
“A-ada. Mari ikut saya.” jawab Winda dengan gugup. ‘Elbert! Darimana kau mendapatkan wanita secantik ini?!’ teriak Winda penasaran setengah mati kepada Elbert.
Winda pun menuntun Alstrelia masuk ke dalam tokonya.
Setelah kepergian mereka berdua, wanita berambut coklat ini memberanikan dirinya untuk bertanya kepada Elbert. “Tuan, apa nona yang tadi adalah kekasih anda?”
Mendengar pertanyaan yang cukup terlontar dari wanita yang sedang duduk di meja rias itu, Elbert segera berbalik sambil menjawab, “Maaf, anda salah. Dia bukanlah kekasih saya.”
“Eh? Benarkah? Padahal dia secantik itu, jadi saya pikir dia kekasih anda.”
‘Kekasih?’ Elbert langsung melirik seseorang yang menjadi topik pembicaraannya tadi. ‘Dia memang cantik, tapi aku tidak memerlukan wanita yang cantik dari luarnya saja.’
Jujur Elbert memang tergoda jika melihat Alstrelia yang dimana di matanya itu cukuplah cantik.
Dari luar, Alstrelia itu bagaikan wanita polos yang belum ternodai oleh apapun. Kecantikan alami yang tidak diperlakukan khusus.
Misalnya saja saat Elbert sekarang ini sedang mencoba membandingkannya dengan wajah Alstrelia dengan wanita yang sedang duduk di meja rias itu.
Kedua penampilan itu membuat Elbert tertawa dalam diam. Dalam sekilas melihat Elbert langsung memilih penampilan Alstrelia.
‘Karena pertanyaannya, aku jadi terjatuh dalam pikiran ini. Elbert, kau sebagai kesatria harus menjaga pandanganmu dari majikanmu saat ini.’ kata hati Elbert.
Dia segera memejamkan matanya dan mencoba menata hatinya agar bisa menghadapi lagi sifat asli Alstrelia yang sedang dia layani saat ini.
“Aku menerima dengan senang hati pujian darimu, terima kasih.” kata Alstrelia singkat setelah mengurus keperluan pribadinya tadi. “Bert, ayo.”
Elbert secara mengerutkan dahinya. ‘Kenapa aku jadi dipanggil Bert?’
“Pfft…” Winda seketika langsung menahan tawanya sendiri karena baru mendengar seseorang yang berani memanggil Elbert dengan nama panggilan singkat yang diambil dari belakang.
KLING.
Sebelum Winda kehilangan Elbert yang hendak pergi keluar, WInda mencoba menahannya sebentar.
“El, sebentar.” Menahan tangan Elbert, dan membuat Elbert saat itu juga menghentikan langkah kakinya.
__ADS_1
“Ah aku lupa berterima kasih kepadamu.”
“Bukan itu!” kata Winda dengan penuh penekanan, lalu menarik tangan Elbert ke bawah agar tubuh Elbert sedikit membungkuk. “Katakan kepadaku, siapa wanita itu.”
“...................” Elbert hanya melirik Winda sesaat, lalu melepaskan cengkraman tangan wanita itu dari tangannya. “Sebaiknya tanyakan itu langsung kepadanya.”
Selepas berkata seperti itu, Elbert pergi keluar dan buru-buru menyusul Alstrelia yang sudah ada di luar.
‘Apa itu artinya dia ingin mengatakannya tapi tidak memiliki hak untuk mengatakannya kepadaku? Aku harus mencari tahu siapa dia, karena aku merasa familiar dengan wajahnya. Itu seperti duke muda Fisher. Tapi rasanya tidak mungkin juga, karena aku dengar adiknya sedang sakit.’ pikir Winda sambil berbalik dan melanjutkan pekerjaannya yang tertunda tadi.
“Madam, wanita yang tadi cukup cantik, kira-kira apakah anda kenal dengannya?”
“Maaf, saya juga tidak tahu.”
“Begitu ya.” terselip rasa menyesal karena tidak tahu siapa wanita yang barusan datang dan pergi dalam waktu singkat itu.
_____________________
“Kenapa kau malah membawaku ke tempat yang aku tidak sukai?” protes Alstrelia kepada Elbert.
“Bukankah yang penting bisa menyelesaikan masalah utamanya?”
