
Setelah di perintah untuk balik badan, Chavire pun akhirnya menurutinya.
"Jadi apa yang ingin kau laku-" Ucapan milik Alstrelia pun langsung Alstrelia ralat. "Maksudku apa yang ingin kau bicarakan kepadaku?"
Alstrelia memejamkan matanya sesaat. Tapi ketik amembuka matanya, soeoran mata dingin yang tertuju langsung ke arah Chavire berhasil membuat Chavire sendiri tahu.
"Padahal kau tadi sempat membuatku untuk melakukan apa yang kau perintahkan sampai tubuhku tidak bisa aku gerakkan, ternyata kau masih punya wajah untuk menghadap kepadaku." Imbuh Alstrelia.
Dia berjalan kemudian duduk di atas kursi sofa. Bersandar kebelakang, antara sandaran sofa dengan tanggan sofa, maka kedua kakinya pun di selonjorkan alias di luruskan di atas sofa panjang itu. Sehingga saat ini dia pun antara duduk dan berbaring, Alstrelia sungguh duduk santai sambil menunggu apa alasan yang akan Chavire berikan kepadanya?
"......" Chavire melirik ke arah Lena dan Elda yang terus saja menatapnya dengan tatapan sengit.
Itu sudah pantas Chavire dapatkan juga, sebab dia sendiri tidak sengaja jadi melihat sesuatu yang harusnya tidak dia lihat untuk waktu ini. Tapi karena semuanya sudah terlambat, jadi apa boleh buat?
" ... " Tahu arti dari lirikan matanya itu, Alstrelia angkat suara, "Lena, Elda, kalian berdua keluar."
"Tapi Nona, dia ini pria yang cukup tidak sopan." Kata Lena.
"Siapa yang tidak sopan? Toh aku sudah minta izin masuk ke kamar ini." Chavire terus membela dirinya sendiri.
Alstrelia yang sedang malas menerima perdebatan lagi, berkata lagi : "Biarkan, jangan urus soal itu. Yang sekarang harus kau lakukan hanya satu, bagaimana caranya agar aku bisa mendapatkan hal enak sampai membuat perutku hamil."
JDERR..
Mereka bertiga langsung di buat tercengang dengan pemilihan kata yang di gunakan oleh Alstrelia kepada Lena untuk memberikan Lena sebuah perintah, perintah yang paling jelas karena baru di bahas di kamar mandi adalah agar bisa makan lagi, dan yang enak juga hingga perutnya jadi buncit layaknya orang hamil.
'Kenapa koman selalu mengatakan hal yang terdengar vulgar seperti itu?' Pikir Elda dengan majikannya yang selalu saja membuat siapapun yang ada di sekitarnya berhasil di buat untuk salah paham sendiri, sekaligus kelabakan karena sifat Alstrelia yang cukup terang-terangan dalam melakukan dan mengungkapkan banyak hal.
"Nona, jaga pilihan kata anda." Keluh Lena, lagi-lagi harus di hadapi kehidupan normal dari seorang Alstrelia yang tidak kenal dengan urat malu.
__ADS_1
"Sudah-sudah, aku mau kau cepat menyiapkannya agar aku bisa memakannya, yang penting harus enak." Perintah Alstrelia sambil mengibar tangan kanannya kepada Lena agar segera pergi dari kamarnya.
Tanpa banyak kata lagi, Lena pergi dengan perasaan yang campur aduk dan diantaranya adalah pria asing ini yang berhasil mendapatkan formula sebuah stimulan dari Alstrelia.
"Elda, kenapa kau masih disitu?"
Elda melirik sekilas Chavire sebelum dia pergi mengikuti Lena dari belakang.
Setelah kepergian mereka berdua, maka sekarang yang sedang ada di dalam kamar itu adalah satu orang wanita dan satu orang pria.
"Mereka berdua sudah pergi, sekarang katakan apa yang ingin kau inginkan sampai datang kesini?" Tanya Alstrelia. Dia segera merubah posisinya untuk terus menurunkan posisi tubhunya dari sandaran kursi, dan berakhir dengan berbaring di atas sofa. Tentu akibat dari perbuatannya, ujung dari handuknya jadi sedikit tersingkap.
Chavire tanpa sadar jadi menatap sepasang kaki yang terlihat putih, kencang, dan punya komposisi yang cukup sempura untuk seorang wanita yang hobinya membantai itu.
Di balik penampilannya yang cantik itu, terdapat genangan darah yang perlahan menjadi lautan darah, berada di belakang dari Alstrelia ini.
Itulah yang Chavire lihat pada wanita ini.
"Oh...jadi kau tahu soal kekuatan yang dimiliki anak itu ketkia mencium seseorang seperti aku tadi?"
