Putri Alstrelia

Putri Alstrelia
71 : Alstrelia


__ADS_3

KLANG~


Suara dari es batu itu berhasil menyita perhatian Alstrelia untuk segera melirik ke arah jus jeruk pesananannya.


“Ini nona,” seorang pelayan memberikan segelas minuman dingin kepada Alstrelia yang duduk manis sendirian tapi di temani deretan makanan. 


Yang mana jika di lihat dari sudut pandang orang lain, Alstrelia seperti seorang yang rakus karena hanya Alstrelia saja yang duduk di depan meja makan.


“................” Alstrelia mengambilnya dan meletakkannya di depannya persis. Seperti biasa, Alstrelia mengambil daun mint yang tadi dia minta juga kepada pelayan, lalu meletakkannya di atas tumpukan es batu yang ada di dalam gelasnya persis. 


Alstrelia angkat dan mencoba memandangi cantiknya air orange dipadukan es batu yan bening dan daun mint berwarna hijau. 


Setelah bisa menikmatinya dengan indera penglihatannya, Alstrelia langsung meminumnya.


Tapi belum sempat gelas itu menyentuh bibirnya, seseorang mencegatnya dan menyuguhkan segelas wine berwarna merah layaknya darah. “Apa anda tidak mau mencicipi wine ini?”


Sudut matanya melirik kearah seorang pria yang sedang menyodorkannya segelas wine.


“Apa kau menyuruhku meminum minuman kadaluarsa itu padaku?” hina Alstrelia.


Sontak ucapan kasarnya berhasil menarik perhatian semua orang yang ada disana.


“Pfft...akhirnya dia kena semprot oleh Tuan putri.” beberapa orang ikut menertawakannya, karena ada benarnya wine adalah minuman fermentasi yang di diamkan dalam jangka waktu lama. 


Jika satu sudut pandang orang adalah semakin lama akan semakin enak, dan meningkatkan harga diri seseorang karena meminum minuman mahal, maka tidak dengan sudut pandang Alstrelia yang gila dengan menjaga kesehatan.


Dia menghindari minuman wine karena punya gula dan alkohol yang tinggi, itu bisa merusak tubuh.


‘Sabar, aku memang sengaja menawarkan wine agar bisa bicara lebih dekat, tapi minuman yang sudah aku masukkan obat, tentu saja jus jeruk itu. Jadi sekarang aku akan berpura-pura pergi, dan memperhatikan sampai efeknya muncul.’ pikirnya. “Maafkan saya, jika ternyata anda menghindari minuman wine,” tuturnya.


Tapi ketika hendak pergi, ternyata ada seorang pelayan yang tidak sengaja mundur ke belakang dan mendorong tubuhnya ke depan.


Alhasil pria itu terdorong ke depan, dan gelas wine yang ada di tangannya pun terlepas dari genggamannya. 


“Putri!”


Semua orang yang melihat gelas dan sekaligus pria itu akan jatuh ke tubuh Alstrelia, mereka langsung memasang ekspresi tegang.


Tapi tidak dengan Alstrelia. Dia justru mendorong mundur kursi yang dia duduki dengan kedua kakinya ke belakang, dan setelah itu..


PRANK…..!

__ADS_1


BRUK!


Gelas itu pecah dan menumpahkan isinya, tapi yang lebih parahnya lagi pria tersebut terjatuh tersungkur di lantai basah menyambut sedikit pecahan beling itu sendiri.


“..................” Alstrelia menautkan kedua alisnya saat melihat pria itu jatuh tersungkur di depannya persis.


‘Akh..kenapa aku jadi jatuh di depannya? Tanganku juga, jadi terkena pecahan beling.’ kutuk pria ini dengan penampilan yang sudah kacau. Lalu ketika melirik ke samping kiri, ekspresi dari wajah Alstrelia pun terlihat seperti orang yang sedang melihat sesuatu yang menjijikan, dan itu benar-benar tertuju ke arahnya.


“Kau ini, benar-benar merusak suasana hati orang, ya?” tutur Alstrelia dengan posisi masih duduk dengan anggun.


Tidak ada yang berani bicara, apalagi setelah suasana tadi hampir saja menyelakai Putri Alstrelia?


Ya, dia memang Putri Alstrelia, tapi dia memerankan Putri itu secara sungguhan di tempat asalnya. Sedangkan didunia yang dia ketahui sebagai Novel, hanyalah sebagai tempat Alstrelia untuk bermain-main. 


Dia akan sesuka hati melakukan sesuatu yang dia inginkan. 


Salah satunya adalah agar minuman yang sedang dia pegang itu diminum oleh pria itu.


Alstrelia bangkit dari kursinya, lalu beralan beberapa langkah ke depan. Tepat berada di depan persis wajah dadri pria pengganggu ketenangannya, Alstrelia langsung jongkok dan memberinya tatapan yang cukup dingin kepada pria itu.


