
Hari-harinya yang memang pada awalnya tidak pernah tenang, membuat Alstrelia memijat pangkal hidungnya sendiri saat melihat ada setumpuk undangan sampai sekeranjang penuh.
“Jadi inilah efek samping jika menarik perhatian banyak orang sekaligus.” gerutu Alstrelia saat melihat tumpukan surat itu.
Alstrelia mencoba membuka satu per satu surat undangan itu, sampai setiap kalimat yang tertulis itu sejujurnya membuat Alstrelia ingin sekali tertawa.
Ketika Kekaisaran akan menghadapi kehancuran, para Nona bangsawan ataupun para Tuan muda dari segala penjuru Kekaisaran justru menyiapkan undangan untuk melakukan pertemuan rutin mereka.
“Semuanya sangat menjijikan. Aromanya juga. Lena, bakar semua surat ini,” Alstrelia memasukan surat yang sempat dibacanya itu ke dalam keranjang lagi, lalu memberikannya kepada Lena.
“Tapi, Nona-”
Mengetahui isyarat dari mata Lena yang terlihat menyayangkan semua undangan yang baru datang itu dibakar, Alstrelia berakhir mengubah perintahnya, “Kamu benahi semua undangan itu dan simpan di tempat lain. Aku memang tidak ingin membacanya, tapi dia pasti ingin membaca setumpuk surat dari mereka.”
Yang Alstrelia maksud adalah orang dari pemilik asli tempat yang sedang dia pinjami itu.
“Baik Nona.” Lena segera menuruti perintahnya. Pergi sambil membawa seluruh surat undangan itu untuk Lena simpan sendiri.
Belum sempat mengambil langkah untuk pergi dari sana, seorang pelayan lain tiba-tiba datang menghampiri Alstrelia.
“Ada apa?”
“Di depan ada seseorang yang sedang menunggu anda.” jawab Artena, pelayan dari mansion utama, yang berarti adalah anak buah Alrescha. “Tapi karena orang itu mencurigakan, dia masih berada di luar pintu gerbang.”
“Kau bisa pergi.” perintah Alstrelia.
Setelah kepergian Artena, Alstrelia mencoba mencari tahu orang yang dimaksud itu, sampai tidak memiliki izin untuk masuk. Berarti orang itu memang orang asing yang ingin bertemu dengannya, tapi karena kendala kedua kesatria penjaga, maka orang tersebut tidak bisa berbuat apapun selagi menunggunya.
***
“Kalian ternyata benar-benar tidak percaya kepadaku. Aku adalah kenalannya Elbert sekaligus Putri.” Arsene merasa apes, karena pertemuannya untuk menemui Alstrelia harus terkendala akibat kedua kesatria penjaga ini tidak mengizinkannya masuk.
“Tidak ada ucapan yang bisa kami percaya. Jadi tunggu saja diluar.” Celetuk kesatria tersebut kepada Arsene.
Karena Elbert sedang berada di perbatasan, maka Arsene jadi tidak dapat mengadu kepada Elbert untuk memberi pelajaran kepada mereka berdua.
Tapi disini ada satu harapan lagi, yaitu Alstrelia.
“Aku pikir orang yang akan menemuiku adalah si pembunuh bayaran itu. Apa yang membuatmu datang kesini?”
Suara Alstrelia yang muncul di tengah-tengah ketegangan mereka bertiga langsung membuat mereka mencari-cari keberadaannya.
“N-nona?!” dua orang kesatria itu terkejut secara bersamaan saat melihat majikan mereka ternyata sedang duduk di atas pagar persis sambil mengayunkan kedua kakinya.
Sudut matanya langsung melirik ke arah dua orang kesatria yang nampak memasang wajah terkejut itu ternyata di bumbui wajah sipu malu mereka.
__ADS_1
Yah..
Walaupun mereka sudah mulai sering melihat penampilan lain dari Alstrelia yang ada di depan mereka, tapi mereka masih saja belum terbiasa melihat paha putih mulus itu terpampang jelas di depan mata mereka persis.
“Apa kalian berdua tidak membiarkan dia masuk?” tanya Alstrelia.
“A-akan kami persilahkan masuk.” jawab kesatria ini dengan terbata-bata.
“Nah, kenapa tidak dari tadi saja?” Arsene masih kurang puas hati dengan kinerja kedua kesatria itu.
“Jadi ada urusan apa datang kesini? Jika kau mencari Bert, dia sedang ada di perbatasan.” ucap Alstrelia. Dia sudah berdiri di atas jeruji dari pagar itu, dan menginjak satu per satu jeruji itu dengan santai.
Arsene yang tidak mengerti kenapa wanita di atas itu benar-benar memiliki nyali besar dalam segala hal, membuatnya mengulum senyum lemah.
“Saya tidak hanya mencari Elbert saja, melainkan anda juga.”
Alstrelia menghentikan langkah kakinya, lalu menoleh ke bawah dan menatap Arsene dengan dingin.
WUSHH~
Angin lembut itu sayup-sayup menyapu suasana yang sedang hening itu.