Karena Chavire hanya ingin jawabannya saja, makannya terdiam begitu.
"Tapi apa untungnya aku memberitahumu ya? Padahal kau tahu sendiri, tidak ada yan gratis di dunia ini." Kata Alstrelia memberitahu.
"Lalu apa yang kau inginkan dari imbalan memberitahu apa yang kau tahu dimana Alstrelia berada?" Ungkap Chavire.
"Batu sihir. Jika kau bisa memberikanku itu, aku akan memberitahumu yang aku ketahui tentang dia." Sebuah kesepakatan sedang Alstrelia bangun dengan Chavire ini.
"Itu bukan sesuatu yang bisa di daptkan dengan mudah."
__ADS_1
"Aku tidak peduli soal cara dan bagaimana kau mendapatkannya. Mau dapat atau tidak aku juga tidak mempermasalahkannya, tapi kau sendiri saja sedang butuh informasi yang aku inginkan. Jika aku memberikanmu cuma-cuma, maka apa artinya aku ada di sini? Pajangan? Kalian selalu saja berpikir seperti itu, menggantikan-menggantikan terus, menyebalkan." Jelasnya.
Sedikit sebal dengan ucapannya sendiri, Alstrelia berbaring dalam posisi memunggungi Chavire yang sudah duduk di seberang kursi itu. Lagi-lagi karena perubahan posisinya yang cukup kasar, maka ujung dari handuk komono itu semakin tersingkap dan membelah lautan godaan untuk Chavire.
'Kalau saja dia Alstrelia yang itu, aku pasti sudah memakannya. Untung saja aku tidak bereaksi dengan penmpilannya yang sembarangan itu.' Pikir Chavire, bisa bersikap biasa saja bahkan setelah melihat satu kaki yang cukup menggoda untuk di makan itu.
Tetapi mengetepikan penampilan wanita di depanya itu, yang harus Chavire pikirkan adalah batu sihir?
"Batu sihir apa yang kau maksud itu? Di sini ada dua batu sihir, diantaranya memang krstal yang mengandng sihir, tapi kebanyakan orang selalu menyebutnya dengan batu sihir, atau yang satunya lagi, batu sihir yang bentuknya seperti bola. Aku susah mendeskripsikan karena ingatanku samar untuk menjelaskannya kepadamu." Ucap Chavire.
"Batu sihir yang aku maksud itu adalah kumpulan mana yang tercipta dari ribuan tahun yang lalu. Karena terus terkumpul, maka lambat laun menjadi sebuah batu. Soal bentuk aku jelas tidak tahu, tapi batu sihir itu cukup terang dengan warna biru sebagai cahaya dari kumpulan mana." Jelas Alstrelia panjang lebar.
"Ok...jika itu maksudmu," Chavire beranjak dari tempat duduknya.
Meraskan Chavire hendak pergi, Alstrelia kembali merubah posisi tubuhnya untuk melihat Chvire yang hendak pergi itu. "Kau tidak tanya aku akan menggunakannya untuk apa?"
"Kenapa aku harus tanya pertanyaan yang sudah jelas jawabannya? Bukannya artinya kau memang sedang membutuhkan batu sihir iut?" Balas Chavire.
Alstrelia jadi tersenyum tawar, karena ada kalanya Chavire ternyata bisa bersikap sok pintar. Ya..memang cukup pintar, karena membuat dirinya tidak perlu lagi mencibir pria itu untuk mendapatkan julukan si pria tanya, karena kebanyakan tanya kepadanya.
Akan tetapi memangnya batu sihir yang Alstrelia inginkan itu mau dia gunakan untuk apa?
'Jika aku bisa mendapatkan batu sihir, maka pemulihan tubuhku jauh lebih cepat, itu salah satu tujuanku ketimbang aku jadi punya efek samping banyak makan, seakan aku ini rakus.
Yang kedua untuk berjaga jaga saja, tentunya. Mengingat banyak hal yang belum bisa aku pahami langsung, aku harus mendapatkan batu sihir itu, apa aku harus menyebutnya sebagai batu mana?
Tapi manfaat paling mendukung jika aku benar-benar mendapatkan batu ini, dan apalagi jika aku bisa membawanya pulang, itu akan menjadi salah satu energi tinggi yang bisa menggantikan bahan bakar untuk kapal luar angkasa terbaru.
Hahh..tapi kapan waktu itu akan tiba?' Alstrelia pun akhirnya dalam waktu untuk memikirkan nasibnya sendiri yang terjebak di dalam novel.
__ADS_1
Bagaimana untuk kembali, dia perlu waktu yang pas, dan itu adalah waktu itu..
Saat ulang tahunnya datang.