‘Apa ini rasanya dimarahi oleh wanita karena tidak sesuai dengan keinginan hatinya?’ sayangnya Elbert diharuskan menerima segala situasi yang dia dapatkan saat melayani majikannya, dan apalagi sekarang yang harus dia layani adalah seorang wanita.
Maka dengan seperti ini, Elbert jadi belajar satu hal dari Alstrelia yang ini, kalau wanita ini memang cukup membenci segala hal yang berhubungan dengan make up.
‘Hah~’ Elbert tertawa mencibir saat harus mengetahui fakta aneh milik Alstrelia yang ini. ‘Dia memang orang yang cukup terang-terangan, aku harus menjaga dia agar tidak membuat onar karena lidahnya yang tajam itu.’
“Bert! Kau membuatku menunggu lagi?” panggil Alstrelia sekaligus bertanya memberikan peringatan kepada Elbert yang berjalan lambat.
Elbert segera pergi menyusul Alstrelia yang sudah berada di depan sana.
DRAP….DRAP…..DRAP…….
‘Semoga saja jika nona sudah ketemu, aku bisa mengajaknya ke sini.’ Elbert selalu dibuat berpikir pensaran, seperti apakah jika melayani nona nya yang asli?
__ADS_1
TAP….TAP…….TAP……
Meski wanita kebanyakan selalu memiliki langkah kaki yang pendek, tapi Elbert merasakannya sendiri saat berjalan bersama dengan wanita ini.
Elbert yang seharusnya menyamai langkah kakinya dengan Alstrelia yang ini, justru seperti dibuat untuk sebaliknya. Langkahnya sedang disamakan oleh Alstrelia sendiri.
“Apakah masih jauh?”
Lamunan Elbert langsung menghilang. “Karena merupakan perpustakaan kota, gedungnya bisa dilihat dari sini.” beritahu Elbert.
Dan persis seperti apa yang dikatakannya, Alstrelia mampu melihat sebuah gedung berwarna putih yang memiliki tinggi lebih dari 7 lantai itu.
Dibilang tinggi, maka bagi Alstrelia gedung itu hanya setinggi dua lantai untuk tempat tinggal Alstrelia yang asli.
‘Kelihatannya aku harus mencarinya secara manual.’ mau benci tapi tidak ada yang bisa Alstrelia lakukan pada sistem dunia yang Alstrelia tinggali saat ini, karena pada akhirnya Alstrelia tetap membutuhkan apa yang ada di sekitarnya.
Setelah sekiranya berjalan lebih dari 300 meter, Alstrelia dan Elbert berhasil ke tempat tujuan mereka berdua.
Sebuah gedung besar, tinggi dengan dinding bercat putih, lalu kebetulan memiliki halaman hijau yang luas.
Terlepas dari tempatnya yang memang berada di pusat kota, karena memiliki halaman yang luas, maka suara riuh dari segala aktivitas di luar halaman gedung itu, tidak akan membuat sebuah kebisingan yang berarti.
Ada dua penjaga yang berjaga di depan pintu masuk. Tapi mereka berdua bisa lewat begitu saja dari para penjaga itu.
“Apa mereka tidak memerlukan identitas pengunjung?” tanya Alstrelia penasaran dengan sistem saat berada di perpustakaan.
“Mereka perlu, tapi jika itu aku yang masuk maka tidak memerlukannya.”
“....................”
Elbert seketika terpancing dengan tatapan yang diberikan oleh wanita ini kepadanya. “Ada apa?”
“Apa kau baru saja sedang menyombongkan dirimu padaku?”
“Jika menganggapnya seperti itu, tidak masalah juga.”
__ADS_1
“Ho~” Alstrelia menatapnya dengan senyuman sinis. “Manusia memang punya derajat yang perlu diketahui oleh sesama manusia agar mereka mengenal identitasnya. Itu sudah jadi sifat dasar baik itu manusia maupun hewan, jadi tidak usah sungkan. Karena kau tahu dengan jelas saat itu, aku juga seperti.” jelas Alstrelia dan kembali melanjutkan perjalanannya untuk memulai tugas utamanya.
Elbert secara terdiam dan berpikir lagi, ‘Dari cara bicaranya, itu selalu terdengar seolah dia memang orang yang memahami segalanya. Siapa dia sebenarnya? Aku sudah mencoba memulai menyelidiki latar belakangnya, tapi tidak ada satupun yang aku temui. Sepertinya ini akan memerlukan waktu yang lebih banyak dari yang aku pikirkan.’