“Apa yang kau inginkan?” matanya menyipit, memberikan tatapan penuh selidik kepada Arsene yang terus saja mendongak ke arahnya.
Sepintas karena Alstrelia memakai rok pendek, Arsene jadi sedikit melihat **********. Tapi tidak seperti yang dipikirkan banyak orang jika melihat Alstrelia memakai rok seperti itu artinya tidak memakai celana, nyatanya itu hanyalah kesalahpahaman belaka.
“Heh~”
Sampai Arsene kembali diperlihatkan senyuman remeh itu. “Apa yang yang membuat anda tersenyum?” tanya Arsene, dia merasakan sesuatu akan terjadi jika sudah melihat senyuman milik wanita itu muncul.
“Seseorang kelihatannya sudah melihat sesuatu yang seharusnya tidak dilihat.” sahut Alstrelia.
DEG!
“....................” Arsene terus memandangi Alstrelia dengan senyuman tawarnya. ‘Apa aku ketahuan kalau aku melihat apa yang ada di balik roknya? Salahkan sendiri kenapa memakai rok sependek itu.’ umpat Arsene.
“Apa kau sudah melihatnya dengan puas?”
“.............” Arsene yang merasa tersinggung dengan ucapannya Alstrelia, buru-buru berbalik memunggunginya.
“Jika masih belum, maka aku akan memperlihatkannya lebih jelas kepadamu.” tambah Alstrelia, tangannya langsung menarik ikat pinggangnya.
CTAK.
Alstrelia langsung melompat dari pagar dan mengayunkan pedangnya ke udara cepat.
__ADS_1
CRASSH…!
“...............!” Arsene seketika mendongak ke atas. Darah dari hewan yang tiba-tiba muncul pun langsung menciprat ke wajahnya.
Hewan?
Lebih tepatnya monster dengan bentuk kumbang tiba-tiba muncul, tapi Alstrelia yang menyadari keberadaannya itu berhasil dibunuh lebih dulu.
Alstrelia saat ini sudah berhasil mendarat di tanah dengan selamat, dan pedang yang digunakan untuk memotong monster itu pun secara otomatis bersih sendiri.
“Kenapa disini ada monster?” tanya Arsene, berjongkok dan memperhatikan kepala kumbang itu dengan lebih dekat. ‘Monster ini-’ Arsene tidak jadi bicara saat Alstrelia lebih dulu mengatakannya.
“Dia bukan sembarangan monster. Dan seseorang baru saja mempergunakan monster itu untuk mengintip.” lugas Alstrelia.
‘Jadi maksud ucapannya tadi adalah ini, alasan dia mengatakan hal tadi seakan aku yang sedang dituduh mengintipnya?! Walaupun, tidak salah, tapi tetap saja dia membuatku bergidik ngeri. Aku kira dia akan memenggal kepalaku gara-gara aku memang mengintipnya.’ racau Arsene. Masih memiliki kesempatan hidup setelah menikmati sesuatu yang jarang Arsene lihat.
“Nona! Apa anda baik-baik saja?”
Alstrelia melihat kedua kesatria penjaga pintu gerbang, berlari ke arahnya, “Kalian terlambat. Barusan ada yang memata-matai kediaman ini dengan makhluk ini. Apa saja yang kalian lakukan sampai tidak menyadari keberadaannya?” tegur Alstrelia dengan ujung pedang diacungkan ke arah kepala kumbang yang sudah terpisah dari tubuhnya.
“Maafkan kami Nona. Kami akan segera menyelidikinya, dan menambah pengamanan.” jawab salah satu kesatria itu.
“Akan saya bersihkan ini. Sebaiknya anda kembali ke dalam.” pesan kesatria yang satunya lagi.
“Mereka akan membersihkannya, kau ikut aku.” ucap Alstrelia menunjuk pada Arsene agar ikut pergi bersamanya.
***
“Yah...ternyata langsung ketahuan.” gerutu Charles.
Dia berjalan menyusuri koridor Istana. Dan semua pelayan yang ada di sana berbaris menunduk hormat kepadanya.
“Yang Mulia,” sampai mereka semua secara bersamaan.
Tepat di ujung dari barisan yang dibuat para pelayan itu, Charles menghentikan langkah kakinya lalu berbalik dan menjadi pemimpin dari puluhan pelayan istana yang sudah berkumpul itu.
“Apa kalian sudah siap dengan tugas kalian?” tanya Charles. Dengan tubuh milik Chavire, dia pun mampu mengatur segala urusan kenegaraan dengan suka hati.
Mengacaukan sistem pemerintahannya, sekaligus secara perlahan menghancurkannya.
Dan yang menghancurkan Kekaisaran Regalia itu sendiri adalah sang Kaisar sendiri.
“Kami selalu siap, Yang Mulia,” jawab mereka semua.
__ADS_1
‘Heh~ Rasakan sendiri Chavire, negaramu hancur di tanganmu sendiri.’ benak hati Charles, menatap ke semua pelayan Istana dengan penuh semangat.