“Apa kau tahu? Kesenanganku adalah tidak ada yang menggangguku di saat aku ingin bersantai. Tapi karena kau mengganggu kesenangan itu, biarkan aku memberikan minumanku kepadamu. Berbanggalah, karena kau adalah satu-satunya pria yang aku berikan minumanku secara pribadi,” ucap Alstrelia dengan menyodorkan jus jeruknya kepada pria tersebut.


“Apa kau tidak mendengar ucapanku? Padahal aku sampai berjongkok dan membuat gaunku kotor, apa kau tidak mau menghormati pemberianku itu?” Tambahnya.


“Apa dia akan diam seperti itu?”


“Padahal putri sampai membuat gaunnya kotor, kenapa dia tidak minum saja?”


Sebuah bisikan demi bisikan terdengar dan menyeruak masuk kedalam indera pendengarannya. 


Mereka berdua kini benar-benar menjadi pusat perhatian.


Bahkan jika Alstrelia yang dulu tidak akan pernah mengintimidasi orang dengan kekuasaannya, maka Alstrelia yang sekarang tidak akan memperdulikannya. Karena semua yang dia terima, pasti akan dibalas sesuai dengan porsinya. 


‘Aku harus minum jus yang sudah aku beri obat?’ pikirannya mulai kacau, apalagi setelah dia malah disodori minuman yang merupakan dari rencana utamanya.


“Minumanmu kan tumpah, ini minuman pribadiku, apa kau benar-benar tidak mau? Aku benci mengulangi perkataanku loh.” kata Alstrelia.


“Kenapa dia tidak minum saja?”


“Apa susahnya minum. Hei, Tuan Putri menyuruhmu minum, minum itu!”

__ADS_1


“............!” Semakin masuk kedalam tekanan dari pendapat banyak orang, pria ini pun semakin mendapatkan desakan itu.


Alstrelia?


Wajahnya terlihat menikmati pemandangan itu semua. 


‘Sudahlah! Setelah minum, aku akan langsung pergi!’ tanpa basa basi lagi, pria ini pindah posisi untuk duduk dan langsung meminum jus jeruk itu sampai tandas.


Setelah meminum jus pemberian Alstrelia, pria ini buru-buru bangkit dan pergi.


‘Putri Alstrelia tidak terlihat seperti dulu. Tapi kenapa tiba-tiba jadi punya sifat yang sangat berbeda jauh dari sebelumnya?’ 


‘Ternyata Putri menyadari akal busuknya. Untung saja tadi aku tidak jadi ikut dengan rencananya. Jika ikut, yang ada aku justru merusak reputasiku sendiri di depan banyak orang.’ pikir pria ini, yang awalnya hampir terhasut oleh lelaki yang tadi.


‘Dia benar-benar berbeda dari rumor yang beredar. Dari mananya Putri Alstrelia adalah seorang pemalu dan suka murung? Hari ini saja dia mengajakku bicara secara pribadi. Eh, tapi memangnya aku tadi bicara apa dengannya? Kenapa aku tidak ingat?’ pria bernama Marvin ini langsung berekspresi bingung. 


Marvin sadar kalau beberapa waktu lalu sempat berbincang secara empat mata dengan Alstrelia. Tetapi, sekarang Marvin benar-benar tidak ingat isi pembicaraannya. 


Sepintas Marvin kembali memperhatikan Alstrelia yang sudah pindah tempat dan kembali duduk sendirian di dekat pinggir Ballroom. Nampak tidak ada seorangpun yang berani menghampirinya karena Alstrelia sudah memberikannya peringatan secara terang-terangan di depan semua tamu undangan.


“Kyaaaa….!”


Tetapi kedamaian yang sangat di inginkan-nya, kembali terusik setelah mendengar teriakan keras.


Keadaan semakin kacau setelah teriakan itu benar-benar terdengar sampai ke seluruh penjuru ruangan.


Beberapa tamu undangan dari kalangan laki-laki bergegas lari mencari sumber suara, tapi belum sempat pergi, seorang lady bangsawan berlari terbirit-birit keluar dari salah satu deretan pintu istana yang menghubungkan ruang Ballroom satu tempat ke tempat lain.


“Ada apa? Kenapa anda lari ketakutan seperti ini?” tanya salah satu pria yang datang menghampiri lady itu karena terlihat kelelahan seperti baru saja di kejar-kejar setan.


“A-ada...hah...hah, saya tadi melihat..hah, ada mayat tergeletak di koridor!” teriak wanita ini tanpa melepaskan ekspresi takutnya.


Ekspresi wajah mereka semua sama-sama terkejut, tanpa terkecuali bahkan Alstrelia yang hendak minum itu kembali mengurungkan niatnya tersebut.


“Apa anda kenal siapa?” tanyanya.


“Dia, Tuan Maldeno.” 


“..................!”


Ekspresi wajah semua orang kembali menegang, lalu semua tatapan yang awalnya tertuju kepada Lady bangsawan itu, kini beralih menatap Alstrelia yang sedang duduk sendirian itu. ‘Pantas saja salah satu mataku terus saja berkedut, apakah maksudnya ini?’ pikir Alstrelia saat membalas tatapan mata dari mereka semua.

__ADS_1


__ADS_2