentuh rambutnya terus.
Tanpa di duga, Alrescha tiba-tiba mendapatkan sentakan gelombang kejut, yang lantas membuat Alrescha langsung membelalakkan matanya alias melotot ke awah Alstrelia.
“Lakukan itu lagi.” Perintah Alrescha terhadap Alstrelia.
“Melakukan apa?” Alstrelia jadi menyudahi urusannya untuk memilin rambut halus nan lembut yang di miliki oleh pria di depannya itu. Tapi apa yang Alstrelia dapat, tangannya tiba-tiba saja di cengkram kuat oleh Alrescha dengan pandangan mata serta ekspresi yang terlihat sangat menginginkan sesuatu darinya?
“Kekuatanmu. Berikan kekuatanmu padaku.” Tuntut Alrescha.
Mendengar permintaan itu, Alstrelia langsung merubah ekspresi wajahnya jadi serius. “Kenapa aku harus melakukannya?”
“Karena aku kekurangan mana sihir. Dan aku harus melakukan sihir besar untuk melawannya.” Di saat Alrescha mengatakan itu, mereka berdua tiba-tiba langsung di serang oleh Tregon yang langsung menyemburkan api besar dengan suhu paling tinggi.
Dan dinding pelindung yang di buat oleh ke empat Gimmick milik Alstrelia serta karena sedang di kombinasikan dengan mana sihir miliknya agar bisa mendapatkan dinding sihir yang kuat, perlahan mulai retak mendapatkan panas paling tinggi.
“Errgghh…” Alstrelia pun semakin mengepalkan tangan kanannya, karena dia benar-benar sedang menahan panas yang sedang dia dapatkan dari serangan Tregon itu.
Sampai efek dari serangan itu, membuat Alstrelia kini sudah di banjiri keringat dan membasahi pakaiannya.
Melihat Alstrelia sedang berusaha mempertahankan dinding sihir pelindung yang melindungi mereka berdua serangan panas dari Tregon, Alrescha segera mendaratkan tangan kanannya itu ke atas bahu Alstrelia.
“Apa yang mau kau lakukan?” Tanya Alstrelia sambil melirik bau sebelah kanannya ada tangan milik Alrescha.
Alrescha merapalkan sedikit mantera yang sama sekali tidak akan bisa terdengar, karena suasana di dalam sana terasa seperti berada di dalam neraka. “Aku akan membantumu sebentar.”
“Aku tidak perlu bantuan,” Ketus Alstrelia. Dia sama sekali tidak menginginkan bantuan dari Alrescha, karena dia memang bisa mengatasinya sendiri.
Mendengar itu, Alrescha justru semakin mencengkram bahu Alstreliia. Meskipun Alstrelia sendiri tidak memperlihatkan rasa sakit, tapi sebenarnya dia memang sedang merasakan sakit akibat dari cengkraman tangan yang ada di bahunya itu.
“Kau memerlukannya. Jangan karena kau pikir kau sendiri kuat, kau bisa melakukan semuanya sendirian.” Balas Alrescha. “Diam dan turuti saja apa yang aku lakukan ini.” Perintah Alrescha, menyuruh Alstrelia agar menuruti kemauannya. “Dan akan aku katakan padamu, kau sendiri punya pasukan, tanpa kau sadari kau memerlukan mereka untuk melawan musuhmu sendiri kan? Jadi jangan mengambil kesimpulan, karena disini kau kuat, kau tidak memerlukan bantuan dari orang lain yang ada di sekitarmu. Padahal tanpa kita, kau tidak akan hidup nyaman kan?”
“Apa kau sedang menceramahiku-ahh..!” Ucapannya berakhir dengan teriakan yang langsung Alstrelia tahan, gara-gara Alrescha tiba-tiba saja mencengkram kuat bahu miliknya. "Alrescha, kau mencengkramku?!"
"Itulah, jika kau tidak diam, aku akan melakukan lebih dari ini." Balas Alrescha dengan jelingan yang cukup tajam, dengan artian sebagai sebuah peringatan kalau sekarang bukan lagi waktunya untuk berdebat.
__ADS_1